Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Team Kerja


Gita celingukan di kantin mencari


Gilang, dia lupa kalau pacarnya itu boss di kantornya. Jadi dia pikir Gilang


juga akan makan di kantin.


“Cariin Gilang ya.” Tanya Fara sambil


memesan makanan. Gita mengangguk sambil terus celingukan.


“Heh.. Gilang itu bos di sini mana ada


dia makan di kantin bareng karyawan. Biasaya makan siang sama teman-teman


pengusaha atau paling sering sih sama  sekretarisnya.”


Jelas Fara.


“Emang iya?” Gita tidak tahu, karena dia


selama ini tidak pernah menanyakan kepada Gilang.


“Iya, Lo nggak lihat tuh drama korea


yang setiap kali lo tonton. Bos kalau nggak jadian sama sekretarisnya ya


selingkuh sama sekretarisnya.” Fara mengejek Gita sekalian mengomporinya.


“Berarti nanti Raka kalau makan siang


juga sama sekretarisnya.” Gita tersenyum membalas ejekan Fara sambil memainkan


dua alisnya. Dia lupa kalau Raka juga seorang CEO.


“Suka nggak ngaca Fara kalau ngomong.”


Vian tertawa karena Fara kena batunya mau ngerrjain Gita. Fara berdesis sembari


membawa makan siangnya ke meja.


Gita mengikuti Fara membawa makan


siangnya ke meja, dia mengeluarkan ponselnya.


...Gita...


...Kak Gilang sudah makan?...


Gita menaruh ponselnya karena Gilang


tidak kunjung membalas pesannya. Gita langsung melahap makan siangnya, sembari


kedua matanya ke layar ponsel.


“Kalian berdua makan yang benar kenapa?


Nanti kesedak masuk rumah sakit, mati nggak jadi istri bos kalian.” Kata Vian


sambil melihat kedua sahabatnya yang terus melihat layar ponselnya. Vian kalau


ngomong nggak jarang sekekali menggunakan filter kalau sama Gita dan Fara.


“Do’a lo Vian. Nggak ada yang bagus ya.”


Omel Gita.


“Makanya, masukan ke kantong itu ponsel


kalian kemudian makan yang benar.”


“Eh.. ada apa ini ribut-ribut.” Ina


datang membawa makanannya. “Em.. boleh gabung nggak nih?”


“Silahkan Mbak, kursi juga masih banyak


yang kosong.” Jawab Vian sambil bergeser memberikan sedikit ruang untuk Ina.


“Gimana kerja pertama di kantor ini?”


tanya Ina.


“Baik Mbak.” Jawab Mereka bertiga


serentak.


“Tenang saja, kalian akan happy kerja


bareng kita. Karena kita kerjanya serius tapi santai.” Sahut Win sembari duduk


di sebelah Ina di ikuti Nino.


“Wah.. para loser sedang berkumpul nih.”


Kata Roy duduk di meja samping Gita dan yang lainnya.


“Bos kita itu memang pintar, tahu mana


kwalitas yang baik dan buruk. Jadi kalau team yang bagus tuh dapatnya yah anak


baru yang bagus dan sebaliknya. Lihat seperti Catrin dan Bella.” Ratna


memamerkan anak buah barunya.


“Jangan terlalu berbangga hati dulu, lihat


saja nanti siapa yang akan mendapatkan proyek ini.”


“Maaf Mbak, katanya perusahaan sangat


baik kenapa bisa menerima orang-orang yang kurang..” Catrin menggantung


ucapannya.


“Yah.. itulah baiknya bos kita. Dia


memberikan kesempatan untuk kaum-kaum yang tidak mampu.” Jawab Ratna.


Brraaak! Fara menggebrak meja,


telingannya sudah panas mendengar ocehan dari team sebelah.


“Fara...Fara... please jangan emosi.”


Gita menahan tangan Fara agar dia tidak emosi. Gita menarik pelan tangan Fara


agar duduk lagi.


“Kenapa nggak terima?” Ratna tertawa


sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Lebih baik Mbak jaga omongan deh, atau


nanti akan menyesal.” Gita berdiri menatap Ratna dengan tajam.


berlagak bergidik karena takut dengan ancama Gita.


“Lo yang harus hati-hati, anak baru


berani-beraninya ngancam gue.”


