
Fara mampir ke supermarket sebelum
pulang sekolah yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Dia mengambil keranjang
dan siap memasukan semua makanan ringan yang dia sukai untuk teman dia nonton dramakorea di rumahnya.
Fara menoleh saat mengambil makanan
bersamaan, “Maaf, ini gue dulu yang ambil.” Kata Fara.
“Jelas-jelas gue dulu yang ambil, sini.”
Orang itu merebut dari tangan Fara. Fara menghela napas panjang. Dia berusaha
bersabar agar tidak meledak emosinya.
Fara pergi meninggalkan cewek yang merebut makanannya itu. Dia kembali memutari supermarket untuk menemukan makanan yang di sukainya lagi.
Fara melirik tajam, ketika makanan yang
hendak di ambilnya kembali ingin di ambil orang.
“Maaf ya Mbak, kenapa sih lo demen
banget sama makanan yang ingin gue ambil. Lo fans gue ya?” kata Fara jengkel.
“Idih.. siapa juga yang ngefans. Lagian
semua barang disini kan di jual dan semua orang bebas beli disiini.” Katanya
dengan sewot.
“Saya negrti dan nggak pernah melarang orang membeli, tapi kelakuan mbak ini bikin gedek.” Batas kesabaran Fara sudah habis.
“Nggak usah nyolot gitu juga, santai
saja.” Katanya sambil pergi.
“Fara sabar, jangan perang di sini
malu-maluin.” Fara mengelus dadanya agar dia bersabar.
Fara memutuskan untuk menyelesaikan belanjannya, dia sudah tidak mood lagi. Dia langsung pergi ke kasir, dan lagi cewek yang
sejak tadi mencari masalah kembali ingin menyerobot. Namun dengan sigap Fara
maju ke antrian dia menyenggol sedikit tubuh cewek itu sampai terjatuh.
“Ah!” teriaknya.
‘Ups.. sorry. Gue duluan.” Kata Fara
sambil berjalan maju membiarkan cewek iu yang masih jatuh terduduk.
Fara membawa plastik belanjaannya
keluar, dan baru keluar pintu ada yang dorong dari belakang. Fara terjatuh
dengan barang-barang yang dia belinya.
“Lo gila ya?!” teriak Fara sambil
menoleh ke belakang.
“Itu balasan buat lo yang berani-beraninya mencari masalah sama gue.” Katanya sambil melipat ke dua tangannya di dada.
Fara berdiri, “Nggak salah nih?” Fara
mendorong cewek itu.
“Eh.. apa-apaan nih main dorong-dorong
pacar gue.” Kata seorang cowok yang baru saja datang.
“Sayang, dia mendorong gue.” adunya.
“Lo!” cowok itu menunjuk Fara lalu
bengong sebentar. “Fara.” Katanya sambil menurunkan telunjuknya.
“Aldi.” Kata Fara. Mata Gita berkaca-kaca saat melihat mantan yang dulu sangat dia sayangi. Sayangnya Aldi menghianatinya dan memilih cewek lain. Bahkan dia dengan tega mencium pacarny di depan matanya.
“Sayang, lo kenal sama dia?” tanya ceweknya.
“Kenal lah, dia mantan gue yang sangat cupu. Dan cinta mati sama gue sampai-sampai nggak mau putus sama gue.” Katanya dengan bangga.
“Ooo, jadi ini cewek yang waktu itu
nangis-nangis di depan rumah lo?” Kata pacarnya Aldi.
“Siapa bilang gue belum move on dari lo,
dan gue sadar waktu itu memang bego mau saja di bohongi sama buaya macam lo.
Dan lo makan tuh sampah bekas gue. Ah.. cowok lo ini juga bakalan ngajak balikan sama gue kalau nggak ada lo.” Kata Fara dengan senyuman mengejek.
“Heh! Jaga mulut lo, Lagian Aldi nggak
akan mau balikan sama lo yang nggak ada canti-cantiknya. Perempuan kok kayak
preman.” Pacar Aldi menunjuk dekat wajah
Fara.
“Santai aja, cowok lo itu nggak
sebanding sama cowok gue yang sekarang. Dia lebih keren, kaya, lebih segalanya
dari cowok yang modal modus doang.” Kata Fara.
“Oiyaa... Fara-Fara lo itu terlalu halu.
Mana ada cowok yang bakalan suka sama lo. Lihat dandanan lo nggak ada cantik-cantiknya.” Kata Aldi.
