Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Selamat Tinggal


Gita melihat foto-foto terakhir bareng Gilang yang dia ambil di taman bermain


Matanya tiba-tiba panas, dan mengalirlah dengan kecepatan tinggi membasahi pipi. Sampai-sampai nggak membutuhkan waktu yang lama untuk menbuat dirinya sesenggukan.


Kreekkk... suara pintu kamarnya terbuka, Gita langsung menghapus air matanya cepat-cepat. Dia mengatur napasnya agar sesenggukanya menghilang.


"Kenapa?"


Gita menoleh menatap Raka dengan mata nanar.


"Raka." Gita langsung menangis lagi.


"Sekarang menyesal?" Kata Raka. Gita mengangguk pelan.


"Makanya kalau mau melakukan sesuatu itu di pikir dulu. Sekarang kalau sudah begini siapa yang sakit hati?" Raka mengomeli Gita.


"Gue." jawabnya dengan sesenggukan.


"Kenapa lo nggak ngomong jujur sama Gilang. Ngomong baik-baik agar Gilang pergi tanpa kalian harus berpisah." Raka menasehati Gita.


"Lo tuh nggak ngerti, gue kan sudah bilang dari kemarin. Lagian Kak Gilang juga lebih baik tetap pergi."


"Kenapa begitu?"


"Ya kan seandainya, nanti, besok atau kapan gitu..."


"Ngomong apa sih lo belibet banget."


"Seandainya Kak Gilang nggak berjodoh sama gue kan kasian nggak dapat dua-duanya, jadi lebih baik sekarang aja dia kecewanya." Kata Gilang.


Tuk! Raka menyentil kening Gita.


"Kebiasaan banget ya, bisa nggak lo mikirin diri lo sendiri. Jangan terlalu memikirkan orang lain."


"Gue juga pingin begitu, tapi gue nggak sanggup melihat orang-orang yang gue sayangi terluka. Jadi biarlah Gita yang mengalah." Gita semakin sesenggukan. Raka menghela napas panjang lalu menarik Gita dalam pelukannya.


"Gue mau tanya, kalung pemberian Gilang beneran lo jual?"


"Tentu saja tidak, nih masih gue pakai." Gita menunjukan kalung di lehernya. "Mana mungkin gue jual, ini benda paling berharga."


"Ngomong-ngomong Davit lo kasih apaan, kok mau bantuin lo?" Raka penasaran. Selama ini Kakak sepupu mereka berdua itu paling susah kalau di ajak kerjasama masalah begituan.


"Rahasia."


"Gilang besok berangkat, lo mau nganterin nggak?" tanya Raka.


"Nggak, nanti gue nggak bisa melepaskan dia. Biar gue di rumah aja. Oiya.. kasiin gelang ini ya. Tapi jangan bilang ini dari gue nanti nggak di terima. Sama tolong fotoin Kak Gilang." Gita menghapus air matanya.


"Yakin?"


"Raka, please.., jangan tanya lagi yang ada nanti pendirian gue goyah." Gita merengek. Dua nggak mau Raka bertanya terus karena bisa menggoyahkan keyakinan yang sudah dia pertahankan dari lama.


"Ya sudah, jangan nangis terus kalau begitu. Lo harus kuat menerima resiko dari apa yang lo perbuat." Raka mengacak-acak rambut Gita lalu menciumnya.


"Iya."


"Buruan istirahat." Raka menuntun Gita ke kasurnya.


"Makasih ya Ka, karena lo selalu menjadi kakak yang the best buat gue."


"Jangan banyak omong, buruan istirahat."


Sepeninggalan Raka Gita bangun lagi, dia keluar dari selimutnya lalu mengambil ponselnya.


Dia melihat kontak milik Gilang, biasanya setiap malam mereka bertelponan meskipun hanya beberapa menit. Namun sekarang tidak ada lagi, Gita susah merasa kesepian.


Gita sepulang sekolah menyempatkan membeli nomor baru untuk menghubungi Gilang tanpa ketahuan. Gia hanya ingin mendengar suaranya saja.


Dengan ragu-ragu dia menekan kontak milik Gilang, lalu dia menempelkan di telinganya.


"Please angkat Kak..please.." batin Gita. Dia berharap Gilang mau mengangkat nomornya.


"Ah.." Gita kaget saat telponya di reject sama Gilang. Gita menarik napas dalam-dalam lalu mencoba menelponya lagi.


