Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pengakuan Gilang


Hari ini Gita sudah kembali ke kantor karena urusan pabrik sudah selesai, dan sudah berjalan membaik. Gita meregangkan tubuhnya setelah hampir seharian duduk di kursi sembari memandangi laptopnya untuk membuat desain yang spesial untuk louching


baju terbaru dari GG entertaimnt.


“Gita, makan dulu yuk lo dari tadi belum makan kan.” Ajak Bella.


“Ok, sebentar lagi selesai kok.” Kata Gita.


“Udah lah Git terusin nanti saja, lagian kan masih buat besok kan.” Kata Fara.


“Ok..ok.. ayo kita makan.” Gita bergegas berdiri untuk pergi ke kantin bersama Fara dan Bella.


Belum juga jalan setengah jalan mereka bertiga di hentikan sama Ina, “ Gita, lo harus lihat ini.” Ina menarik tangan Gita.


“Ada apa sih Mbak, Gita tuh  laper mau ke ke kantin.” Kata Gita.


“Lupain dulu kantin, lo harus lihat ini.” Kata Ina terus menarik tangan Gita.


“Ada apaan sih Mbak, gue jadi kepo nih.” Fara mengikuti Ina dan juga Gita di belakang bersama Bella.


“Kalian ikut saja jangan banyak tanya.”


Gita membelalakan kedua matanya saat melihat di depan kantor yang di hias seperti tempat pesta. Banyak bunga, dan ada bentuk love dari bunga. Tak hanya itu banyak balon-balon, adabtempat makan yang tersetting sangat romantis.


“Ini ada apa sih mbak?” tanya Gita lagi.


“Lo lihat saja dulu.”


“Radit, apa ada acara di sini? Kok gue nggak tahu?” Tanya Fara.


“Iya, nggak ada kabar apa-apa biasanya kan kalau ada program di rapatin dulu.” Kata Gita.


“Kalian semua sudah berkumpul disini ya, para wartawan ambil moment ini yang bagus ya karena ini momen bahagia gue dan juga moment yang bikin gue deg-degan.” Kata Radit.


“Siap Mas Radit.” Jawab Wartawan serentak. Mereka pasti senang mengambil acara ini akarena pasti akan menjadi tranding topik.


“Mas Radit, sebanrnya acara apa ini?”


“Gue akan melamar seseorang yang gue cintai dan sayangi, gue ingin seluruh dunia tahu kalau dia menjadibmilik saya mulai hari ini dan tidak ada yang boleh menyentuhnya.” Kata Radit.


“Wah.. sangat romantis sekali ya. Pasti cewek itu sangat istimewa sampai melamar saja di buat sepeti ini.”


“Tentu saja, dia sangat istimewa, selalu saja mmebuat gue bahagia saat di dekat dia.”


“Pasti sangat beruntung sekali ya cewek itu, karena bisa di cintai seorang bintang top seperti Mas Radit.”


“Harusnya sih seperti itu, apakah dia Aura?”


“Tentu saja bukan, gue dan Aura sudah tidak ada hubungan apa-apa sejak lama, kami hanya teman dan cewek ini akan gue panggil biar kalian tahu dia.” Kata Radit.


Radit berjalan mendekati Gita, dia menggandeng tangan Gita dan di bawanya ke tengah-tengah bentuk love yang terbuat dari bunga mawar itu.


“Ini lah cewek yang selama ini membuat gue jatuh cinta.” Kata Radit.


“Radit apa-apa ini.” Gita hendak pergi namun di tahan sama Radit.


Dia memegang tanganbGita sambil berlutut degan satu kaki meunpuh di lantai. Semua wartawan langsung memotret Gita dan Radit, bahkan mereka juga langsung melakukan siaran langsung.


“Gita gue tahu kita memang belum kenal lama, tapi gue sudah tidak bisa menahan perasaan ini kalau gue benar-benar sayang sama lo.” Radit mulai menyatakan perasaanya kepada Gita.


“Radit, jangan ngaco deh gue sudah punya pacar.” Kata Gita.


“Gue tahu lo berbohong kalau sudah punya pacar, lo selalu sendiri bahkan gue sudah tanya seluruh anak-anak di kantor kalau lo itu jomblo, Jadi sebelum ada orang yang datang melamar lo, gue ingin melamar lo di depan semua orang disini dan juga seluruh


dunia.” Radit mengeluarkan  kotak kecil


berwarna merah lalu membuaknya.


“Cincin ini gue sengaja pesan khusus untuk lo, gue harap lo mau memakai cincin ini.” Kata Radit.


