
Bella merasa lega sudah memutuskan pertunangan dengan Edo, dia langsung pergi ke rumah sakit lagi untuk mengatakan sama Vian. Bella dengan sumringah membuka pintu ruangan Vian, dia datang lalu memeluk Vian.
Vian melebarkan kedua matanya saat melihat Bella memeluk dirinya tiba-tiba.
“Bella, apa yang lo lakukan?” tanya Vian.
“Vian, gue memilih lo. Gue udah melepaskan dia, gue membatalkan pertunangan gue dengan dia.” Kata Bella.
“Membatalkan pertunangan?” Vian mengernyitkan keningnya.
“Iya, Lo benar gue harus memilih satu diantaranya. Gue nggak bisa kalau harus berada di dalam keduanya yang hanya akan menyakiti kedua belah pihak saja.” Bella
melepaskan pelukannya.
“Lo sudah pikirkan matang-matang dengan keputusan lo? Gue nggak mau nanti lo
menyesal dengan apa yang lo lakukan Bella ini .” Kata Vian. Meskipun sakit tapi dia
juga tidak mau membuat Bella menyesali apa yang dia pilih dengan buru-buru.
“Aku tidak akan pernah menyesal memilih lo.” Kata Bella dengan sangat yakin.
"Lo mengambil keputusan dengan terburu-buru. Keputusan yang begini hasilnya tidak akan baik." Vian mengingatkan Bella agar memikirkan kembali apa yang dia putuskan.
"Tidak, Gue sudah memikirkan matang-matang. Apapun yang terjadi nanti gue akan menerima resikonya. Setidaknya gue akan lega dengan karena bisa memlakukan sesuai dengan keinginan gue sendiri." kata Bella dengan tersenyum.
“Terima kasih ya, lo mau memilih gue. Tapi bagaimana dengan keluarga lo?” tanya Vian.
“Gue akan mengatakan yang sebenarnya nanti setelah pulang dari sini. Gue hanya ingin lo tahu dulu kalau gue benar-benar mencintai lo. Gue nggak mau telat lagi,
takut lo sudah memilih perempuan lagi.” Kata Bella.
“Mendekatlah.” Vian menarik tangan Bella dan mendepa dia dalam pelukkannya. Amarahnya sekejab menghilang begitu saja saat Bella datang dan memilih dirinya.
"Tidak ada perempuan lain, selagi lo masib ada di bumi dan belum di miliki oleh siapapu. Lo akan selalu menjadi satu-satunya." Bisik Vian yang membuat Bella tersenyum lega.
...♡♡♤♤♡♡...
Setelah seharian menemani Vian, Bella pulang untuk menemui orang tuanya. Dia ingin mengatakan kalau dirinya itu tidak mau menikah dengan Edo. Dia hanya ingin
dengan Vian.
"Plaaak!!!"
Bella masuk ke rumah langsung di sambut dengan tamparan papanya, Bella memegangi pipinya.
“Kenapa papa menampar Bella?” tanya Bella dengan mata yang berkaca-kaca menahan perih di pipinya.
“Kamu tanya kenapa? Harusnya papa yang tanya kenapa kamu lakukan semua terhadap keluarga ini?” Papa Bella marah besar.
“Maksud Papa apa, Bella nggak mengerti. Memangnya Bella melakukan apa sampai papa marah sama Bella seperti ini."
“Yah.. kamu memang nggak akan pernah mengerti. Anak yang sudah papa besarkan dengan begitu bangganya membatalkan perjodohan sendiri tanpa perundingan dengan orang tuanya. Kamu sudah merasa hebat, bisa hidup sendiri. ” Kemarahan Papa Bella semakin menjadi.
“Pa, Bella hanya ingin bahagia. Apa salah Bella memilih sesuatu untuk kebahagiaan
Bella sendiri. Selama ini Bella selalu nurut kata papa dan juga mama. Apa Bella tak
boleh memilih sekarang Pa?” Bella akhirya berani berbicara untuk mempertahankan
pilihanya. Biasanya dia hanya mengiyakan ucapan orang tuanya sekarang dia berani membatah.
“Lelaki mana yang membuat kamu membantah perkataa orang tuamu?” Papanya memegang tangan Bella erat sampau terasa sakit.
