Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Perkemahan


Pukul tujuh pagi bus yang membawa ke bumi perkemahan sudah ada di depan kantor. Dan


seperti biasa mereka hanya menungu dua orang yang sering telat yaitu Gita dan


Fara. Karena Gita adalah istri bos jadi tidak ada yang berani memarahinya.


Sekalipun itu Win, dia sedikit mengerem kalau mau marah.


“Sayang, aku berangkat dulu ya.” Gita mencium Gilang lalu naik ke bus.


“Hati-hati sayang.” Seru Gilang sembari melambaikan tangan.


Bella yang di dalam bus melihat kemesraan Gita tersenyum, dia membayangkan jika


posisi Gita sedang di perankan dirinya bersama Vian. Bella pun langsung


menggelangkan kepal cepat.


“Kenapa jadi Vian?” batinnya sambil menggeleng kepala.


“Kenapa geleng-geleng kepala? Pusing?” tanya Vian yang duduk disebelahnya.


“Nggak, lo kenapa duduk sini?” tanya Bella harusnya dia duduk sama Ina.


“Mau saja duduk sini, emang nggak boleh?”  Vian menatap Bella lekat membuatnya kelabakan.


“Bukan nggak boleh, tapi ini tempat duduk Mbak Ina.” Kata Bella pelan dan seperti


tertekan.


“Nah tuh Mbak Ina duduk sama Mas Nino.” Tunjuk Vian.


“Itu pasti karena lo udah duduk sini.” Kata Bella lirih.


“Apa?” Vian meminta Bella mengilangi perkataannya.


“Nggak kok.” Katanya sambil tersenyum.


Bella jadi merasa tidak bebas, dia bahkan yang sudah ngantuk harus berusaha tetap


terjaga dia tidak mau kalau sampai dia tertidur dan mengeluarkan suara yang


aneh atau bertingkah yang tidak-tidak.


Vian yang sadar itu langsung menaruh kepala Bella ke pundaknya.


“Tidur saja kalau mengantuk, nggak usah di tahan. Gue nggak bakalan melakukan hal


aneh-aneh sama lo.” Kata Vian agar Bella tidur dengan tenang.


“Gue nggak takut lo aneh-aneh, hanya saja gue yang bakalan aneh-aneh.” Batinnya


sambil memejamkan matanya.


...♡♡♡◇◇...


“Bella, bangun udah sampai.” Bisik Vian.


Bella langsung merenggangkan kedua tangannya, dia mengusap punggungya yang pegal. Vian membalikan tubuh Bella hingga membelakangi dirinya kemudian menepuk-nepuk punggung Bella pelan.


“Eh.. Vian apa yang lo lakuin?” Bella mendadak panik.


“Tubuh kamu pegal kan, biar aku pijitin.” Kata Vian dengan me nepuk-nepuk lunggung Bella.


“Udah ah... nggak enak dilihat yang lain.” Kata Bella langsung memutar tubuhnya. Dia bergegas turun menyusul yang lainnya.


Team Win langsung turun bekerja, mereka tidak menunda-menuda dengan beristirahat


dulu saat sampai. Mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan menikmati


suasana bumi perkemahan dengan santai.


“Gimana semua aman?” Win mengontrol teamnya.


“Aman Mas Win.” Jawab Serentak.


Waktu menjelang sore, dan pekerjaan mereka baru saja kelar dan akan di lanjutkan setelah makan malam.


Bella duduk di depan tenda sambil menepuk-nepuk tangannya yang pegal. Dia juga meluruskan kakinya yang lelah seharian di buat jalan kesana-kemari.


“Capek ya.” Vian duduk di sebelah Bella sambil memberikan minuman dingin untuknya.


“Makasih.” Jawabnya sambil berusaha membuka tutup botolnya. Namun tutupnya susah di buka. Vian pun mengambilnya lagi lalu membukannya.


“Makasih.” ucap Bella lagi.


“Makasih-makasih mulu, nggak ada kata yang lain?” ujar Vian.


“Kata apa?”


“Ya apa gitu, i love you contohnya.” Vian terkekeh.


“Aneh-aneh aja lo masa ya di bukain tutup botol bilang i love you. Itu konteksnya beda.” Bella menggeleng kepala.


