
Sepanjang hari Gilang duduk di samping
Gita, dia terus menunggu Gita dan tak mau pergi. Dia mau menjadi orang pertama
yang melihat Gita sadar. Dia tidak mau Gita ada apa-apa lagi.
“Gilang, sebaiknya kamu istirahat biar
tante sama om yang jagain Gita.” Kata Wanda.
“Iya Gilang, kamu sudah semalaman
disini. Kamu perlu istirahat dan makan juga.” Kata papanya Gita.
“Gilang tidak apa-apa. Lebih baik Om
sama tante yang pulang dan istirahat nanti kalau Gita siuman biar Gilang
telepon.” Kata Gilang.
“Baiklah,
tapi kamu jangan lupa makan. Tante nggak mau kamu sakit gara-gara jagain Gita
sampai lupa makan. Apa yang akan tante katakan nanti kalau sampai mama kamu
bertanya sama tante.”
“Tante
tidak usah khawatir, Gilang pasti jaga kesehatan kok.” Kata Gilang.
“Baiklah
kalau begitu kami pulang dulu, nanti Genta dan Qila akan datang menggantikan
kamu.” Kata Papa Gita.
“Iya
Om.”
Selepas
kepergian mama dan papa Gita, Gilang menggenggam tangan Gita dan menciumnya.
Meskipun Gita belum sadarkan diri tapi terlihat lebih baik daripada saat di
desa candi.
Gilang
mulai lelah, dia menaruh kepalanya di kasur samping Gita sembari memegangi tangan Gita.
Perlahan
Gita membuka matanya, semua masih terlihat buram dan kunang-kunang. Gita
mengucek matanya agar terlihat jelas.
“Gue
dimana? Apa sudah di surga? Ah sepertinya bukan, ini di rumah sakit.” Batinnya.
Gita mengalihkan pandangannya ke samping, dia melihat Gilang yang tertidur
lelap wajahnya juga sangat lelah.
“Kak
Gilang, berarti Gita selamat.” Batinnya lagi.
Gita
tersenyum, dia menarik tangannya dari genggaman Gilang lalu mengusap rambut
Gilang. Dia senang sekali masih bisa selamat dan dipertemukan dengan kekasih
hatinya itu.
“Pasti
Kak Gilang lelah mencari dan jagain Gita.” Kata Gita pelan. Dia sudah tidak
sabar ingin memeluk Gilang dan melepaskan rindu yang sudah menumpuk di dalam
hatinya.
Kllekkk.....
pintu terbuka perlahan, Fara datang menjenguk, bersama Raka dan Vian yang
langsung berjalan cepat mendekati Gita.
“Gi..”
“Ssttttt.”
Gita menaruh jari telunjuknya di bibir agar sahabat-sahabatnya tidak berisik
dan mengganggu tidur Gilang. Fara mengangkat tangannya membentuk tanda ok.
“Gimana
udah baikan?” tanya Fara sambil duduk di kursi sebelah kiri kasur Gita.
“Lumayan.
Fara,Vian emangnya apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gita. Dia masih bingung
dengan kejadian yang menimpa dirinya.
“Hah...
gue juga masih belum bisa mencerna apa yang terjadi sama kita.” Kata Fara.
“Raka..”
Gita baru sadar kalau ada Raka di sebelah Vian.
Raka
tersenyum, dia mendekati Gita dia mengusap rambut Gita lalu mencium kening
Gita. Raka kemudian menarik Gita dalam pelukannya, dia merasa lega dan juga merasa
sangat bersalah. Dia akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu sama Gita, dan
tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Gita,
kamu sudah siuman?” Gilang langsung tebangun.
Gita
melepaskan pelukan Raka dan pindah memeluk Gilang, “Gita kangen banget sama Kak
Gilang.” Kata Gita semakin erat memeluk Gilang.
