
Gita berlari ke papan pengumuman untuk
melihat hasil ujian milik Gilang. Dia sudah tidak sabar melihat peringkat dari
Gilang.
“Permisi..permisi.” Gita menyelusup
diantara kerumunan orang-orang. Sesampai di depan dia memjamkan matanya
sebentar lalu membukannya lebar-lebar. Bibirnya langsung tersenyum lebar melihat
posisi Gilang yang tak pernah geser di setiap tahunnya.
“Yes.” Gita kembali menyelusup untuk
keluar dari kerumunan. Dia berlari mencari Gilang ke kelasnya.
“Kak Gilang!” teriak Gita sambil berlari
cepat ke arah Gilang yang sedang ngobrol dengan Bayu dan beberapa sahabatnya. Gita
langsung mencium pipi Gilang lalu memeluknya erat.
“Wooaaah...”seru Bayu dan yang lain.
Gilang mengkode agar mereka pergi agar Gita tidak malu saat sadar dengan apa
yang dia lakukan. Bayu mengajak yang
lain agar meninggalkan Gita dan Gilang.
“Ada apa? kenapa sesenang ini?” Gilang
memeluk Gita dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengusap lembut
rambut Gita.
“Usaha gue selama ini tidak sia-sia.”
Gita mendongakkan kepalanya.
“Usaha apa?”
“Usaha untuk tidak keluar main, dan
hanya menemani Kak Gilang belajar. Menuaikan hasil yang luar biasa.” Kata Gita.
“Oiya.. bagaimana hasilnya.” Kata Gilang
tanpa rasa penasaran sedikitpun dengan hasil ujiannya.
Gita melepaskan pelukannnya, “Kak Gilang
belum lihat hasilnya?” Gita mengerutkan keningnya. Gilang menggeleng sambil
tersenyum.
“Wah.. ternyata gue yang terlalu
antusias. Semenjak awal ujian gue sudah panik. Ternyata Kak Gilang santai
saja.” Gita menggelengkan kepalanya.
Gilang tesenyum, “Kesini sama siapa?”
tanya Gilang.
“Sama Fara,Raka, Anita dan Vian.”
“Dimana mereka?” tanya Gilang.
“Entah, Gita langsung lari aja
meninggalkan mereka.” Gita meringis.
“Lo tu ya, kebiasaan banget. Ya udah
kita cari mereka.”
Gilang menggandeng tangan Gita untuk
mencari sahabat-sahanatnya. Dan Gilang langsung menuju ke kantin. Karena kantin
adalah tempat favorit mereka saat ada di sekolah.
“Gilang, Gita!” teriak Raka sambil
melambaikan tangan. Gilang membalas lambaian tangan Raka lalu menghampirinya.
“Selamat ya Kak Gilang atas kelulusan
dengan nilai tertinggi.” Fara menyelamati Gilang.
“Iya, nilainya sempurna.” Anita sangat
antusias.
“Terima kasih, kalian jangan terlalu
memuji seperti itu. Kasian kan kalau kedengeran orang yang nilainya di bawah
gue. Bisa-bisa down.” Gilang melirik ke arah Bayu sambil tersenyum mengejek.
“Terus aja ngeledek gue.” Kata Bayu
sewot.
“Nilai Kak Bayu juga keren loh, masih
berada di urutan sepuluh besar.” Gita memuji Bayu.
“Jangan terlalu membicarakan orang lain,
bicarakan saja nasib kita nanti. Apa bisa masuk ke sepeuluh besar.” Kata Vian.
“Ya tentu saja, tidak.” Kata Gita dengan
penuh semangat yang di akhiri dengan kata-kata yang menjatuhkan. Gita tertawa,
dia meledek dirinya sendiri dan juga sahabatnya yang nilainya dibawah
rata-rata. Gita sadar diri mau beljar sampai jungkir balik dan mimisan juga
mustahil tiba-tiba bisa ikut sepuluh besar. Paling tidak dia hanya akan di
posisi lima puluh besar saja itu sudah sangat bahagia.
“Gue kira bakalan optimis bisa.” Nyinyir
Anita.
“Ya kan jadi orang harus sadar diri,
sadar posisi. Jangan terlalu menekan buat enjoy saja. Iya nggak Far.”
“Yoi.” Sahut Fara, dia setuju seratus
persen dengan ucapan Gita.
“Dasar pikiran orang-orang nggak maju.”
