
Win masih tidak percaya mendapatkan
proyek ini dengan sangat mulus. Kedatangan ketiga anak yang membuat jantungan
itu sangat membawa berkah baginya.
“Akhirnya sekian lama kita tidak terjun
dalam proyek, kita sekarang mendapatkanya.” Kata Nino.
“Yes, rasanya tuh seperti musim semi.” Ina
menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menelentangkan tangannya seakan dia
sedang menikmati udara di pegunungan.
“Karena bos sudah memberikan kepercayaan
kepada kita, mari kita kerjakan proyek ini dengan sungguh-sungguh.” Jelas Win.
“Siap, ketua.” Jawab serentak.
Gita megambil ponselnya, dia mengirimkan
pesan kepada Gilang karena sudah memberikan kesempatan untuk Gita dan teamnya.
Gita
Terima kasih sayang, kamu memberikan kesempatan buat team aku
Gilang
Terima kasih buat apa, orang aku memberika
kesempatan ini kepada team kamu bukan karena kamu pacar aku.
Gita
Yah apapun itu. I love you
Gilang
I love you too, semangat kerjanya ya.
Gilang memberikan penjelasan dalam pesan
dia memberikan kesempatan karena konsep teamnya memang bagus. Bukan karena
masalah pribadi.
Tok..tok... Ratna mengetuk pintu lalu
masuk begitu saja ke ruangan team Win. Dia berdiri sambil melipat kedua
tangannya di dada.
“Jadi team gue kalah taruhan sama
kalian?” tanya Ratna dengan wajah yang sangat songong.
“Ya.” Jawab Win. Dia berdiri berjalan
mendekati Ratna, dia juga tidak mau kalah songong.
“Terus apa yang kalian mau dari team
gue?” tanya Ratna. Dia profesional meskipun kalah dia tetap mengaku kalah. Dia
tidak lepas tangan meskipun dia sangat jengkel karena anak buahnya terlalu
gegebah membuat taruhan.
“Ya kita samain saja, satu team resign.”
Celetuk Vian.
“Ya benar biar seimbang.” Sahut Nino.
Ratna terdiam, resign sangat berat
baginya dia sangat suka bekerja di GG entertaiment. Bahkan mencapainya juga
tidak mudah, namun karena kecerobohan teamnya dia harus merelakan posisinya.
“Baiklah, gue akan resaign tapi gue
minta team gue lainnya biarkan tetap bekerja disini,kasian kalau mereka ikut
resign.” Ratna melepaskan lipatan
tangannya. Dia kemudian berbalik badan pergi tanpa permisi.
“Tunggu.” Panggil Win.
“Ada yang masih ingin lo sampaikan?”
Ratna memutar tubuhnya lagi. Meskipun dia profesional tapi dia tidak mau menurunkan
songongnya.
“Gue tidak meminta lo ataupun team lo
resign. Gue hanya mau lo menjadi team terbaik di GG entertaimen, itu saja sudah
cukup bagi gue. Kita bekerjasama untuk kemajuan perusahaan ini.” Kata Win lalu
kembali duduk. Ratna kaget mendengar jawaban dari Win, dia pikir Win akan
membalas dengan apa yang telah di lakukan sama anak buahnya.
Gita dan yang lain terpesona dengan
jawaban yang di berikan Win, dia memang orang baik yang tidak suka melihat orang lain menderita meskipun mereka menyalahi
dirinya.
“Wah, Mas Win keren deh.” Gita
mengangkat kedua jempolnya. Dan diikuti Fara dan juga Vian. Gita sangat kagum
karena Win tidak memiliki dendam kepada team Ratna meskipun dia selalu di
rendahkan.
“Yah.. cinta lama belum kelar nih.
Galon... gagal move on.” Sahut Nino.
“Cinta lama belum kelar, jadi Mas Win
sama Mbak Ratna itu pernah..?” Fara memperagakan dengan tangannya.
“Iya, sayangnya Mas Win kalah ganteng
dan tajir jadi kepincut yang lain.”
Sahut Ina.
