Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kedatangan sainagn baru


Gita meregangkan kedua tangannya, dia


bangun lebih dulu dari Fara. Dia membuka jendela kamarya melihat hamparan


kebun teh yang sangat indah di tambah sinar matahari yang menguning seakan


menambah hiasan pemandangan pagi itu. Gita mengambil beberapa foto lalu dia


kirim kan ke Gilang.


...082 xxxxxx...


...Selamat pagi Gita, sudah bangun belum...


...Gue Radit....


“Radit, darimana dia tahu nomor gue.” Gita


menggaruk kepalanya. Dia menaruh ponselnya tanpa membalas pesan dari Radit.


Gita sedikit melakukan peregangan


tubuhnya setelah itu dia kembali ke kasurnya. Fara yang terbangun karena tiupan angin dan menyapu kulitnya hingga terasa dingin.


“Tumben amat lo olahraga, biasanya gue


bangun lebih dulu daripada lo.” Fara mengucek kedua matanya.


“Biar sehat, toh kerjaan kita banyak


bahkan sering bekerja dengan hal tak terduga.” Kata Gita.


“Benar juga, lo mau mandi dulu apa gue?”


tanya Fara.


“Gue saja.” Gita meraih ponsel dan juga


handuk bersamaan.


Seperti biasa dia memainkan musik saat


mandi agar dia tidak bosan di kamar mandi.


...Gilang...


...Selamat pagi sayang, sedang apa?”...


...Gita...


...Mandi...


...Gilang...


...Heh! Kebiasaan mandi bawa ponsel. Awas...


...kalau ada yang telpon nggak boleh diangkat...


Gilang selalu was-was dengan Gita, dia


selain konyol juga ceroboh. Dalam hati Gilang ingin sekali menelpon Gita dan


memarahinya namun dia tahan takutnya Gita sedang mandi lalu mengangkat


telponya. Bisa-bisa dia mendapatkan vitamin lebih.


...Gita...


...Iya sayang...


Gita dan Fara melambaikan tangan kepada


Vian yang sudah menunggu mereka berdua untuk sarapan. Fajar dan Radit yang tahu


kedatangan Gita langsung nyamperin dia.


“Pagi Gita.” Sapa Radit dan Fajar bersamaan membuat Radit dan Fajar saling berpandangan.


“Pagi.” Jawab Gita dengan wajah bingung,


dia menatap Fara.  Fara mengangkat kedua


tangannya.


Dan setelah menyapa bersamaan, Radit dan


Fajar berebut mempersiapkan kursi untuk Gita. Dan Gita pun lebih memilih duduk


dekat Vian, karena hanya Vian cowok yang tidak buat Gilang salah paham.


“Kalian ngapain sih?” tanya Win.


“Gue mau sarapan bareng kalian.” Kata


Radit.


“Bareng kita atau lo mau sarapan bareng


Gita.” Sindir Fara yang sangaat mengena di hati Radit dan Fajar.


“Radit lo jangan cari masalah deh, nanti


Aura ngambek kita juga yang kena masalah. Fajar balik sana makan sama team lo


jangan bikin Ratna marah hanya karena lo nguber team gue.” Win mengusir dua


cowok yang naksir sama Gita.


“Apa urusannya gue sama Aura, kita juga


tidak ada hubungan apa-apa.” Radit menarik kursinya lalu duduk gabung sama team Win. Win hanya bisa berdecak kesal karena Radit sangat susah di kasih tahu.


...♡♤♤♤♡...


Syuting belum juga kelar tapi Gita sudah capek dan ngantuk , Gita menarik kursi lalu duduk dia menselonjorkan kakinya dan melipat kedua tangannya di dada. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Matanya mulai redup, semua yang di lihatnya mulai menghilang dan dia terlelap untuk tidur.


“Pasti lo sangat kecapean.” Kata Radit.


Dia membuka kemejanya dan menyelimuti tubuh Gita. Dia tersenyum melihat wajah


Gita yang sangat teduh. Aura yang melihat sangat jengkel, dia masih cinta sama


Radit tapi sama sekali dia tidak di anggap.


“Radit, buruan!” teriak Aura kesal.


gue kesini lagi.” kata Radit pelan.