“Ya asal itu kata-kata yang indah gue nggak akan mempermasalahkan dan nggak akan aneh.”  Jawab Vian yang membuat Bella menggelangkan kepala semakin cepat.


Bella meneguk minumannya, baru saja menurunkan botol dari bibirnya Vian sudah


menodongkan makanan ke bibri Bella. Bella memundurkan kepalanya karena dia kaget.


“Aaaa...” Vian menyuapi Bella.


“Gue bisa makan sendiri.” Kata Bella.


“Buruan buka mulut.” Vian sedikit memaksa. Dia tahu Bella bisa melakukannya sendiri. Tapi dia ingin memanjakan Bella saja.


Bella menengok kanna-kiri takut ada orang yang melihatnya, karena sepi dia langsung


mau membuka mulut.


“Bella." Panggil Vian pelan.


“Hem.”


“Gue mau minta maaf soal kemarin, karena gue marah-marah nggak jelas sama lo.” Vian meminta maaf atas tingkahnya beberapa hari lalu.


“Ah.. gue sudah melupakan itu. Gue tahu lo marah karena lo pasti lagi capek kan.”


“Nggak capek, gue waktu itu kesal saja kenapa lo nggak mau bilang sama yang lain kalau gue jemput lo. Tapi gue sadar, kalau gue terburu-buru menginginkan itu jadi gue benar-benar minta maaf karena udah buat lo nggak nyaman sama gue.” Jawab Vian sambil tersenyum.


“Harusnya gue yang minta maaf, karena  gue nggak jujur sama mereka. Kan lo udah jauh-jauh jemput gue tapi gue malah begitu.” Bella pun ikut merasa bersalah dengan kelakuannya.


“Baiklah, salah paham kita sudah selesai. Bella kapan lo mau jawab pertanyaan gue waktu itu?”


“Pertanyaan apa ya?”


“Pertanyaan yang waktu gue anterin lo pulang?”


Bella menggaruk kepala, dia lupa kalau Vian pernah menanyakan sesuatu yang belum dia


jawab.


“Bella, gue suka sama lo. Apa lo juga suka sama gue? Itu pertanyaan yang gue ajukan


sama lo semasa gue anterin pulang lo.”


“Ah.. itu.” Bella menggaruk kepalanya, dia bingung tidak pernah memilili jawaban yang tepat untuk penyataam cinta Vian.


“Iya, itu. Apa lo belum bisa juga memberikan jawabannya.” Kata Vian.


“Em.. gue..” Bella menggigit bibir bawahnya.


“Ah.. lo belum bisa memutuskan itu ya. Nggak apa-apa gue akan nunggu lo kok. Tapi gueb harap jangan lama-lama karena kalau lo tidak mau menerimanya gue bisa mundur.


Tapi gue harap lo mau menerima cinta gue.” Kata Vian. Bella hanya diam tidak


bisa menjawab. Dia bingung harus jawab apa sekarang.


...♡ (Part Gita) ♡...


 Gita keluar tenda dan berjalan-jalan sebentar sembari mencari sinyal untuk menghubungi Gilang.


“Ah.. kenapa nggak ada sinyal sih.” Gita mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Disini memang sudah sinyal, kalau lo mau dapat sinyal tuh di atas tower sana.” Radit


yang muncul di sebelah Gita menunjuk ke arah tower yang terlihat dari perkemahan.


Gita kaget, dia segera pergi meninggalkan Radit. Dia masih belum bisa melupakan


kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya dia masuk kerumah sakit.


“TungguGita.” Radit menahan Gita agar jangan pergi.


“Ada apa?” tanya Gita.


“Gue mau bisa sama lo.” Kata Radit.


Gita membalikan tubuhnya, “ Bicara apa?” Dia memberi kesempatan untuk Radit untuk bicara.


“Gue secara langsung mau minta maaf sama lo, karena sikap gue dulu. Gue benar-benar


bisa mendapatkan lo dengan melakukan siaran langsung dan lo juga menyukainya.” Kata Radit.


“Gue sudah memaafkan lo, tapi maaf gue masih trauma kalau melihat lo." kata Gita dengan sangat jujur.


