
Raka berjalan mencari sahabat-sahabatnya, dia menelpon Vian namun tak di angkat.
"Raka."
"Hai Lang." Raka melambaikan tangannya.
"Lo datang sendiri?" Gilang menghampiri Raka.
"Sama Gita, dia di belakang sono tuh. Gue ajak ke sini nggak mau. Samperin gih." Suruh Raka.
"Ok. Bay tolong handel ya!" teriak Gilang. Dari ke jauhan Bayu mengangkat tangan dengan kode ok.
"Eh Lang, tunggu."
"Apa?"
"Lo tahu Vian sama yang lain nggak?" tanya Raka.
"Ada di depan dekat panggung sebelah kiri."
"Ok."
Raka segera menuju panggung seperti yang di katakan oleh Gilang. Raka tersenyum saat melihat Fara dan yang lain sedang heboh ikut bernyanyi.
"Eh..sakit." Fara memegangi kepalanya saat rambutnya ada yang tarik.
"Ih.. Raka! rese banget sih lo!" Fara manyun mengelus rambutnya. Raka tertawa bahagia melihat Fara ngomel.
"Gita mana Ka?" tanya Anita.
"Sama Gilang."
Saat lagu berjudul kita selamanya milik Bondan prakoso. Semua siswa berjingkrak. Fara yang kedorong-dorong sampai hendak jatuh. Untung Raka sigap di balakang menahan agar Fara tidak terjatuh.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Raka. Fara menggelengkan kepala cepat. Fara berdiri tegak lalu menatap depan sambil memegangi dadanya.
"Pasti gue deg-degan gini gara-gara mau jatuh." Batin Fara karena jantungnya berdenyut dengan keras.
"Heh.. lo kenapa?" Senggol Raka saat melihat Fara terdiam. "Lo nggak kesurupan kan." Kata Raka sambil memegang dagu Fara lalu mengarahkan ke arahnya.
"Lagian kesurupan apaan, ini nyanyi bukan tarian jaranan." Fara menepis tangan Raka.
"Ya siapa tahu kesambet setan penunggu sekolah."
"Lo Setannya." Fara kembali melihat ke arah depan dan menikmati lagunya.
Raka tersenyum, dia mundur satu langkah tepat di belakang Fara dia menjaga agar Fara tidak terdorong-dorong dari belakang.
Setelah semua acara selesai, tinggallah sesi dansa, semua siswa langsung mencari pasangannya.
"Waduh kok udah punya pasangan semua, gue sama siapa?" Fara menengok kanan kiri.
"Ish... si penghianat Anita, malah dansa sama Kak Bayu. katanya mau pasangan sama gue." Omel Fara.
"Ah.. ya kali gue dansa sama ucup." Fara mendengus.
Fara melebarkan kedua matanya, dia tertegum saat Raka mengulurkan tanganya.
"Bukanya lo bilang kalau di dunia ini tinggal gue sama Ucup lo akan pilih gue." Katanya sambil tersenyum.
Gita masih tertegum belum menerima uluran tangan Raka. Yang ada di pikiranya kalau dia menerima ajakan Raka dia akan menjadi pelakor.
Raka maju dan berdiri tepat di depan Fara, Raka meraih tangan Fara. Raka menaruh tangan kiri Fara di pundaknya lalu menautkan tangan kanannya. Raka memegang pinggang Fara.
Mereka berdua saling bertatap dan mulai mengikuti alunan musik. Keduanya hanya diam, menikmati dansa dan saling bertatap. Detang jantung keduanya yang iramanya mulai meninggi. Ada getaran aneh yang mulai terasa di dalam hati mereka.
"Kenapa Raka terlihat berbeda, dia keren banget." batin fara.
"Heh.. jangan kaku gitu kenapa, nggak usah terpesona sama kegantengan gue." Kata Raka dengan pedenya.
"Lo kenapa sembarangan ajak dansa, gue kan belum setuju." Kata Fara.
"Kelamaan, lagian lo mau dansa sama si Ucup."
