Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Melepas Sakit Hati


Tok..Tok..


Gilang mengetuk pintu rumah Gita lumayan keras.


"Ya sebentar." jawab seseorang dari dalam.


Klek...


"Lo Lang, ngapain jam segini ke rumah. Bolos ya lo?" tanya Raka.


"Lo juga ngapain jam segini masih di rumah?" Gilang menanyakan balik.


"Gue mah libur, ini kan tanggal merah." jawab Raka sambil cengengesan.


"Tanggal merah pala lo, Gita gimana?" tanya Gilang.


"Ada, dia di kamar." kata Raka sambil mengkode Gilang untuk masuk.


"Apa dia masih sedih?" kata Gilang sambil duduk di sofa setelah di persilahkan duduk.


"Ya pastinya. Lo masih saja peduli sama Gita apa lo masih suka?" Raka bertanya serius.


"Gue nggak tahu perasaan gue sendiri." Gilang bimbang.


"Gue paham kalau lo bimbang karena Gita selalu menolak lo. Tapi melihat lo kali ini gue rasa cinta lo masih ada. Meskipun kemarin lo berusaha untuk melupakannya dengan berusaha cuek." jelas Raka.


"Yah... lebih parahnya gue biarkan dia hujan-hujanan sampai dia demam. Dan sekarang semakin parah." Gilang kembali menyesali perbuatannya.


"Gimana kalau kita buat Gita bahagia lagi, dan dekat sama lo." Raka menggerak-gerakan kedua alisnya.


"Caranya?"


"Tunggu sebentar." Raka naik ke lantai dua. Dia masuk ke kamarnya mengambil pakaian untuk di pakai Gilang.


"Lang, pakai nih." Raka melempar pakaiannya dari atas.


"Kenapa gue harus pakai baju lo?"


"Lo nggak mau kan nanti di kalau di usir gara-gara datang pakai seragam." celoteh Raka. "Di bawah ada kamar mandi lo ganti di situ saja." Raka pergi menuju kamar Gita.


Raka mendorong pintu kamar Gita pelan, lalu masuk meskipun Gita belum merespon.


"Ta.. tidur?" tanya Raka.


"Nggak." katanya lemah.


Raka berjalan mendekati Gita, dia memegang kening Gita.


"Hmm, sudah sembuh. Jalan-jalan yuk lo pasti sudah bosan kan?"


"Kemana?"


"Kemana saja yang penting bisa buat lo segar lagi." Raka menarik tangan Gita.


"Kasih aja gue pocari sweet, ion gue bakal kembali dan segar lagi." jelas Gita masih malas di ajak keluar.


"Lo kata iklan, buruan gih gati baju." Kata Raka.


"Gue nggak mau ganti baju." Gita malas berganti baju. Dia masih nyaman dengan piyamanya.


"Baiklah, lo pakai ini saja." Raka menarik tangan Gita. "Jangan menyesal tapi.." tambah Raka mengingatkan.


"Em." jawab Gita tanpa ragu-ragu.


Raka menggandeng Gita, dia mengajaknya turun. Di pertngahan tangga Gita membelalakan kedua matanya meliat Gilang duduk rapi di sofa.


"Raka, kenapa dia sini?" Gita menghentikan langkahnya.


"Gue ajak dia ikut juga, biar jalan-jalan kita kan tambah asik." kata Raka.


Plak! Gita menepuk lengan Raka pelan


"Kenapa nggak bilang dari tadi, tau gitu gue ganti baju. Gue pikir mau jalan berdua saja." omel Gita.


"Lo sebenarnya sakit beneran apa sakit bohongan sih, ngomel mulu." Protes Raka.


"Gue ganti baju dulu."


"Nggak perlu." Raka menarik Gita turun.


"Udah siap?" tanya Gilang.


"Udah, buruan yuk keburu kabur ini anak." Raka menarik Gita keluar sebelum Gita berontak kabur ke kamar lagi.


Gilang mengerutkan kening, seperti nggak yakin Gita pergi dengan piyama saja.


"Lang.. buruan." Seru Raka dari luar.


...◇◇◇◇◇...


Keheningan mulai terjadi saat mobil Gilang keluar dari halaman rumah Gita. Mereka bertiga asik dengan dirinya sendiri. Gita asyik melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi, Raka sibuk dengan ponselnya sedangkan Gilang fokus mengemudi tanpa tahu tujuannya.


