Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Mahasiswi Baru


Gita menyisir rambutnya lalu memakai sedikit lipbam di bibirnya.


"Selamat pagi mahasiswi baru." katanya sambil terkekeh. Dia melihat kalungnya lalu menciunya.


"Do'a kan Gita ya Kak supaya kuliahnya asik." Kata Gita.


"Gita buruan turun, sudah telat lo mau apa di hukum?!" teriak Raka dari meja makan.


"Iya." Gita mengambil tas dan perlengkapan ospek.


Gita berlari turun dengan kecepatan tinggi, tidak ada lima menit sampai di depan Raka.


"Anak-anak mama udah gede saja, sekarang sudah kuliah." Wanda menciun pipi Gita lalu pipi Raka.


"Iya dong Ma, masa terus putih abu-abu nggak ada kemajuan." jawab Gita.


"Benar, kapan Raka nikah kalau SMA terus." kata Raka.


"Nikah aja yang di pikirin, kuliah dulu yang benar. Setelah itu cari kerja biar bisa buat bahagiain anak istri kamu. Jangan main nikah-nikah saja nanti mau di kasih makan apa coba anak dan istri kamu?" Wanda menasehati Raka.


"Dengarin tuh Ka, kanjeng mami ngomong. Jangan masuki telinga kanan keluar kanan lagi." Gita ikut ceramahin Raka.


"Mantul dong." Kata Wanda sambil ketawa.


Raka menjitak kepala Gita, kesal melihat Gita kegirangan kalau dirinya sedang di ceramahi.


"Sudah-sudah katanya telat, buruan berangkat."


"Iya Ma, Raka sama Gita berangkat dulu." Raka mencium tangan Wanda di ikuti Gita.


...♤♡♡♡♤...


Raka memparkirkan motornya, semua mata langsung memandang kearah Raka dan Gita.


"Selamat pagi mahasiswa baru." Sapa Fara yang datang lebih dulu.


"Selamat pagi." Gita merangkul Fara.


"Mari kita ramaikan dunia perkukihan kita, meskipun personil kita hilang satu." Kata Vian. Mereka tinggal berempat setelah Anita memutuskan kuliah ke Jogja menyusul Bayu.


"Yuhuuu..." seru Raka.


Mereka berempat menjadi pusat perhatian, membuat Gita risih.


"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" tanya Gita.


"Mungkin karena kita cantik." Kata Fara sembarangan.


"Hanya keluarganya doang yang bilang kalian cantik, selebihnya orang katarak yang bilang kalian cantik." Kata Vian.


"Maksud lo gue katarak gitu?" Raka mendelik ke arah Vian.


"Ya kurang lebih seperti itu." Kata Vian sambil lari.


Buuugh!!! Vian menabrak seseorang yang berada di depannya.


"Aaah!!!" Teriak cewek yang di tabrak Vian.


"Baru juga masuk beberapa langkah udah bikin masalah aja." Gita menepuk jidatnya.


"Sorry..sorry kak, nggak sengaja." Vian mencoba membersihkan baju yang kena tumpahan air minum.


"Lo kalau jalan pakai mata, jangan pakai mata kaki." Katanya marah.


"Maaf kak, gue jalannya pakai kaki. kalau pakai mata takutnya kelilipan." jawab Vian sambil cengengesan. Gita dan Fara saling berpandangan dan menahan tawa.


"Berani ngejawab lo ya, bukanya minta maaf malah ngeledek." Kata kakak kelas itu semakin marah.


"Tadi kan udah minta maaf. Sekali lagi maafin gue." Vian menangkupkan dua tangannya.


"Iya Kak, teman saya tidak sengaja. Maafin ya." Gita membantu bicara agar kakak seniornya itu memberikan maaf kepada Vian.


"Felling gue sih ini nggak bakalan bagus." Kata Fara.


"Benar, dasar Vian biang onar baru masuk saja udah bikin masalah. Bisa nggak gitu kita tenang pas belajar tanpa ada gangguan dari para senior-senior." Omel Gita.