“Kalau lo emang sudah punya pacar,
panggil dia kesini sekarang. Lo buktiin sama gue kalau lo mampu mencari pengganti yang lebih segelanya dari Aldi.” Ceweknya Aldi menantang Fara.
“Mampus.” Batin Fara. Dia bingung harus
menelpon siapa, karena kenyataannya dia tidak belum punya pacar.
gue itu orang sibuk.” Fara ngeles agar mereka berdua tidak meminta Fara untuk
menunjukan cowoknya.
“Bilang saja lo nggak punya pacar jangan
banyak alasan.” Katanya sambil mendorong Fara Kasar.
Raka yang sejak tadi menonton saja berjalan mendekati Fara lalu
membantu Fara berdiri setelah melihat kondisi tidak kondusif.
“Sayang, lo nggak apa-apa?” tanya Raka sambil membersihkan lutut dan tangan Fara.
Fara menatap lekat Raka. Raka mengedipkan satu matanya. Dia mengkode agar mengikuti permaiannya.
“Iya sayang, mereka berdua terus
menyerangku. Lihat semua makanan gue tumpah. ” Kata Fara dengan suara manja,
dia ingin memanasi Aldi.
“Siapa lo?” tanya Aldi nyolot.
“Gue pacar barunya Fara.” Kata Raka
sambil menggandeng tangan Fara.
“Ah.. akhirnya ada juga yang mau
memungut anak bego ini.” Kata Aldi dengan tawa yang sangat menghina.
“Apa lo bilang?” Raka menarik kerah baju
Aldi.
“Santai saja, gue kasih tahu sama lo. Lo
pacaran sama dia hanya akan rugi, da di permalukan terus di depan umum. Percaya
sama gue, dia itu bukan cewek cupu yang tidak bisa di ajak bersenang-senang.”
Buuugh!
Raka memukul wajah Aldi yang lumayan
putih hingga meninggalkan luka di bagian bibir. Raka menarik kerah Aldi lagi
sambil, dia belum puas menghajar orang yang mulutnya busuk itu.
“Ini untuk lo yang menghina cewek gue!”
Raka memukul bagian kiri.
“Dan ini, untuk mulut busuk lo.” Raka
memukul bagian perut Aldi kemudian dia melepaskan kerah baju Aldi hingga dia
tergeletak di lantai.
“Dan lo, betah banget banget sih
dekat-dekat sama manusia sampah yang bau begini.” Kata Raka sama ceweknya Aldi.
“Kalau gue jadi lo pasti cari yang lain,
cantik-cantik kok mau-maunya dekat sampah.” Raka merangkul Fara dan mengajaknya pergi.
“Apa lo baik-baik saja?” tanya Raka.
Fara mengangguk dia masih shock melihat Raka memukuli Aldi.
“Kenapa dengan wajah lo? Apa lo nggak
terima gue pukulin dia?” tanya Raka. Fara terdiam tak bisa menjawab tenggorokannya rasanya dongkol banget.
“Kalau memang lo marah karena gue
pukulin manusia tiada punya adap itu, gue nggak akan mita maaf sama lo.” Ujar Raka.
Fara berhenti lalu memeluk Raka, dia
menangis di dalam pelukan Raka. Raka perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan Fara meskipun sangat ragu. Dia negelus rambut Fara.
“Sudah lo jangan tangisi manusia tidak
berguna itu.” Kata Raka.
“Gue tidak menangis karena itu.” Jawabnya sesenggukan.
“Lalu?”
“Gue menangis karena, betapa bodohnya
gue yang dulu mau mengejar-ngejar dia. Itu sangat memalukan.” Kata Fara.
Raka melepaskan pelukannya lalu mengusap
air mata yang menetes di kedua pipi Fara.
“Anggap saja itu mimpi buruk, dan tidak
perlu lo ingat.” Raka kembali menarik Fara dalam pelukannya.
“Makasih ya, kalau lo nggak datang gue
nggak tahu bagaimana menghadapinya.”
“Gue pasti datang dan ada di samping lo.”
Kata Raka dengan pede.
“Memangnya lo siapa memastikan diri bisa
ada di samping gue terus.”
“Seperti yang lo pilih dulu, antara gue
sama ucup. Gue itu orang terakhir datang ke kehidupan lo dan terus menemani lo. Dah yuk gue antar pulang.” Raka menggandeng Fara. Ucapan Raka masih mrnggantung dan belum bisa di cerna oleh Fara.