Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Mama


Gilang melepaskan gandengan tangannya dan menyuruh Gita untuk duduk di ruang tamunya. Gita mengedarkan pandangannya, ada sedikit perubahan penataan di rumah Gilang.


“Sebentar ya aku panggil mama dulu.” Katanya.


Gita mengatur napas panjang, tubuhnya berkeringat dia gugup, dan juga takut. Dia


tidak sanggup jika harus menjauhi Gilang lagi.


“Sore tante.” Gita berdiri lalu mencium tangan Rima.


“Sore akhirnya mantu mama di bawa pulang juga. Kamu kenapa masih panggil tante sih? panggil saja mama.” Kata Rima sambil


memeluk erat Gita.


“Ma..ma..” Gita menirukan Rima dengan ragu.


“Iya mama, kamu adalah menantu di rumah ini jadi harus panggil mama.” Rima melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pipi Gita dan mencium keningnya. Gita menoleh ke arah Gilang. Gilang tersenyum sambil mengangguk.


Gita dia tidak bisa berkata-kata lagi. Sunggu di luar ekspetasinya, dia kira Rima akan membencinya atau meminta dirinya agar melakukan hal lain untuk menjauhi Gilang.


“Maafin mama ya karena membuat kalian harus berpisah lama bahkan sampai putus.” Rima memegang kedua tangan Gita.


“Tidak apa-apa tante, semua kan untuk kebaikan Kak Gilang.”


“Kok masih panggil tante sih, mama.” Kata Rima lagi.


“Ah iya lupa, belum terbiasa.” Kata Gita canggung.


“Mulai sekarang harus di biasakan, kapan kalian mau menikah?” Ucap Rima tiba-tiba


membuat Gilang dan juga Gita kaget.


“Mama ngomong apaan sih, Kak Andini saja belum menikah masa kita duluan.” Kata


Gilang.


“Iya ma, Gita juga masih kuliah, mau kerja.” Gita ikut menolak menikah dalam waktu dekat ini.”


“Benar juga, itu kenapa diam-diam saja. Terlalu senang bekerja bisa-bisa lupa sama


cari jodoh.” Rima ingat jika putri satu-satunya itu juga tak kunjung membawa calonnya menemui dirinya.


“Tapi kalau Andini mengizinkan, kalian nikah saja dulu mama kan juga udah pingin


menggendong cucu. Kamu juga bisa kok bekerja setelah menikah. Ya kan Gilang” Kata Rima.


“Mama,udah ah... sana pergi.” Gilang mengusir mamanya.


“Ih..kok mama di usir sih?” kata Rima.


“Ya habis ngomongnya ngelantur. Lagian Gilang juga mau pacaran sama Gita”


“Ngelatur bagaimana, mama kan cuma meminta kalian untuk segera menikah, punya cucu yang lucu-lucu buat mama.” Jelas Rima.


“Ih mama, sayang kita pindah saja disini pasti di gangguin mama mulu.” Gilang


menggandeng Gita dan membawanya ke kamarnya.


Gita terpesona dengan kamar Gilang yang sama besarnya dengan kamarnya , namun kamar Gilang lebih tertata rapi di bandingkan sama kamarnya. Tingkat kerapiannya pun jauh diatas dirinya.


Gita membuka jendela lalu melihat luar, menikmati hembusan angin pelan yang menerpa wajahnya. Dia tersenyum mengingat Rima yang terus mendesar mereka berdua cepat menikah. Gita benar-benar senang karena di terima dengan terbuka dengan keluarganya Gilang.


Gilang memeluk Gita dari belakang, “Mikirin apaan sih?”  Gilang menaruh dagunya di pundak Gita.


“Nggak mikirin apa-apa,  hanya mash nggak


percaya saja. Mama kamu menerima aku dengan sangat welcome.” Kata Gita.


“Tentu saja, pasti kamu lupa kalau mama pernah bilang sama kamu jika selamanya kamu itu menantunya. Jika tidak bisa menjadi menantu maka akan menjadi putri


terakhirnya mama.” Kata Gilang.


“Benarkah?” Gita memandang Gilang.


“Ah...ternyata daya ingat kamu masih sama saja ya jelek seperti dulu.” Gilang menjaili Gita.


