Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Di Hukum


Fara menyenggol siku tangan Gita yang sedang fokus memperhatikan pelajaran.


"Apa?" tanya Gita namun pandangannya masih fakus ke depan.


"Istirahat masih lama kah?" tanya Fara. Gita melirik sekilas lalu menyodorkan tangan kirinya di hadapan Gita.


"Ha.. masih lama lagi, mana perut gue laper cacing di perut pada konser." Kata Fara sambil mengelus perutnya.


"Perut aja yang lo pikirin."


"Songong banget kayak lo nggak, emang lo paham itu yang di jelasin." Nyinyir Fara.


"Oo ya jelas, nggak." Gita terkekeh.


"Dasar lo, sok-sokan merhatiin padahal juga nggak ngerti."


"Ya seenggaknya kan gue berusaha untuk memperhatikan." Kata Gita.


"Iyee...iyeee.." Fara menaruh kepalanya di meja.


Gita kasihan melihat Fara yang lemas seperti orang tidak makan sehari. Dia membuka tas ransel ajaibnya yang lebih banyak berisi cemilan daripada peralatan sekolah.


Gita menyenggol siku tangan Fara, "Apa?" tanya Fara dengan lemas.


"Mau nggak lo?" Gita menaikan roti.


"Nah.. ini yang gue tunggu-tunggu dari tadi." Fara mengangkat kepalanya dan langsung menyantap.


Gita menendang kaki kursi milik Anita. Anita perlahan menolah.


"Apa?" katanya tanpa suara.


"Mau nggak?" Gita mengangkat roti.


Anita mengangguk, "Mau." Katanya tanpa suara.


"Buk." Mita anak baru yang duduk di barisan samping Anita memanggil Bu Ana yang sedang menjelaskan materi.


"Iya." Bu Ana berdiri mencari sumber suara yang memanggilnya. Seketika Gita melempar roti ke meja Anita dan Bu Ana melihatnya.


Mita mengangkat tangan,"Buk saya mau tanya soal.."


"Sebentar Mita." Bu Ana berjalan mendekati tempat duduk Anita.


"Roti ini punya siapa?" Bu Ana mengambil roti yang masih di atas meja.


"Punya.." Anita gugup jadi bicaranya tersendat-sendat.


"Punya saya Buk." Gita mengangkat tangannya.


"Kamu lagi, ini jam pelajaran kenapa kamu makam?" Gita kena omel Bu Ana.


"Maaf Buk, saya lapar. Istirahat juga msaih lama. Nanti kalau saya pingsan gimana?" Gita meringis dengan wajah yang tanpa dosa.


"Kalau di kasih tahu jawab aja ya kamu." Bu anak menjewer telingan Gita.


"Nggak begitu buk, cuma.."


"Cuma apa?" Bu Ana mendelik ke arah Gita. Gita ketahuan makan tidak hanya sekali dua kali. Jadi Bu Anak kesal dan bingung menegur Gita.


"Keluarkan saja Buk, mereka berdua berisik mengganggu belaja kita." Kata Mita.


"Kalian berdua dengarkan, teman kalian terganggu. Sekarang kalian berdua ibu hukum keluar di pelajaran ibu, dan cabuti rumput di lapangan belakang sekolah."


"Yah Buk, disana panas banget. Ibu penyiksaan sama siswanya." Protes Fara.


"Udah nggak usah pakai tawar lagi, kalian keluar atau ibu tambah hukumannya." Ancam Bu Ana.


"Eh nggak buk, kita keluar." Gita dan Fara berjalan pelan. Tatapan mereka langsung menjurus ke Mita dengan sangat tajam, penuh emosi dan dendam.


"Anita kamu mau kemana?" tanya Bu Anak.


"Keluar sama mereka Buk." Tunjuk Gita dan Fara yang sudah sampai di ujung pintu.