“Tidak ada yang mengajari Bella pa, hanya bella capek dengan semua ini!” teriak Bella
dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Dia juga berusaha melepas tangan papanya namun susah dia tidak mampu.
“Ma, Pa.. selama ini Bella yang jadi tulang punggung kalian. Bella selalu mengikuti
kemauan kalian. Bella sampai tidak bisa main seperti teman-teman yang lain. Apa masih kurang penderitaan ini Ma, Pa.” Bella mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Pa.. Bella benar, kita terlalu keras dan menuntut Bella. Berikan dia kelonggaran
untuk memilih pasangan hidupnya.” Mamanya mulai luluh dengan air mata dan
kejujuran Bella.
“Mama, kamu mau di permalukan sama orang-orang. Dan bagaimana dengan panti asuhannya. Apa kamu nggak mikirin mereka. Bella, kita punya hutang budi banyak dengan mereka. Kamu harusnya mikir apa yang kita miliki sekarang itu juga dari mereka. Kamu jangan kasihan sama anak yang durhaka dan pemberontak ini."
“Pa, apa yang kita miliki itu tidak seluruhnya dari mereka. Ini hasil kerja Bella.” Bella tidak menyangka jika hasil kerjanya itu tidak dianggap oleh papanya.
“Papa tidak mau tahu. Sekarang kamu masuk ke kamar dua hari lagi kamu akan menikah dengan Edo.”
“Dua hari lagi?” kata Bella dengan terbata-bata. Dia tidak mungkin menikah, dia sudah memilih Vian.
Bella berlari ingin meninggalkan rumah, namun dengan mudah ppanya mengejarnya dan membawa Bella ke kamarnya.
“Masuk.” Kata Papanya. Dia menyeret dengan kasar.
“Pa lepasin Bella, Bella nggak mau menikah dengan Kak Edo. Pa lepasin Bella!”
Teriak Bella sambil gedor-gedor pintu.
“Jangan ada yang membukakan pintu ini kecuali dia sudah mau menikah dengan Edo.” Kata Papanya.
“Ma! Tolong Bella ma.” Bella menggedor-gedor pintu dengan keras.
“Sayang, maafin mama. Mama nggak bisa menolong kamu.” Mamanya Bella ikut menangis, dia tidak tega sama Bella namun dia juga tidak berani membantah suaminya.
“Mama kenapa papa jahat sama Bella, apa salah Bella selama ini sama papa Ma. Bella
mau papa yang dulu mama.” Bella merindukan papanya yang mendukung semua keinginanya. Dia mnginginkan keluarganya sebelum mengenal keluarga Edo.
“Aaaahhhh!!!” Bella membuangi semua bantal selimut dari ranjang. Bella juga membuang semua makeup yang ada di meja riasnya.
"Bella benci sama Papa, Bella benci kalian semua!" teriak Bella.
“Bella mau keluar Ma, Bella nggak mau menikah dengan Kak Edo. Bella maunya sama Vian.” Teriak Bella bersamaan dengan tangisan.
“Bella, mau Vian Ma.” Rintihnya.
Bella menjatuhkan tubuhnya di lantai, sudah tidak ada bisa berpikir lagi. tatapanya
kosong, dia hanya bergeming menginginkan Vian. Hanya Vian seorang tiada yang lain di hatinya.
“Bella mau Vian, Bella hanya mau Vian Ma.. Bella tidak mau menikah dengan Kak Edo.”
Gemingnya.
Matanya terasa sangat perih karena air matanya sudah mengering, dia hampir sehari semalam menangis terus. Dadanya terasa sesak, tubuhnya terasa lemas. Seharian Bella sama sekali tidak makan karena kesana kemari menyelesaikan masalahnya.
“Bella mau Vian... Bella mau Vian.” Gumam Bella terus.
Bella beranjak dari lantai saat mendengat ponselnya berbunyi. Dia langsung menggeser tombol hijau.
"Halo Bella."
"Halo Vian, tolongin gue Vian tolong." kata Bella dengan kembali menangis.
"Tolong apa, Bella lo tenang dulu. Coba katakan dengan jelas ada masalah apa?" tanya Vian.
"Vain, Bella nggak mau menikah. Bella hanya mau lo. Tolong bawa pergi Bella dari sini." Rengek Bella.
"Kapan lo menikah?"
