Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Malam Mingguan


Setelah di ceramahin Gita jadi tidak tenang, dia guling-guling di kamar kasurnya, sesekali dia mengacak-acak rambutnya.


"Gita kenapa lo bodoh banget sih, gimana kalau Kak Gilang beneran pergi sama sama Kak Monika." Gumam Gita sambil kembali menggulingkan badanya.


"Malam minggu di rumah aja Ta, percuma dong punya doi." goda Raka.


"Diem lo ah!" bentak Gita kesal.


"Santai aja bos, tahu nggak Kak Qila udah dapat gebetan baru aja. Dia udah pergi noh sama cowok barunya. Kak Genta juga udah jalan. Lo mau di rumah sendiri?" goda Raka.


"Kan ada mama sama papa. Weekkk!" Gita menjulurkan lidahnya.


"Kata siapa? Om sama tante pergi ke rumah nenek tadi sore."


"Kok nggak ngomong sama gue "


"Gimana mau ngomong lo, kamar lo di kunci pakai dengerin lagu keras-keras pula." Kata Raka. "Udah ah.. gue cabut. Gue mau pacaran dulu. Daaaa.." Raka melambaikan tangan lalu pergi menutup pintu Gita.


"Ih.. kenapa orang-orang jahat sama gue sih." Gita kesal. Dia membuka ponselnya melihat kalau saja ada chat dari Gilang.


"Beneran nih pergi sama Kak Monika." Katanya sambil buka story whatsappnya. Matanya mendelik ketika melihat Gilang bikin story dandan cakep dengan bunga.


"Ih.. tega banget lo Kak, gue mau putus pokoknya. Lo sama aja dengan yang lain. Dasar buaya!" Gita menangis. Gita tidur terungkap sambil menangis. Dia merasa di bohongi sama Gilang.


Tok...Tok...


"Mbak Gita, makan dulu." Kata Bik Nana.


"Gita nggak mau makan Bik." seru Gita.


"Kata Ibu kalau nggak mau makan besok nggak dapat uang jajan." kata Bik Nana.


"Ih.. Bik Nana mah resek, nggak tahu apa orang lagi galau malah di suruh makan." Gita ngedumel lalu turun. Bik Nana itu sangat loyal sama mamanya jadi dia nggak bisa di ajak bohongin mamanya.


Gita duduk sendiri di meja makan yang besar.


"Bik...Bik... makan bareng yuk." ajak Gita.


"Iya Mbak." Bik Nana duduk di depan Gita. Bik susi langsung mengambilkan nasi ke piring Gita.


"Bik, ini banyak banget nasinya."


"Mbak Gita makan yang banyak, bibik lihat kurusan loh." Katanya sambil menambahkan sayur dan lauk di piring Gita.


"Ih.. bibik mah, kan Gita sedang diet ya makanya lebih kurusan."


"Oh.. .Mbak Gita diet toh." Bik Nana malahh tertawa.


"Ih..ketawa lagi."


Lagi asyik ngobrol sama Bik Nana, ada yang mengetuk pintu rumahnya.


"Siapa lagi malam-malam bertamu." kata Gita.


"Biar bibik lihat Mbak."


"Biar Gita aja Bik, tapi tolong buatin jus mangga ya."


"Ok, siap Mbak."


Gita meninggalkan piring dengan nasi yang masih setengah. Dia menarik gagang pintu ke dalam.


"Selamat malam cantiku." Gilang menyapa Gita sambil senyum manis banget.


"Kak Gilang ngapain kesini?" Gita kaget Gilang datang ke rumahnya.


"Kok ngapain, ya apel ke pacar gue lah." Gilang memberiakan satu tangkai bunga mawar.


"Bukanya Kak Gilang mau ke rumah Kak Monika?"


"Siapa yang bilang?" Gita balik bertanya.


"Kak Gilang lah, lupa apa tadi siang di sekolah."


"Gini nih kalau lagi cemburu, pasti orang ngomong apa di cernanya apa. Kak gue bilang mau nonton bioskop sama dinner."


"Mbak Gita, apa baik-baik saja?" Bik Nana nyamperin Gita takut ada apa-apa dengan Gita.


"Gita baik-baik saja Bik, teman Gita kok yang datang." seru Gita.


