Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Dirawat


Sepanjang hari Gilang duduk di samping


Gita, dia terus menunggu Gita dan tak mau pergi. Dia mau menjadi orang pertama


yang melihat Gita sadar. Dia tidak mau Gita ada apa-apa lagi.


“Gilang, sebaiknya kamu istirahat biar


tante sama om yang jagain Gita.” Kata Wanda.


“Iya Gilang, kamu sudah semalaman


disini. Kamu perlu istirahat dan makan juga.” Kata papanya Gita.


“Gilang tidak apa-apa. Lebih baik Om


sama tante yang pulang dan istirahat nanti kalau Gita siuman biar Gilang


telepon.” Kata Gilang.


“Baiklah,


tapi kamu jangan lupa makan. Tante nggak mau kamu sakit gara-gara jagain Gita


sampai lupa makan. Apa yang akan tante katakan nanti kalau sampai mama kamu


bertanya sama tante.”


“Tante


tidak usah khawatir, Gilang pasti jaga kesehatan kok.” Kata Gilang.


“Baiklah


kalau begitu kami pulang dulu, nanti Genta dan Qila akan datang menggantikan


kamu.” Kata Papa Gita.


“Iya


Om.”


Selepas


kepergian mama dan papa Gita, Gilang menggenggam tangan Gita dan menciumnya.


Meskipun Gita belum sadarkan diri tapi terlihat lebih baik daripada saat di


desa candi.


Gilang


mulai lelah, dia menaruh kepalanya di kasur samping  Gita sembari memegangi tangan Gita.


Perlahan


Gita membuka matanya, semua masih terlihat buram dan kunang-kunang. Gita


mengucek matanya agar terlihat jelas.


“Gue


dimana? Apa sudah di surga? Ah sepertinya bukan, ini di rumah sakit.” Batinnya.


Gita mengalihkan pandangannya ke samping, dia melihat Gilang yang tertidur


lelap wajahnya juga sangat lelah.


“Kak


Gilang, berarti Gita selamat.” Batinnya lagi.


Gita


tersenyum, dia menarik tangannya dari genggaman Gilang lalu mengusap rambut


Gilang. Dia senang sekali masih bisa selamat dan dipertemukan dengan kekasih


hatinya itu.


“Pasti


Kak Gilang lelah mencari dan jagain Gita.” Kata Gita pelan. Dia sudah tidak


sabar ingin memeluk Gilang dan melepaskan rindu yang sudah menumpuk di dalam


hatinya.


Kllekkk.....


pintu terbuka perlahan, Fara datang menjenguk, bersama Raka dan Vian yang


langsung berjalan cepat mendekati Gita.


“Gi..”


“Ssttttt.”


Gita menaruh jari telunjuknya di bibir agar sahabat-sahabatnya tidak berisik


dan mengganggu tidur Gilang. Fara mengangkat tangannya membentuk tanda ok.


“Gimana


udah baikan?” tanya Fara sambil duduk di kursi sebelah kiri kasur Gita.


“Lumayan.


Fara,Vian emangnya apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gita. Dia masih bingung


dengan kejadian yang menimpa dirinya.


“Hah...


gue juga masih belum bisa mencerna apa yang terjadi sama kita.” Kata Fara.


“Raka..”


Gita baru sadar kalau ada Raka di sebelah Vian.


Raka


tersenyum, dia mendekati Gita dia mengusap rambut Gita lalu mencium kening


Gita. Raka kemudian menarik Gita dalam pelukannya, dia merasa lega dan juga merasa


sangat bersalah. Dia akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu sama Gita, dan


tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


“Gita,


kamu sudah siuman?” Gilang langsung tebangun.


Gita


melepaskan pelukan Raka dan pindah memeluk Gilang, “Gita kangen banget sama Kak


Gilang.” Kata Gita semakin erat memeluk Gilang.


