Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Perpisahan


Gita berlari ke papan pengumuman untuk


melihat hasil ujian milik Gilang. Dia sudah tidak sabar melihat peringkat dari


Gilang.


“Permisi..permisi.” Gita menyelusup


diantara kerumunan orang-orang. Sesampai di depan dia memjamkan matanya


sebentar lalu membukannya lebar-lebar. Bibirnya langsung tersenyum lebar melihat


posisi Gilang yang tak pernah geser di setiap tahunnya.


“Yes.” Gita kembali menyelusup untuk


keluar dari kerumunan. Dia berlari mencari Gilang ke kelasnya.


“Kak Gilang!” teriak Gita sambil berlari


cepat ke arah Gilang yang sedang ngobrol dengan Bayu dan beberapa sahabatnya. Gita


langsung mencium pipi Gilang lalu memeluknya erat.


“Wooaaah...”seru Bayu dan yang lain.


Gilang mengkode agar mereka pergi agar Gita tidak malu saat sadar dengan apa


yang dia lakukan.  Bayu mengajak yang


lain agar meninggalkan Gita dan Gilang.


“Ada apa? kenapa sesenang ini?” Gilang


memeluk Gita dengan  tangan kirinya  sedangkan tangan kanannya mengusap lembut


rambut Gita.


“Usaha gue selama ini tidak sia-sia.”


Gita mendongakkan kepalanya.


“Usaha apa?”


“Usaha untuk tidak keluar main, dan


hanya menemani Kak Gilang belajar. Menuaikan hasil yang luar biasa.” Kata Gita.


“Oiya.. bagaimana hasilnya.” Kata Gilang


tanpa rasa penasaran sedikitpun dengan hasil ujiannya.


Gita melepaskan pelukannnya, “Kak Gilang


belum lihat hasilnya?” Gita mengerutkan keningnya. Gilang menggeleng sambil


tersenyum.


“Wah.. ternyata gue yang terlalu


antusias. Semenjak awal ujian gue sudah panik. Ternyata Kak Gilang santai


saja.” Gita menggelengkan kepalanya.


Gilang tesenyum, “Kesini sama siapa?”


tanya Gilang.


“Sama Fara,Raka, Anita dan Vian.”


“Dimana mereka?” tanya Gilang.


“Entah, Gita langsung lari aja


meninggalkan mereka.” Gita meringis.


“Lo tu ya, kebiasaan banget. Ya udah


kita cari mereka.”


Gilang menggandeng tangan Gita untuk


mencari sahabat-sahanatnya. Dan Gilang langsung menuju ke kantin. Karena kantin


adalah tempat favorit mereka saat ada di sekolah.


“Gilang, Gita!” teriak Raka sambil


melambaikan tangan. Gilang membalas lambaian tangan Raka lalu menghampirinya.


“Selamat ya Kak Gilang atas kelulusan


dengan nilai tertinggi.” Fara menyelamati Gilang.


“Iya, nilainya sempurna.” Anita sangat


antusias.


“Terima kasih, kalian jangan terlalu


memuji seperti itu. Kasian kan kalau kedengeran orang yang nilainya di bawah


gue. Bisa-bisa down.” Gilang melirik ke arah Bayu sambil tersenyum mengejek.


“Terus aja ngeledek gue.” Kata Bayu


sewot.


“Nilai Kak Bayu juga keren loh, masih


berada di urutan sepuluh besar.” Gita memuji Bayu.


“Jangan terlalu membicarakan orang lain,


bicarakan saja nasib kita nanti. Apa bisa masuk ke sepeuluh besar.” Kata Vian.


“Ya tentu saja, tidak.” Kata Gita dengan


penuh semangat yang di akhiri dengan kata-kata yang menjatuhkan. Gita tertawa,


dia meledek dirinya sendiri dan juga sahabatnya yang nilainya dibawah


rata-rata. Gita sadar diri mau beljar sampai jungkir balik dan mimisan juga


mustahil tiba-tiba bisa ikut sepuluh besar. Paling tidak dia hanya akan di


posisi lima puluh besar saja itu sudah sangat bahagia.


“Gue kira bakalan optimis bisa.” Nyinyir


Anita.


“Ya kan jadi orang harus sadar diri,


sadar posisi. Jangan terlalu menekan buat enjoy saja. Iya nggak Far.”


“Yoi.” Sahut Fara, dia setuju seratus


persen dengan ucapan Gita.