“He! He! kenapa pada gosipin gue. Mana
“Ya udah sana Mas Win pergi dulu biar
kita makin asik gosipnya.” Kata Gita dengan kurang ajar.
“Heh..! lo ya.” Win menunjuk wajah Gita.
Gita cengar-cengir berani mengusir ketua timnya.
“Mas Win.. ijin ke kantin cari inspirasi.”
Gita kabur.
Gita pamit keluar untuk membeli minuman
dingin sembari jalan-jalan kecil untuk mencari inspirasi. Gita melihat banyak karyawan
perempuan sedang bergerombol di kantin langsung
ikutan. Dia selalu kepo dengan apa yang di lihat karyawan cewek-ccewek.
“Eh, lagi ngapain?” tanya Gita.
“Lihat tuh bos Gilang ganteng banget
kan.” Salah satu karyawan menunjuk Gilang yang sedang ngobrol sama seseorang di
kantin.
“Buseet dah, kenapa pada ngecengin pacar
gue.” Batin Gita.
“Andai saja gue senasib dengan bos
Gilang, pasti gue bisa jadi pacarnya.” Cewek itu halu.
“Susah emang kalau punya pacar ganteng,
selalu saja jadi bahan haluan cewek-cewek.” Gumam Gita pelan.
“Apa lo bilang?” Cewek itu agak
tercengang.
“Nggak.” Gita geleng kepala sambil
tersenyum tipis.
“Gue ceritain ya,dulu ada orang bodoh
banget nggak mau di pacarin sama bos Gilang, kalau sekarang dia tahu Gilang
sudah menjadi bos besar begini pasti dia
akan menyesal.” Katanya dengan sangat sengit.
“Maksud lo?”
“Sini duduk gue ceritain tentang kisah
bos Gilang, tapi ingat lo nggak boleh ceritain kisah Bos Gilang sama lo, tapi
janji lo nggak boleh gebet dia karena dia sudah punya gue. Lo boleh deh ambil
temannya saja itu dia juga nggak kalah cakep kok.” Tunjuk cewek itu.
“Ah.. iaya,,,iya.” Jawab Gita. Dia ingin banget mendengar cerita
versi dari cewek itu.
“Dulu gue satu SMA sama bos Gilang, dia
sudah populer sejak awal dan yang pasti dia nggak kenal gue karena beda kelas.”
“Pasti itu.” Jawab Gita dengan santai yang
membuat karyawan itu berdecak.
“Gue nggak tahu itu cewek pakai pelet
apa, karena banyak cewek cantik di sekolah bisa-bisanya memilih cewek gendut, nggak cantik, tomboy,
bar-bar.”
“Terus?” Gita sedikit geram karena dia
nggak sadar orang yang dia bicarakan itu di depannya. Dia menggenggam erat
tangannya, ingin sekali menampol wajah cewek itu.
“Dia sok jual mahal lagi. Sampai –sampai
bos Gilang harus mengejarnya..ah mungkin waktu itu mata bos gilang buta. Dan
setelah beberapa bulan mengejar mereka jadian mana bos Gilang bucin lagi.” Jawabnya
dengan nada kesal.
“Memangnya siapa nama cewek itu,
kelihatan nggak tahu diri banget.” Gita seolah-olah dia nggak tahu namun dia
ingin banget menjambak-jambak rambut cewek itu.
“Namanya siapa gitu lupa.”
“Terus sekarang apa mereka masih
jadian?”
“Nggak tahu juga, gue pindah sekolah
saat naik kelas XII. Dan sampai sekarang juga nggak pernah melihat cewek itu
lagi.” Kata nya. “Dan lihat itu sahabatnya namannya Raka dia juga ceo muda.”
“Dia Raka?” Gita keget tidak mengenali
saudaranya sendiri.
“Iya, mereka tuh cool banget. Kalau gue
nggak dapat bos Gilang sahabatnya juga mau.”
“Idiih, ogah juga gue punya ipar kayak
lo.” Gumam Gita.
“Lo nggak usah bisik-bisik gue nggak
dengar.”
“Nggak usah dengar nanti sakit hati.”
Jawab Gita dengan nada datar.