
“Permisi Pak.” Lila mengetuk pintu lalu masuk keruangan Gilang setelah di persilahkan masuk sama Gilang.
“Ada apa Lila?” tanya Gilang.
“Maaf Pak, ini desain baju dan juga label GG di ada yang klaim oleh perusahaan lain.
Mereka mengatakan kalau GG cloting itu brand perusahaan mereka yang sudah mereka daftarkan setengah tahun yang lalu.” kata Lila sembari menunjukan berita yang sedang hangat di ponselnya.
“Tidak mungkin, kita sudah mengajukan satu tahun yang lalu bagaimana bisa mereka mengatakan lebih dulu.” Gilang menggebrak meja membuat Lila kaget.
“Saya juga tidak tahu Pak.” katanya sedikit gugup.
“Pangil semua staf, kita akan adakan rapat secepatnya.” kata Gilang dengan wajah sangat serius.
“Baik Pak.” Lila bergegas mengumpulkan semua ketua staf.
Lila mengetuk pintu ruangan team Win.
“Win... rapat darurat. Langsung ke ruang rapat.” Kata Lila sembari menuju ruangan selanjutnya.
“Ok.” Jawab Win dan segera bergegas.
“Kok tumben yang di ajakin rapat cuman Mas Win?” tanya Fara.
“Iya biasanya kita rapat bareng-bareng.” Kata Bella.
“Apa terjadi sesuatu?” Gita lagsung cemas.
“Ah.. biasanya ada sedikit kendala dan hanya ketua team yang rapat nanti kita
pasti akan di kasih tahu.” Ujar Nino mencoba membuat anggota teamnya tetap
tenang. Meskipun dia sendiri aslinya khawatir karena rapat setiap ketua staf
itu biasanya ada hal yang sangat penting dan urgen. Dan sudah lama sekali terjadi, terakhir kali rapat ini di lakukan saat ada yang menggelapkan uang perusahaan.
...♤◇◇◇♤...
Gilang memainkan jemarinya di meja sembari menunggu semua ketua staf kumpul.
“Sudah kumpul semua Pak.” Kata Lila.
“Kenapa kita bisa kebocoran. Siapa yang bertanggung jawab desain disini?” tanya Gilang. Semua diam, karena takut dengan kemurkaan Gilang. Perlahan Win mengangkat tangannya.
“Kamu Win?” Suara Gilang terdengar gahar membuat semua staf menciut.
“Iya Pak.”
“Bagaimana bisa desain kita ditiru sama orang? Dan juga untuk logo dan nama brand kita juga sudah di klaim orang.”
“Maaf Pak saya sendiri tidak tahu, saya sudah menjalankan semua ini dengan prosedur disini.”
“Saya rasa ada penghianat di kantor ini.” Kata Gilang sembari melihat wajah satu
persatu peserta rapat dadakan hari ini. Mereka pun saling berpandangan satu
sama lain.
“Kalau saya tahu ada yang berkhianat dengan perusahaan kita ini, saya tidak akan
melepaskan kalian. Ingat itu!” jelas Gilang.
“Iya Pak.”
“Kalian boleh pergi kecuali Win.” Kata Gilang.
Detak jantung Win langsug berdebar, sedikit berkeringat karena takut dia yang
tertuduh menghianati perusahaannya.
“Win.. kamu yang bertanggung jawab dari semua ini bukan?” tanya Gilang.
“Iya Pak.”
“Saya mau kamu selidiki semua ini kenapa bisa kebocoran.” Jelas Gilang.
“Baik Pak.” Win bergegas keluar ruangan Gilang karena takut melihat kemarahan Gilang.
Gilang sangat kesal karena brand ini adalah hadiah untuk Gita nanti saat pernikahannya, di tambah lagi desain baju Gita akan di buat souvenir pernikahannya.
Win balik dengan muka sangat masam dan lesu, dia duduk di kursinya lalu melihat ke
teman-temannya.
“Iya Win, apa ada sesuatu yang terjadi?” Ina cemas.
“Apa masalah berat Mas Win?” tanya Gita yang tak kalah cemas.
“Apa kalian loyal dengan perusahaan ini?” tanya Win.
