Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Tugas Baru


Persiapan untk pergi ke


pabrik sudah siap, Win menyuruh anggotanya untuk  bergegas masuk ke bus perusahaan agar segera


berangkat.


“Kita berasa mau piknik


ya.” Kata Gita sambil naik ke bus.


“Emang kita mau


piknik.” Jawab Vian.


“Oiya Vian, sini lo


duduk sama gue.” Gita menarik Vian agar duduk di sebelahnya.


“Apaan sih?”


“Gimana?” Gita kepo


banget dengan Vian kemari setelah mengantar Bella.


“Apanya yang gimana? Lo


yang jelas kenapa kalau ngomong.”


“Udah terjadi sesuatu


belum?” Gita gemes banget Vian pura-pura tidak tahu apa yang di bahas sama


Gita.


“Udah.”


“Beneran?” Gita Girang.


“Fara-fara..kemari.”


“Ada apa?”


“Vian sudah terjadi


sesuatu.”


“Wah..syukur deh


akhirnya jomblo akut ini udah mempunyai tambatan hati.” Kata Fara.


Vian melirik sambil


berdesis, “Gue rasa pegal hati gue. Tiap hari kalian tanya-tanyain begituan


mulu. Bisa nggak kalian itu tenang, biarkan gue bersantai.” Kata Vian merubah


topik pembicaraan.


“Ih.. lo ya sok jual


mahal banget. Sono pergi.” Gita mengusir Vian.


“Tadi seret-seret gue sekarang


lo usih, wah habis manis sepah di buang nih gue.” Umpat Vian.


“Bodo, Fara duduk


sini.”  Gita menepuk kursi bekas.


Mereka turun dari bus


saling berpandangan, saat melihat kondisi pabrik yang tidak seperti bayangan


mereka. Besar, bagus dan tinggal mengawasinya.


“Ini di mulai dari nol


ya?” Gita menoleh ke arah Was Win.


“Pantesan proyek di


kasih kita mana masih beginian.” Keluh Fara.


“Semangat ya


teman-teman, pabriknya memang belum sebagus yang kalain bayangkan. Bos Gilang


memang sengaja menaruh kita kesini karena dia sudah mempercayai kita bisa


melakukannya dan menjadikan semua ini besar.” Win menenangkan anggotanya yang


mulai down sebelum bekerja.


“Yuk..bisa yuk.. kita


benahi semuanya disini.”  Ajak Ina.


“Tenang saja, kita


sudah biasa bukan menangasi semua ini.”


Mereka semua masuk ke


pabrik dan bertemu dengan kepalanya di sana dan saling berkenalan dengan


pegawai pabrik, setelah itu mereka menyiapkan segala yang di butuhkan. Dari


mengawasi kerja, membuat semple yang bagus, membuat brosur dan juga iklan untuk


mempromosikan produk.


Gita berkeliling pabrik


sembari mencari ide, dan memeriska bangunan masih. Gita mengambil ponsel di


saku bajunya saat berdering.


“Halo sayang.”


“Halo, kamu sudah


sampai?” tanya Gilang.


“Ya, sudah satu jam


yang lalu sampainya.”


“Udah makan belum, udah


waktunya makan siang lo?”


“Belum, teman-teman


yang lain juga masih sibuk kerja. Oiya sayang, keadaan di pabrik ini perlu di


renovasi lagi deh sama nambah karyawan biar untuk produsi.” Kata Gita.


“Iya sayang, nanti kita


bahas di rapat besok aku akan datang ke situ. Kamu bisa cek semua dan nanti


sampaikan saja mau seperti apa pabrik itu.” Kata Gilang.


“Sesuai yang aku mau?”


“Iya, kepemilikan


pabrik itu punya kamu aku sedang mengajukan brand yang sedang kamu kerjakan


itu.”


“Benarkah?” Gita tidak


percaya dengan apa yang di katakan sama Gilang. Kemarin dia sudah di kasih


restauran sekarang mau di kasih pabrik.


“Iya, kamu suka kan?”


“Ya suka, tadi udah mau


ngumpat di kasih tempat seperti kayak begini.” Gita terkekeh. “Tapi sayang, apa


kamu tidak berlebihan memberikan semua ini sama aku?”


“Tidak ada yang


berlebihan apa yang aku berikan sama kamu. Semua ini aku berikan untuk masa


depan kita.” Kata Gilang.


