Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Bertemu Camer


Gilang menggandeng tanga Gita dan mengajaknya masuk. Gita memejamkan mata sekejab lalu menghela napas panjang. Dia mencoba mengatur detak jantungnya yang sudah tidak beraturan sejak Gilang


bilang ingin memperkenalkan dirinya dengan mamanya.


“Ma..” Panggil Gilang saat masuk ke ruang tamu.


“Hai sayang.” Mama Gilang langsung


bangkit menyambut Gilang. Dia memeluk dan mencium putra yang jarang dia temui.


Dalam sebulan bisa hanya dua atau tiga kali bertemu karena sibuk.


“Pulang nggak bilang-bilang, Oiya Ma..


kenalin ini Gita pacar Gilang.” Gilang memperkenalkan Gita.


“Gita tante.” Gita mencium tangan Rima.


“Rima, mamanya Gilang. Gilang kamu tuh


ya besok ujian masih saja keluyuran. Itu ada Monika yang menungggu kamu dari


tadi.”


“Hai Gilang.” Monika berdiri.


“Ada perlu apa lo kesini?” kata Gilang dengan nada tidak suka.


“Tadi gue sudah wa lo tapi sayangnya nggak lo baca, jadi gue kesini karena gue pikir lo sedang belajar. Gue mau


mengembalikan buku yang gue pinjam kemarin.” Kata Monika sambil menunjukan beberapa buku catatan yang di pinjamnya.


“Ok, taruh saja dulu disitu.”


“Iya, sama gue mau menanyakan beberapa


soal yang masih tidak gue mengerti.”


“Lo bisa tanya sama guru les atau yang


lain, sebentar lagi gue juga pergi lagi.” kata Gilang.


“Eh.. ajarin dulu kenapa Lang. Mama mau


ngobrol dulu sama Gita biar mama kenalan dulu.” Rima memegang tangan Gita.


“Iya Kak, ajarin saja dulu Kak Monika.”


“Ayo Gita, kita bicara di depan saja.”


Ajak Rima.


“Iya Tante.” Gita dan Rima pergi ke


teras untuk mengobrol.


“Eh.. ada Gita. Ma, jangan galak-galak loh sama calon mantu.” Kata Andini saat berpapasan di pintu. Gita menganggkan kepala sambil tersenyum.


“Sstt.. memangnya mama pernah tuh galak sama kamu sama Gilang.” Kata Rima sambil menyolek hidung Andini.


“Nggak pernah sih.” Kata Andini.


“Udah sana masuk jangan ganggu mama.” Kata Rima.


“Iya..iya, Gita jangan takut ya. Calon mama mertua lo pasti akan menggertak lo saja. Jangan di ambil hati.” Bisik Andini.


“Andini.”


“Siap Mama.” Andini tersenyum lalu masuk.


Gilang yang awalnya tenang berubah menjadi gelisah, dia takut kalau mamanya mengatakan yang tidak-tidak sama Gita. Atau akan menyudutkan Gita hingga membuat Gita ketakutan. Sejak tadi dia


menatap ke arah pintu keluar.


“Gilang.” Panggil Monika.


“Ya.”


“Lo sepertinya nggak fokus, harusnya kan ini jawabanya salah kenapa lo benarkan.” Kata Monika.


“Kalau lo sudah tahu kenapa lo datang kesini untuk membahas soal ini.” Kata Gilang datar.


“Gue hanya belum yakin sama jawaban gue.” Katanya.


“Setelah ketemu gue apakan semuanya sudah yakin?” Gilang menatap tajam Monika membuat dia  jadi gelagapan.


“Maksud lo?”


“Gilang, gue..”


“Lo mau apa?”


“Apa lo benar-benar nggak mau ambil beasiswa itu, bukannya dulu lo bilang akan pergi sama-sama. Gue, lo, dan juga Bayu. Apa semudah itu lo melepas impian hanya karena Gita.” Kata Monika. Dia


masih tidak terima kalau Gilang melepas impian yang sudah ada di depan mata.


“Semua ini bukan karena Gita atau siapa pun, gue tidak mengambil itu karena impian gue sekarang sudah berubah.” Kata Gilang.


“Secepat itu, Gilang apa lo nggak ingin melihat orang tua lo bangga dengan beasiswa yang lo dapatkan. Ini langka sekali Gilang.” Monika terus menekannya.


