Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menang Proyek II


Win masih tidak percaya mendapatkan


proyek ini dengan sangat mulus. Kedatangan ketiga anak yang membuat jantungan


itu sangat membawa berkah baginya.


“Akhirnya sekian lama kita tidak terjun


dalam proyek, kita sekarang mendapatkanya.” Kata Nino.


“Yes, rasanya tuh seperti musim semi.” Ina


menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menelentangkan tangannya seakan dia


sedang menikmati udara di pegunungan.


“Karena bos sudah memberikan kepercayaan


kepada kita, mari kita kerjakan proyek ini dengan sungguh-sungguh.” Jelas Win.


“Siap, ketua.” Jawab serentak.


Gita megambil ponselnya, dia mengirimkan


pesan kepada Gilang karena sudah memberikan kesempatan untuk Gita dan teamnya.


Gita


Terima kasih sayang, kamu memberikan kesempatan buat team aku


Gilang


Terima kasih buat apa, orang  aku memberika


kesempatan ini kepada team kamu bukan karena kamu pacar aku.


Gita


Yah apapun itu. I love you


Gilang


I love you too, semangat kerjanya ya.


Gilang memberikan penjelasan dalam pesan


dia memberikan kesempatan karena konsep teamnya memang bagus. Bukan karena


masalah pribadi.


Tok..tok... Ratna mengetuk pintu lalu


masuk begitu saja ke ruangan team Win. Dia berdiri sambil melipat kedua


tangannya di dada.


“Jadi team gue kalah taruhan sama


kalian?” tanya Ratna dengan wajah yang sangat songong.


“Ya.” Jawab Win. Dia berdiri berjalan


mendekati Ratna, dia juga tidak mau kalah songong.


“Terus apa yang kalian mau dari team


gue?” tanya Ratna. Dia profesional meskipun kalah dia tetap mengaku kalah. Dia


tidak lepas tangan meskipun dia sangat jengkel karena anak buahnya terlalu


gegebah membuat taruhan.


“Ya kita samain saja, satu team resign.”


Celetuk Vian.


“Ya benar biar seimbang.”  Sahut Nino.


Ratna terdiam, resign sangat berat


baginya dia sangat suka bekerja di GG entertaiment. Bahkan mencapainya juga


tidak mudah, namun karena kecerobohan teamnya dia harus merelakan posisinya.


“Baiklah, gue akan resaign tapi gue


minta  team gue lainnya biarkan tetap  bekerja disini,kasian kalau mereka ikut


resign.”  Ratna melepaskan lipatan


tangannya. Dia kemudian berbalik badan pergi tanpa permisi.


“Tunggu.”  Panggil Win.


“Ada yang masih ingin lo sampaikan?”


Ratna memutar tubuhnya lagi. Meskipun dia  profesional tapi dia tidak mau menurunkan


songongnya.


“Gue tidak meminta lo ataupun team lo


resign. Gue hanya mau lo menjadi team terbaik di GG entertaimen, itu saja sudah


cukup bagi gue. Kita bekerjasama untuk kemajuan perusahaan ini.” Kata Win lalu


kembali duduk. Ratna kaget mendengar jawaban dari Win, dia pikir Win akan


membalas dengan apa yang telah di lakukan sama anak buahnya.


Gita dan yang lain terpesona dengan


jawaban yang di berikan Win, dia memang orang baik yang tidak suka melihat  orang lain menderita meskipun mereka menyalahi


dirinya.


“Wah, Mas Win keren deh.” Gita


mengangkat kedua jempolnya. Dan diikuti Fara dan juga Vian. Gita sangat kagum


karena Win tidak memiliki dendam kepada team Ratna meskipun dia selalu di


rendahkan.


“Yah.. cinta lama belum kelar nih.


Galon... gagal move on.” Sahut Nino.


“Cinta lama belum kelar, jadi Mas Win


sama Mbak Ratna itu pernah..?” Fara memperagakan dengan tangannya.


“Iya, sayangnya Mas Win kalah ganteng


dan tajir jadi  kepincut yang lain.”


Sahut Ina.


