
Persiapan untk pergi ke
pabrik sudah siap, Win menyuruh anggotanya untuk bergegas masuk ke bus perusahaan agar segera
berangkat.
“Kita berasa mau piknik
ya.” Kata Gita sambil naik ke bus.
“Emang kita mau
piknik.” Jawab Vian.
“Oiya Vian, sini lo
duduk sama gue.” Gita menarik Vian agar duduk di sebelahnya.
“Apaan sih?”
“Gimana?” Gita kepo
banget dengan Vian kemari setelah mengantar Bella.
“Apanya yang gimana? Lo
yang jelas kenapa kalau ngomong.”
“Udah terjadi sesuatu
belum?” Gita gemes banget Vian pura-pura tidak tahu apa yang di bahas sama
Gita.
“Udah.”
“Beneran?” Gita Girang.
“Fara-fara..kemari.”
“Ada apa?”
“Vian sudah terjadi
sesuatu.”
“Wah..syukur deh
akhirnya jomblo akut ini udah mempunyai tambatan hati.” Kata Fara.
Vian melirik sambil
berdesis, “Gue rasa pegal hati gue. Tiap hari kalian tanya-tanyain begituan
mulu. Bisa nggak kalian itu tenang, biarkan gue bersantai.” Kata Vian merubah
topik pembicaraan.
“Ih.. lo ya sok jual
mahal banget. Sono pergi.” Gita mengusir Vian.
“Tadi seret-seret gue sekarang
lo usih, wah habis manis sepah di buang nih gue.” Umpat Vian.
“Bodo, Fara duduk
sini.” Gita menepuk kursi bekas.
Mereka turun dari bus
saling berpandangan, saat melihat kondisi pabrik yang tidak seperti bayangan
mereka. Besar, bagus dan tinggal mengawasinya.
“Ini di mulai dari nol
ya?” Gita menoleh ke arah Was Win.
“Pantesan proyek di
kasih kita mana masih beginian.” Keluh Fara.
“Semangat ya
teman-teman, pabriknya memang belum sebagus yang kalain bayangkan. Bos Gilang
memang sengaja menaruh kita kesini karena dia sudah mempercayai kita bisa
melakukannya dan menjadikan semua ini besar.” Win menenangkan anggotanya yang
mulai down sebelum bekerja.
“Yuk..bisa yuk.. kita
benahi semuanya disini.” Ajak Ina.
“Tenang saja, kita
sudah biasa bukan menangasi semua ini.”
Mereka semua masuk ke
pabrik dan bertemu dengan kepalanya di sana dan saling berkenalan dengan
pegawai pabrik, setelah itu mereka menyiapkan segala yang di butuhkan. Dari
mengawasi kerja, membuat semple yang bagus, membuat brosur dan juga iklan untuk
mempromosikan produk.
Gita berkeliling pabrik
sembari mencari ide, dan memeriska bangunan masih. Gita mengambil ponsel di
saku bajunya saat berdering.
“Halo sayang.”
“Halo, kamu sudah
sampai?” tanya Gilang.
“Ya, sudah satu jam
yang lalu sampainya.”
“Udah makan belum, udah
waktunya makan siang lo?”
“Belum, teman-teman
yang lain juga masih sibuk kerja. Oiya sayang, keadaan di pabrik ini perlu di
renovasi lagi deh sama nambah karyawan biar untuk produsi.” Kata Gita.
“Iya sayang, nanti kita
bahas di rapat besok aku akan datang ke situ. Kamu bisa cek semua dan nanti
sampaikan saja mau seperti apa pabrik itu.” Kata Gilang.
“Sesuai yang aku mau?”
“Iya, kepemilikan
pabrik itu punya kamu aku sedang mengajukan brand yang sedang kamu kerjakan
itu.”
“Benarkah?” Gita tidak
percaya dengan apa yang di katakan sama Gilang. Kemarin dia sudah di kasih
restauran sekarang mau di kasih pabrik.
“Iya, kamu suka kan?”
“Ya suka, tadi udah mau
ngumpat di kasih tempat seperti kayak begini.” Gita terkekeh. “Tapi sayang, apa
kamu tidak berlebihan memberikan semua ini sama aku?”
“Tidak ada yang
berlebihan apa yang aku berikan sama kamu. Semua ini aku berikan untuk masa
depan kita.” Kata Gilang.
“I love you sayang,
muuah..”