"Lusa, Lo harus datang membantu gue. Atau sekarang lo datang keruamah dan bawa kabur gue." Kata Bella.
"Lo yang tenang ya, gue akan cari cara untuk menolong lo." Vian mematikan sambunga teleponnya.
...◇♡♡◇...
Vian keluar rumah sakit diam-diam untuk menemui orang tua Bella. Dia bahkan tidak bilang dengan sahabat-sahabatnya. takutnya dia akan dilarang.
Vian pergi ke rumah Bella dengan naik taksi, bahkan dia masih memakai baju pasien.
"Pak, tunggu saya sebentar ya." kata Vian.
"Baik."
Vian berjalan dengan sedikit sempoyongan. Dia belum sembuh dengan sempurna.
Tok...Tok...
"Pemisi."
"Iya, siapa ya?" tanya mama Bella.
"Saya Vian tante, teman Bella."
"Oh, ada keperluan apa ya datang kemari?" tanya mamanya dengan ramah.
"Bisa bertemu dengan Bella?"
"Tidak! siapapun tidak boleh bertemu Bella saat ini." papanya keluar dengan marah-marah.
"Sebentar saja Om, saya mohon."
"Saya bilang tidak ya tidak! atau jangan-jangan kamu orang yang mengajari Bella menjadi pembangkang! Papa Bella menuduh Vian.
"Tidak Om, saya hanya teman dekatnya saja. Om bisakah saya meminta untuk membatalka pernikahan putri Om. Dia menderita disana. Bagaimana kalau nanti dia melakukan hal yang aneh-aneh?" Vian mencoba membuka pikiran papanya Bella.
"Jangan sok tahu kamu, jangan ngajararin orang tua. Sekarang kamu pergi tinggalkan rumah ini."
"Vian tunggu Vian.. papa jangan usir Vian." Bella bisa lolos keluar kamarnya.
"Bella."
"Mama bawa masuk Bella, bagaimana bisa di keluar!" teriak Papanya.
"Vian tolongin gue, Vian!"
"Om, kasian Bella."
"Pergi, jangan ikut campur!" Papanya mendorong Vian sampai terjungkal.
Vian pulang dengan sati yang sangat sengsara, melihat tangisan Bella yang sangat menyayat membuatnya sangat sedih. Kisah cintanya kenapa begitu pilu.
Vian
duduk di teras rumah Gilang, dia menatap langit dengan meneteskan air mata. Ini
kasus berat dalam hidupnya. Selama ini dia menjalani hidup dengan sangat
bahagia, dia bisa dengan santai menangani masalah. Dia dengan mudah memberikan
nasehat, wejangan kepada orang lain. Tapi kali ini dia sendiri yang mengalaminya.
Dia
tidak menemukan solusi permasalahannya sendiri, dia maju salah mundur pun akan
tersiksa. Masalah terberat dalam hidup memang ketika kita berurusan dengan
keluarga.
Vian
menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia menyederkan tubuhnya ke dinding.
“Masalah
ini kenapa datang tiba-tiba, aku tak sangup menerimanya.” Ujarnya.
Bik
siti yang hendak mengunci pintu rumah langsung mengurungkan niatnya, dia
mengintip lalu berlari pergi mencari Gilang karena takut melihat orang di depan
teras. Takutnya orang gila atau maling yang datang menyusup ke rumahnya.
“Mas
Gilang, Mbak Gita di depan ada orang.” Bik Siti panik.
“Orang
siapa Bik, tamu?” tanya Gilang.
“Bukan,
dia duduk saja di lantai teras. Bibik mau keluar takut.” Kata Bik Susi.
“Bibik
istirahat saja, biar saya yang mengecek.” Kata Gilang.
“Makasih
Mas.”
“Iya
sama-sama Bik. Sayang kalau kamu mau ke atas dulu nanti aku menyusul.” Pinta
Gilang.
“Aku
ikut.” Kata Gita.
“Ok.”
Gilang menggandeng Gita, mereka berjalan mengendap dan mengintai dulu dari
jendela.
“Eh...
itu bukanya Vian sayang.” Kata Gita.
“Iya.”
Gilang langsung membuka pintu dan nyamperin Vian.
“Vian
lo ngapain disini?” Gilang memegang pundak Vian.
“Iya,
kenapa lo nggak masuk aja sih.” Tambah Gita.
