Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
kencan


Gita akhirnya mendengarkan  juga nasehat dari Raka, dia pergi memakai kaos pendek warna putih dan jeans warna hitam di tambah pakai sepatu flat dan tas kecil yang hanya cukup untuk satu dompet dan ponsel.


Sesampai di cafe Gita mencari keberadaan Devan, kedua bola matanya terus fokus mencari Devan.


“Git.” Devan melambaika tangan.


“Ya.” Gita berjalan sedikit cepat menuju meja Devan.


Devan melihat Gita dari ujung kaki sampai kepala, lalu dia tersenyum. Gita langsung


panik melihat ekspresi Devan.


“Gue jelek ya?” tanya Gita sambil melihat dandanannya.


Devan tersenyum, “Nggak kok, lo tetep cantik.” Kata Devan lalu menarik tangan Gita agar duduk.


“Masa sih.” Gita tersipu malu wajahnya sampai memerah.


“Iya, lo selalu imut.” Gombal Devan.


“Bisa aja lo, oiya Van tumben banget lo ngajakin gue pergi.” Gita ingin tahu


kejelasan alasan Devan mengajaknya pergi.


“Gue lagi bosan, lagian gue juga nggak punya teman selain lo kan disini.”


“Em, Mama sama Papa lo bagaimana kabarnya?”


“Baik, tapi ya belum bisa nyusulin gue pulang masih banyak kerjaan yang harus di


selesaikan.” Kata Devan.


“Rumah lo masih satu komplek kan sama gue?” tanya Gita.


“Iya, kita masih satu komplek kok. Tadi pas gue wa lo gue lagi di luar jadi ya nggak


bisa jemput lo.”


“Oh gitu,”


“Iya. Lo udah punya pacar?” tanya Devan yang membuat Gita tiba-tiba seperti mendapat serangan di bagian jantungnya sampai membuat jedak-jeduk nggak karuan.


“Belum.”Jawabnya cepat. “Kalau lo?”


“Belum juga, belum ada yang cocok jadiin pacar. Tapi ya ada sih orang yang gue suka


tapi belum berani bilang.”


“Oiya, siapa?” tanya Gita antusias.


“Ada, dia tuh cantik banget, baik,imut dan gue udah kenal dia sejak dulu sih


sebenarnya tapi gue tidak berani menyatakannya.” Kata Devan sambil


membayangkan.


“Aduh Van, kenapa lo pakai acara nggak berani ungkapin sih, gue kan udah nunggu


lama.” Batin Gita.


“Kenapa nggak berani?”


“Takut di tolak gue, malu lah nanti yang ada kita malah nggak bisa temenan. Kan jadi


gue yang nggak enak.” Devan memainkan sedotan di gelas minuman pesanannya.


“Yaelah Van, nggak bakalan gue tolak.” Batin Gita gemas.


“Coba dulu deh, lo kan belum mencoba. Lagian dia nggak akan nolak lagi.”


“Masa sih.” Devan tertawa kecil dia masih nggak yakin bakalan di terima.


“Percaya sama gue, lagian siapa sih yang berani tolak cowok baik dan keren kayak lo. Kalau memang ada dia pasti cewek yang sangat bodoh.”


“Bisa aja lo buat gue besar kepala. Gue lagi pikirin gimana caranya supaya pernyataannya cinta gue itu sangat berkesan di hadapan dia.” Kata Devan menatap Gita. Gita mengangguk-angguk senang. Dia merasa semua kriteria yang di katakan Devan adalah dirinya.


“Gue akan tunggu kejutan itu Devan.” Batin Gita.


...◇◇◇◇◇...


Gita melambaikan tangan saat mobil Devan mulai meinggalkan rumahnya. Gita berlari girang masuk ke dalam rumahnya. Dia bersenandung, senyam-senyum sambil memandangi ponselnya. Gita menjatuhkan tubuhnya sambil terus memandang foto bersama Devan di kafe.


“Senyam-senyum lihat apaa lo?” Raka mengambil ponsel milik Gita.


“Raka,kembaliin hp gue.” Gita berusaha merebut ponsel dari Raka namun Raka langsung lari.


“Belum, tapi kayaknya sebentar lagi.” Gita senyam-senyum.


“Yakin banget lo?”


“Iyalah, dia bilang dia sedang mempersiapkan sesuatu buat nembak gue.”


“Darimana lo tahu itu yang bakalan dia tembak lo?”