Setelah kepergian Radit, Gilang datang


dia tersenyum melihat Gita sedang tertidur di kursi. Gilang mengernyitkan


kening saat melihat kemeja di tubuh Gita, dia langsung membuang kemeja dan


mengganti dengan jas yang di pakainnya.


“Bisa-bisanya tidur di sembarangan


tempat.” Gilang menyentuh hidung Gita.


Gilang duduk di sebelah Gita, sembari


memperhatikan jalannya syuting.


“Bos, kapan datang?” tanya Win dengan


heboh dia tidak tahu kalau bosnya bakalan datang.


“Sssttt, jangan berisik. Dia lagi


tidur.” Gilang menaruh jari telunjuknya di bibir.


“Gita, ya ampun kok malah tidur sih.”


Win hendak membangunkan Gita namun di tahan sama Gilang.


“Saya bilang jangan berisik malah mau


bangunin, mau kamu saya pecat.” Ancam Gilang.


“Maaf  Bos, tapi dia tidak akan mendapatkan surat peringatan kan.” Win was-was.


“Nggak akan, sana pergi selesaikan tugas


kamu.” Suruh Gilang.


Win mengangguk lalu garuk kepala, dia


bingung dengan sikap Gilang kepada Gita yang selalu saja baik. Sedangkan Gita tidur pules sampai akhirnya dia menyenderkan di bahu Gilang. Seketika satu team Gilang panik, kalau Gilang bakalan marah dan membuat cemburu cewek-cewek.


“Ya ampun Gita, nggak tahu diri banget.


Bisa gitu sender-sender sama bos.” Catrin kesal Gita telah duluan merayu Gilang.


“Dasar perempuan tidak benar, sana sini


mau kemarin Radit sekarang bos Gilang.” Aura melipat kedua tangannya.


Radit melihat kemesraan Gilang dan Gita


kesal, dia samperin sesampai di dekat Gilang dan Gita matanya langsung tertuju ke bawah melihat kemejanya jatuh ke lantai dan memungutnya.


“Oh.. itu kemeja lo ya? Sorry gue kira


kemeja nggak kepakai kok di lantai.” Ujar Gilang dengan wajah tanpa dosa dan seolah tidak melakukan apa-apa padahal dia yang membuang bajunya.


“Oh..iya.” Radit merasa aneh perasaan


tidak ada angin besar bagaimana bisa melayang dari tubuh Gita.


“Gita.. bangun.” Fara datang


membangunkan Gita.


“Em..” Gita membuka matanya perlahan,


dia kemudian mengucek kedua matanya ketika samar-samar melihat banyak orang di depannya.


“Ada apa nih rame-rame?” tanya Gita


masih belum sadar kalau di sebelahnya ada Gilang.


“Ada apa rame-rame, lo sengaja ya mau menarik perhatian orang-orang disini pakai tidur.” Kata Catrin sinis.


“Emang apa salahnya gue tidur disini,


dan kalau ada yang memberhatikan gue itu salah mereka sendiri kenapa perhatian


sama gue. Lewatin aja anggap nggak ada orang, lagian gue juga nggak pernah


berharap di perhatiin.” Jawab Gita.


“Ehhmm.” Gilang berdehem, Gita pun


menoleh dan langsung kaget dia hampir saja terjungkal dan Gilang langsung


menariknya.


“Ka..bos Gilang kok disini, sejak kapan?”


Gita gagap.


“Sejak kamu tidur, sudah sekarang kalian


bubar dan bersiap untuk makan malam. Jangan ada lagi yang debat masalah tidak


penting.” Gilang berdiri.


“Baik Pak.” Jawab semuanya.


Gita melihat tubuhnya yang memakai jas


milik Gilang, dia menciumnya kemudian melepas dan diberikan kepada Gilang.


“Makasih.” Kata Gita.


“Jangan sembarang tidur kenapa, baha


kalau kamu di bawa orang gimana?” Gilang mencolek hidung Gita.


“Nggak sengaja.” Gita merenges.


“Gita, buruan!” panggil Win.


“Ah iya Mas.” Gita lari sambil mengkode


Gilang untuk menelponya nanti.