Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Raka menghilang


"Selamat pagi." sapa Gita. Dia duduk mendekati Fara yang tampak lemas.


"Pagi." Jawab Fara malas-malasan.


"Kenapa lo Far, lemes amat kayak terong goreng." Kata Gita. Fara manyun lalu menaruh kepalanya di atas meja.


Gita menoleh ke belakang, menanyakan kepada Vian. Vian menyuruh dirinya agak mendekat.


"Lo nggak tahu?" bisik Vian. Gita menggelengkan kepala.


"Payah lo adik ipar nggak peka." Kata Vian memaki Gita.


"Kenapa emang?"


"Dia itu lagi ngambek sama Raka geharanya dia tuh di abaikan terus sama Raka." Bisik Vian.


"Pantesa manyun." Gita memutar tubuhnya lagi. Gita ikut menaruh kepalanya di atas meja.


"Ada masalah apa kakak ipar?" tanya Gita.


"Ck.. kakak lo itu sekarang sudah tidak perhatian lagi sama gue." Fara manyun, semakin kesal saja kalau di bahas.


"Kencannya gagal ya?"tanya Gita.


"Gita, bahkan dia nggak bilang gue cantik atau apa begitu. Lempeng saja kayak tiang." Gita mengangkat kepalanya.


"Iya juga, beberap hari ini gue juga lihat dia lebih menjadi pendiam dan mengabaikan gue." kata Gita.


"Apa Raka sedang ada masalah? gue ajak main pun menghindar." Vian melongok dari belakang ikut nimbrung obrolan Gita dan Fara.


"Git, apa terjadi sesuatu sama Raka?" Fara yang marah kini berubah jadi cemas.


Gita menggelengkan kepala, dia baru sadar kalau beberapa hari ini dia juga tidak bertemu dengan Raka.


Gita menoleh kanan-kiri mencari keberadaan Raka.


"Hari ini dia nggak berangkat." kata Vian.


"Apa dia mengirim pesan sama lo?" tanya Gita.


Vian mengangguk, "Iya, dia bilang tolong jaga lo sama Fara karena beberapa harindia akan sibuk dan tidak masuk kuliah."


"Beneran Raka ngomong begitu?" tanya Fara.


"Iya, kalian berdua nggak tahu?" Vian ikut cemas. Gita dan Fara menggeleng bersamaan.


Vian menunjukan whatsappnya kepada Gita dan Vian.


"Git, Raka kemana?" Mata Fara berubah berkaca-kaca. "Apa ini karena gue kemarin merengek dan marah sama dia?" Fara menjadi menyalahkan diri sendiri.


"Lo tenang dulu jangan menyalahkan diri sendiri. Nanti gue coba tanya Raka di rumah." Gita menenangkan Fara.


Meskipun Gita berusaha tegar dan tenang namun dalam hatinya gelisah. Pikiranya tiba-tiba kacau, saat pesan tidak terkirim.


...♡♤♤♤♡...


Gita mencari Raka di kamar tapi tidak ada, dia mengecek pakaian di lemarinya masih full.


"Semua barang ada, Raka pergi kemana ya?" tanyanya pada diri sendiri.


"Bik." Panggil Gita sambil menuruni tangga.


"Ya Mbak."


"Tahu Raka diaman nggak?"


"Dari kemarin bibik belum lihat Mas Raka, cuman terakhir bibik lihat tuh Mas Raka terima telpon habis itu pergi. Bibi tanya mau kemana nggak jawab."


"Makasih Bik. Raka kemana ya?" Gita semakin panik. Dia menghubungi Mama, Genta dan Qila namun tidak ada yang tahu.


Gita melihat jam di tangannya, Gita langsung menelpon Gilang untuk membantu mencari Raka.


"Hey.. kenapa menangis. Siapa yang menyakiti kamu?" tanya Gilang sambil mengusap rambut Gita.


"Kak.. Raka nggak ada di rumah." Gita mulai sesenggukan.


"Nggak ada di rumah gimana?" tanya Gilang.


"Dia pergi, semua anggota keluarga aku juga nggak ada yang tahu. Kak Genta sama Kak Qila sedang luar kota semua. Batuin." Air mata Gita terus mengalir.


