
Gita duduk mengintip ke kamar Raka, perlahan dia mendorong pintu. Raka yang sedang asyik bermain gitar hanya melirik sebentar lalu fokus lagi dengan gitarnya.
"Raka."
"Hem, mau apa?" Raka paham benar kalau Gita ngomong pelan, baik-baik padanya pasti ada yang dia inginkan.
"Week end besok kita mau ke pantai, ikut yuk." Gita membujuk Raka.
"Nggak ah malas." Jawab Raka sambil terus memainkan gitarnya.
"Ka.. ayo lah. Ntar gimana kalau gue kenapa-kenapa kalau lo nggak ikut." Rengek Gita.
"Kan sudah ada Gilang, dia pasti akan jagain lo." kata Raka.
"Gue nangis nih kalau lo nggak mau ikut." Gita meengut.
"Lo kenapa sih, biasanya pergi-pergi saja. Kenapa harus sama gue coba. Pasti ada apa-apanya ini." Raka curiga.
"Ya kan lo lagi sedih, gue cuma mau menghibur lo. Kan gue takut kalau lo diem di rumah terus. Tahu-tahu lompat ntar dari genteng." Kata Gita.
"Wah.. sempit banget pikiran lo anak muda. Bisa-bisanya mikir gue begitu." Raka menyentil kening Gita.
"Ya kan orang kalau lagi galau suka nggak bisa berpikir jernih." Gita meringis.
"Udah..udah sana keluar, jangan ganggu gue." Raka mengusir Gita dari kamarnya.
"Raka."
"Nggak...nggak.."
Gita putus asa, kali ini rayuannya gagal. Gita pergi ke kamar lalu menelpon Gilang.
"Halo Kak Gilang." katanya dengan nada lemas.
"Ada apa?" tanya Gilang.
"Raka nggak mau ikut, gimana coba?"
"Hhm... gimana ya. Ya udah kita berdua aja yang pergi biar romantis." Goda Gilang.
"Genit ya, kan tujuan kita buat Raka move on. Kalau kita kan nggak usah ke pantai aja romantis."
"Romantis?"
"Iya, kan setiap hari juga kita romantis." kata Gita.
"Contohnya?"
"Di toko kan gue gandeng erat tangan Kak Gilang, bawain sarapan, bukain pintu mobil, hampir setiap hari antar jemput gue. Nah setiap chat ada emote peluk, cium love. Kurang romantis apa coba?" cerocos Gita.
"Jadi semua itu sudah lo anggap romantis?" Gilang heran mendengar devinisi romantis menurut Gita.
"Yah.. kemarin pas di beliin batagor aja itu romantis loh. Hal sepele itu yang selalu gue sebut romanti. Daripada romantis cuman setahun sekali setiap harinya nggak ada perhatian." Tambah Gita lagi.
"Sumpah ini cewek benar-benar beda dari yang lain." Batin Gilang. Dia tidak menyangka sesederhana itu Gita.
"Kak.. kenapa diam, emang salah ya Gita?"
"Nggak salah. Gue hanya ingin lebih banyak menghabiskan waktu sama lo. Ya sesekali jalan-jalan berdua yang lama. Kita buat kenangan yang indah berdua."
"Boleh, kalau berhasil bawa Raka kepantai kita jalan berdua dari pagi sampai malam. Gimana?" Gita memberikan ide.
"Setuju. Gue akan bujuk dia." Gilang semangat. "Sekarang lo istirahat, nanti gue pikirin cara mengajak Raka."
"Selamat malam, sayang."
...♡♤♤♤♡...
"Gita, gimana jadi nggak besok ke pantainya?" tanya Fara menatap Gita.
"Bujuk Raka dulu tuh, dia nggak mau ikut." kata Gita sambil membalikan badannya ke belakang.
"Ka.. ikut kenapa lo." Kata Fara.
"Nggak mau, kalau mau pergi-pergi aja." Raka kekeh nggak mau ikut.
"Ya elah Ka, nggak ada lo nggak rame." Vian ikut membujuk Raka.
"Kalian pada kenapa sih, heboh banget. Harus gitu gue ikut."
"Harus." Jawab Gita, Fara, Anita dan Vian bersamaan. Raka menatap mereka satu persatu.
"Gue nggak mau." Raka mengantungkan tasnya ke bahu kirinya langsung keluar kelas. Lama-lama kumpul sama mereka akan semakin di paksa. Dia hanya ingin sendirian, menenangkan pikiran.
"Buruan kejar Raka." ajak Vian. Gita, Fara, Anita dan Vian mengejar Raka. Mereka terus membujuk meskipun Raka terus menolaknya.
Langkah Raka terhenti saat melihat Prisil berdiri di gerbang sekolah.
"Mau ngapain lagi dia kesini." Kata Raka pelan.
"Eh.. Prisil ngapain dia kesini." Kata Gita hendak menghampiri namun di tahan sama Raka. Raka menggelengkan kepala agar Gita tidak mendekati Prisil.
"Cabut." Raka mengajak yang lain untuk meninggalkan sekolah segera.
"Raka tunggu." Prisil berlari dari gerbang, dia mengejar Raka sebelum masuk mobil dan menarik tangannya.
"Raka tunggu. Gue tahu lo marah, kesal, benci sama gue. Tapi di sisi lain lo masih sayang kan sama gue. Lo belum move on kan dari cinta dan kenangan kita." Prisil memegang erat tangan Raka. Dia berharap ucapannya benar dan meluluhkan kemarahan Raka. Dan membuat hubungannya membaik lagi.
"Siapa bilang gue belum move on?" Raka menepis tangan Prisil.
"Semudah itu lo move on." Mata Prisil berkaca-kaca.
"Lo pikir lo doang yang bisa melakukannya. Gue bahkan sudah menemukan orang yang lebih baik dari lo." kata Raka.
"Secepat itu, gue nggak percaya." Prisil tidak percaya.
Raka menarik tangan Fara yang hendak naik mobil. Fara berada dalam pelukan Raka.
"Raka, gue tahu lo bohong. Dia hanya teman sekelas lo kan. Gue tahu lo hanya panas-panasin gue. Biar gue cemburu kan." Prisil tidak percaya begitu saja.
Raka membalikan tubuh Fara hingga berada di depan Raka. Raka mendekatkan wajahnya, dia mendekat meletakkan kan dua jarinya di bibir Fara lalu dia ikut menempelkn bibirnya di dua jarinya.
Seketiak hening, mengira Raka dan Fara berciuman. Prisil menangis, dia tidak menyangka melihat Raka mencium cewek di depanya. Sedangkan dirinya saja tidak pernah di cium bibirnya sama Raka.
Kedua mata Fara mendelik, dia kaget. Jantungnya berdetak sangat keras namun tubuhnya terasa lunglai.
Meskipun itu tidak sungguhan, namun membuat Fara menjadi sangat gugup. Dia mundur menarik dirinya lalu langsung kabur masuk ke mobil.
"Apa lo masih nggak percaya, setelah gue putus sama lo gue pacaran sama dia." tunjuk Raka lalu meninggalkan Prisil yang masih shock.
Di dalam mobil mereka semua dia tidak ada yang berani bertanya. Fara yang masih shock memainkan tangannya. Raka memegang tangan Fara untuk menenangkan.
"Sorry." Bisiknya. Fara mengangguk lalu menarik tangannya. Dia semakin salah tingkah, bingung mencerna yang terjadi.