
“Sayang, memangnya aku kenapa sih?” Gita menatap Gilang.
“Kenapa apanya?” Gilang mengajak Gita masuk setelah mobil Vian meninggalkan rumah mereka.
“Kamu bilang aku buat kamu jungkir balik, memangnya aku salah apa?” Gita masih
mengejar saja jawaban dari Gilang. Dia belum puas dengan jawaban tadi.
Gilang menghentikan langkahnya, dia memmandang Gita dengan heran kenapa istrinya itu mengejar jawaban yang hanya dia istilahkan sama Vian.
Gilang menyuruh Gita mendekat menggunakan jari telunjuknya, karena rasa penasaran dari Gita membuat Gilang memiliki ide jail.
“Apa?” tanya Gita tapi belum mau mendekat.
“Sini aku bisikin, biar nggak ada yang tahu.” Kata Gilang.
“Apa?” Gita akhirnya nurut saja, nggak ada rasa curiga bakalan di kerjain sama Gilang.
“Aku di buat jungkir balik sama kamu ketika kita sedang bergulat.” Bisik Gilang sambil menggerak-gerakan kedua alisnya ditambah senyum-senyum aneh, memembuat Gita melebarkan kedua matanya.
“ Dasar mesum.” Gita mendorong Gilang pelan.
“Sayang, ayolah.” Gilang menyenggol lengan Gita.
“Ayo apa?” Gita sedikit menggeser karena geli sama tingkah Gilang.
“Bikin baby.” Kata Gilang sambil cengar-cengir.
“Jangan ngadi-ngadi.” Gita langsung lari naik tangga meninggalkan Gilang. Dia lebih
dulu masuk ke kamar.
“Sayang tunggu.” Gilang pun mengejar Gita.
Gilang menangkap Gita lalu menjatuhkannya di atas ranjang, dia kemudian mencium bibir Gita. Dan Gita meberikan timbal balik sehingga mereka berdua sangat menikmatinya.
“Mau lebih tapi kok banyak kerja.” Kata Gilang sambil beranjak meninggalkan Gita
yang masih rebahan.
“Kasian suami aku.” Kata Gita yang ikut bangun. “Mau aku buatin sesuatu?”
“Boleh.” jawab Gilang.
“Kopi, teh, susu atau jus?” tanya Gita.
“Jus aja sayang yang dingin, sama cemilan boleh.” Ucap Gilang yang sudah mulai bekerja.
"Ok di tunggu." Gita turun ke dapur untuk membuatkan makanan buat Gilang, dia membuat jus dengan buah yang ada di kulkas.
“Bik,” Gita memanggil Bik Siti.
“Iya Mbak Gita.” Bik Siti bergegas menghampiri Gita.
“Bik ada cemilan apa gitu yang bisa di buat. Kak Gilang mau cemilan buat nemenin
lembur.” Kata Gita.
“Mau roti, sandwich atau pisang goreng?"
“Em, roti aja bik pakai selai coklat sama biskuitnya itu.” Gita meminta Bik Siti
menyiapkannya. Dan Gita menyiapkan jus yang baru di buatnya.
"Siap Mbak."
Gita memletakkan cemilan di meja dekat Gilang lembur, dia menarik kursi lalu duduk
di sebelah Gilang. Gita mengambil sedikit roti lalu menyuapi Gilang.
“Aaaa..” Gita mendekatkan roti di bibir Gilang. Gilang langsung membuka mulutnya lebar.
“Makasih sayang.”
“Iya,bmasih banyak ya kerjaannya?” Gita mengintip ke laptop Gilang.
“Lumayan.” Jawabnya tanpa melihat ke Gita.
“Aaaaa.” Gita kembali menyuapi Gilang sampai satu roti habis.
“Sayang, kamu tidur dulu saja, nanti aku menyusul.” Kata Gilang sambil mengusap rambutvGita.
“Aku nungguin kamu aja.” Kata Gita.
“Tapi aku masih lama loh.” Gilang menoleh kearah Gita.
“Nggak apa-apa, lagian aku juga gabut nggak ngapa-ngapain.” Kata Gita.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Gita sudah mulai mengantuk dia
menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia beberapa kali menguap, matanya
sudah tidak kuat lagi. Dia pun akhirnya tertidur, dengan melipat kedua
Gilang mengambil jusnya saat mau meneguknya sudah habis, “Sayang..” panggilnya sambil menoleh.