Vian
diam saja, dia justru menangis dia
sedang hancur saja sekarang sampai-sampai dia tidak bisa berpikir.
“Vian,
lo kenapa ? ada masalah apa?” Gilang panik melihat sahabatnya itu kacau, dan
juga menangis.
“Gilang..
gue hancur dan nggak tahu lagi harus bagaimana.” Katanya dengan tenggorokan
yang sangat dongkol.
“Sayang
buatkan minuman hangat untuk Vian.” Pinta Gilang.
“Iya
sayang.”
Gilang
semakin dingin.
“Vian,
jelaskan apa yang sebenarnya terjadi sama lo.” Gilang memintapenjelasan yang
sangat detail, dia ingin tahu masalah apa yang membuatnya sangat hancur begini.
“Gue
sebagai lelaki benar-benar tidak berguna, gue tidak bisa menyelamatkan orang
yang gue sayang,” Jelas Vian.
“Gue
masih belum tahu apa yang lo maksud Vian.”
“Jadi
tadi Bella menelpon gue, dia minta tolong sama gue untuk membawanya pergi. Lalu
gue datang ke rumahnya gue ngobrol baik-baik dengan keluarganya. Tapi apa,
mereka mengusir gue. Papanya menyekap Bella di kamarnya dan memaksanya menikah
besok dengan tunangan yang di jodohkannya.” Katanya dengan air mata yang menetes di pipi.
“Gilang
katakan sama gue, apa yang harus gue lakukan untuk menolong Bella.” Vian
meminta pendapat Gilang.
Gilang
sendiri bingung cara mengatakannya, jika sudah seperti ini resiko sangat besar
yang di hadapinya. Andai membawa kabur Bella, maka dia akan di cap sebagai anak
durhaka pastinya. Namun kalau tidak dia akan menderita seumur hidupnya, jika
tidak dia akan berlaku aneh-aneh, depresi dan bisa saja menghabisi hidupnya.
“Minum
dulu Vian.” Gita memberikan teh hangat kepada Vian. Vian menerimanya lalu
meneguknya perlahan.
“Vian,
ini masalah berat. Dan keputusannya hanya ada dua dan semuanya beresiko tinggi.”
Kata Gilang.
“Apa
jalan keluarnya?”
“Pertama,
jika lo mau membawa kabur Bella maka lo harus membiayainya, menghidupinya dan
tentu saja membahagiakannya. Dan Bella akan menyandang anak durhaka dari kedua
orang tuanya. Sedangkan lo akan di cap sebagai penculik dan selamanya tidak
akan mendapatkan restu dari orang tua Bella.” Jelas Gilang.
Vian
mengangguk-angguk dia paham sekali jika itu akan bear-benar terjadi kalau
dirinya melakukan.
“Lalu
yang kedua?” Vian ingin tahu jalan keluar yang kedua.
“Lepaskan
dia, biarkan dia menjalani hidupnya dengan kemauan keluarganya. Iklaskan dia,
beri pengertian kepada dia kalau memang kalian tidak berjodoh. Memang akan
terasa sakit tapi menurut gue solusi ini lebih bagus dari yag pertama.” Kata
Gilang.
“Benar
Vian, di dunia ini memang Tuhan mempertemukan kita kepada seseorang dengan berbagai alasan.
Dan salah satu alasan Tuhan mempertemukan lo sama Bella yaitu untuk menguji
kesabaran lo dan juga keiklasan lo.” Gita menasehatinya.
“Gue
nggak lagi sih, lo tahu kan selama ini gue selalu santai dan mampu
menyelesaikan semua masalah gue dengan mudah. Tapi untuk masalah ini gue
benar-benar buntu. Semua jalan semuanya terasa salah. Dan dengan penjelsan
kalian berdua aku menemukan titik terang yang gue sendiri nggak mampu
sebenarnya memilihnya.” Vian menghembuskan napas agar dia bisa merasa lega.
“Saat
lo mampu memilih, berati lo mampu menjalaninya juga. Awalnya terasa berat tapi
lo akan menemukan hikmah dan mungkin lo akan berterima kasih sama pilihan lo.
Karena dengan pilihan lo saat ini, lo bisa lebih tegar, dan menjadi orang lebih
baik lagi.”
“Vian,
coba lo tenangkan diri lo dulu. Pikir baik-baik yang menurut lo itu bagus dan
tidak akan membuahkan penyesalan.” Gita mengelus pundak Vian.
