
Keadaan team Gita sudah membaik,
semuanya berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan mereka telah melupakan
tentang proyek itu.
“Makan yuk.” Fara mengusap perutnya.
“Let’s go.” Gita berdiri.
Gita dan Fara ke kantin lebih dahulu,
mereka berdua bergadeng tangan sembari membahas pekerjaan. Gita menahan Fara
hingga mereka terhenti.
“Ada apa Gita?” tanya Fara.
“Ada Kak Gilang.” Gita mencari tempat
untuk bersembunyi. Dia menemukan pot besar dan jongkok di situ, sedangkan Fara
berdiri di dekat pot berlagak sedang
bermain ponsel untuk menutupi Gita.
“Fara.” Panggil Gilang sambil
celingukan.
“Ya.” Jawab Fara dengan senyuman mencoba
bertingkah seperti biasa agar tidak terlihat kalau sedang menyembunyikan
sesuatu.
“Ngapain lo disini? Gita mana?” Tanya
Gilang.
“Em..Gita ya. Kayaknya tadi masih di
ruangan.” Fara menujuk ruangannya.
“Tadi lo seperti berjalan berdua sama
Gita, kok sekarang sendiri?” Gilang dari kejauhan melihat dua orang yang
berjalan, tapi saat dia samperin hanya ada Fara.
“Oh.. tadi sama Mbak Ina, dia lari ke
toilet.” Fara memutarkan jari telunjuknya mencari arah toilet. “Kak Gilang ada
apa sampai ke sini?” tanya Fara.
“Gue cari Gita. Gue samperin dulu ya.”
Kata Gilang.
“Oiya Kak, silahkan.” Fara tersenyum.
Dia deg-degan takut ketahuan bohongnya.
“Apa sudah pergi?” tanya Gita sembari
menongolkan kepalanya.
“Sudah, ayo buruan kabur.” Fara membantu
Gita berdiri lalu berlari ke kantin.
Porsi makan Gita sudah mulai normal saat
teman-temannya tidak lagi memusuhinya. Dia memesan beberapa menu meskipun tidak
tahu mana yang akan dia makan.
“Git, lo kenapa nggak mau ketemu Kak
Gilang sih?” tanya Fara sambil nyelomot siomay milik Gita padahal dia juga
beli.
“Males.” Jawab Gita sambil menepuk
tangan Fara.
“Apa karena dia melempar proyek sama
team Mbak Ratna?” tanya Fara.
Gita mengangguk, “Kenapa Kak Gilang
tidak mau memberikna gue kesempatan untuk memperbaikinya malah langsung lempar
saja.”
“Kalau dipikir-pikir wajar kali ya kalau
dia marah dan langsung mengganti kan waktunya mepet. Kita tidak bisa
memperbaiki semuaya dengan cepat.” Fara sedikit bijaksana mencoba di posisi Gilang.
“Ya mungkin saja begitu, tapi tetap saja
gue kesal.” Kata Gita.
Gilang melipat kedua tangannya di dada,
sembari menghela napas panjang saat dia tahu di bohongi Fara. Dia ternyata sudah
bersekongkol sama Gita.
Gilang berdiri di belakang Gita sembari
menatap Fara tajam, karena telah membohongi dirinya. Fara menggigit bibir bawahnya,
sembari memainkan bola matanya untuk mengkode Gita kalau ada Gilang di
belakang.
“Mata lo kenapa gatel? Mau gue garukin?”
Kata Gita sambil mengunyah siomay yang sudah mendarat di mulutnya.
Fara menudukan kepalanya sambil menepuk
jidat pelan, kakinya menendang Gita pelan, dan kembali mengkode Gita.
“Eheem..” Gilang berdehem. Gita menoleh
dengan cepat, dia juga menelan siomay yang seharusnya masih dalam tahap
pengunyahan.
Gita membalikan tubuhnya lalu mendelik
ke arah Fara, kenapa dia tidak memberi tahunya dari tadi. Kan dia jadinya tidak
bisa lari.
“Gita, berdiri.” Kata Gilang.
Gita menggeser kursinya lalu berdiri,
dia berhadapan dengan Gilang tapi menundukan kepalanya.
“Kamu..” Gilang menunjuk wajah Gita
namun menurunkan lagi saat Catrin memanggilnya.
“Bos, maaf mengangu.” Catrin datang
sembari berjalan mendekati Gilang.
“Ada apa Catrin?” tanya Gilang.
“Saya mau meminta tanda tangan dari
“Kamu kasih saja sama Lila nanti saya
akan tanda tangan, kamu kenapa tidak istirahat ini kan sudah jam makan siang.”