"Ya nggak, tapi kan gue bisa nggak dansa." ujarnya.
"Lo mau jadi kambing congek, gue kan jadi penyelamat lo. Harusnya lo berterima kasih."
"Penyelamaat apaan?"
"Penyelamat dari malu, karena lo pasti akan di katai jomblo."
"Benar kan kata gue, lo jomblo."
"Iye puas lo!" Fara kesal. Dia menarik tangannya. Dia nggak mau meneruskan dansa.
"Eh.. lo mau kemana? Dansa belum selesai."
"Dansa aja sendiri!" Fara sewot.
Bugh...
Seseorang menyenggol Fara hingga dia jatuh di pelukan Raka.
Raka tersenyum, "Makanya lo jangan jauh-jauh dari gue, udah berapa kali lo mau jatuh."
"Ini semua kebetulan."
"Nggak ada yang kebetulan, tapi ini takdir." Raka kembali menarik Fara berdansa dengannya.
"Gue nggak mau dansa."
"Kalau nggak mau dansa lo mau apa? jongkok sambil nangis di pojokan."
"Idiih... sorry ya gue nggak selemah itu. Ngomong-ngomong lo ngebet banget dansa sama gue. Lo suka sama gue?"
Raka tersenyum, dia menatap mata Fara tajam namun penuh pesona. Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Fara.
"Gue atau lo yang suka sama gue." Bisik Raka membuat Fara panas dingin.
"Lo lah masa gue, lagian ya gue nggak level suka sama cowok orang." Kata Fara.
"Perempuan yang baik, idaman." Raka kembali menatap Fara penuh dengan pesona. Malam ini Fara merasa orang yang di depannya buka Raka.
Fara bergidik, "Li siapa? hantunya Raka ya?"
"Hantu?"
"Iya, atau jangan-jangan lo kesurupan setan sekolah. Mana ada Raka jadi kayak cowok normal begini."
Raka menyentil kening Fara, "Jadi selama ini gue cowok nggak normal gitu?"
"Ya Tuhan, terima kasih udah usir hantunya."
"Gila lo emang, pantesan nggak ada yang mau sama lo." Raka meninggalkan Fara.
"Eh.. mulut lo ya." Fara mengejar Raka yang meninggalkan dansa.
Fara memutuskan ke bagian konsumsi, dia mengambil gelas air mineral. Dia menusukkan sedotan lalu meminumnya pelan.
Dia membayangkan wajah Raka yang sangat dekat dengan dirinya. Wajah putih bersih tanpa jerawat.
"Bisa dia seganteng itu, cool berbeda banget sama biasanya." Ujar Fara.
"Ah.. kenapa jadi puji dia. Lagian gue tahu dia seperti itu hanya mau menggoda gue. Pasti dia akan buat gue jatuh cinta lalu dia akan di jadiin bahan bercandaan di kelas." Fara menaruh air mineralnya lalu berkacak pinggang.
"Tidak semudah itu ferguso, gue tidak mudah jatuh cinta begitu saja." katanya melipat kedua tangannya di dada.
"Siapa yang jatuh cinta?" Anita nongol dari belakang Fara.
"Kucing gue,"
"Kucing, sejak kapan lo pelihara kucing." Anita mengerutkan kening, karena sepengetahuan dia Fara memelihara kucing.
"Kucing tetangga."
"Ah.. lihat Gita sama Kak Gilang yuk, mereka sedang dansa." Ajak Anita.
"Oiaya, ayo jangan kehilangan moment." Fara mengikuti Anita.
"Fara...Anita, mau kemana?" tanya Vian yang melihat Fara dan Anita buru-buru.
"Lihat Gita sama Kak Gilang dansa di taman." Kata Anita.
"Wah.. keren nih gue ikut. Bay, Ka mau ikut lihat pertunjukan romantis tidak?" tanya Vian.
"Ikut donk."
Mereka berempat langsung berjalan menuju taman, melihat keromantisan Gita dan Gilang yang selalu membuat iri yang melihatnya.