“Tadi dia bilang suka sama seseorang yang sudah lama dia kenal, dan baru saja dia


temui lagi. Dia juga bilang kalau gue tahu banget tentang dia. Siapa lagi kalau


bukan gue masa iya lo.” Gita berhasil mengambil ponselnya lagi.


“Emang yang dekat sama dia lo sama gue doang, siapa tahu teman SMP kita dulu.”


“Raka, please. Bisa nggak lo nggak bikin gue down. Kayaknya lo nggak suka banget gue


dekat sama Devan.”  Gita heran kenapa


Raka terlihat tidak mendukung dirinya dengan Devan. Selalu saja dia menilai


Devan negatif.


“Emang.”Kata Raka sambil rebahan di kasur Gita.


“Memangnya apa sih salah Devan sama lo?”


“Nggak ada.” jawabnya santai.


“Terus kenapa lo nggak suka sama dia?”


“Bukan gue nggak suka sama dia, cuman nggak senang aja kalau lo sama dia.” Katanya lalu memaikai earphone. Dia males di tanya kenapa terus sama Gita.


...◇◇◇◇◇...


Raka duduk di sebelah Gilang, dia mengambil gelas berisikan es jeruk di depan Gilang


lalu meneguknya hingga tinggal setengah.


“Ka, punya sopan santun nggak sih lo. Sembarangan aja minum milik orang lain. Raka dengar ya, dengan lo bergabung dengan team basket sekolah bukan berarti lo itu sahabat kita dan bisa gabung disini.” Oceh Bayu.


Raka mengangkat kaki kanannnya lalu menumpukan di kaki kirinya, “Ini es jeruk punya siapa?” tanya Raka dengan santai.


“Punya Gilang, kenapa?” katanya sewot.


“Terus kenapa lo yang sewot, orang yang punya aja santai aja.” Jawab Raka dengan


santainya membuat Bayu makin geregetan. Menurutnya dia melewati batas dan sok akrab padahal nggak saling kenal. Menurut Bayu dengan Gilang yang datang merekrutnya bukan berarti bisa menjadi sahabat dekatnya.


“Udah Bay, kenapa sih marah-marah. Lagian ini kan masalah sepele cuman minuman


doang.” Kata Gilang tak keberatan Raka mengambil minumannya.


“Bukan marah Lang, tapi lama-lama dia nglelunjak kalau di biarin seperti itu. Sekarang minuman nanti lama-lama segala hal punya lo di ambil.” Ujar Bayu.


Raka menurunkan kakinya lalu berdiri, “ Lang, gue cabut aja dari sini. Kalau lama-lama di sini darah tinggi ntar sahabat lo. Kasian kan masih muda punya penyakit darah tinggi.” Kata Raka sambil pergi.


“Raka, apa yang ingin lo katakan sama gue?” tanya Gilang. Raka nggak mungkin menemuinya tanpa adanya maksud tertentu. Dia tipe orang yang lebih suka menghabiskan waktu di sekolah untuk molor.


“Lo sudah tertinggal satu langkah.” Kata Raka tanpa berbalik badan lalu pergi.


“Apanya yang tertinggal satu langkah.” Gumam Gilang, dia masih belum mengerti ucapan Raka.


“Nggak usah dengerin dia Lang, pasti dia hanya ingin mengacau lo.” Kata Bayu.


“Bagaimana gue nggak mendengarkan Raka, kalau dia adalah jalan gue untuk mendapatkan Gita.” Gilang memandang Bayu lekat.


“Lang, kenapa sih lo bandel banget. Lo itu cuman jadi mainanya Raka. Gita itu nggak


suka sama lo.” Jelas Bayu.


“Bay, lo kenapa selalu negatif thingking sama Raka sama Gita. Memangnya salah apa


mereka berdua sama lo. Semua perasaan gue itu yang tahu gue, lo nggak bisa ikut


campur urusan hati gue. Gue yang akan menentukan pilihan gue dan akan menerima


resikonya. Mau suka apa nggak lo sama pilihan gue itu tidak menjadi masalah sama gue. Karena yang tahu gue bahagia atau tidak itu gue sendiri.” Jelas Gilang panjang lebar.


“Gue sebagai teman hanya mengingatkan, tapi kalau memang lo nggak mau dengar nggak masalah. Gue nggak akan pernah ngomong lagi sama lo.” Bayu dengan egois


meninggalkan Gilang. Dia sama sekali tidak menghargai keputusan Gilang sampai Gilang harus menjelaskan panjang lebar apa yang dia rasakan.