"Iya.. ayo kita cari dari tempat-tempat yang sering di kunjungin Raka." ajak Gilang. Sebenarnya Gilang sangat lelah namun demi Gita dia rela untuk pergi mencari Gita.


"Sudah jangan menangis lagi." Raka mengusap air matanya.


"Kak Gilang pasti capek kan, gimana kalau kita pakai sopir saja?" Gita memberikan saran.


"Aku nggak capek kok, ayo naik." Gilang membukakan pintu mobil."


Gita mulai membuat list tempat yang sering di kunjungi Raka bersamanya. Dan setelah berputar-putar Raka masih saja tak di temukan.


Gilang juga menghubungi Vian untuk membantu mencari di area kampus tapi hasilnya nol. Raka tidak ada di sana.


"Terus Raka dimana dong?" Gita menatap Gilang nanar.


Gilang menarik Gita dalam pelukannya, "Aku rasa sekarang Raka sedang menenangkan diri jadi biarkan dia tenang dulu."


"Tapi dia ada masalah apa? kenapa dia tiba-tiba menghilang. Apa dia nggak mikir dengan perasaan Fara. Pasti sekarang ini dia sedang menangis cemas memikirkan Raka. Kenapa semua cowok selalu saja bertingkah seperti itu." Gita memaki.


"Kamu kok ngomong seperti itu, cobalah tenang dan memahami situasi. Jangan menyimpulkan suatu masalah hanya sepihak. Kita kan belum tahu alasan kepergian Raka."


"Apapun alasanya, kalau dia sudah memutuskan untuk menjalani suatu hubungan berarti dia punya tanggung jawab untuk memberikan kabar." Gita marah-marah.


"Sayang, ada kalanya seseorang perlu menenangkan diri."


"Kak.. menenangkan diri bukan berarti menghilang. Apa tidak bisa berpamitan biar pasangannya nggak cemas dan memikirkan hal buruk tentangnya. Memang cowok selalu saja seenaknya."


"Kenapa jadi menyalahkan cowok terus." Gilang agaknya sedikit panas.


"Memang cowok selalu salah, dengan seenaknya menghilang dan asyik sama dunianya sendiri."


"Sejak kapan coba aku sibuk sama duniaku sendiri. Kita sama-sama telponan juga sering. Kamu tuh yang sibuk sama drama korea sama oppa-oppa pujaan kamu sampai lupa punya pacar."


"Kenapa jadi bawa-bawa aku sih. Lagian oppa-oppanya emang lebih ganteng dari kamu."


"Dasar halu."


"Ya kalau nggak halu nanti kamu marah kalau beneran pergi sama oppa-oppa. Kamu menyesal lagi." Gita manyun sambil melipat kedua tangannya di dada.


Gita yang awalnya marah sama Raka, merembet nyambung ke permasalahan pribadi mereka berdua.


Berawal dari Gilang yang panas karena di pojokkan sebagai lelaki. Namun ujungnya dia tetap kalah.


"Ya sudah sekarang aku anterin kamu pulang, membahas ini tidak bakalan kelar sampai dunia kiamat pun." Gilang membuka pintu mobil untuk Gita.


"Cowok memang selalu menghindar kalau sedang salah, mana nggak mau mengalah lagi." Gita masih ngedumel saja.


Perjalanan pulang tiba-tiba Gita diam saja, dia menjadi kesal sama Gilang.


"Kenapa diam saja?"


"Kamu ngeselin sih." Kata Gita sewot.


"Ngeselin apa?"


"Nggak tahu, pikir saja sendiri." kata Gita langsung memejamkan matanya.


"Salah lagi kan gue, perasaan juga nggak melakukan apa-apa. Untung sayang kalau nggak udah gue kasihin sama abang-abang bakso barusan." Batin Gilang.


"Nggak usah ngebatin." Kata Gita membuat Gilang melotot. Bahkan dia tahu kalau dia sedang memakin Gita dalam hati. Gilang bergidik, cewek kalau lagi mode ngomel lebih menakutkan dari apapun.


Gilang beralih fokus mengemudi, dan lebih memilih diam saja agar masalah yang harusnya tidak ada masalah itu melebar kemana-mana dan membuat Gita ngambek.