Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gita Galau


Gita duduk sambil memperhatikan Gilang yang sedang membersihkan gudang.


"Gimana mau marah kalau lo baik begini, selalu aja ada cara buat gue meleleh." Kata Gita.


Melihat Gilang yang berkeringat Gita pergi ke kantin untuk membeli tisu dan juga minuman dingin untuk Gilang.


"Buk minta air mineral dinginnya satu sama tisu." Kata Gita sambil memberikan uang lima puluh ribu.


"Iya Neng." jawab ibu kantin.


Gilang sudah hampir selesai, dia merenggangkan dasinya lalu mengusap keringat yang ada di dahinya.


"Kak." Panggil Gita.


"Ada apa? sebentar lagi selesai kok." kata Gilang. Gita masuk ke gudang karena Gilang mengabaikan panggilannya.


"Eh.. kenapa kesini, kan gue udah bilang lo di luar saja." Gilang mengajak Gita keluar gudang.


Gita membuka tutup botol lalu menyodor botol air mineral kepada Gilang.


"Makasih." Katanya lalu meneguknya. Gita mengambil tisu yang baru saja di belinya lalu mengusap keringat Gilang.


"Harusnya Kak Gilang nggak perlu melakukan ini." Kata Gita.


"Memangnya kenapa?" tanya Gilang.


"Ya kan Gita jadi nggak bisa marah sama Kak Gilang."


Gilang menahan tangan Gita yang menghapus keringatnya, dia menarik Gita dalam pelukannya.


"Kenapa harus marah, kalau seperti ini lebih indah. Coba gue mau tahu kenapa lo marah-marah tadi pagi?" tanya Gilang pelan-pelan.


"Sarapan dari Kakak tumpah, si Mita itu memginjaknya sambil mengatai gue." Gita sudah mau di bujuk dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Kenapa harus marah hanya karena hal sepele. Kan gue bisa buatin lagi, ingat jangan sering berantem karena lo semdiri yang akan rugi." Gilang menasehati Gita.


"Dia dulu yang mulai." jawab Gita.


"Mau siapa pun yang mulai, hindari sebisa mungkin. Supaya lo nggak susah nanti, kan kalau lo sampai di skors gue bakalan kangen berat." Goda Gilang sambil menyentil pelan hidung Gita.


"Gombal, mana mungkin Gita bisa diem saja kalau makanan dari Kak Gilang di injak-injak sama dia. Gita bahkan rela di keluarkan kalau di injinkan Kak Gilang buat botakin dia."


"Jangan sembarangan ngomong, makanan bisa di buat lagi. Sudah jangan pernah berantem masalah sepele. Ok." Gilang mengelus rambut Gita.


"Jadi sebenarnya Kak Gilang itu manusia apa malaikat. Baik benar jadi orang." Batin Gita.


"Dah yuk, gue anterin pulang." Gilang melepaskan pelukannya. Dia nengambil tas dan siap untuk pulang.


"Itu belum beres semua." tunjuk Gita.


"Biarin aja, setidaknya sudah delapan puluh persen rapi. Lagian sudah sore juga." Gilang merangkul Gita.


...♡♤♤♤♡...


"Gita.. darimana sih lo gue tungguin juga." Fara membukakan pintu rumah milik Gita.


Gita mengerutkan keningnya, " Sejak kapan lo resmi jadi penghuni rumah ini?"


"Sejak tadi, gue di culik Raka." omel Fara.


"Lo kan bisa buka kuncinya kenapa nggak kabur. Jangan-jangan lo udah jatuh cinta nih sama penculiknya." Gita tersenyum menggoda.


"Ngomong apaan sih lo, gue di bawa kesini buat jagain rumah. Katanya dia ada urusan."


"Fara..Fara.. lo itu terlalu pinter sampai di begoin Raka mau. Rumah juga biasanya juga nggak ada yang jaga, noh ada Bik Nana di belakang." ujar Gita.


"Terus kenapa gue disini?"


"Ya karena lo patuh sama calon suami lo." ledek Gita. "Dah yuk ke kamar gue aja." ajak Gita.


Fara masuk kamar Gita langsung rebahan di kasur lalu menyelimuti tubuhnya. Tanganya asyik scrol intagram.