“Dasar pikiran orang-orang nggak maju.”


“Oiya, kalian berdua daftar kuliah


dimana?” tanya Raka.


“Gue ke jogja.” Kata Bayu.


“Wah.. ada yang bakalan ldr jauh nih.”


“Hati-hati patah hati Nit, di jogja


ceweknya cantik-cantik loh. Nanti kalau pacar lo kecantol cewek sono.” Vian


ikut menggoda Anita.


“Ck, kalian tuh nggak usah ngomporin gue


kayak begitu. Kak Bayu juga nggak bakalan ngelakuin itu kan.” Anita menatap


Bayu lekat.


“Tenang sayang, gue bakalan jaga hati,


jaga mata kali. Dan gue tunggu kedatangan lo di jogja.” Bayu merangkul Anita.


“Lo rencana mau kuliah ke jogja juga


Nit?” tanya Gita.


“Iya, kita akan berjuang sama-sama


disana.” Kata Anita.


“Wah keren.”  Gita mengancungkan dua jempol di ikuti Fara


dan Vian.


“Kalau lo Kak, jadi mau kuliah dimana?”


tanya Anita.


“Belum tahu.” Jawab Gilang dengan


santai.


“Lo belum menentukan juga?” tanya Raka.


“Gilang mah, nggak perlu buru-buru


banyak universitas yang mau menerimanya. Tinggal masuk saja, bahkan tuh ke


Australia juga tinggal kasih formulir jalan.” Jelas Bayu.


Gita melihat ke arah Gilang, sebenarnya


dia ingin tahu apa rencana Gilang setelah lulus. Tapi dia takut untuk bertanya,


takut membikin mood Gilang jelek.


“Sudah-sudah kita lupakan masalah kalian


masuk ke universitas, gimana untuk merayakan kelulusan kalian kita pergi


karaoke.” Raka memberikan ide.


“Ide bagus, sekalian buat salam


perpisahan Kak Bayu yang mau ke jogja.” Kata Fara.


“Gimana Kak?” Gita menanyakan kepada


Gilang.


“Gas.” Kata Gilang.


Sesampai di tempat karaoke mereka heboh


bernyanyi, namun malam ini Gita hanya duduk diam. Dia melihat ke arah Gilang


yang sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya.


“Git, lo kenapa?” tanya Fara. Gita


menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


“Lo sakit?” Fara memegang kening Gita.


“Nggak, gue nggak apa-apa.”


“Terus kenapa lo diam saja, lo lagi


nggak ada masalah kan?” Fara terus bertanya agar Gita mau jujur padanya.


“Lo tahu sendiri kan setiap ada masalah


gue selalu cerita sama lo.”


“Terus kenapa lo sekarang diam saja,


nggak mau nyanyi juga. Biasanya lo sangat heboh.”


“Ok..ok, gue bakalan nyanyi mana


mixnya.” Gita meminta mix kepada Fara.


“Gitu dong.” Fara memberikan mix kepada


Gita. Mereka berdua kemudian berduet nggak jelas.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh


malam, mereka pun pulang dengan mengantar pasangan masing-masing.


“Ini gue balik sendirian.” Kata Vian.


“Lo mau di anterin juga?” tanya Raka.


“Ya kalau nggak ada yang dianterin,


seenggaknya anterin gue pulang kek.” Ujar Vian.


“Noh anterin satpam pulang, atau kalau


nggak tuh abang parkir lo anteri pulang.” Tunjuk Bayu.


“Tega sekali. Hati-hati lo Bay, ntar lo


pergi gue tikung si Anita.” Vian menggoda bayu.


“Coba aja kalau bisa.” Bayu menantang.


“Siapa takut, jangan salahkan gue ya


kalau nanti Anita pacarannya sama lo tapi nikahnya sama gue.” Vian berkacak


pinggang sambil ketawa puas.


“Enak aja.” Anita memukul Vian dengan


tasnya.


“Ini mulut satu kita sumpal aja pakai


bom, biar nggak bisa ngomong lagi.” Kata Fara geregetan.


“Jangan nanti dia punah, cowok modelan


dia kan tinggal dia doang.” Kata Gilang sambil tertawa.


“Sialan, dikiranya gue manusia purba.


Raka belain gue kenapa, diem aja dari tadi pacar lo di hina.”


“Idih.. amit-amit. Guys, buruan pulang


tinggalkan manusia gila satu ini.” Raka mengandeng Fara membawanya ke mobil.