“I love you too, nanti
“Iya sayang,”
“Eeehm.” Win berdehem,
Gita langsung menarik ponselnya dari telinga lalu memasukkan ke kantong.
“Mas Win.” Gita
merenges.
“Lo ya, yang lain kerja
malah asyik-asyik telpon-telponan.” Win
memarahi Gita.
“Maaf Mas, penting
soalnya.”
“Memangnya apa yang
lebih penting daripada kerjaan, sana kembali kerja.” Suruh Win.
“Mas Win kenapa
marah-marh pms?” Gita di suruh pergi bukannya cepat cabut malah masih berani
bertanya sama Win.
“Kamu tu ya, di suruh
mulai kerja malah masih banyak tanya.” Win menjewer Gita dan membawa masuk ke
ruangan kerja.
Semua anggota yang di
ruangan menantap Gita sambil menggeleng kepala.
“Bikin ulah apa lagi
sih lo Git?” tanya Ina.
“Eh.. Gita nggak bikin
ulah. Mas Win nih yang sensitif kayak cewek lagi datang bulan.” Gita melepaskan
diri dari Win lalu lari ke tempat duduknya.
“Win.. kenapa muka lo
lecek begitu. Apa karena postingan Ratna sama cowoknya ya. Lo masih cemburu.”
Celoteh Nino seenak jidat membuat Ina langsung membuka ponselnya dan mencari
media sosial milik Ratna.
“Apaan sih, jangan
campur adukan masalah pribadi dengan kerjaan. Kalian segera selesaikan kerjaan
kalian atau kalian tidak mau makan siang.” Kata Win lalu pergi ke luar.
“Sensi banget sih.”
“Lo sih Mas Nino, udah
tahu sensi di bahas juga.”
“Ya perlu di bahas, dia
suka marah-marah nggak jelas bagitu.” Nino memutar kursinya dan kembali menatap
ke komputernya. Ina hanya tersenyum kecil denga penuh kekecewaan, dia tahu
kalau Win kemarin meceletuk seperti itu hanya untuk memanasi Ratna.
“Nggak usah di sedihin
begitu Na, mending lo cariorang lain lagi. Win cuma jadiin lo alat
manas-manasin Ratna.” Celoteh Nino.
“Apaan si gue juga
nggak mikirin itu.”
“Mas Nino..!” seru Fara
sambil nabok punggung Nino.
“Sakit Fara, main
gablok aja sih.”
“Makanya punya mulut di
jaga, kasian Mbak Ina.”
“Gue nggak apa-apa kok,
lanjut kerja yuk biar cepat mana siang.”
Mereka berhenti kerja,
untuk di lanjut lagi setelah makan siang. Perut mereka sudah tidak bisa di ajak
kompromi lagi.
“Gita, makan ini deg
enak.” Fajar memberikan menu makan yang sering di pasan di kantin pabrik.
“Makasih.” Gita menarik
piring dan mencicipinya langsung.
“Iya.” Fajar senang
karena makana yang dia sediakan untuk Gita di terima dan langung di makannya.
“Buat gue mana kenapa
Gita doang yang di kasih?” Tanya Vian. Bella langsung menggeser makana yang ada di sebelahnya. Vian menoleh ke
arah Bella, namun Bella langsung menundukan kepalanya.
“Wah sepertinya ada
bibit-bibit cinta lokasi nih.” Kata Nino sambil melihat ke Gita Fajar lalu Vian
Bella.
“Siapa yang bakalan
cinta lokasi?” Gita nggak sadar kalau dirinya yang di bahas justru dia melihat
ke arah Vian dan Bella.
“Lo nggak peka banget
sih Git.” Ina geleng kepala.
“Memangnya kenapa
dengan gue?”
“Fajar, lo naksir
Gita?” Ina to the point menanyakan perasaan Fajar. Sedangkan Fajar hanya
tersenyum tidak bisa memberikan jawaban karena canggung dan bingung di depan
orang banyak.
“Hati-hati, jangan
sampai jatuh cinta sama Gita. Berbahaya dia ada pawangnya.” Sahut Fara
langsung.
“Memangnya dia monyet
ada pawangnya.” Samber Nino.
“Mas Ninoo,
sembarangan. Gita di katain monyet lagi. Mas Nino tuh buaya.”
“Ngaku buaya tapi nggak
laku.” Kata Ina.