Kata Gilang.
“Iya Pak, soalnya tanggung jadi
selesaikan dulu. Saya tidak menunda pekerjaan.” Kata Catrin sambil tersenyum.
“Penjilat.” Gumam Fara.
“Gatel.” Sahut Gita dengan gumaman
pelan.
“Kalau begitu, kasih ke Lila dulu saya
sedang ada urusan sama mereka berdua..” Gilang menunjuk kearah Gita dan Fara
berdiri. Tapi sayangnya mereka berdua
sudah tidak ada di sampingnya. Gita mengajak Fara pergi saat Gilang masih fokus
ngobrol sama Catrin.
“Kemana meraka pergi?” tanya Gilang sama
Catrin.
“Saya juga tidak melihat Pak.” Catrin
ikut heran kedua rivalnya itu pergi tanpa dia ketahui.
Gilang mengehela napas panjang sembari
pergi mencari Gita, dia meninggalkan Catrin tanpa berkata apa-apa.
“Pak Gilang tunggu..” panggil Catrin
sambil mengejarnya.
“Ada apa?”
“Bapak mau cari mereka berdua kenapa ya?
Apa ada masalah?” Catrin kepo.
“Tidak ada masalah.”
“Ah.. saya pikir mereka berdua bikin
ulah lagi. Kalau bapak berkenan biar saya yang mencari mereka dan membawa ke
ruangan bapak.” Catrin mencari perhatian Gilang.
“Tidak perlu.” Kata Gilang sambil pergi.
“Hah.. kenapa cuek banget sih. Jadi
semakin ganteng dan membuat jantung gue berdegup kencang.” Kata catrin. Dia
terpesona dengan Gilang, dan dalam hatinya dia ingin dekat dengan bos idaman
para wanita di kantornya.
Gita dan Fara sudah sampai di depan
ruangannya lagi, Gita celingukan takut Gilang mengikutinya lagi.
“Git, gue rasa tuh mak lampir mau caper
deh sama Gilang. Lo nggak takut tuh Gilang di gabet sama mak lampir.” Fara
berhenti di depan pintu.
“Nggak, masih kalau jauh dia sama gue.”
Katanya sambil menertawakan kesombongannya.
“Idiih.. pede benar calon adik ipar gue
ini.” Fara mencubit pipi Gita.
“Udah pada balik aja tumben, nggak makan
kalian?” tanya Vian.
“Ya gimana lagi, Gita lagi main
kucing-kucingan sama Kak Gilang alhasil perut gue keroncongan.” Keluh Fara.
“Kenapa lagi coba?” tanya Vian.
“Nggak apa-apa, gue masih kesal saja.”
Jawab Gita sambil masuk ruangan.
“Vian lo kan teman gue yang baik hati,
tolong deh belikan makanan gue masih lapar.” Rengek Fara.
“Iye..ye... gue ke kantin dulu.” Vian
langsung cabut ke kantin.
Lila melihat Gilang sangat gundah, dia
bahkan tidak fokus beberapa kali di tanya jawabannya tidak nyambung.
“Maaf Pak, apa ada yang di pikirkan
kelihatanya kok sangat gundah?” tanya Lila.
“Ah..nggak.” Jawab Gilang sambil
menerusakan menandatangani berkas.
“Eh Lila apa kamu puca pacar?” tanya
Gilang sambil menutup berkasnya.
“Punya Pak, ada apa ya?”
“Begini teman saya itu punya cewek, nah
ceweknya lagi ngambek soalnya si cowok bikin kesalahan. Biasanya pacar kamu
bujuknya pakai apa ya atau maunya cewek itu apa?” Gilang bertanya sama Lila.
“Pacar bapak lagi ngambek?”
“Bukan pacar saya, tapi teman.” Gilang
nggak mau ngaku.
“Oh.. teman. Ya biasanya sih tergantung
kesalahan yang di perbuat. Kalau levelnya kecil ya paling minta maaf saja
cukup. Tapi kalau sudah mulai kesalahan besar paling kasih bunga, ajak
jalan-jalan atau belanja. Pasti senang.” Jelas Lila.
“Ok..ok. Ah pasti kamu paling suka di
ajak belanja kan?” Tebak Gilang. Lila menuduk malu, tebakan Gilang sangat
benar.
“Semua cewek suka belanja Pak.”
“Baiklah, terima kasih ya. Nanti saya
bilang sama teman saya.” Kata Gilang.
“Sama-sama Pak.”