Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menghindar


Keadaan team Gita sudah membaik,


semuanya berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan mereka telah melupakan


tentang proyek itu.


“Makan yuk.” Fara mengusap perutnya.


“Let’s go.” Gita berdiri.


Gita dan Fara ke kantin lebih dahulu,


mereka berdua bergadeng tangan sembari membahas pekerjaan. Gita menahan Fara


hingga mereka terhenti.


“Ada apa Gita?” tanya Fara.


“Ada Kak Gilang.” Gita mencari tempat


untuk bersembunyi. Dia menemukan pot besar dan jongkok di situ, sedangkan Fara


berdiri di dekat pot  berlagak sedang


bermain ponsel untuk menutupi Gita.


“Fara.” Panggil Gilang sambil


celingukan.


“Ya.” Jawab Fara dengan senyuman mencoba


bertingkah seperti biasa agar tidak terlihat kalau sedang menyembunyikan


sesuatu.


“Ngapain lo disini? Gita mana?” Tanya


Gilang.


“Em..Gita ya. Kayaknya tadi masih di


ruangan.”  Fara menujuk ruangannya.


“Tadi lo seperti berjalan berdua sama


Gita, kok sekarang sendiri?” Gilang dari kejauhan melihat dua orang yang


berjalan, tapi saat dia samperin hanya ada Fara.


“Oh.. tadi sama Mbak Ina, dia lari ke


toilet.” Fara memutarkan jari telunjuknya mencari arah toilet. “Kak Gilang ada


apa sampai ke sini?” tanya Fara.


“Gue cari Gita. Gue samperin dulu ya.”


Kata Gilang.


“Oiya Kak, silahkan.” Fara tersenyum.


Dia deg-degan takut ketahuan bohongnya.


“Apa sudah pergi?” tanya Gita sembari


menongolkan kepalanya.


“Sudah, ayo buruan kabur.” Fara membantu


Gita berdiri lalu berlari ke kantin.


Porsi makan Gita sudah mulai normal saat


teman-temannya tidak lagi memusuhinya. Dia memesan beberapa menu meskipun tidak


tahu mana yang akan dia makan.


“Git, lo kenapa nggak mau ketemu Kak


Gilang sih?” tanya Fara sambil nyelomot siomay milik Gita padahal dia juga


beli.


“Males.” Jawab Gita sambil menepuk


tangan Fara.


“Apa karena dia melempar proyek sama


team Mbak Ratna?” tanya Fara.


Gita mengangguk, “Kenapa Kak Gilang


tidak mau memberikna gue kesempatan untuk memperbaikinya malah langsung lempar


saja.”


“Kalau dipikir-pikir wajar kali ya kalau


dia marah dan langsung mengganti kan waktunya mepet. Kita tidak bisa


memperbaiki semuaya dengan cepat.” Fara sedikit bijaksana mencoba di posisi Gilang.


“Ya mungkin saja begitu, tapi tetap saja


gue kesal.” Kata Gita.


Gilang melipat kedua tangannya di dada,


sembari menghela napas panjang saat dia tahu di bohongi Fara. Dia ternyata sudah


bersekongkol sama Gita.


Gilang berdiri di belakang Gita sembari


menatap Fara tajam, karena telah membohongi dirinya. Fara menggigit bibir bawahnya,


sembari memainkan bola matanya untuk mengkode Gita kalau ada Gilang di


belakang.


“Mata lo kenapa gatel? Mau gue garukin?”


Kata Gita sambil mengunyah siomay yang sudah mendarat di mulutnya.


Fara menudukan kepalanya sambil menepuk


jidat pelan, kakinya menendang Gita pelan, dan kembali mengkode Gita.


“Eheem..” Gilang berdehem. Gita menoleh


dengan cepat, dia juga menelan siomay yang seharusnya masih dalam tahap


pengunyahan.


Gita membalikan tubuhnya lalu mendelik


ke arah Fara, kenapa dia tidak memberi tahunya dari tadi. Kan dia jadinya tidak


bisa lari.


“Gita, berdiri.” Kata Gilang.


Gita menggeser kursinya lalu berdiri,


dia berhadapan dengan Gilang tapi menundukan kepalanya.


“Kamu..” Gilang menunjuk wajah Gita


namun menurunkan lagi saat Catrin memanggilnya.


“Bos, maaf mengangu.” Catrin datang


sembari berjalan mendekati Gilang.


“Ada apa Catrin?” tanya Gilang.


“Saya mau meminta tanda tangan dari


“Kamu kasih saja sama Lila nanti saya


akan tanda tangan, kamu kenapa tidak istirahat ini kan sudah jam makan siang.”


