Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Maafkan Kami


Pagi ini Gita datang lebih pagi dari


teman-temannya di ruangan, dia membagikan amplop berwarna coklat yang berisikan


uang sejumlah bonus yang harusnya mereka dapatkan.


“Selamat pagi,” Sapa Ina dan Win


bersamaan.


“Pagi.” Jawab Gita.


“Tumben sekali kamu sudah datang?” tanya


Win.


“Iya Mas, lagi gabut di rumah jadi


datang pagi-pagi.” Gita meringis.


“Pagi, everybody.” Sapa Nino sambil


melambaikan tangan.


“Pagi.”


“Eh.. apaan nih?” Nino mengangkat amplop


yang tadi di bagikan sama Gita.


“Gue juga ada.” Ina mengambil amplopnya.


Win melirik ke mejanya, dia melihat ada amplop juga.


“Wah.. ini isinya uang loh, banyak


sekali setera sama bonus kita yang hilang.” Kata Nino girang.


“Nino!” Seru Ina.


“Ah.. sorry.”


“Gita..Gita..” Fara lari sambil


teriak-teriak.


“Ada apa?” Tanya Gita.


“Sini lo ikut gue dulu. Mas Win, Mas


Nino dan Mbak Ina kita keluar sebentar saja. Sepuluh menit ya, ini masih belum


masuk jam kerja kan.”


“Iya.” Win mengijinkan.


Fara menarik keluar Gita, mereka


berbicara agak jauh dari ruangannya.


“Ada apa Far?”


“Ini maksud lo apa, kenapa ngirimin gue


uang?” tanya Fara.


“Yah..itu sebagai ganti bonus yang


hilang. Gara-gara gue lo kehilangan bonus pertama lo.”


“Apaan sih lo, ini bukan salah lo. Tapi


salah maling yang berani melakukan ini sama team kita.” Jelas Fara.


“Maling?”


“Gita, cup cappucino kan ada tutupnya


mana bisa tumpahnya seperti itu dan seluruh laptop syang kena. Lo pasti merasa


aneh kan?”


“Iya sih, gue juga mikir seperti itu


kalau angin ****** beliung kan nggak mungkin hanya menghancurkan satu benda.”


“Nah.. itu yang sedang gue cari tahu


sama Vian.”


“Sudahlah, kalian nggak usah cari tahu


lagi. Biar yang lalu berlalu, semua ini jadi pembelajaran buat Gita agar lebih


hati-hati.” Kata Gita.


“Benar juga, lo menonaktifkan ponsel lo


apa sedang menghindar dari Kak Gilang?” tanya Fara. Gita menganggukan kepala.


“Benar Gilang memang sesekali harus di


beri pelajaran, ngeselin emang. Ngomongnya nggak di saring mentang-mentang


bos.” Ujar Fara kesal.


“Gita!” Panggil Vian.


“Apa?”


“Udah gue transfer balik uang lo.


Apa-apaan transfer uang kalau memang mau mengganti sepuluh lipat dari itu.”


Vian marah-marah.


“Lo kenapa aneh banget sih, gue transfer


uang bukannya makasih malah marah-marah. Kalau lo mau kembaliin berarti dua


puluh kali lipat.” Sahut Gita.


Tuk!


Vian menjitak kepala Gita, karena


membalika ucapannya. Gita meringis memegangi kepalanya.


“Dah yuk, kerja nanti di pecat lagi kita


gara-gara keasyikan ngobrol.” Gita menarik tangan Fara.


Gita sudah di tunggu sana Win, Nino dan


jantung mereka bertiga kini yang di buat deg-degan.


“Ada apa ya Mas Win kok melihat kita


seprti itu?” Tanya Fara.


“Kalian duduk sebentar, kita rapat


kecil.” Jawab Win. Mereka bertiga saling berpandangan lagi, lalu masuk dan


duduk di kursinya masing-masing.


