Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Meetup


Gita turun mobil langsung lari menemui


Fara, Anita dan yang lain tanpa menunggu Gilang.


“Hai tuan putri, anda datang sama


siapa?” tanya Raka karena tak kunjung melihat Gilang.


“Sama supir.”  Tunjuk Gita ke arah pintu masuk dan pas Gilang sedang melewati pintu. Gelak tawa pun terdengar riuh, membuat Gilang sedikit berlari untuk ikut keseruan mereka.


“Kelakuan lo ya, pacar di katai sopir.”


Fara menjitak kepala Gita.


“Siapa yang sopir?” tanya Gilang sambil


duduk di sebelah Gita.


“Lo.” Jawab mereka bersamaan. Gilang


menunjuk dirinya lalu melihat satu persatu wajah sahabatnya yang sedang menertawakannya.


“Pantas sih wajah-wajah jadi sopir pribadi.” Kata Bayu.


“Kurang aja, wajah ganteng begini di


katain sopir.” Gilang mengangkat tempat tisu utuk di lepar ke wajah Bayu.


“Sabar bos, cewek lo yang bilang


tadi.”  Bayu melemparkan kesalahan kepada Gita.


Gilang langsung menatap Gita, sedangkan


Gita langsung meringis sambil mengangkat dua jari berbentuk v.


“Kalau dia yang ngomong apa saja gue


bakalan iyain deh. Mau di kata jadi gembel juga nggak masalah.” Kata Gilang sambil


mencubit pipi Gita.


“Ya..ya..ya... si bucin mulai.” Kata


Vian.


“Kenapa emang, iri ya lo karena nggak


punya cewek buat uwu..uwu.” Ledek Gita.


“Nggak iri juga, kan ada Fara.” Vian


memegang tangan Fara.


“Heh! Jangan sentuh punya gue.” Raka


menarik tangan Vian agar tidak memegang Fara.


“Punya lo, selama belum peresmian dia


masih milik bersama.” Ucap Vian sembarangan.


“Milik bersama, emangnya gue cewek


apa kabar?” Fara marah-marah sambil memukul Vian.


“Gimana mau dapat cewek kalau ngomongnya saja begitu.” Kata Anita.


“Terus bagaimana?”


“Ya bilang saja, sebelum janur kuning


melengkung Fara masih bisa gue gapai. Begitu lah.” Gita mengajari Vian.


“Fara sebelum..”


“Sebelum lo mati mending diem.” Raka motong ucapan Vian sambil mendelik sebelum dia menyelesaikannya.


“Sepertinya ada yang nggak rela nih Fara di gombalin cowok.” Gita menggerak-gerakkan kedua alisnya.


“Ini baru sahabatnya loh, gimana kalau


orang lain yang ngomong.” Tambah Anita.


“Baku hantam kali.” Gilang ikut mengatai


Raka.


‘Apaan sih kalian.” Fara malu, wajahnya


jadi merah padam.


“Kayaknya sebentar lagi ada kapal yang


bakal berlayar lagi nih.” Kata Gita sambil melirik kearah Fara.


“Gue bakalan tenggelamkan.” Ucap Vian


dengan lantang dan percaya diri.


“Coba aja kalau lo mampu.” Jawab Raka


sepele. Fara menatap Raka, hatinya benar-benar campur aduk dengan candaan Raka malam ini.


"Kalau cuma di tandai tapi nggak buruan di tindak lanjuti yang ada bakalan kesaber yang lain." Sindir Bayu.


"Git, kemana aja tadi seharian loh perginya." Fara mencari topik lain untuk mengalihkan pembahasan terhadap dirinya.


“Pacaran dong, emang lo rebahan doang di


rumah.” Gita menjulurkan lidah.


“Terus-terusin aja lo, awas ya lo galau


lagi gue nggak mau dengar curhatan lo.” Ancam Fara.


“Ya gue curhat lah sama Anita.” Gita


kembali menang, Fara hanya bisa manyun.


"Awas lo ya." Ancam Fara.


Setelah kenyang dan puas bercanda  mereka pun pulang karena sudah malam dan


besok pagi Gilang dan Bayu akan ujian.


Gilang turun membukakan mobil, “Sudah


puas kan jalan-jalan hari ini?”


“Sangat puas.” Kata Gita.


“Senang?”


“Sangat senang.” Jawab Gita.


“Bagus kalau gitu, sekarang lo masuk dan


istirahatlah.” Gilang mencium kening Gita lalu meyuruhnya masuh.


“Iya, Kak Gilang juga istirahat dengan


“Iya, doain gue.”