Kata Gilang.


“Iya Pak, soalnya tanggung jadi


selesaikan dulu. Saya tidak menunda pekerjaan.” Kata Catrin sambil tersenyum.


“Penjilat.” Gumam Fara.


“Gatel.” Sahut Gita dengan gumaman


pelan.


“Kalau begitu, kasih ke Lila dulu saya


sedang ada urusan sama mereka berdua..” Gilang menunjuk kearah Gita dan Fara


berdiri. Tapi  sayangnya mereka berdua


sudah tidak ada di sampingnya. Gita mengajak Fara pergi saat Gilang masih fokus


ngobrol sama Catrin.


“Kemana meraka pergi?” tanya Gilang sama


Catrin.


“Saya juga tidak melihat Pak.” Catrin


ikut heran kedua rivalnya itu pergi tanpa dia ketahui.


Gilang mengehela napas panjang sembari


pergi mencari Gita, dia meninggalkan Catrin tanpa berkata apa-apa.


“Pak Gilang tunggu..” panggil Catrin


sambil mengejarnya.


“Ada apa?”


“Bapak mau cari mereka berdua kenapa ya?


Apa ada masalah?” Catrin kepo.


“Tidak ada masalah.”


“Ah.. saya pikir mereka berdua bikin


ulah lagi. Kalau bapak berkenan biar saya yang mencari mereka dan membawa ke


ruangan bapak.” Catrin mencari perhatian Gilang.


“Tidak perlu.” Kata Gilang sambil pergi.


“Hah.. kenapa cuek banget sih. Jadi


semakin ganteng dan membuat jantung gue berdegup kencang.” Kata catrin. Dia


terpesona dengan Gilang, dan dalam hatinya dia ingin dekat dengan bos idaman


para wanita di kantornya.


Gita dan Fara sudah sampai di depan


ruangannya lagi, Gita celingukan takut Gilang mengikutinya lagi.


“Git, gue rasa tuh mak lampir mau caper


deh sama Gilang. Lo nggak takut tuh Gilang di gabet sama mak lampir.” Fara


berhenti di depan pintu.


“Nggak, masih kalau jauh dia sama gue.”


Katanya sambil menertawakan kesombongannya.


“Idiih.. pede benar calon adik ipar gue


ini.” Fara mencubit pipi Gita.


“Udah pada balik aja tumben, nggak makan


kalian?” tanya Vian.


“Ya gimana lagi, Gita lagi main


kucing-kucingan sama Kak Gilang alhasil perut gue keroncongan.” Keluh Fara.


“Kenapa lagi coba?” tanya Vian.


“Nggak apa-apa, gue masih kesal saja.”


Jawab Gita sambil masuk ruangan.


“Vian lo kan teman gue yang baik hati,


tolong deh belikan makanan gue masih lapar.” Rengek Fara.


“Iye..ye... gue ke kantin dulu.” Vian


langsung cabut ke kantin.


Lila melihat Gilang sangat gundah, dia


bahkan tidak fokus beberapa kali di tanya jawabannya tidak nyambung.


“Maaf Pak, apa ada yang di pikirkan


kelihatanya kok sangat gundah?” tanya Lila.


“Ah..nggak.” Jawab Gilang sambil


menerusakan menandatangani berkas.


“Eh Lila apa kamu puca pacar?” tanya


Gilang sambil menutup berkasnya.


“Punya Pak, ada apa ya?”


“Begini teman saya itu punya cewek, nah


ceweknya lagi ngambek soalnya si cowok bikin kesalahan. Biasanya pacar kamu


bujuknya pakai apa ya atau maunya cewek itu apa?” Gilang bertanya sama Lila.


“Pacar bapak lagi ngambek?”


“Bukan pacar saya, tapi teman.” Gilang


nggak mau ngaku.


“Oh.. teman. Ya biasanya sih tergantung


kesalahan yang di perbuat. Kalau levelnya kecil ya paling minta maaf saja


cukup. Tapi kalau sudah mulai kesalahan besar paling kasih bunga, ajak


jalan-jalan atau belanja. Pasti senang.” Jelas Lila.


“Ok..ok. Ah pasti kamu paling suka di


ajak belanja kan?” Tebak Gilang. Lila menuduk malu, tebakan Gilang sangat


benar.


“Semua cewek suka belanja Pak.”


“Baiklah, terima kasih ya. Nanti saya


bilang sama teman saya.” Kata Gilang.


“Sama-sama Pak.”