“Monika, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk membanggakan diri terhadap orang tua. Dan yang namanya impian bisa berubah kapan saja.” Kata Gilang. Semenjak Gilang bertemu Gita impian Gilang hanya ingin membahagiakan Gita, bukan berarti dia mengabaikan sekolahnya. Menurutnya dia akan bisa mendapatkan keduanya tanpa harus pergi jauh keluar negeri. Dia juga bisa mencapai prestasi tinggi di negrinya sendiri.


“Kalau lo kesini hanya untuk membahas soal itu, gue nggak ada waktu lagi. Gue harus pergi sekarang.” Gilang bernajka dari sofa.


“Tapi Lang.” Monika masih ingin mengobrol dengan Monika.


“Monika, tolong hargai keputusan orang lain.” Gilang meninggalkan Monika untuk bergabung dengan Gita dan mamanya.


“Ngobrolin apaanih kayaknya serius amat?” tanya Gilang.


“Udah selesai ngajarin Monikanya?” Rima bertanya balik.


“Dia lebih pintar dari Gilang, mana ada Gilang ngajarin dia. Dia sudah tahu semuannya.” Kata Gilang datar.


“Kamu tuh ya.”


“Ya udah Ma, Gilang sama Gita pamit dulu ya. Udah di tungguin yang lain nih.” Gilang pamit.


“Ya udah jangan malam-malam pulangnya, besok ujian ingat.” Kata Rima.


“Iya mama sayang.” Gilang mencium tangan Rima di ikuti dengan Gita.


“Permisi tante, Gita pamit.”


“Iya, hati-hati kalian.”


Gita menjadi sedikit diam setelah ngobrol dengan Rima, tanganya masih basah karena berkeringat. Gugupnya masih belum hilang meskipun sudah berjalan jauh meninggalkan rumahnya Gilang.


“Kenapa diam saja? Apa mama mengatakan sesuatu yang menakuti lo?” Gilang melirik Gita.


“Nggak, hanya saja jantung Gita masih berdebar sangat keras.” Gita memegangi dadanya. Gilang tersenyum lebar, baru kali ini melihat Gita sepanik itu sampai dahinya juga berkeringat.


“Tenang.” Gilang menggandeng tangan Gita. “Apa benar-benar semenegangkan itu bertemu mama gue sampai tangan lo sedingin ini.” Goda Gilang.


Gita mengerucutkan bibirnya dan menarik tagannya, “Nggak lucu tahu nggak.”


“Maaf..maaf, memangnya apa yang kalian berdua obrolkan sampai lo segitu paniknya. Nggak di suruh nikah dan bikin cucu kan.” Gilang masih saja bercanda.


“Sembarangan, lo nggak boleh kepo. Ini rahasia calon mertua sama calon mantu.” Kata Gita.


“Main rahasia-rahasiaan ya sekarang.”


“Gue udah janji sama mama lo, kalau ini tidak boleh di kasih tahu. Ya namanya calon mantu yang baik harus patuh dong sama calon mertua.” Kata Gita, dia merasa menang sudah membuat Gilang


penasaran.


“Baiklah, sepertinya calon istri gue ini sudah sangat dengan calon mertua.” Gilang mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia sangat senang kalau Gita bisa langsung dekat dengan mamanya. Berarti


mamanya menerima Gita.


“Em..kak Monika datang ke rumah ngapain?” Gita sekarang yang kepo dengan kedatangan Monika.


“mengembalikan buku dan membahas beberapa soal.”


“Oo.. cuma itu, tadi gue lihat dia banyak membawa hadiah buat lo Kak?” Gita cemburu.


“Hadiah?”


“Iya, di atas meja banyak tuh bawaannya, bahkan gue dengar dia juga membawa buat tante Rima dan Kak Andini.”


“Oiya, kapan dia ngomong gue nggak dengar. Bahkan gue nggak tahu kalau Monika bawa hadiah.” Ujar Gilang.


Gita berdesisi, “Sungguh orang yang sangat dingin. Temannya ngomong nggak di dengar.”


“Sudahlah, gue hanya akan hangat sama lo. Gue nggak peduli sama dia ataupun mereka.”


“Em.. pacar gue emang sweet banget.” Gita mencium pipi Gilang dengan cepat.


“Lagi dong, belum kerasa.”


“Nggak mau.” Wajah Gita berubah merona saat Gilang meminta di cium lagi.