“Pasti.”


“Buruan masuk gih.” Gilang menyuruh Gita


masuk dulu baru dia akan pulang. Gilang mengangguk, baru saja berjalan beberapa


langkah Gita memutar tubuhnya dia berlari lalu memeluk Gilang erat.


“Gita sayang banget sama Kak Gilang.”


Bisik Gita.


“Gue juga sayang banget sama lo.” Gilang


membalas pelukan Gita. Gilanag mengecup kepala Gita lalu melepaskan pelukannya.


Dia memegang tangan Gita, lalu menciumnya.


“Masuk gih, kalau lo di sini terus


lama-lama gue nggak mau pulang.” Kata Gilang.


“Gita juga nggak mau pisah sama Kak


Gilang.” Meskipun seharian bersama Gilang tapi rasa rindu belum juga terobati sepenuhnyaa.


“Kalau begitu biarkan gue nginep di


rumah lo.” Canda Gilang.


“Eh..jangan-jangan, apa kata orang


nanti. Kalau begit gue masuk.” Gita langsung lari masuk daripada Gilang


benar-benar menginap di rumahnya.


...♤♡♡♡♤...


“Mama, Gilang pulang.” Gilang memeluk mamanya.


“Sini sayang?” Kata mamanya sambil


menaruh ponselnya. Dia membalas ciuman Gilang.


“Ma, tadi mama nggak bikin takut Gita


kan?” tanya Gilang.


“Tentu saja tidak, memangnya mama ini


terlihat seram?” Kata Rima.


“Tentu saja tidak, tapi biasanya seorang


ibu akan menakuti calon mantunya.” Gilang merenges. Dia selalu saja bersikap


dingin saat di luar rumah, namun saat bersama keluarganya dia sangat manja.


“Gilang, mama mau tanya sama kamu?”


“Apa Ma?” Gilang duduk di sebelah Rima.


“Mama dengar dari Monika kamu tidak jadi


mengambil beasiswa kamu ke Australia. Kenapa?”


“Ck. Cewek itu.” Gumam Gilang.


“Sayang itu kesempatan yang sangat


bagus, kenapa kamu mensia-siakan. Berapa orang yang yang menginginkan di posisi


kamu itu.” Rima menatap Gilang, dia mencoba membuka pikiran Gilang lagi.


“Ma, Gilang sudah tidak minat lagi.


Gilang mau kuliah di sini saja dekat dengan kalian semua. Gilang nggak mau jauh


dari keluarga ini. Gilang ke kamar dulu, capek mau istirahat.” Gilang beranjak


meninggalkan mamanya dia malas jika membahas beasiswanya lagi.


“Baiklah, cepat istirahat tidak perlu


belajar lagi biar  besok tidak kesiangan


bangun pagi.” Kata Rima.


“Ya Ma.”


Gilang menjatuhkan tubuhnya ke kasur,


dia dilema memikirkan antara beasiswanya sekarang. Dia ingin melepasnya namun


dia melihat mamanya sangat menginginkan dia pergi. Tapi hatinya memilih untuk


tinggal agar tidak jauh dari Gita. Gilang mengambil ponsel lalu menelpon Gita.


“Halo, Kak ada apa kok belum tidur besok


kan ujian pertama Kak Gilang.” Celoteh Gita.


“Gue belum bisa tidur.”


“Apa terlalu gugup, emang ujian selalu


menakutkan itu.” Kata Gita.


“Bukan ujian yang menakutkan, tapi tanpa


dirimu itu yang membuat gue takut.” Gombal Gilang sambil terkekeh.


"Gombal banget, Gita akan selalu di


samping Kak Gilang. Kalau memang nggak bisa tidur gimana kalau Gita nyanyi buat


Kak Gilang.” Gita menawarkan diri untuk bernyanyi.


“Baiklah, mau menyanyi apa?” tanya Gita.


“Apapun yang lo bisa.”


“Ok, Nina bobo oh nina bobo kalau tidak


bobok di gigitnyamu.” Gita menyanyikan lagu nina bobo dengan lembut. Gilang


tersenyum karena dirinya merasa seperti anak kecil, perlahan matanya terpejam


suara Gita yang lembut benar-benar membawanya ke alam mimpi.


“Kalau tidak bobok...Gita samperin.”


Kata Gita lalu tertawa kecil.


“Kak.” Panggil Gita pelan. Gilang sudah


tidak menyahut, hanya suara napas Gilang yang terdengar teratur.  “Selamat tidur pacarku sayang, i love you.” Bisik Gita lalu mematikan sambungan telponnya.