“Ck...bukan jelek. Mungkin pada saat itu aku lupa.” Gita tidak mau di bilang daya


ingatnya itu jelek.


"Sayang, apa kamu sudah siap untuk menikah?" tanya Gilang. Gita mendelik lalu memutar badanya.


"Iya menikah."


"Kita masih terlalu muda, Gita juga baru saja mesuk kuliah. Sepertinya mama sama papa belum bisa merestuinya." jawab Gita.


"Kalau mama sama papa merestui apa kamu bersedia langsung menikah sama aku?" tanya Gilang.


Gita menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus menjawab apa. Jatungnya menjadi tidak aman. Dia pasti saja bersedia menikah dengan Gilang tapi tidak dalam waktu dekat.


"Baiklah.. jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya bertanya saja bukan bermaksud memaksa. Kalau tidak kita nikmati saja pacaran kita yang pernah tertunda dulu." jawab Gilang.


Gita menganggul lalu memeluk erat Gilang. Gilang menarik tubuhnya, dia menatap wajah Gita lekat. Gita deg..degan dan juga salah tingkah dengan pandangan Gilang.


Gilang mendekatkan wajahnya, Gita langsung memejamkan matanya ketika jarak wajah mereka tinggal beberap senti saja.


Tok..tokk...


“Gita, bisa bantuin mama.” Rima mengetok pintu kamar Gilang.


“Iya Ma.” Gita menarik pelukan Gilang dengan cepat. Dia takut ketahuan mamanya.


“Aih.. si mama ganggu saja. Nggak tahu apa anaknya lagi melepas rindu.” Omel Gilang sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Gita berdiri di balik pintu sambil memegangi dadanya. Ini bukan pertama kalinya namun entah kenapa dia selalu berdebar.


"Gita, kenapa berdiri saja di situ."


"Iya Ma."Gita berjalan turun tangga mengikuti Rima, Gita menggigit bibirnya saat diajak ke dapur. Dia tahu pasti mau di ajak memasak. Padahal dia saja nggak bisa masak, bisanya Cuma makan sama ngerecokkin Bik Nana kalau di rumahnya.


“Gita kita bikin makan malam untuk Gilang sama Kak Andini. Mama akan ajari buat


masakan kesukaan Gilang.” Kata Rima sembari tangannya membuka pintu kulkas.


Gila berjalan mendekati Rima lalu berbisik, “Tante.. eh.. mama. Gita nggak bisa


masak.” Katanya sambil meringis.


“Bukan nggak bisa tapi belum bisa.” Kata Rima sambil mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia masak.


Dan yang terjadi Gita hanya menonton Rima dan Bik Siti memasak. Dia hanya membatu memotongi sayuran saja.


"Ma.. mama nggak menyesal gitu punya menanyu Gita." Kata Gita saat mencicipi masakan Rima.


"Kenapa menyesal?"


"Gita kan tidak bisa memasak." Kata Gita.


"Kan ada saya Mbak, nanti bisa minta tolomg sama saya." Samber Bik Siti.


"Tuh.. sudah di jawab bibik. Kamu nggak usah minder. Nanti bisa belajar masak dan lain-lain sama Bik Susi bisa, sama mama juga bisa. Kalau mama menyesal punya menantu yang nggak bisa masak gimana dengan Andini."


"Mama emang mertua terbaik." Gita memeluk Rima.


"Jangan memuji seperti mama bisa melayang nanti. Oiyaa.. bangunkan Gilang pasti dia tidur."


"Iya Ma." Gita bergegas memanggunkan Gilang.


Gita duduk di sebelah Gilang, "Kak bangun, makananya udah siap." Gita membisiki telinga Gilang.


Gilang bukannya bangun justru menarik tangan hingga tertidur di sebelahnya, Gilang menarik Gita dalam memeluknya.


"Kak.. jangan begini nanti mama lihat loh."


"Biarin saja."


"Kak.. lepasin."


"Nggak mau." Kata Gilang.


"Kak.."


"Baiklah cium dulu." Minta Gilang.


Gita mencium cepat pipi Gilang. Gilang bukanya melepaskan pelukannya namun mempererat pelukannya.


"Kak Gilang."


"Sst.. diam sebentar saja. Biarkan begink sebentar saja." Bisik Gilang.