“Tapi kenapa lo menghindari gue, kalau lo sudah memaafkan gue. Apa kita tidak bisa berteman?” Radit berharap bisa berteman lagi dengan Gita.


“Gue tidak mau terjadi kesalah pahaman lagi. Lo seorang artis akan kena sorot terus. Dan akan menjadi bahan berita kalau kita berduaan begini. Itu akan merusak citra lo.” Kata Gita.


“Kalian tidak berduaan kok, ada gue disini.” Aura muncul.


Fara yang melihat Gita bersama Radit dan Aura langsung berlari menghampirinya takut mereka akan melakukan hal buruk lagi sama Gita.


“Ada apa nih?” tanya Fara sambil menggandeng tangan Gita.


“Nggak ada apa-apa, gue Cuma mau minta maaf sama Gita. Jadi lo nggak perlu cemas.”


Kata Aura.


“Benar, kita berdua mau minta maaf  atas tindakan kita yang membuat Gita terkena masalah.” Kata Radit.


“Gita, gue juga berterima kasih sama lo karena masih memberikan kesempatan ke dua buat kita hingga masih bisa kerja di perusahaan ini. Dan juga dengan kejadian


kemarin gue bisa belajar bahwa semua yang gue inginkan tidak bisa gue dapatkan


semua.” Kata Aura.


“Iya Aura, aku juga minta maaf kalau membuat kamu tidak enak hati saat itu.” Gita meminta maaf karena telah membuat kesalah pahaman.


“Oiya, gue juga mau memberikan udangan buat kalian. Kalau gue sama Radit mau menikah.” Aura memberikan undangan.


“Menikah?” Gita sama Fara berpandangan.


“Iya menikah, setelah kamu renungkan juga kami masih saling cinta hanya karena


keegoisan kita membuat semuanya kacau. Dan kami sudah menyadarinya.”Jelas Aura.


“Syukur deh, selamat ya buat kalian semoga lancar sampai hari pernikahan kalian.”


“Terima kasih ya jangan lupa datang ya, kita balik dulu ya.” Kata Aura setelah dia merasa lega karena Gita sudah memberikan maaf kepadanya.


“Wah.. nggak disangka banget ya mereka bisa jadian lagi.” Kata Fara.


“Iya, gue kira masih mau bikin huru-hara.” Ujar Gita.


“Lo ngapain sih disini?” tanya Fara.


“Mau telpon sama Kak Gilang lah, gue udah kangen banget sama dia.” Kata Gita kembali menghidupka ponselnya.


“Yaelah Git, belum juga ada sehari pergi udah kangen saja lo sama Kak Gilang.” Fara mengejek Gita.


“Ya kalau emang kangen kenapa, gue kan nggak mau pisah lama-lama sama Kak Gilang.” Jawab Gita dengan senyum-senyum sok cantik.


“Idiih.. bucin akut lu.” Fara bergidik.


“Kakak ipar aku yang cantik jelita, lo nggak di bucinin sama suami lo ya sampai sirik begini, hati-hati ya dia bucin sama yang lain.” Gita memeletkan lidahnya.


“Hati-hati nih kalau ngomong, kalau yang terlalu bucin itu biasanya menyimpan sesuatu yang besar.” Fara membalas omongam Gita.


“Oiya... sana pergi ah.. gangguin saja.” Gita mengusir Fara.


“Iya gue pergi.” Fara kembali ke tenda karena situasi aman dan terkendali, dia juga sebenarnya mau bucin sama Raka.


Gita kembali mengangkat tangannya agar mendapatkan sinya, “Disini bagus nih kayaknya sinyal.” Ujar Gita sambil menekan panggilan sama Gilang.


“Haloo sayang.” Gita melambaikan tangan ketika Gilang mengangkat telponnya.


“Halo sayang, kenapa baru telpon sih. Kan aku kangen banget sama kamu.” Kata Gilang


sambil memeluk guling di sampingnya.


“Disini susah sinyal sayang, jadi harus cari dulu. Kamu udah makan?” tanya Gita.


“Tentu saja sudah, Bik Siti nggak pernah telat memberiku makan. Kamu sendiri sudah


makan??”


“Sudah.”