“Kamu
kenapa nggak bangunin aku, harusnya aku dulu yang tahu kamu siuman.” Gilang
agak kesal.
nggak tega bangunin kamu.” Gita melepas pelukannya.
“Baiklah,
kembali ke dunia kita dengan melihat orang bermesraan.” Kata Vian.
“Kamu
udah baikan, masih ada yang sakit nggak aku panggil dokter dulu.”
“Nggak,
Gita nggak ada yang sakit lagi. Cuma Gita sekarang lapar banget.” Kata Gita.
“Mau
makan apa?” tanya Gilang.
“Vian,
Fara lo mau makan apa?” tanya Gita.
“Kenapa
tanya kita, lo kan yang mau makan?” kata Fara.
“Kalian
berdua itu sahabat terbaik gue, jadi sebagai ucapan terima kasih gue sama
kalian yang udah jagain gue makanya kak Gilang yang akan tlaktir lo makan.”
Kata Gita. Gilang terseyum sambil geleng kepala ketika dirinya yang harus
membayar traktiran untuk Fara dan Vian.
“Memangnya
boleh kita pesta di rumah sakit?” tanya Vian.
“Em..
boleh mungkin asal kecil-kecilan, jangan berisik dan tidak ketahuan dokter dan
lainnya.” Kata Gita mulai nakal dengan memberikan ide konyolnya.
“Coba
saja, kita tinggal memesan beberapa pizza, burger, ayam, dan cola.” Fara melist
pesanan.
“Tambah
spaggeti, bubur juga Git buat lo yang masih sakit.” Kata Vian.
“Gue
nggak diajak nih?” sela Raka.
“Nggak,
Gita masih marah sama lo.” Gita memalingkan wajahnya.
“Sayang,
jangan begitu ah..” Gilang mengacak-acak rambut Gita.
“Biarin
aja. Lagian kenapa lo masih disini bukanya lo mau pergi.” Ujar Gita.
“Iya,
lo bilang nggak mau ketemu kita lagi kenapa masih disini?” Kata Fara.
Meskipun
Fara terlihat sudah biasa saja saat di desa Candi bukan berarti semua sudah
kembali ke keadaan semula. Dia masih marah, kesal dan menganggap dirinya bukan
kekasihnya Raka. Secara sepihak kemarin dia memutuskan hubungannya saat Raka
mengatakan akan pergi dan tak akan kembali.
“Sepertinya
keberadaan gue disini mengganggu kalian, baiklah gue akan pergi.” Raka sadar
diri, semua yang mereka lakukan juga karena ulahnya sendiri, dia tidak bisa
marah ataupun melakukan pembelaan dengan apa yang di katakan Gita dan Fara.
“Eh..
disini aja. Lo kan juga bagian dari kita masa mau pergi.” Vian menahan Raka.
“Benar,
pesta ini nggak akan berjalan kalau nggak ada lo, jadi gue nggak akan jadi
belikan makanan kalau Raka pergi dari sini.” Gilang.
“Ih..
kamu curang banget sih.”
“Nggak
ada yang curang, kamu nggak kasihan apa sama Raka. Kemarin dia pontang-panting
cariin kamu, Fara dan juga Vian.”
“Siapa
suruh dia cariin, orang sudah ada tim sar juga.” Jawab Fara.
“Benar,
gue juga nggak minta.” Tambah Gita.
“Fara,
lo memang nggak minta Raka datang tapi kenapa pas lihat Raka lo langsung peluk
erat Raka, lo menangis di pelukan Raka. Dasar para cewek gengsinya suka nggak
nanggung-nanggung nanti ditinggal pergi beneran nangis, galau, kayang.” Celoteh
Vian.
“Vian!”
Ucap Gita dan Fara bersamaan dengan kedua mata yang melotot.
“Apa?”
Vian pun tidak takut, berkacak pinggal sambil melotot juga.
“Sudah-sudah,
makanan udah mau sampai, kalian cuci tangan dulu.” Kata Gilang.