Radit mengambil tangan kiri Gita dan dia ingin memakaikain cincin ke jari manisnya. Gita langsung menarik tangannya.


“Radit, hentikan semua ini. Gue sudah punya calon suami gue nggak bisa terima permintaan lo ini.” Jelas Gita.


“Gita plese deh, jangan malu-malu gue tahu lo juga suka kan sama gue.” Kata Radit dengan sangat pede.


“Radit, gue sudah bilang kan beberapa kali kalau gue itu sudah memiliki calon suami dari kita mulai kenal.” Gita mencoba menjelaskan sama Radit agar dia mengerti. Kalau yang dia katakan semua itu benar dan tidak mengada-ada.


“Radit..Radit, lo tahu bahasa indonesia nggak sih.” Fajar yang gereget langsung masuk di tengah-tengah diantara Gita dan Radit.


“Heh lo pengganggu, ngapai lo kesini pergi sana. Gue ini sedang melamar Gita  jadi lo jangan ikut mengacau.” Radit mendorong Fajar.


“Gue nggak mengacau, orang Gita jelas-jelas nggak mau sama lo.” Fajar tertawa dengan puas.


“Gita lo pilih gue atau dia?” Radit tiba-tiba memberikan pilihan untuk Gita dengan memilih dirinya atau Fajar.


“Gue nggak memilih siapa-siapa, maaf mbak dan mas saya minta siaran ini di hentikan. Dan juga jangan sebarkan berita ini.” Gita meminta agar Wartawan berhenti menyorot


mereka.


Gita hedak pergi meningggalkan lokasi karena selain dia tidak bisa menerima dia juga malu.


“Gita tunggu, lo nggak bisa seperti inii. Gue sayang beneran sama lo rela lakuan apapun agar lo maubterima gue.” Radit mengahalngi Gita.


“Radit, please jangan halangi gue. Lo jangan teruskan semua ini atau kita akan kena masalah.” Kata Gita.


“Gue nggak peduli, asal semua bersama lo mau terkena masalah besar pun gue tidak peduli.” Kata Radit.


“Gita..! Dasar pelakor lo ya, dia itu pacar gue kenapa lo rebut dia dari gue.” Seru Aura yang baru datang.


“Oo jadi itu pelakornya.” kata ibuk-ibuk yang entah datang dari mana.


“Iya ibuk-ibuk selain dia godain Radit, dia juga sering ganjen-ganjen disini sama suami ibu-ibu sekalian loh.” Catrin ikut mengompori ibu-ibu yang dibawa sama Aura. Mereka di kompori sama Aura dan Catrin kalau suaminya sering di goda di kantor makanya mereka datang untuk menyerbu Gita.


 “Lo hati-hati kalau ngomong, siapa yang


pelakor laki lo yang gatel mau deketin Gita.”Fara langsung emosi dibuatnya.


“Hey teman pelakor pergi lo, jangan belain dia.” Catrin pun tak kalah naik pitam saat Fara membela Gita.


“Memangnya apa buktinya kalau saya ini pelakor ibu-ibu, bahkan saya nggak tahu suami ibu-ibu ini yang mana?” kata Gita melakukan pembelaan.


“Udah buk, serang saja dia pasti akan pernah mengaku.” Kata Catrin.


Ibu—ibu itu melemparibGita dengan telur, tomat dan semacamnya yang mereka bawa. Catrin membawa embervyang berisikan air es lalu menyiramnya di tubuh Gita.


“Cukup! Kalian akan kena masalah besar!” teriak Fara.


“Buk kasih pelajaran juga temannya itu, saya rasa dia juga pelakor. Mereka kan satu genk.” Kata Aura mempengaruhi agar menyerang Fara.


Wartawan sangat sibuk sekali mengambil kejadian yang sangat langka di GG entertaiment. Ini sangat  menjadi hot new di mana-mana dengan siaran yang sedang berlangsung.


“Berhenti!” teriak Gilang yang baru saja turun bersama Raka dari mobilnya.


Seketika suasanabmenjadi sangat hening, mendengar teriakan Gilang. Gilang berjalan denganbtatapan murka kepada orang-orang yang ada di situ, Gilang berjongkok lalu


mengajak Gita berdiri. Dia membuka jasnya lalu memakaikannya. Gita langsung


memeluk erat Gilang, air matanya terus menaglir dengan deras.


“Sayang..” Gita menangis.


“Gita adalah calon istri saya!” Gilang memutarkan kedua bola matanya, melihat orang-orang yang menyakiti Gita. Gilang memberikan pengumuman besar kepada semuanya dan membuat gempar seluruh perusahaan. Mereka langsung intropeksi diri sendiri telah berpelaku buruk atau tidak dengan Gita.