“Ah sudah tidur, katanya mau nemenin dasar kamu ya. ” Gilang perlahan berdiri agar tidak menimbulkan suara. Dia menggendong Gita dan membawanya ke ranjang.
Gilang menyelimuti istrinya itu lalu memberikan kecupan di keningnya. Gilang mengusap mengusap rambut Gita, memandangi wajah Gita yang sangat cantik dan manis.
“Walaupun harus jungkir balik mendapatkan kamu, itu tidak masalah bagiku sayang. Kamu sangat berharga dan istimewa jadi pasti akan aku pertahankan sampai kapan pun. Selamat malam sayang, mimpi indah.” Gilang memberikan kecupan di kening Gita.
Pagibtiba, Gita meregangkan kedua tangannya. Dia mengucek kedua matanya lalu dia tersenyum melihat Gilang tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya.
“Selamat pagi sayang,” Gita mencium bibir Gilang lalu beranjak dari tempat tidur. Gilang tidak menjawab karena dia masih
terlelap.
Setiap pagi sekarang dia belajar menyiapkan sarapan dan keperluan untuk Gilang. Setelah cuci muka dan menggosok gigi dia langsung bergegas ke dapur.
“PagibBik siti.” Sapa Gita.
“Pagi Mbak Gita.” Jawab Bibi sambil tersenyum.
“Bik, mau masak apa nih?” tanya Gita.
“Hari ini bibik masak sop, bakwan jagung, sambal sama ikan goreng.”
“Hhmmm, enak banget pasti.” Gita menghirup aroma ikan yang sedang di goreng sama Bik Siti.
“Bibik, bangun pagi banget ya. Padahal Gita mau bantuin eh malah udah kelar semua
masaknya.” Tambah Gita lagi.
“Nggak masalah Mbak Gita, ini kan tugas bibik jadi ya biar bibik yang ngerjain.” Kata
Bik Siti.
“Baiklah bik, sekarng Gita mau bikinin Kak Gilang teh hangat saja.” Gita mengambil
cangkir dan menyeduh teh untuk sang suami tercinta.
“Sayang bangun.” Gita menaruh cangkir di meja sofa yang ada di kamarnya. Kemudian dia membuka tira kamarnya hingga semua cahaya langsung masuk memenhi kamarnya.
“Sayang, ayo bangun.” Gita medekati Gilang yang masih belum bergerak sama sekali.
“Aku masih ngantuk sayang.” Katanya dengan mengambil guling dan memeluknya. Gilang masih sangat lelah karena lembur hampir sampai jam dua.
“Tapibkan kamu harus kerja.” Gita mengusap rambut Gilang.
“Iya, aku datang agak siangan.”
“Baiklah,baku udah buatin kamu teh hangat nanti di minum ya. Sama baju kamu udah aku siapin.” Gita megusap rambut Gilang lagi. Dia juga mau siap-siap ke kantor
karena ada meeting dengan clien pagi-pagi.
“Iya sayang, makasih ya.”
Selesai siap-siap Gita langsung bergegas bersiap ke kantor, Gita menaikka selimut milik Gilang.
“Sayang aku pergi dulu ya.” Gita mencium bibir Gilang yang sudah menjadi kebiasaan
mereka berdua setiap berpamitan dan juga saat pulang.
“Ah.. tehnya dingin lagi nih.” Gita meneguk teh yang dia buat sendiri untuk Gilang.
“Bik, nanti kalau kak Gilang bangun bikinin teh hangatlagi ya. Ini sudah dingin jadi
aku minum sendiri saja.” Kata Gita sambil merenges.
“Baik Mbak Gita.”
“Berangkat dulu ya Bik.”
“Iya Mbak Gita.”
Gita baru saja turun dari mobil sudah di telpon Gilang.
"Halo sayang, ada apa?" tanya Bella.
"Kamu kenapa minum teh aku?" tanya Gilang.
"Tehnya sudah dingin, jadi aku minta bibi menggantinya."
"Kalau bibik yang ganti itu bukan buatan kamu dong." Kata Gilang.
"Iya maaf, tadi aku pikir kalau dingin tidak akan enak jadi aku minum aja. Maaf ya."
"Baikalh di beti maaf, tapi janji ya kamu akan membuatkanya nanti di kantor."
"Iya sayangnya aku. Gita kerja dulu ya. Muuah.. love you." Gita membetikan ciuman jarak jauh.
"Muuah, love you to."