“Kamu


kenapa nggak bangunin aku, harusnya aku dulu yang tahu kamu siuman.” Gilang


agak kesal.


nggak tega bangunin kamu.” Gita melepas pelukannya.


“Baiklah,


kembali ke dunia kita dengan melihat orang bermesraan.” Kata Vian.


“Kamu


udah baikan, masih ada yang sakit nggak aku panggil dokter dulu.”


“Nggak,


Gita nggak ada yang sakit lagi. Cuma Gita sekarang lapar banget.” Kata Gita.


“Mau


makan apa?” tanya Gilang.


“Vian,


Fara lo mau makan apa?” tanya Gita.


“Kenapa


tanya kita, lo kan yang mau makan?” kata Fara.


“Kalian


berdua itu sahabat terbaik gue, jadi sebagai ucapan terima kasih gue sama


kalian yang udah jagain gue makanya kak Gilang yang akan tlaktir lo makan.”


Kata Gita. Gilang terseyum sambil geleng kepala ketika dirinya yang harus


membayar traktiran untuk Fara dan Vian.


“Memangnya


boleh kita pesta di rumah sakit?” tanya Vian.


“Em..


boleh mungkin asal kecil-kecilan, jangan berisik dan tidak ketahuan dokter dan


lainnya.” Kata Gita mulai nakal dengan memberikan ide konyolnya.


“Coba


saja, kita tinggal memesan beberapa pizza, burger, ayam, dan cola.” Fara melist


pesanan.


“Tambah


spaggeti, bubur juga Git buat lo yang masih sakit.” Kata Vian.


“Gue


nggak diajak nih?” sela Raka.


“Nggak,


Gita masih marah sama lo.” Gita memalingkan wajahnya.


“Sayang,


jangan begitu ah..” Gilang mengacak-acak rambut Gita.


“Biarin


aja. Lagian kenapa lo masih disini bukanya lo mau pergi.” Ujar Gita.


“Iya,


lo bilang nggak mau ketemu kita lagi kenapa masih disini?” Kata Fara.


Meskipun


Fara terlihat sudah biasa saja saat di desa Candi bukan berarti semua sudah


kembali ke keadaan semula. Dia masih marah, kesal dan menganggap dirinya bukan


kekasihnya Raka. Secara sepihak kemarin dia memutuskan hubungannya saat Raka


mengatakan akan pergi dan tak akan kembali.


“Sepertinya


keberadaan gue disini mengganggu kalian, baiklah gue akan pergi.” Raka sadar


diri, semua yang mereka lakukan juga karena ulahnya sendiri, dia tidak bisa


marah ataupun melakukan pembelaan dengan apa yang di katakan Gita dan Fara.


“Eh..


disini aja. Lo kan juga bagian dari kita masa mau pergi.” Vian menahan Raka.


“Benar,


pesta ini nggak akan berjalan kalau nggak ada lo, jadi gue nggak akan jadi


belikan makanan kalau Raka pergi dari sini.” Gilang.


“Ih..


kamu curang banget sih.”


“Nggak


ada yang curang, kamu nggak kasihan apa sama Raka. Kemarin dia pontang-panting


cariin kamu, Fara dan juga Vian.”


“Siapa


suruh dia cariin, orang sudah ada tim sar juga.” Jawab Fara.


“Benar,


gue juga nggak minta.” Tambah Gita.


“Fara,


lo memang nggak minta Raka datang tapi kenapa pas lihat Raka lo langsung peluk


erat Raka, lo menangis di pelukan Raka. Dasar para cewek gengsinya suka nggak


nanggung-nanggung nanti ditinggal pergi beneran nangis, galau, kayang.” Celoteh


Vian.


“Vian!”


Ucap Gita dan Fara bersamaan dengan kedua mata yang melotot.


“Apa?”


Vian pun tidak takut, berkacak pinggal sambil melotot juga.


“Sudah-sudah,


makanan udah mau sampai, kalian cuci tangan dulu.” Kata Gilang.