Gilang berjalan mendekati Radit, “Lo harus membayar semua ini.” Kata Gilang dengan kata tajam. Radit hanya bisa menunduk, tidak berani mengatakan apapun. Dia sudah pasrah mau dibberikan hukuman apapun sama Gilang.


“Pak Gilang apa benarvdia calon istri bapak?” tanya Wartawan.


“Iya benar, dia  Gita Saquenna adalah calon istri saya. Dan saya akan menuntut semua orang yang ikut berperan disini. Ingat ya, siapa pun yang berani menyentuh calon istri saya. Saya tidak segan untuk memberikan


pelajaran yang lebih dari yang kalian bayangkan.” Katanya dengn sangat marah.


Gilang mengusap pipi Gita yang meneteskan air matanya, Gilang menggendong Gita membawanya ke mobilnya.


Semua orang di kantor langsung bengong, bingung dan campur aduk perasaannya sejak pengakuan dari Gilang. Bahkan istri-istri yang tadi terhasut Aura dan Catrin langsung panik karena suaminya pasti akan terkena masalah.


“Gita calon istri Pak Gilang, apa ini mungkin.” Fajar juga benar-benar syok karena dia berani mencintai calon istrinya Bos.


Win rasanya lemas, ternyata selama ini kecurigaannya benar kalau Gita itu sangat berbeda dengan karyawan biasa karena selalu di istimewakan sama Gilang.


Gilang membawa Gita ke rumahnya sebelum mengantarnya pulang, dia meminta Gita untuk membersihkan diri.bMenunggu Gita selesai membersihkan diri Gilang menyiapkan baju Gita dengan membelikan yang baru.


Gita di kamar mandi tidak keluar-keluar dia masih syok saat di serang ibu-ibu yang mengatakn dirinya pelakor dan juga di sorot wartawan. Dia pasti malu banget dengan keluarga besarnya.


“Sayang.” Panggil Gilang sambil mengetuk pintu pelan.  Gita tidak menjawab hanya suara isak tangis yang terdengar. Gilang menjadi panik, dia ingin masuk tapi takutnya Gita sedang tidak memakai baju.


Gilang memanggil Bik Siti agar masuk ke kamar mandi dan segera menyuruh Gita beberes.


“Mbak Gita, di tunggu Mas Gilang. Buruan ganti baju dulu ya.” Kata Bik Siti.


“Iya Bik, makasih ya.” Gita menerima pakaian yang di bawa Bik Siti.


“Iya Mbak.”


Gita keluar kamar mandi, masih dengan air mata yang terus keluar. Dia sudah mencoba menahannya namun tetap saja air matanya tidak bisa berhenti.


Gilang menggandeng Gita lalu mengajaknya duduk di sofa, dia memberikan pelukan hangat agar Gita merasa nyaman.


“Sayang, aku malu dan juga takut.” Kata Gita menyenderkan kepalanya di dada Gilang.


“Kamu tenang saja, tidak akan ada tayangan itu lagi.” Kata Gilang. Dia sudah menyuruh Win agar video tadi tidak di tayangkan di tv dan menghilang dari media masa apapun.


“Harusnya Gita percaya sama kamu, kalau lebih baik kita publis hubungan kita. Jadi Gita tidak di tuduh pelakor.” Kata Gita.


“Iya sayang, kamu nggak usah pikirin masalah ini lagi.” Gilang mengelus kepala Gita. Lalu memberikan ciuman hangat di kening Gita.


Rima masuk  ke kamar Gilang, mencari Gilang saat tahu siaran yang ada di tv.


“Sayang, kamu tidak apa-apa kan?” Kata Rima langsung mendekati Gita dan memeluknya.


“Gita nggak apa-apa Ma, hanya Gita takut saja.” Kata Gita.


“Kamu jangan takut, Gilang apa kamu sudah mengurus semuanya?” tanya Rima.


“Semua sudah beres Ma, mama nggak usah cemas.” Jelas Gilang.


"Bagus, mama akan buat pelajaran sama mereka semua yang berani mengganggu menantu mama." Kata Rima.


"Ma, udah jangan membuat masalah lagi. Gilang sudah memberikan pelajaran sama mereka." kata Gilang.


"Iya Ma, mama jangan khawatir. Gita udah baik- baik saja. Kak Gilang juga sudah beresin semua." Kata Gita sambil tersenyum. Dia tidak ingin membuat mama mertuanya itu khawatir terhadapnya.