
“Makasih ya Bos, jadi ngerepotin harusnyakan ini kita yang bayar.” Kata Win dengan wajah merona karena malu.
“Nggak apa-apa, sering-sering aja ngumpul seperti ini seru kok.” Kata Gilang.
“Mas Win, sama yang lain Gita sama Fara duluan ya.” Gita menarik tangan Fara.
“Gita… lo nggak bareng sama Bos Gilang?!” Seru Win. Tapi Gita hanya melambaikan tangan dengan terus menyeret tangan Fara.
“Kalau begitu saya pulang duluan.” Gilang mengejar Gita dan Fara.
Gita terus menarik tangan Fara, agar segera meninggalkan kafe.
“Git, lo kenapa sih nggak bareng Kak Gilang saja. Udahan kenapa ngambeknya.” Kata Fara.
“Gue masih males, lagian Kak Gilang juga belum minta maaf sama gue.” Kata Gita.
“Haduuhh, lo jadi mau nikah nggak sih? Masih aja kayak anak kecil. Lo dulu yang minta maaf kan nggak ada salahnya.” Nasehat Fara.
“Entah, kenapa gue yang harus minta maaf orang Kak Gilang yang salah.” Gita masih saja kekeh.
“Hah… lo emang kalau nggak jadi nikah nggak sayang apa sama perjuangan lo. Ingan kenangan kalian itu udah banyak, susah senang di lakuin masa yak arena masalah yang sepele mau bubar begitu saja.” Celoteh Fara panjang lebar. “Lo mau Kak Gilang diambil Bella.”
“Hai Gita.” Sapa Devan.
“Eh... kok bocah priik itu ada disini ngapain?” kata Fara pelan. Gita langsung menyenggol Fara dengan siku tangannya. Takutnya Devan dengar itu akan menyinggung perasaannya.
“Devan, lo disini juga?” tanya Gita.
“Iya, gue habis itu dari mini market sebelah. Lihat lo sama Fara jadi gue samperin kesiini.” Kata Devan sembari menunjuk mini market.
“Pulang berdua saja?” tanya Devan.
“Nggak ada yang lain, cuman kita duluan aja.” Gita mengedipkan matanya sama Fara.
“Iya.” Fara mengangguk-anggukan kepala.
“Gita, lo bareng gue aja yuk, kan searah jadi teman lo nggak perlu bolak-balik.” Devan menawarkan tebengan, sekalian mencari kesempatan agar bisa bareng Gita.
“Nggak usah, terima kasih.” Gita menolak.
“Nggak usah merasa nggak enak, gue nggak merasa di repotkan loh.” kayanya seperti biasa dengan penub kepedean.
“Nggak usah repot-repot, Gita gue yang nganterin pulang.” Gilang merangkul Gita.
“Ah… ternyata sama lo juga. Gue kira lo bakalan biarkan dia pergi sendirian.” Kata Devan dengan senyuman mengggoda Gilang.
“Mana mungkin Gita di biarkan sendiri, dia pergi selalu sama pawangnya.” Sahut Fara dengan ketus.
"Kemarin, Gilang jangan sering biarkan cewek lo pergi sendiri atau melakukan apa-apa sendiri. Takutnya nanti gue ambil." Devan memberikan peringatan yang terdengar seperti genderang perang.
“Sayang, ayo kita pulang sekarang. Fara duluan ya.” Gilang menarik tangan Gita. Dia kesal dengan ucapan Devan.
“Ya, hati-hati.” Jawab Fara sambil masuk ke mobilnya meninggalkan Devan tanpa kata-kata.
“Masuk.” Gilang membukakan mobil.
“Siapa yang mau pulang bareng kamu?” Gita melepaskan tangan Gilang yamg masih merangkul dirinya.
Gilang menghela napas panjang, “Gita Saqueena, masuk.” Kata Gilang dengan nada biasa namun menekan.
“Hhiiss.” Gita berdesis. Gilang menaruh tangannya di atas pintu agar Gita tidak terbentur.
Gita duduk dengan melipat kedua tangannya di dada, dia menatap keluar jendela. Dia
masih belum mau ngobrol sama Gilang. Gilang pun mengemudi mobilnya dengan pelan agar bisa lebih lama sama Gita.
“Kamu ngapain ketemuan sama Devan lagi?” tanya Gilang datar dengan pandangan matanya yang masih fokus ke depan.
“Siapa juga yang ketemu sama Devan, orang dia yang nyamperin Gita.” Gita makin bete
saat Gilang membahas Devan. Dan lebih jelasnya menyudutkan Gita dan menuduhnya.
“Kalau kamu nggak ngomong kalau tempat itu mana dia tahu.” Gilang memulai perdebatan dengan Gita.
“Ya Gita nggak tahu, nggak percayaan banget sih.” Gita manyun. “Kamu tuh yang senang di sukai cewek.” Kata Gita lagi.
“Cewek? Siapa?”
“Ih.. nggak usah sok nggak tahu tuh, padahal hatinya girang banget kan.” Bibir Gita makin manyun.
“Kamu tuh yang terlalu overthingking, lagian aku juga nggak peduli siapapun cewek yang bakalan suka sama aku. Itu bukan urusan aku, dan nggak penting buat aku.” Jawab Gilang. Gita menoleh ke arah Gilang, dia melihat ekspresi Gilang yang
sangat serius.
“Bukanya kamu tuh yang girang karena banyak cowok yang ngejar-ngejar kamu.” Kata Gilang setelah mereka berdua terdiam sesaat.
Mereka bukanya bermaaf-maafan malah saling menuduh.