“He! He! kenapa pada gosipin gue. Mana


“Ya udah sana Mas Win pergi dulu biar


kita makin asik gosipnya.” Kata Gita dengan kurang ajar.


“Heh..! lo ya.” Win menunjuk wajah Gita.


Gita cengar-cengir berani mengusir ketua timnya.


“Mas Win.. ijin ke kantin cari inspirasi.”


Gita kabur.


Gita pamit keluar untuk membeli minuman


dingin sembari jalan-jalan kecil untuk mencari inspirasi. Gita melihat banyak karyawan


perempuan sedang bergerombol  di kantin langsung


ikutan. Dia selalu kepo dengan apa yang di lihat karyawan cewek-ccewek.


“Eh, lagi ngapain?” tanya Gita.


“Lihat tuh bos Gilang ganteng banget


kan.” Salah satu karyawan menunjuk Gilang yang sedang ngobrol sama seseorang di


kantin.


“Buseet dah, kenapa pada ngecengin pacar


gue.” Batin Gita.


“Andai saja gue senasib dengan bos


Gilang, pasti gue bisa jadi pacarnya.” Cewek itu halu.


“Susah emang kalau punya pacar ganteng,


selalu saja jadi bahan haluan cewek-cewek.” Gumam Gita pelan.


“Apa lo bilang?” Cewek itu agak


tercengang.


“Nggak.” Gita geleng kepala sambil


tersenyum tipis.


“Gue ceritain ya,dulu ada orang bodoh


banget nggak mau di pacarin sama bos Gilang, kalau sekarang dia tahu Gilang


sudah menjadi bos besar begini  pasti dia


akan menyesal.” Katanya dengan sangat sengit.


“Maksud lo?”


“Sini duduk gue ceritain tentang kisah


bos Gilang, tapi ingat lo nggak boleh ceritain kisah Bos Gilang sama lo, tapi


janji lo nggak boleh gebet dia karena dia sudah punya gue. Lo boleh deh ambil


temannya saja itu dia juga nggak kalah cakep kok.” Tunjuk cewek itu.


“Ah.. iaya,,,iya.”  Jawab Gita. Dia ingin banget mendengar cerita


versi dari cewek itu.


“Dulu gue satu SMA sama bos Gilang, dia


sudah populer sejak awal dan yang pasti dia nggak kenal gue karena beda kelas.”


“Pasti itu.” Jawab Gita dengan santai yang


membuat karyawan itu berdecak.


“Gue nggak tahu itu cewek pakai pelet


apa, karena banyak cewek cantik di sekolah bisa-bisanya  memilih cewek gendut, nggak cantik, tomboy,


bar-bar.”


“Terus?” Gita sedikit geram karena dia


nggak sadar orang yang dia bicarakan itu di depannya. Dia menggenggam erat


tangannya, ingin sekali menampol wajah cewek itu.


“Dia sok jual mahal lagi. Sampai –sampai


bos Gilang harus mengejarnya..ah mungkin waktu itu mata bos gilang buta. Dan


setelah beberapa bulan mengejar mereka jadian mana bos Gilang bucin lagi.” Jawabnya


dengan nada kesal.


“Memangnya siapa nama cewek itu,


kelihatan nggak tahu diri banget.” Gita seolah-olah dia nggak tahu namun dia


ingin banget menjambak-jambak rambut cewek itu.


“Namanya siapa gitu lupa.”


“Terus sekarang apa mereka masih


jadian?”


“Nggak tahu juga, gue pindah sekolah


saat naik kelas XII. Dan sampai sekarang juga nggak pernah melihat cewek itu


lagi.” Kata nya. “Dan lihat itu sahabatnya namannya Raka dia juga ceo muda.”


“Dia Raka?” Gita keget tidak mengenali


saudaranya sendiri.


“Iya, mereka tuh cool banget. Kalau gue


nggak dapat bos Gilang sahabatnya juga mau.”


“Idiih, ogah juga gue punya ipar kayak


lo.” Gumam Gita.


“Lo nggak usah bisik-bisik gue nggak


dengar.”


“Nggak usah dengar nanti sakit hati.”


Jawab Gita dengan nada datar.