"Ka, kita mau kemana?" tanya Gilang.


"Ke pantai." kata Raka sambil memasukan ponsel di kantong celananya.


"Ngomong dong dari tadi, gue kan bisa lebih cepat." Gilang menambah kecepatan mengemudinnya.


Satu jam kemudian mereka sampai di sebuah pantai. Gilang dan Raka turun duluan, Gita masih enggan untuk keluar.


"Ta.. buruan turun." Raka membukakan pintu mobil.


"Gue disini saja, kalian berdua kalau mau main tinggal main saja." Kata Gita dengan malas.


"Kita datang bertiga jadi harus main bertiga juga." Raka memaksa Gita turun. Dan dengan kemagerannya Gita turun dari mobil.


Sepanjang pantai Raka dan Gita bergandeng tangan, Gilang merasa kesal dan cemburu.


"Berasa jadi nyamuk gue!" batinya kesal.


"Aduuh.." Raka melepaskan gandengan tangannya lalu memegangi perutnya.


"Kenapa Ka, perut lo sakit?" Gita panik.


"Kita ke dokter terdekat dari sini." Gilang ikut panik.


Raka melambaikan tangannya, "Gue mau puup," katanya sambil lari. "Kalian bermain saja dulu."


Sepeninggalan Raka, Gilang dan Gita bingung mau ngapain. Mereka berdua hampir 10 menit diam di tempat. Mereka berdua saling berpandangan lalu saling melempar pandangan ke lain tempat.


"Kenapa jadi kikuk begini sih." Batin Gilang.


"Bisa-bisa pingsan gue berdiri disini terus." Kata Gita sambil mengigit bibir bawahya.


Raka menepuk jidat melihat Gilang yang tidak ada pergerakan, dia sengaja pura-pura ke toilet agar mereka berdua bisa bermain berdua dan saling dekat.


"Percuma Lang, udah gue ajak jauh-jauh ke sini lo cuma jadi patung." Raka geleng kepala.


"Git.. kita jalan kesana yuk." Ajak Gilang terdengar sayup-sayup di telinga Raka.


"Nah.. begitu." Kata Raka dia lega dan bisa bersantai tanpa memikirkan mereka berdua yang masih mematung.


...◇◇◇◇◇...


Gilang mulai tak tahan dengan diamnya Gita, dia menarik tangan Gita dan membawanya ke air.


"Eh.. baju gue basah gue nggak pakai ganti." kata Gita.


"Oiya.." Gilang dengan sengaja mengambil air lalu mengguyur ke tubuh Gita.


"Gilang... basah." Gita manyun lalu mengambil air denga tangannya untuk mengguyur Gilang.


Gilang pun melawan, mereka berdua asyik bermain air. Hingga tak sadar Gita bisa tertawa lepas. Seakan kesedihannya hilang.


"Cukup...cukup, gue udah basah semua." Kata Gita sambil mengangkat tangannya. Gilang dan Gita menepi lalu duduk pasir menikmati ombak dan angin yang segar.


"Mau minum?" tanya Gilang.


"Boleh."


"Tunggu sebentar." Gilang bangun lalu membeli kelapa muda.


"Nih." Gilang menyodorkan satu buah kelapa muda. Gita menerima lalu meneguknya. Setelah bermain sambil tertawa membuat tenggorokannya kering.


"Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Gilang sambil duduk di samping Gita.


"Em." Jawabnya pelan dengan sedoan yang masih menempel di bibir.


"Baguslah."


"Apa lo membolos sekolah hanya mau mengajak gue kesini?" Gita menoleh menatap Gilang.


Gilang mengangguk, "Apa lo keberatan?"


Gita tersenyum kecil, "Kenapa lo lakuin ini, apa lo nggak sayang dengan pelajaran lo?"


"Gue lebih sayang lo makanya gue rela meninggalkan semua pelajaran."


Hampir saja Gita tersedang mendengar jawaban Gilang. Dia pikir selama ini perasaan suka Gilang terhadapnya sudah hilang.


"Lo bisa saja bercandanya." Gita tertawa di buat-buat.


"Gue nggak pernah bercanda dengan perasaan gue." Kata Gilang. Dia menyeruput air kelapa dengan pandangan mata lurus jauh ke pantai. Gita hanya terdiam sambil memandangi Gilang. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.