“Iya,
makasih ya kalian mau mendengarkan keluh kesah gue. Dan juga memberikan tempat
buat gue.” Kata Vian sambil tersenyum.
“Vian,
lo jangan pernah sungkan sama kita. Jika lo ada apa-apa langsung datang saja
sama kita. Jangan pergi ke tempat yang aneh-aneh.” Ucap Gita.
“Lo
istirahat saja disini, sakit lo juga belum sembuh benar.”
“Iya
Lang.”
“Udah
makan belum?” tanya Gita.
“Udah,
gue ke kamar dulu ta.” Kata Vian.
“Iya,
selamat Vian.”
“Mala
Gita, Gilang.”
Vian
ke kamar yang dulu sering dipakai mereka kumpul semasa sekolah. Dia merebahkan
tubuhnya. Vian kembali merenungkan keputusan yang dia ambil.
“Makasih Tuhan. Engkau memberikan sahabata yang sangat baik buat aku. Aku tidak tahu
lagi kalau tidak ada mereka. Mungkin aku sudah bunuh diri karena masalah ini.”
Gumam Vian pelan.
(Part Gita-Gilang)
Gita
memandangi pintu kamar yang di tempati Vian, dia tidak kasihan dengan Vian. Dia
memang orang paling santai dan konyol di antara yang lain. Dan sekarang semua
keceriaan dan kekonyolannya lenyap, orang yang setiap hari mengajaknya berantem
sedang banyak masalah.
“Sayang,”
Panggil Gilang. Gita masih saja melamun memandangi pintu tidak mendengar ajakan
Gilang.
“Hey..
ngelamunin apapan sih?” Gilang mencubit hidung Gita.
“Ah...nggak.”
Katanya sambil garuk-garuk kepala.
“Ayo
tidur udah malam.” Gilang merangkul istrinya dan mengajaknya tidur.
Sampai
di kamar Gita masih saja belum bisa tidur, dia memikirkan Vian.
“Sayang,
pasti perasaan Vian sekarang sedang hancur banget.” Kata Gita.
“Iya.”
Jawab Gilang singkat.
“Gimana
ya nanti kalau dia melihat Bella menikah, pasti akan lebih hancur lagi. Apa
besok dia tidak usah kesana?” Kata Gita.
“Iya.”
“Sayang,
kok kamu jawabnya iya-iya saja sih. Kasih apa kek sanggahan atau apa gitu.” Gita
manyun. Gita menoleh kearah Gilang
ternyata dia sudah tertidur.
“Ya
ampun Kak Gilang, diajak ngobrol malah tidur sih. Pantesan jawabnya iya-iya
mulu.” Gita mendengus.
“Udah
jangan banyak bicara lagi, kamu jangan ikut pusing. Biarkan Vian yang
memutuskannya. Kalau kamu pusing aku juga ikut pusing.” Kata Gilang menarik
istrinya agar rebahan di sampingnya.
“Kamu
mah nggak setia kawa banget, Vian kan sedang sedih malah kamu ngomong begitu.”
“Terus
akau harus ngomong apa?”
“Ya
apa begitu, bikin solusi lagi yang lebih dari dua. Biar Vian cepat bahagia
lagi. Tapi yang lebih hancur lagi pasti Bella. Gue nggak tahu perasaan dia sekarang seperti apa. Kondisinya
kayak apa?” Kata Gita. Gilang menghela napas panjang, Gita selalu saja
memikirkan orang-orang di dekatnya kadang membuatnya marah karena sering banget
di manfaatka.
“Nggak
sekalian kamu pikirkan perasaan papanya, mamanya sama tukang sapu kantor kita.”
Kata Gilang.
“Ih..
jahat banget deh. Orang teman lagi sedih kok kayak begitu.” Gita manyun.
“Sayang,
tidur besok kita ke kantor pagi-pagi. Kalau kamu bawel terus nanti kita nggak
bisa tidur.”
“Ck!
Dasar semua cowok itu memang nggak punya perasaan. Temannya sedang sedih
bisa-bisanya sesantai ini.”
“Bukan
nggak punya perasaan, Vian itu kuat dan dia pasti baik-baik saja jadi kamu
tenang saja. Sekarang tidur. Ok.”