“I love you sayang,


muuah..”


“I love you too, nanti


“Iya sayang,”


“Eeehm.” Win berdehem,


Gita langsung menarik ponselnya dari telinga lalu memasukkan ke kantong.


“Mas Win.” Gita


merenges.


“Lo ya, yang lain kerja


malah asyik-asyik telpon-telponan.”  Win


memarahi Gita.


“Maaf Mas, penting


soalnya.”


“Memangnya apa yang


lebih penting daripada kerjaan, sana kembali kerja.” Suruh Win.


“Mas Win kenapa


marah-marh pms?” Gita di suruh pergi bukannya cepat cabut malah masih berani


bertanya sama Win.


“Kamu tu ya, di suruh


mulai kerja malah masih banyak tanya.” Win menjewer Gita dan membawa masuk ke


ruangan kerja.


Semua anggota yang di


ruangan menantap Gita sambil menggeleng kepala.


“Bikin ulah apa lagi


sih lo Git?” tanya Ina.


“Eh.. Gita nggak bikin


ulah. Mas Win nih yang sensitif kayak cewek lagi datang bulan.” Gita melepaskan


diri dari Win lalu lari ke tempat duduknya.


“Win.. kenapa muka lo


lecek begitu. Apa karena postingan Ratna sama cowoknya ya. Lo masih cemburu.”


Celoteh Nino seenak jidat membuat Ina langsung membuka ponselnya dan mencari


media sosial milik Ratna.


“Apaan sih, jangan


campur adukan masalah pribadi dengan kerjaan. Kalian segera selesaikan kerjaan


kalian atau kalian tidak mau makan siang.” Kata Win lalu pergi ke luar.


“Sensi banget sih.”


“Lo sih Mas Nino, udah


tahu sensi di bahas juga.”


“Ya perlu di bahas, dia


suka marah-marah nggak jelas bagitu.” Nino memutar kursinya dan kembali menatap


ke komputernya. Ina hanya tersenyum kecil denga penuh kekecewaan, dia tahu


kalau Win kemarin meceletuk seperti itu hanya untuk memanasi Ratna.


“Nggak usah di sedihin


begitu Na, mending lo cariorang lain lagi. Win cuma jadiin lo alat


manas-manasin Ratna.” Celoteh Nino.


“Apaan si gue juga


nggak mikirin itu.”


“Mas Nino..!” seru Fara


sambil nabok punggung Nino.


“Sakit Fara, main


gablok aja sih.”


“Makanya punya mulut di


jaga, kasian Mbak Ina.”


“Gue nggak apa-apa kok,


lanjut kerja yuk biar cepat mana siang.”


Mereka berhenti kerja,


untuk di lanjut lagi setelah makan siang. Perut mereka sudah tidak bisa di ajak


kompromi lagi.


“Gita, makan ini deg


enak.” Fajar memberikan menu makan yang sering di pasan di kantin pabrik.


“Makasih.” Gita menarik


piring dan mencicipinya langsung.


“Iya.” Fajar senang


karena makana yang dia sediakan untuk Gita di terima dan langung di makannya.


“Buat gue mana kenapa


Gita doang yang di kasih?” Tanya Vian.  Bella langsung menggeser makana yang ada di sebelahnya. Vian menoleh ke


arah Bella, namun Bella langsung menundukan kepalanya.


“Wah sepertinya ada


bibit-bibit cinta lokasi nih.” Kata Nino sambil melihat ke Gita Fajar lalu Vian


Bella.


“Siapa yang bakalan


cinta lokasi?” Gita nggak sadar kalau dirinya yang di bahas justru dia melihat


ke arah Vian dan Bella.


“Lo nggak peka banget


sih Git.” Ina geleng kepala.


“Memangnya kenapa


dengan gue?”


“Fajar, lo naksir


Gita?” Ina to the point menanyakan perasaan Fajar. Sedangkan Fajar hanya


tersenyum tidak bisa memberikan jawaban karena canggung dan bingung di depan


orang banyak.


“Hati-hati, jangan


sampai jatuh cinta sama Gita. Berbahaya dia ada pawangnya.” Sahut Fara


langsung.


“Memangnya dia monyet


ada pawangnya.” Samber Nino.


“Mas Ninoo,


sembarangan. Gita di katain monyet lagi. Mas Nino tuh buaya.”


“Ngaku buaya tapi nggak


laku.” Kata Ina.