“Oiya, kalian berdua daftar kuliah
dimana?” tanya Raka.
“Gue ke jogja.” Kata Bayu.
“Wah.. ada yang bakalan ldr jauh nih.”
“Hati-hati patah hati Nit, di jogja
ceweknya cantik-cantik loh. Nanti kalau pacar lo kecantol cewek sono.” Vian
ikut menggoda Anita.
“Ck, kalian tuh nggak usah ngomporin gue
kayak begitu. Kak Bayu juga nggak bakalan ngelakuin itu kan.” Anita menatap
Bayu lekat.
“Tenang sayang, gue bakalan jaga hati,
jaga mata kali. Dan gue tunggu kedatangan lo di jogja.” Bayu merangkul Anita.
“Lo rencana mau kuliah ke jogja juga
Nit?” tanya Gita.
“Iya, kita akan berjuang sama-sama
disana.” Kata Anita.
“Wah keren.” Gita mengancungkan dua jempol di ikuti Fara
dan Vian.
“Kalau lo Kak, jadi mau kuliah dimana?”
tanya Anita.
“Belum tahu.” Jawab Gilang dengan
santai.
“Lo belum menentukan juga?” tanya Raka.
“Gilang mah, nggak perlu buru-buru
banyak universitas yang mau menerimanya. Tinggal masuk saja, bahkan tuh ke
Australia juga tinggal kasih formulir jalan.” Jelas Bayu.
Gita melihat ke arah Gilang, sebenarnya
dia ingin tahu apa rencana Gilang setelah lulus. Tapi dia takut untuk bertanya,
takut membikin mood Gilang jelek.
“Sudah-sudah kita lupakan masalah kalian
masuk ke universitas, gimana untuk merayakan kelulusan kalian kita pergi
karaoke.” Raka memberikan ide.
“Ide bagus, sekalian buat salam
perpisahan Kak Bayu yang mau ke jogja.” Kata Fara.
“Gimana Kak?” Gita menanyakan kepada
Gilang.
“Gas.” Kata Gilang.
Sesampai di tempat karaoke mereka heboh
bernyanyi, namun malam ini Gita hanya duduk diam. Dia melihat ke arah Gilang
yang sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya.
“Git, lo kenapa?” tanya Fara. Gita
menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Lo sakit?” Fara memegang kening Gita.
“Nggak, gue nggak apa-apa.”
“Terus kenapa lo diam saja, lo lagi
nggak ada masalah kan?” Fara terus bertanya agar Gita mau jujur padanya.
“Lo tahu sendiri kan setiap ada masalah
gue selalu cerita sama lo.”
“Terus kenapa lo sekarang diam saja,
nggak mau nyanyi juga. Biasanya lo sangat heboh.”
“Ok..ok, gue bakalan nyanyi mana
mixnya.” Gita meminta mix kepada Fara.
“Gitu dong.” Fara memberikan mix kepada
Gita. Mereka berdua kemudian berduet nggak jelas.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh
malam, mereka pun pulang dengan mengantar pasangan masing-masing.
“Ini gue balik sendirian.” Kata Vian.
“Lo mau di anterin juga?” tanya Raka.
“Ya kalau nggak ada yang dianterin,
seenggaknya anterin gue pulang kek.” Ujar Vian.
“Noh anterin satpam pulang, atau kalau
nggak tuh abang parkir lo anteri pulang.” Tunjuk Bayu.
“Tega sekali. Hati-hati lo Bay, ntar lo
pergi gue tikung si Anita.” Vian menggoda bayu.
“Coba aja kalau bisa.” Bayu menantang.
“Siapa takut, jangan salahkan gue ya
kalau nanti Anita pacarannya sama lo tapi nikahnya sama gue.” Vian berkacak
pinggang sambil ketawa puas.
“Enak aja.” Anita memukul Vian dengan
tasnya.
“Ini mulut satu kita sumpal aja pakai
bom, biar nggak bisa ngomong lagi.” Kata Fara geregetan.
“Jangan nanti dia punah, cowok modelan
dia kan tinggal dia doang.” Kata Gilang sambil tertawa.
“Sialan, dikiranya gue manusia purba.
Raka belain gue kenapa, diem aja dari tadi pacar lo di hina.”
“Idih.. amit-amit. Guys, buruan pulang
tinggalkan manusia gila satu ini.” Raka mengandeng Fara membawanya ke mobil.