“Gita, proyek yang sudah hilang biarlah


hilang. Dan mulai sekarang mari kita lupakan. Lo jangan pikirin itu dan soal


bonus lo tidak perlu menganti seprti ini.” Win beranjak berjalan ke meja Gita


sembari memberikan amplop berisikan uang.


“Tapi Mas Win, semua ini kan salah Gita.


Jadi Gita berhak menggantinya.” Jelas Gita. Dia tidak mau menerima kembali


uangnya.


“Maaf Gita kalau kemarin gue sempat


ngatain lo yang membuat hati lo sakit. Tapi yang di katakan Win benar, kalau


kegagalan kemarin anggap saja yah.. bukan rejeki kita.” Nino berjalan mendekati


meja Gita.


Gita, Fara dan Vian sedikit kaget dengan


ucapan Nino, dia berubah drastis. Kemarin dia sangat marah, emosinya


meluap-luap sekarang bisa sangat legowo.


“Gue juga minta maaf Gita, karena sudah


kasar.” Kata Ina.


“Iya Mbak Mas. Tapi Gita mau Mbak Ina,


Mas Nino dan Mas Win tetap mau menerima uang itu. Gita sudah melupakan semuanya


dan anggap saja itu traktiran Gita buat kalian bertiga.” Gita tersenyum senang


karena para seniornya sudah tak marah padanya.


“Jangan, pasti ini menguras uang


tabungan lo kan?” tanya Nino.


“Nggak, tenang saja Mas Nino.”


“Beneran nih?” tanya Ina.


“Iya Mbak, ambil saja. Gita lebih senang


kalau itu di ambil jadi nggak kepikiran lagi.” Kata Gita.


Win menatap Gita lekat, “Besok lagi


kalau ada masalah lo nggak boleh seperti ini. Kita duduk bareng, bicarakan


jangan mengambil keputusan seperti ini.” Kata Win.


“Iya Mas Win.” Gita melirik ke arah Nino


dan juga Ina lalu menatap Win, dia meminta penjelasan dengan isyarat.


“Ya mereka sudah tenang jadi seperti


itu.” Jelas Win lalu kembali ke kursinya. Gita mengangguk-angguk.


Padahal kemarin setelah Gita pulang, Win


menahan Ina dan Nino di kantor.


“Nino, Ina kita perlu bicara.” Kata Win.


“Bicara apa lagi?” tanya Ina.


“Soal Gita, kalian tidak bisa


memusuhinya seperti itu.” Kata Win.


“Lo kenapa jadi belain dia terus? Lo suka?”


kata Nino sambil melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan tidak suka.


“Iya, tampaknya ketua kita ini sedag


jatuh cinta jadinya terus memperhatikan anak baru yang merugikan kita ini.”


Celoteh Ina.


“Jaga omongan kalian, gue seperti ini


karena ketua team kalian. Apa kalian tidak kasihan dengan Gita, dia masih anak


baru harus menanggug semua ini. Dia tadi menelpon mamanya dan mengatakan akan


mengganti semua bonus kita. Apa kalian tidak berpikir bagaimana keluarganya,


apa kan dia berada di keluarga mampu atau tidak? Apa dia memiliki cukup uang? Bagaimana


kalau dia tulang punggung keluarga?” Win sedikit emosi saat perhatiannya kepada


anak buahnya karena ada perasaan tertentu.


“Nino, apa lo nggak ingat saat lo masih


baru membuat kesalahan yang bahkan lebih fatal dari Gita. Kita tidak hanya


kehilangan satu proyek bahkan kita hampir di pecat.” Win mengingatkan Nino


dengan kesalahan yang pernah dia lakukan.  Nino mengangguk, dia tersadar dengan teguran Win.


"Benar, gue juga pernah melakukan kesalahan. Tapi hanya kerana bonus semata gue lupa menjaga perasaan orang lain." sahut Ina.


"Iya, pasti dia sangat terpukul seperti gue dulu." kata Nino.


"Syukurlah kalau kalian sudah sadar, gue harap mulai besok kalian bisa bersikap lebih dewasa dan juga bijakaana lagi."


"Iya Win."