“Apaan sih, orang Gita juga nggak tahu. Tapi... kalau di pikir memang Fajar lebih
perhatian sih. Dia saja mau gantiiin aku makan mienya daripada..” Gita
menghentikan ucapanya.
“Kalau memang ada yang bersedia sakit kenapa harus aku, lagian kalau aku membiarkan diriku sakit siapa yang bakalan nganterin kamu pulang dan yang mau jagain kamu. Mana boleh orang lain pegang-pegang kamu.” Kesal juga di bandingkan sama orang lain.
Gilang menghela napas panjang, lalu mengusap rambutnya ke belakang. Dia tidak akan pernah menang berdebat sama Gita.
“Tahan Gilang, sabar.. cewek memang selalu benar. Sampai kapanpun lo nggak akan menang melawannya.” Batin Gilang.
“Aduh.. perut gue kenapa nih?” tanya Gita pada dirinya sendiri dalam hati. Gita mulai
merasakan perutnya yang mulai terasa panas dan sakit, tangannya memegangi perutnya. Semakin lama dia menundukan tubuhnya untuk menahan sakitnya.
“Kamu kenapa?” tanya Gilang saat menoleh ke samping dan Gita sudah menunduk. Gita
tidak bisa menjawab, terasa berat mulutnya mau bicara.
“Sayang..” panggilnya dengan wajah panik.
“Perut aku sakit...” Gita merintih.
“Kamu jangan bercanda ah..” Gilang mengira Gita bercanda.
“Nggak bercanda, sayang sakit banget.” Gita mulai menitikan air mata.
“Sayang tahan sebentar ya, kita ke rumah sakit.” Gilang memutar haluan mobilnya. Dia
akan membawa Gita ke rumah sakit yang sudah di lewatinya.
“Sayang sakit...” Gita menangis sembari memegangi perutnya membuat Gilang semakin panik.
“Iya sebentar, sudah mau sampai.” Kata Gilang sambil menambah kecepatan mobilnya.
Dia segera menggendong Gita ke dalam rumah sakit setelah dia sampai, dia berlari
dengan cepat.
“Suster tolong.” Panggil Gilang saat melihat suster.
“Baik Pak, bawa kesini.” Suster mengarahkan tempat untuk Gita.
“Gimana Dok?”
“Tidak apa-apa, cuman kebanyakan makan pedas membuat asam lambungnya naik. Kalau bisa di kurangin ya makan mie dan juga pedasnya. Sepertinya dia sangat suka makan pedas ya?” kata dokter
“Lumayan Dok, dia memang suka pedas.”
“Tolong di kurangi ya. Ini resepnya silahkan di tebus.” Dokter memberikan resep sama Gilang.
“Baik Dok, makasih.”
Gilang masuk ke ruangan Gita, dia membantu Gita turun dari tempat tidur. Melihat Gita yang masih lemas Gilang langsung menggendong Gita lagi.
“Kak, turunin. Gita malu.” Kata Gita pelan. Gilang terus jalan tak menghiraukan
permintaan Gita.
Gilang menurunkan Gita di dalam mobil, kemudian dia segera membawa Gita pulang agar segera istirahat. Sepanjang perjalanan ke rumah Gita mereka saling diam. Kini Gita hanya mencuri-curi pandang.
Sesampai di depan rumah Gita, Gilang membantu Gita turun, “Nih, minum yang teratur. Jangan makan pedas dan mie melulu. Asam lambung kamu naik.” Kata Gilang mengulurkan tanganya memberikan obat dalam plastik.
Gita bukanya menerima justru mendekatkan tubuhnya, dia memeluk erat tubuh Gilang.Gita mulai manangis sesenggukan, rasanya kangen banget sudah beberapa hari tidak bertemu. Jika bertemu pun hanya bertengkar. Gilang menghela napas lega, dia membalas pelukan Gita.
“Hey... udah jangan nangis begini.” Kata Gilang.
“Gita kangen banget, kenapa sih Kak Gilang nggak ngerti-ngerti. Malah marah dan
jauhin Gita.” Kata Gita dengan terbata-bata.
“Maafin sayang, aku nggak bermaksud marah sama kamu.” Gilang meregangkan pelukannya. Dia mengusap air mata yang deras di wajah Gita.
Gilang mengangkat dagu Gita, dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Gita dengan sangat lembut. Gita memejamkan matanya yang masih meneteskan air mata.Gilang
kemudian menarik Gita dalam pelukannya lagi sembari memberikan ciuman di keningnya.
“Sayang, apa memang begitu sulit menjawab pertanyaan dari Ina?”
Gita mengangkat kepalanya, “Tentu saja tidak, itu jawaban yang sangat mudah bahkan aku tidak perlu berpikir lagi. Jika memang bisa memutar waktu aku ingin
mengenal kamu lebih cepat. Aku hanya ingin sama kamu sampai kapanpun, aku
selalu berdoa sama Tuhan agar kita selalu dipersatukan sampai di kehidupan
selanjutnya.” Jawab Gita dengan cepat.
“Baguslah, akhirnya aku tenang mendengarnya. Aku takut kalau memang aku bukan pilihan kamu.” Kata Gilang mengeratkan pelukannya.
“I love you.” Ucap Gilang sembari memberikan kecupan lagi di bibir Gita.
“I love you too. Jadi kita baikan?"
"Tentu saja baikan."
"Kalau begitu sekarang kamu masu dan iatirahat, ingan obatnya di minum." Kata Gilang.
"Tapi aku masih kangen. Apa nggak bisa kita berdua lebih lama lagi." Pinta Gita.
"Besok kita ketemu lagi, kamu harus banyak istirahat. Aku anterin kamu masuk." Gilang mengantar Gita sampai pintu masuk.