"Lo kenapa sih telpon-telpon gue terus, dengerin ya mau lo ganti nomor hp seratus kali pun gue tahu. Gue kasih tahu sama lo gue udah punya pacar. Jangan ganggu gue lagi!" Gilang membentak lalu mematikan ponselnya.


Gita melemparkan ponselnya ke kasur, "Galak banget sih, lagian siapa yang terus menelpon Kak Gilang." Gita kesal.


Gita menarik selimut sampai ke atas kepala, dia ingin segera tidur. Dan saat bangun dia sudah ilang ingatan. Dia ingin melupakan masa-masa yang menyedihkan itu.


...♡♤♤♤♡...


Gita kasak-kusuk tidak tenang sepergian Raka. Hatinya mulai tidak tenang.


"Gita bingung." Kata Gita melihat Genta dengan tatapan bingung.


"Duduk sini, cerita sama Kakak." Genta meminta Gita duduk di sebelahnya.


Setelah Gita selesai bercerita, Genta berdiri lalu mengambil kunci motor.


"Buruan ambil helm."


"Em."


"Buruan nanti Gilang keburu terbang." Kata Genta.


"Tapi Gita nggak mau kesana." Gita belum mau beranjak dari sofa.


"Buruan!" seru Genta. Dia tidak mau adiknya itu menyesal. Gita langsung beranjak ambil helm.


Gita memeluk erat Genta yang mengemudi motornya dengan cepat.


"Kak, apa masih keburu?" tanya Gita sambil melihat jam di tangannya.


"Lo pegangan lebih erat." Genta menambah kecepatan motornya.


...♤♡♡♡♤...


Raka, Bayu, Vian, Fara dan Anita sudah berkumpul mengantar kepergian Gilang.


"Makasih ya guys, sudah mau mengantar gue." Kata Gilang.


"Kita bakalan kangen banget sama lo Lang." Kata Bayu sambil memeluk sahabat yang sudah tiga tahun dia kenal.


"Gue juga, lo kan juga mau ke Jogja. Kapan berangkatnya?" tanya Gilang.


"Besok sore." jawab Bayu sambil melepaskan pelukannya.


"Hah.. rasanya baru kemarin kita bermain bersama sekarang sudah mau pisah saja." kata Fara.


"Iya, andai waktu bisa di putar lagi. Gue pasti bakalan berteman dengan Kak Bayu dan Kak Gilang sejak kita masuk pertama." kata Anita.


"Tenang saja, kita nanti juga bakalan bertemu lagi." Gilang menenangkan.


"Gilang sejak datang ke bandara celingukan terus. Dia berharap Gita bakalan datang mengantarkanya. Meskipun mereka tidak bersama dan dirinya marah, kesal dengan perbuatanya dia ingin melihat Gita terakhir kalinya.


"Gita nggak bakalan datang." kata Raka.


"Siapa yang menunggu Gita."


"Lang gue punya hadiah perpisahan buat lo." Raka mengambil sesuatu dari tasnya.


"Apa?" tanya Gilang.


Raka memberikan gelang pesanan dari Gita, "Gue kasih gelang ini agar lo selalu ingat sama kita semua yang ada di indonesia. Sahabat-sahabat yang selalu merindukan lo." kata Raka.


"Tentu saja gue akan selalu ingat kalian semua." Gilang mengambil gelang dari tangan Raka lalu memakainya.


"Bagus banget lo pakai." Kata Fara.


"Tentu saja, untuk orang spesial pasti cari yang bagus kan." kata Vian.


"Kita foto yuk." ajak Vian.


"Iya buat kenang-kenangan." sahut Anita.


Mereka langsung mengambil posisi. Mereka mengambil beberapa foto selfi.


"Gue sudah harus berangkat sekarang, thanks ya sudah datang." Gilang merangkul semua sahabatnya.


"Hati-hati Kak Gilang, jaga kesehatan kami semua merindukan kakak." kata Fara.


"Pasti, kalian juga jaga kesehata."


"Gilang ada satu lagi." Raka memberika kotak kecil kepada Gilang.


"Apa ini?"


"Buka saja saat lo di pesawat atau saat lo sampai di sana."


"Baiklah. Makasih ya." Gilang melambaikan tangan dan berjalan menuju pesawat.


"Gilang." panggil Raka, dan saat Gilang menoleh Raka memfoto Gilang sesuai permintaan Gita.