“Gita, Fara sudah kalian jangan ladenin


mereka. Sekarang kembali lagi ke ruangan. Sudah selesai kan makannya?” tanya


Win.


“Sudah Mas.”


Mereka kembali ke ruangan, Fara dan Gita


masih merasa kesal dengan perlakuan Ratna dan teamnya.


“Mas Win, memangnya mbak itu siapa?”


tanya Gita.


“Dia namanya Ratna, dulu kita satu team


tapi karena kita beda pendapat dan terjadilah perpecahan.” Jelas Win.


“Dan kita kehilangan anggota karena


terus diambil oleh Ratna. Dia bikin team ini minimalis dan selalu gagal


mendapatkan proyek besar.” Ina kesal sekali karena sejak perpecahan itu dia


sering banget di remehkan sama Ratna. Dulu Ratna, Win dan Ina teman sangat


akrab lalu hanya karena rebutan projek menjadikan musuh bebuyutan.


“Lumayan menyakitkan ya dunia kerja. Ternyata


tikung menikung tidak hanya terjadi dalam percintaan tapi pekerjaan juga.” Kata


Vian.


“Yah begitulah, dunia kerja lebih kejam


dari percintaan. Bahkan lebih sakit lagi karena uang segalanya. Bahkan cinta


bisa di beli bukan.”


“Benar.”


Gita membuka laptopnya dan mulai bekerja


lagi, dia berjanji akan membuat proyek kali ini menjadi miliknya dan team agar


tidak di sepelakan sama team sebelah.


Gita melirik ke ponselnya saat layarnya


hidup sebentar lalu mati lagi, Gita menyenderkan tubuhnya lalu mengambil


ponselnya.


...Gilang...


...Aku sedang meeting di luar sekalian makan siang, kamu juga jangan lupa makan ya...


...sayang....


Gita menaruh ponselnya lagi lalu lanjut


kerja.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore,


team sebelah juga sudah mulai pulang dari satu persatu. Gita menoleh ke kanan


dan ke kiri tapi seniornya masih sibuk dengan kerjaannya.


“Apa kita bakalan lembur?” Bisik Gita di


telinga Fara.


Fara menoleh dulu ke seniornya, “Mungkin.”


Jawabnya.


“Apa kita lembur di hari pertama kerja


Mas Win?” tanya Vian sambil berdiri. Gita dan Fara melongo, mereka berdua saja


bisik-bisik takut senior tahu justru Vian malah dengan beraninya bertanya.


“Ah sudah waktunya pulang ya?” Win


melihat jam di tangannya.


“Iya Mas, sebelah sudah pada pulang.” Kata


Vian.


“Baiklah kalian boleh pulang dulu, Na,


Nino kalian juga boleh pulang dulu. Gue mau nyelesain ini dulu. Bos minta ini


di stor besok.” Win memilih lembur daripada besuk buru-buru. Sedang kalau


pulang ke rumah dia akan malah setelah bertemu dengan kasur dan teman-temannya.


"Gue lembur saja, biar besok tidak terburu-buru." Kata Gita. Dia tidak bisa meninggalkan ketua teamnya lembur bersusah patah sendiri. Meskipun dia anak baru, dia juga sudah ikut bertanggung jawab.


"Baiklah, demi proyek kita gue juga akan lembur." Vian ikut lembur.


"Ok, kita tidak akan menyerah." Fara pun kembali duduk.


Win kaget, team barunya itu berbeda dengan sebelumnya. Team yang lama mereka sering mengeluh dan tidak mau tahu kesusahan dan lelahnya Win sebagai ketua team dan memilih pindah team.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh, dan mereka menyudahi lemburnya. Gita meregangkan kedua tangannya.


"Kita pergi makan dulu bagaimana? biar gue yang tlaktir." Win mengajak anak buahnya makan.


"Maaf gue nggak bisa ikut hari ini." kata Fara, dia sudah di jemput Raka di bawah.


"Kenapa?" tanya Vian.


"Sudah di jemput sama si abang." Fara meringis.


"Baiklah..baiklah. Kalau kalian berdua bisa nggak?" tanya Win. Gita menatap Vian, dia meminta pendapat tanpa bertanya.


"Kita berdua juga nggak bisa, sudah malam dan sudah di tunggu. Lain kali ya Mas."


"Ok lah. Makasih ya kalian sudah mau temani lembur."


"Iya Mas sama-sama."