“Makananya enak nggak?” Gilang takut kalau makanan Gita tidak enak.


“Enak kok.” jawab Gita tegas.


“Kalau nggak enak bilang saja, nanti aku suruh koki resto kita datang ke sana.”


“Nggak usah sayang, makanan disini enak kok.”


“Kamu kenapa nggak pakai baju hangat? Disitu dingin kan?” Gilang memperhatika baju yang di pakai Gita.


“Iya lupa, ada di tenda baju hangatnya.”


“Kamu tuh gimana sih, kalau sakit gimana? Aku susulin kamu sekarang kesana.” Gilang memcemaska Gita. Gita selalu sembarangan kalau tidak dia pantau.


“Sayang-sayang, nggak usah. Nanti aku pakai baju hangatnya. Kamu jangan khawatir.” Gita menahan agar Gilang tidak nyamperin dirinya.


“Bailah, sayang aku kesepian nggak ada kamu.” Rengek Gilang.


“Kan ada Bik Siti di rumah.” jawab Gita santai.


“Ya kali aku peluk-peluk Bik Siti.” Gilang manyun.


“Ya kalau kamu mau nggak apa-apa.” Kata Gita sambil terkekeh.


“Awas ya kamu godain aku. Kamu disitu benar-benar baik-baik saja kan, nggak ada yang gangguin kamu.” Gilang semakin posesif sama Gita.


“Nggak sayang semua aman, ada Fara, Vian sama yang lain pasti aku aman terkendali dan tidak akan ada yang berani mengganggu aku.”


“Syukur deh, sayang kiss dong.” Gilang meminta cium Gita.


“Eemmuah.” Gita pun langsung melakukannya.


“Hah..bbesok-besok aku tidak akan memberika kerjaan kaku keluar kota lagi tanpa aku. Aku bisa pingsan karena menahan rindu begini.” Gilang kembali merengek.


“Sayang, gombal banget deh. Aku cuma dua hari disini." ujar Gita.


“Dua hari bagi aku tuh satu tahun tahu nggak. Nggak ada kamu bikin aku malas mau


ngapa-ngapain.”  Kata Gilang.


“Jangan begitu, pergi saja sama Raka dia juga pasti lagi kesepian.”


“Terus mau ngapain dua pria kesepian bertemu, curhat begitu.” kata Gilang dengan malas.


“Ya nggak curhat juga sayang, kan bisa main, nongkrong, atau apa gitu.”


“Main boleh?” Gilang mulai jail sama Gita.


“Ya boleh, memangnya kenapa nggak boleh.” Gita bingung biasanya main tinggal main saja.


“Ok.” jawab Gilang kegirangan.


“Eh.. tunggu nih main kemana ya?” Gita kembali menanyakan jas hujan.


“Ya main kemana saja.”


“Nggak, sekarang aku nggak ijinin kamu main. Tetap di rumah saja sampai aku pulang. Kamu nggak boleh keluyuran.”  Gita


membatalkan ucapannya tadi.


“Lah, gimana sih sih sayang. Katanya boleh main.” Goda Gilaang.


“Ih kamu mainya yang aneh-aneh aku nggak suka.” Gita merengut.


“Nggak-nggak sayang, bohong mana berani aku main yang aneh-aneh.”


“Beneran ?” Kata Gita dengan serius..


“Iya. Memangnya pernah aku bohong sama kamu.” kata Gilang.


“Janji ya.”


“Janji.” Gilang mengangkat dua jari berbentuk v.


“Awas saja ya, aku akan pantau kamu lewat Bik Siti sama Mama. Kalau kamu nakal aku


marah sama kamu.” Kata Gita.


“Iya sayangku, cintaku, istriku. Aku janji akan baik-baik dirumah. Sekarang kamu


pergi ke tenda pakai baju hangat.” Gilang menyuruh Gita bergegas ke tenda.


“Iya.”


“Emmuh, miss you sayang.” Gilang mengecup ponselnya.


“Miss you too.” Gita mematikan sambungan telponnya lalu berhehas pergi ketenda untuk memmakai baju hangat. Sebenarnya dia sudah kediginan namun karena demi bisa


ngobrol sama Gilang dia kuat-kuatkan saja.