"Iya.. cukup masa SMA kita gitu loh. Capek tahu Ian." Fara ikut menyemprot Vian.


"Ya mana gue tahu, mungkin juga Tuhan menakdirkan kalian menjadi algojo." Vian masih saja bercanda.


"Awas ya lo kalau sampai dua wanita tersayang gue ini kenapa-napa gegara ulah lo." Raka menjewer telinga Vian.


"Iyaa...ampun..ampun Raka, mereka berdua nggak bakal kenapa-kenapa mereka berdua jagoan." Kata Vian sambil menahan sakit.


"Sukurin lo."


"Kalian berempat buruan malah bercanda, kalian ini bukan anak SMA lagi masih saja kayak anak kecil." Teriak senior yang tadi tertabrak Vian.


"Omongan setiap tahun dan di universitas mana pun, nggak kreatif itu mulu yang di katakan." Gita nyinyir.


"Iya, sekali-kali ospek tuh di ajak jalan-jalan, makan enak kan jadinya kita seneng." Fara nimbrung nyinyir.


"Iya, cantik-cantik kok galak jadi nggak cinta guenya." sahut Vian dari belakang.


"Idih.. kepedean memangnya dia mau sama lo." Fara menoleh dengan lirikan mata yang sangat tajam sampai Vian bergidik.


"Serem amat lo Far."


"Kalian masih saja bicara ya, hargai kami disini!" bentaknya.


Raka berhenti lalu melirik siapa saja senior yang sedang berdiri di depan. Dia menandasi satu persatu sembari menghafal.


"Sayang, ayo buruan kamu ngapain diam di situ." Fara menarik tangan Raka.


Setelah semua masuk me barisan, para senior berdiri sejajar lalu memperkenalkan diri.


"Baik, selamat siang semua....! perkenalkan nama saya Farhan Bagaskara menjabat sebagai panitia ospek di kampus kita tercinta ini." Sambutan dari seorang cowok tinggi tegap di depan yang terlihat gagah memakai jas almamater warna biru. Hampir semua cewek terpesona dengan ketampanan Farhan. Di tambah tutur bahasanya yang lembut membuta cewek-cewek langsung menandai Farhan dan menghalukan sebagai gebetannya.


"Dan di sebelah saya ini namanya Imel, Aulia, Jordan. Nanti kalian bisa kenalan sama yang lain juga."


"Oh jadi dia namanya Imel, canti ya Ka." Vian menyiku lengan Raka.


"Nggak cantikan Fara." jawab Raka dengan nada datar.


"Kataraknya menyebar luas sampai buta lo."


Plak! Fara menabok punggung Vian karena kesal. Dan tabokan Fara menimbulkan teriakan dari Vian.


"Sukurin lo!" Kata Gita.


"Kalian bertiga berdiri!" Teriak Imel. Dia merasa kesal sejak tadi mereka bertiga terus bercanda.


"Kenapa Kak?" Tanya Vian nggak sadar diri sejak awal bikin ribut.


"Masih tanya lagi, sekarang kalian bertiga lari keliling lapangan ini lima kali!" bentak Imel.


"Hah.. kebiasaan banget ini mah. Kita nggak di SMA nggak di universitas tetap aja keliling lapangan. Nggak bisa apa keliling hatimu gitu." Vian masih bisa bercanda.


"Buruan lari atau gue tambah hukumanya!"


"Iya Kak." Jawab Gita, Fara dan Vian sambil berlari.


Raka berdiri lalu siap untuk lari, dia tidak bisa diam saja melihat orang-orangnya di hukum.


"Kamu mau kemana?" tanya Jordan.


"Saya mau lari, karena saya bagian dari mereka." katanya sambil lari sebelum mendapat persetujuan dari para seniornya.


"Sok-sokan, solidaritas tinggi. Lihat saja nanti kalian akan tahu apa arti solidaritas yang sebenarnya." kata Jordan.