"Siapa suruh kamu ikut mereka, duduk kita mulai pelajaran lagi. Ingat ya anak-anak kalau kalian macam-macam di pelajaran ibu kalian akan saya keluarkan dari kelas dan hukuman yang lebih berat dari mereka berdua. Mengerti!"


...♡♤♤♤♡...


Gita dan Fara di luar langsung tos, mereka berdua seperti keluar dari kandang macan.


"Hah.. lapar banget mana nggak ngerti makin pusing kepala gue." Ujar Fara.


"Far, tadi Bu Ana nggak bilang kan kalau kita harus langsung ke lapangan belakangnya?" tanya Gita.


"Nggak, emang kenapa?"


"Kita mampir dulu lah ke kantin cari amunisi dulu." Gita menggerakan kedua alisnya.


"Pinter banget lo." Fara menjentikkan jari.


"Ya begitulah, gue emang pinter sejak lahir." Gita songong.


"Baru di puji dikit udah besar kepala aja lo."


"Ya daripada udah nggak dapat pujian besar kepala. Udah yuk sekarang kita langsung ke kantin dulu." Gita menarik tangan Fara.


Mereka berdua memborong makanan sama minuman untuk di bawa ke lapangan belakang.


"Wah matahari hari ini nggak bisa di ajak kompromi nih. Panas bener." kata Gita langsung duduk.


"Wahai angin kemana engkau pergi, kami berdua membutuhkanmu." seru Fara.


"Kayak penyair aja lo Far." Gita tertawa.


Mereka berdua berteduh di bawah pohon sambil mencabuti rumput di area bawah pohon.


"Itu yang olahraga kelas mana Git?" tanya Fara.


"Nggak tahu." Jawab Gita sambil mengangkat kepalanya sambil melihat anak-anak yang sedang olahraga.


"Kayak kelasnya Kak Gilang bukan sih?" Fara menaruh tangannya dahi agar bisa melihat dengan jelas.


"Kayaknya sih. Coba kita lebih dekat yuk." Ajak Gita sambil menjatuhkan rumput di tangannya.


"Let's go!" Fara juga membuang rumput yang di gengamnya.


Gita mengajak Fara duduk di bawah pohon yang lebih dekat dengan kelas Gilang yang sedang olahraga lari estafet.


Gita meleleh melihat kegantengan Gilang saat berlari.


"Kak Gilang ganteng banget sih, untung gue dulu mau di pacarin dia." Gita tersenyum sendiri.


"Benar, kenapa cowok-cowok kelas lain bening-bening sedangkan di kelas kita burik. Ada satu yang ganteng banget tapi busuk hatinya." Celoteh Fara.


"Benar, lo gebet aja tuh salah satu teman Kak Gilang." Katanya dengan mata yang terus memandangi Gilang.


"Nggak ah.. gue udah someone." kata Fara.


"Eh.. ngapain itu si Monika dekat-dekat Kak Gilang." Gita merengut.


"Biasalah dia kan cewek gatel, pasti mau godain Kak Gilang."


"Hah...kesel banget, pingin gue jambak-jambak tuh rambutnya. Sayangnya lagi ada guru." kata Gita.


"Nanti, aja kita labrak. Gue bantuin jambak-jambaknya." Kata Fara.


Gita bersembuyi di belakang Fara, saat Gilang melihat ke arahnya.


"Fara, ayo pergi." Gita menarik tangan Fara.


"Eh.. kenapa?" Kata Fara.


"Kak Gilang lihat ke arah kita, jadi kabur aja. Nanti gue pasti di ceramahin. Gue nggak mau." Kata Gita sambil terus mengajak Fara lari.


Fara tertawa, "Lo takut ya di marahin Kak Gilang."


"Iya lah, Kak Gilang kalau marah nyeremin tahu. Lebih galak dari nyokap bokap gue." kata Gita.


"Apa lagi kalau tahu gue di hukum, ah bisa di sini diomelin Kak Gilang, di rumah di omelin Kak Genta. Semakin pusing gue." Kata Gilang.