"Nggak usah, nanti aja. Gue usah kenyang tadi di traktir sama Raka."


"Ok." Gita ikut masuk ke dalam selimut.


"Git, gue rasa Mita itu emang sengaja cari gara-gara deh sama lo." Fara menaruh ponselnya.


"Iya, gue juga merasakan seperti itu. Dia mau ambil Kak Gilang dari gue." Gita pun menyadari kalau Mita selalu saja ingin menjatuhkan dirinya dan merebut Gilang darinya.


"Bagaimana kalau kita kerjai dia besok?" Fara mempunyai ide untuk mengerjai Mita.


"Nggak ah, nanti gue di omelin Kak Gilang. Baru aja kita baikan masa ya harus perang lagi." Kali ini Gita tidak setuju dengan ide Fara.


"Ah.. nggak asyik lo." Fara mengambil ponselnya dan meneruskan scrol instagram.


...♡♤♤♤♡...


Bel istirahat Gita langsung kabur tanpa pamitan sama yang lain.


"Woi! Gita mau kemana?!" teriak Fara.


"Nanti ketemu di kantin!" jawab Gita sambil lari.


"Gue tanya apa di jawab apa, dasar Gita." Fara menggelengkan kepala.


Gita sudah berada di depan kelas Gilang, seperti biasa dia menjijitkan kakinya untuk melihat Gilang.


"Eh.. kok nggak ada, dimana pacar gue?" Gita celingukan.


"Hey.. cari Gilang ya?" Bayu muncul dari jendela.


"Iya, dimana Kak Gilang?"


"Ada di ruangannya Bu Nisa, samperin gih paling juga udah selesai." kata Bayu.


"Ok, terima kasih." Gita langsung ke ruangan Bu Nisa.


Gita meperlambat jalannya, dia berjalan di belakang Gilang dan Bu Nisa.


"Gilang, nilai kamu menurun drastis. Kamu harus mempertahankan nilai kamu supaya beasiswa yang kamu kejar selama ini pindah tangan." kata Bu Nisa.


"Iya Buk saya akan belajar lebih giat lagi."


"Gilang, kalau bisa kamu kurangi semua kegiatan yang tidak penting. Misal osis dan main-main sama teman kamu. Agar ujian nanti kamu mendapatkan nilai yang memuasakan." Bu Nisa memberikan saran.


"Saya bisa membagi waktu kok, Bu Nisa jangan khawatir. Saya akan lebih giat lagi." Jawab Gilang.


Gita berhenti terdiam, dia merasa selama ini menjadi hambatan buat Gilang. Gita berputar arah tidak jadi bertemu dengan Gilang. Dia ke kantin untuk nyamperin teman-temannya.


"Eh.. kenapa nih mukanya kek baju belum di setrika gitu?" tanya Anita.


"Iya, tadi lo happy banget sekarang kenapa jadi cemberut begini? Kak Gilang bikin lo kesal atau lo darimana sih?" Cerca Fara.


"Selama ini gue rasa hanya menjadi penghambat Kak Gilang." Kata Gita pelan.


"Kok bisa?"


"Nilai Kak Gilang turun drastis, dan beasiswa yang di usahana selama ini nyaris ke geser sama orang lain." Kata Gita.


"Baru sadar lo kalau selama ini lo itu hanya bumerang buat Gilang. Lo itu berpengaruh buruk buat Gilang. Yah.. kalau gue jadi lo lebih baik jauhin dia. Atau masa depannya akan hancur." Kata Monika sambil pergi.


"Jangan asal lo Kak kalau ngomong." Fara berdiri dia siap menjambak rambut Monika.


"Fara jangan, yang Kak Monika omongin benar. Gue harusnya tahu diri." kata Gita.


"Syukurlah kalau sadar diri, kalau anak pinter dan tidak pintar itu tidak bisa bersatu." Kata Mita ikut nyamber.


"Heh.. lo kenapa ikut-ikutan kayak lo pintet aja." Sahut Fara.


"Yah kalau di bandingkan lo sama temen lo itu sih gue lebih unggul." Kata Mita dengan sombongnya. Gita dan Anita menahan Fara agar emosinya tidak meledak.