"Ya udah Mbak."


"Lo bilang apa teman?" Gilang menatap tajam ke arah Gita.


"Iya teman."


"Oh, jadi gue ini teman. Hanya teman." Gilang duduk di kursi teras karena tidan segera di persilahkan masuk.


"Oh.. jadi malu. Ya udah deh gue balik aja dari pada malu-maluin. Maaf kalau gue malu-maluin selama jadi pacar lo." Gilang beranjak dari teras.


"Eh.. mau kemana? Jangan pergi." Gita memeluk Gilang agar tidak meninggalkanya.


"Mau pulang, ngapain disini cuma di anggap teman."


"Jangan ngambek dong, maksud gue kan teman hidup." jawab Gita dengan nada pelan.


Gilanga menahan senyum, dia memuta tubuhnya hingga berhadapan dengan Gita.


"Pinter gombal ya sekarang, siapa yang ngajarin?" Gilang mencolek hidung Gita.


"Lo." jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Bisa aja ngelesnya." Gilang mengacak-acak rambut Gita.


"Masuk yuk, gue lagi makan."


"Nggak mau makan di luar aja?" tanya Gita.


"Nggak deh, udah setengah kenyang kok."


"Ya udab deh." Gilang ikut masuk ke dalam.


Mereka berdua akhirnya dinner di rumah Gita, setelah seleai makan mereka berdua kembali ke teras.


Gilang melirik Gilang, kemudian melihat ke tubuhnya sendiri. Gilang berdandan sangat tampan sedangkan dirinya hanya pakai celana kolor di atas lutut sama kaos oblong.


"Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?"


"He..he.. nggak. Kak Gilang dandan ganteng banget sedangakn gue begini aja." katanya nyengir.


"Mau gimana juga cantik kok, justru dengan begini berasa bareng sama istri." kata Gilang lalu terkekeh.


"Bisa aja lo Kak." Gita menepuk pelan Gilang lalu ikut tertawa. "Kak, kenapa lo senang banget kasih gue bunga, lo kan tahu gue nggak begitu suka bunga." jelas Gita.


"Karena bunga itu melambangkan banyak perasaan, jadi ya gue suka saja."


"Dan gara-gara lo gue jadi sedikit menyukai bunga-bunga ini." kata Gita.


"Dan gue itu seperti bunga."


"Kok bisa?"


"Yah.. awalnya lo nggak suka dan sedikit demi sedikit lo mulai menyukai gue." Kata Gilang sambil mengusap rambut Gita.


"Kak, apa sih yang buat lo suka sama gue. Gue nggak ngerti deh kenapa lo tuh dari dulu ngebet banget pingin jadi pacar gue, padahal kita nggak saling kenal."


"Ya.. kita nggak saling kenal, tapi gue tahu tentang lo."


"Fans gue ya." Goda Gita sambil menyenderkan di pundak Gilang.


"Fans berat." Gilang mengusap rambut Gita. "Gimana belajarnya?"


"Lumayan."


"Lumayan bisa apa lumayan pusing?"


"Sedikit bisa, banyak pusingnya." Gita meringis. "Oiya Ka, setelah lulus Kak Gilang mau meneruskan kuliah dimana?"


"Disini saja, biar kita dekat."


"Senengnya, jadi nggak ldr." Gita memeluk Gilang erat.


Gilang tersenyum, "Malam prom night nanti kita datang bareng kan?"


"Gue males datang."


"Kenapa?"


"Gita nggak suka datang ke tempat seperti itu, mereka nanti akan mengejek gue lagi." Gita masih tidak percaya diri.


"Berdiri." Pinta Gilang.


"Berdiri?"


"Iya, lo berdiri." Gilang membantu Gita berdiri. Gilang melihat Gita dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Benar harusnya nggak datang ke prom night."


"Ya kan."


"Hem.. nggak dandan saja udah cantik gimana kalau nanti dandan. Yang ada saingan gue tambah banyak."


"Ish.. nakal ya." Gita memeluk Gilang. Rasa sayang Gita kepada Gilang semakin besar. Dia tidak tahu sejak kapan perasaanya itu muncul namun yang dia rasakan sekarang dia sangat mencintainya.