
Gita turun mobil langsung lari menemui
Fara, Anita dan yang lain tanpa menunggu Gilang.
“Hai tuan putri, anda datang sama
siapa?” tanya Raka karena tak kunjung melihat Gilang.
“Sama supir.” Tunjuk Gita ke arah pintu masuk dan pas Gilang sedang melewati pintu. Gelak tawa pun terdengar riuh, membuat Gilang sedikit berlari untuk ikut keseruan mereka.
“Kelakuan lo ya, pacar di katai sopir.”
Fara menjitak kepala Gita.
“Siapa yang sopir?” tanya Gilang sambil
duduk di sebelah Gita.
“Lo.” Jawab mereka bersamaan. Gilang
menunjuk dirinya lalu melihat satu persatu wajah sahabatnya yang sedang menertawakannya.
“Pantas sih wajah-wajah jadi sopir pribadi.” Kata Bayu.
“Kurang aja, wajah ganteng begini di
katain sopir.” Gilang mengangkat tempat tisu utuk di lepar ke wajah Bayu.
“Sabar bos, cewek lo yang bilang
tadi.” Bayu melemparkan kesalahan kepada Gita.
Gilang langsung menatap Gita, sedangkan
Gita langsung meringis sambil mengangkat dua jari berbentuk v.
“Kalau dia yang ngomong apa saja gue
bakalan iyain deh. Mau di kata jadi gembel juga nggak masalah.” Kata Gilang sambil
mencubit pipi Gita.
“Ya..ya..ya... si bucin mulai.” Kata
Vian.
“Kenapa emang, iri ya lo karena nggak
punya cewek buat uwu..uwu.” Ledek Gita.
“Nggak iri juga, kan ada Fara.” Vian
memegang tangan Fara.
“Heh! Jangan sentuh punya gue.” Raka
menarik tangan Vian agar tidak memegang Fara.
“Punya lo, selama belum peresmian dia
masih milik bersama.” Ucap Vian sembarangan.
“Milik bersama, emangnya gue cewek
apa kabar?” Fara marah-marah sambil memukul Vian.
“Gimana mau dapat cewek kalau ngomongnya saja begitu.” Kata Anita.
“Terus bagaimana?”
“Ya bilang saja, sebelum janur kuning
melengkung Fara masih bisa gue gapai. Begitu lah.” Gita mengajari Vian.
“Fara sebelum..”
“Sebelum lo mati mending diem.” Raka motong ucapan Vian sambil mendelik sebelum dia menyelesaikannya.
“Sepertinya ada yang nggak rela nih Fara di gombalin cowok.” Gita menggerak-gerakkan kedua alisnya.
“Ini baru sahabatnya loh, gimana kalau
orang lain yang ngomong.” Tambah Anita.
“Baku hantam kali.” Gilang ikut mengatai
Raka.
‘Apaan sih kalian.” Fara malu, wajahnya
jadi merah padam.
“Kayaknya sebentar lagi ada kapal yang
bakal berlayar lagi nih.” Kata Gita sambil melirik kearah Fara.
“Gue bakalan tenggelamkan.” Ucap Vian
dengan lantang dan percaya diri.
“Coba aja kalau lo mampu.” Jawab Raka
sepele. Fara menatap Raka, hatinya benar-benar campur aduk dengan candaan Raka malam ini.
"Kalau cuma di tandai tapi nggak buruan di tindak lanjuti yang ada bakalan kesaber yang lain." Sindir Bayu.
"Git, kemana aja tadi seharian loh perginya." Fara mencari topik lain untuk mengalihkan pembahasan terhadap dirinya.
“Pacaran dong, emang lo rebahan doang di
rumah.” Gita menjulurkan lidah.
“Terus-terusin aja lo, awas ya lo galau
lagi gue nggak mau dengar curhatan lo.” Ancam Fara.
“Ya gue curhat lah sama Anita.” Gita
kembali menang, Fara hanya bisa manyun.
"Awas lo ya." Ancam Fara.
Setelah kenyang dan puas bercanda mereka pun pulang karena sudah malam dan
besok pagi Gilang dan Bayu akan ujian.
Gilang turun membukakan mobil, “Sudah
puas kan jalan-jalan hari ini?”
“Sangat puas.” Kata Gita.
“Senang?”
“Sangat senang.” Jawab Gita.
“Bagus kalau gitu, sekarang lo masuk dan
istirahatlah.” Gilang mencium kening Gita lalu meyuruhnya masuh.
“Iya, Kak Gilang juga istirahat dengan
“Iya, doain gue.”