“Tentu saja, kita sangat loyal sama perusahaan ini.” Jawab Fara dengan sangat lantang dan penuh keyakinan. Dan di setujuhi sama yang lain kalau mereka benar-benar setia.
“Memangnya ada apa Win? Masalah besarkah sampai kau menanyakan hal semacam ini?”
“Sangat besar, brand yang kita ajukan di klaim perusahaan lain. Mereka sudah
mengumumpakn bahkan akan menuntut perusahaan ini yang di katakan meniru.” Win menunjukan ponselnya yang berisi berita itu.
“Maksud Mas Win, desain baju yang sedang kita buat ini?” Gita kaget. Dia segera membuka berita yang sedang hangat.
“Iya, tak hanya itu logo yang kalian buat juga sudah mereka umumkan.”
“Pastibsalah satu orang di perusahaan ini ada yang penghianat. Entah di team kita atau team yang lain.” Ujar Vian sembari tersenyum seakan sudah megetahui siapa
dalang dari permasalahan ini.
“Lo mengira masalahnya dari team kita?” tanya Fara.
“Gue tidak tahu, hanya saja bisa terjadi. Namanya penghianat kan selalu menyusup dan membaur sesama kita sehingga tidak ketahuan kalau mereka sedang mengintai dan mencuri."
“Jangan sembarangan loh ah.. nanti yang ada jadi saling fitnah sesama teman nggak
baik.” Kata Ina.
“Ya kita tinggal lihat tanggal mainnya saja, mana orang yang akan mengaku dengan
sendirinya atau akan ketahuan langsung sama kita.” Jelas Vian.
“Awas aja kalau memang penghianatnya dari team kita, gue bakal jambak-jambak
rambutnya. Dan tidak akan gue beri ampun.” Fara geram.
"Benar, kejadian ini tidak hanya baru terjadi. Kita pernah berada di keadaan seperti ini bukan." Nino mengingatkan kejadian lama kepada Ina dan Win.
"Benar lo Nino, bahkan orang itu justru orang terdekat Pak Gilang sendiri." Kata Ina.
"Maka dari itu, kita tunggu saja tanggal mainnya. Siap-siap saja untuk mendekam di penjara." Vian tersenyum penuh arti.
Gita pergi ke ruangan Gilang, dia ingin tahu keadaan Gilang.
"Gita.." panggil Lila.
"Iya Mbak."
"Lo jangan masuk dulu ya, Pak Gilang sedang sibuk. Maaf bukan gue melarang tapi Pak Gilang benar- benar sedang sibuk mengurus masalah ini." Kata Lila.
"Ah.. iya Mbak Lila." Gita tidak jadi masuk ke ruangan Gilang. Dia hanya melihat saja di luar ruangan.
Baru kali ini Gita melihat Gilang yang sangat serius, wajahnya sangat datar dan dingin.
"Mbak Lila apa masalah ini sangat besar?"
"Tentu saja, perusahan itu akan menuntut perusahaan kita kalau sampai kita mengeluarkan brand yang sama. Makanya sekarang Pak Gilang sedang memutar otak untuk mengatasi ini." kata Lila.
Gita mencari minuman dingin di tempat makan sekitaran kantor. Dia ingin membelikan untuk Gilang agar dia sedikit relax.
"Mbak ice cappucino satu ya."
Setelah membeli Gita langsung balik ke ruangan Gilang lagi. Dia mengetuk pintu perlahan.
"Masuk." Kata Gilang tanpa melihat siapa yang datang. Dia masih terpaku dengan laptopnya.
Gita masuk lalu duduk, dia menyodorkan ice cappucino.Dan seketika Gilang mengangkat wajahnya.
"Hai sayang.." Gilang menghentikan aktivitasnya. Wajahnya langaung berubah menghangat. Gilang lebih sumringat daripada tadi.
"Ada apa?" tanya Gilang lagi.
"Tidak apa-apa, hanya mengantar minuman ini. Supaya kamu lebih fresh dan lebih tenang." kata Gita.
Gilang mendekati Gita dia mencium ubun-ubun Gita, "Makasih ya sayang."
"Sama-sama." Gita menatap Gilang, meskioub wajah Gilang sudah sedikit mencair namun dia tahu kalau pikiran Gilang sedang kemana-mana.