“Pasti.”
“Buruan masuk gih.” Gilang menyuruh Gita
masuk dulu baru dia akan pulang. Gilang mengangguk, baru saja berjalan beberapa
langkah Gita memutar tubuhnya dia berlari lalu memeluk Gilang erat.
“Gita sayang banget sama Kak Gilang.”
Bisik Gita.
“Gue juga sayang banget sama lo.” Gilang
membalas pelukan Gita. Gilanag mengecup kepala Gita lalu melepaskan pelukannya.
Dia memegang tangan Gita, lalu menciumnya.
“Masuk gih, kalau lo di sini terus
lama-lama gue nggak mau pulang.” Kata Gilang.
“Gita juga nggak mau pisah sama Kak
Gilang.” Meskipun seharian bersama Gilang tapi rasa rindu belum juga terobati sepenuhnyaa.
“Kalau begitu biarkan gue nginep di
rumah lo.” Canda Gilang.
“Eh..jangan-jangan, apa kata orang
nanti. Kalau begit gue masuk.” Gita langsung lari masuk daripada Gilang
benar-benar menginap di rumahnya.
...♤♡♡♡♤...
“Mama, Gilang pulang.” Gilang memeluk mamanya.
“Sini sayang?” Kata mamanya sambil
menaruh ponselnya. Dia membalas ciuman Gilang.
“Ma, tadi mama nggak bikin takut Gita
kan?” tanya Gilang.
“Tentu saja tidak, memangnya mama ini
terlihat seram?” Kata Rima.
“Tentu saja tidak, tapi biasanya seorang
ibu akan menakuti calon mantunya.” Gilang merenges. Dia selalu saja bersikap
dingin saat di luar rumah, namun saat bersama keluarganya dia sangat manja.
“Gilang, mama mau tanya sama kamu?”
“Apa Ma?” Gilang duduk di sebelah Rima.
“Mama dengar dari Monika kamu tidak jadi
mengambil beasiswa kamu ke Australia. Kenapa?”
“Ck. Cewek itu.” Gumam Gilang.
“Sayang itu kesempatan yang sangat
bagus, kenapa kamu mensia-siakan. Berapa orang yang yang menginginkan di posisi
kamu itu.” Rima menatap Gilang, dia mencoba membuka pikiran Gilang lagi.
“Ma, Gilang sudah tidak minat lagi.
Gilang mau kuliah di sini saja dekat dengan kalian semua. Gilang nggak mau jauh
dari keluarga ini. Gilang ke kamar dulu, capek mau istirahat.” Gilang beranjak
meninggalkan mamanya dia malas jika membahas beasiswanya lagi.
“Baiklah, cepat istirahat tidak perlu
belajar lagi biar besok tidak kesiangan
bangun pagi.” Kata Rima.
“Ya Ma.”
Gilang menjatuhkan tubuhnya ke kasur,
dia dilema memikirkan antara beasiswanya sekarang. Dia ingin melepasnya namun
dia melihat mamanya sangat menginginkan dia pergi. Tapi hatinya memilih untuk
tinggal agar tidak jauh dari Gita. Gilang mengambil ponsel lalu menelpon Gita.
“Halo, Kak ada apa kok belum tidur besok
kan ujian pertama Kak Gilang.” Celoteh Gita.
“Gue belum bisa tidur.”
“Apa terlalu gugup, emang ujian selalu
menakutkan itu.” Kata Gita.
“Bukan ujian yang menakutkan, tapi tanpa
dirimu itu yang membuat gue takut.” Gombal Gilang sambil terkekeh.
"Gombal banget, Gita akan selalu di
samping Kak Gilang. Kalau memang nggak bisa tidur gimana kalau Gita nyanyi buat
Kak Gilang.” Gita menawarkan diri untuk bernyanyi.
“Baiklah, mau menyanyi apa?” tanya Gita.
“Apapun yang lo bisa.”
“Ok, Nina bobo oh nina bobo kalau tidak
bobok di gigitnyamu.” Gita menyanyikan lagu nina bobo dengan lembut. Gilang
tersenyum karena dirinya merasa seperti anak kecil, perlahan matanya terpejam
suara Gita yang lembut benar-benar membawanya ke alam mimpi.
“Kalau tidak bobok...Gita samperin.”
Kata Gita lalu tertawa kecil.
“Kak.” Panggil Gita pelan. Gilang sudah
tidak menyahut, hanya suara napas Gilang yang terdengar teratur. “Selamat tidur pacarku sayang, i love you.” Bisik Gita lalu mematikan sambungan telponnya.