Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Persiapan


Gita berusaha keluar saat Lila sudah


meninggalkan ruangan Gilang, baru keluar kepalanya Lila masuk lagi hingga dia


kembali mendekam di bawah meja.


“Ada apa lagi Lila?” tanya Gilang.


“Saya lupa kalau nanti setelah makan


siang, bapak ketemu clien.” jelas Lila.


“Iya Lila, apa pemainnya masih disini


aku pingin ketemu sama mereka.” Kata Gilang.


“Masih Pak, saya antar bapak.” Kata


Lila.


“Baik.” Gilang jongkok, dia menarik dagu


Gita kemudian mencium cepat bibir Gita. Respon Gita hanya mendelik karena


Gilang berani menciumnya meskipun ada Lila.


“Setelah aku pergi kamu buruan keluar.”


Gilang mengusap kepala Gita lalu berdiri dan beranjak pergi.


“Maaf Pak, apa ada masalah di bawah?”


Lila cemas Gilang jongkok terlalu lama.


“Tidak, ayo tunjukan artisnya yang


berperan untuk film kita.” Gilang mengajak Lila buru-buru keluar. Dia tidak


membiarkan Lila mengecek area meja kerjanya.


Sepanjang jalan Gilang tersenyum,


wajahnya sangat sumringah. Mood pagi ini sangat bagus, wajahnya pun tidak


terlihat datar dan cuek namun terlihat sangat manis.


“Maaf Pak, kalau saya lancang bapak pagi


ini terlihat sumringah dan semangat.’ Kata Lila.


“Iya, karena aku baru sama mendapatkan


vitamin, jadi saya akan semangat sampai malam.” Jawab Gilang sambil senyum-senyum mengingat ciumannya bersama Gita yang membuat dia ketagihan.


“Apa biasanya saya tidak terlihat


semangat?” tanya Gilang lagi.


“Semangat, namun akhir-akhir ini bapak


lebih semangat lagi, dan mood bapak juga jauh lebih bagus.” Kata Lila jujur.


“Tentu saja bagus, aku bisa melihat


pacarku setiap hari meskipun sebentar.” Batinya sambil tersenyum.


Gita berlari dari ruangan Gilang, dia


masuk ke ruangannya lalu duduk. Dia langsung mengerjakan pekerjaanya. Mulutnya masih tersenyum, wajahya memerah.


“Gita darimana saja kamu?” Tanya Win.


“Itu dari toilet.” Gita menunjuk arah


luar.


“Lo semedi di toilet, lama amat.” Kata


Vian.


“Iya, soalnya lagi cari inspirasi.” Jawab Gita asal. Fara menoleh ke arah Gita, dia meatap dengan penuh curiga.


Fara tersenyum lalu kembali fokus ke laptopnya dia tahu kalau Gita bukan dari


toilet tapi bertemu dengan Gilang.


...♤♡♡♡♤...


Jadwal suting film pendek sudah di


bagikan, dan utuk syutingnya mereka akan keluar kota selama satu minggu. Gita


meminta Gilang menemani belanja barang-barang yang akan di bawanya.


“Kamu baik-baik disana, jangan lupa


kabari aku.” Ucap Gilang mengingatkan Gita. Gita mengangguk dia  sedang sibuk memilih shampo yang akan di bawanya.


“Sayang, kamu dengarin aku nggak sih?”


“Iya sayang, em... lebih baik yang kecil


apa besar?” tanya Gita sambil menunjukan dua shampo ukuran berbeda.


“kecil saja.” Gilang mengambil shampo di


tangan kiri Gita yang ukurannya kecil.


“Tapi kalau yang kecil nggak ada diskon.”


Gita mengambil shamponya dari keranjang kembali membandingkan.


“Kamu beli-beli saja nggak perlu lihat


itu diskon apa nggak, yang penting kamu nggak kerepotan bawanya.” Gilang menagmbil shampo yang besar dan mengembalikannya di rak lagi.


“Ok komandan.” Gita nurut dia kembali


mencari barang-barang yang akan di bawanya lagi.


“Aku butuh masker wajah, biar nggak


kusam kulitku nanti. Pasti aku disana bakalan di bawah terik matahari lama jadi


setelah selesai aku akan pakai biar kembali sejuk. Suncreen, em... apa lagi ya.”


Gita pergi cari skincare. Gilang mengekor saja, dia dengan setia putar-putar


menemani Gita belanja meskipun dia sudah capek tapi dia sama sekali tidak mengeluh.


“Jangan lupa juga cemilan.” Gita banyak


memasukan cemilan di troli, dari banyak barang yang dia butuhkan namun yang


paling banyak cemilan yang Gita masukan. Gilang membiarkan Gita memilih cemilan, dia melipir mencarikan obat-obatan yang pastinya itu di lupakan Gita.


Setelah memasukan semua makanan ringan


di troli Gita baru sadar Gilang tidak ada di belakangnya.


“Iya sayang.” Gilang membawa kotak p3k


ukuran kecil.


“Kak Gilang beli apaan?” Tanya Gita.


Gilang mengangkat kotak p3knya, “kamu


pasti melupakan ini kan.” Kata Gilang, Gita hanya meringis.


“Udah yuk Kak, Gita lapar banget.” Gita


pindah ke sebelah Gilang dan bergelendotan.


“Ya udah bayar dulu.” Kata Gilang sambil


mendorong troli sampai di dekat kasir. Gita berdiri di belakang Gilang.


“Sstt, lihat deh itu cowok ganteng


banget.” Kata cewek yang sedang antri di depan Gilang dan Gita.


“Benar, ih.. bikin klepek-klepek.


Jantung gue rasanya mleyot banget,gantengnya kayak artis tahu nggak. Wajah putih, pakai


topi dan kacamata hitam gitu buuueeh... demagenya tuh sampai ke ulu hati.” Jawab temannya.


“Ajak kenalan.”


“Takut ah.. biasanya cowok ganteng tuh


sudah ada pawangnya.”


“Kalau lo nggak mau biar gue saja yang


kenalan, tapi lo jangan iri ya kalau gue bisa mendapatkannya.” Kata cewek itu.


"Nggak bakalan deh gue iri, orang modelan kayak gue mah tahu diri dan cukup halu saja." jawab temannya.


Cewek itu berjalan mendekati Gilang, dia


memudurkan rambutnya di belakang telinga dan siap meluncurkan aksinya.


Memberikan senyuman yang sangat manis untuk menggoda Gilang. Namun Gita yang


tahu modus cewek itu langsung menggandeng tangan Gilang dan bergelendotan.


“Sayang, anak kita mau es cream.” Gita


mengelus perutnya. Gilang melongo mendengar ucapan Gita.


“Ih.. anak kita mau es cream.” Gita


meraih tangan Gilang dan mengusapkan di perutnya.  Membuat dua cewek yang ada di deannya malu, dan putus harapan ingin berkenalan dengan Gilang.


“Gue udah bilangkan kalau cowok cool


kayak gitu sudah ada pawangnya." bisiknya lalu dijaknya pergi karena malu.


“Kamu kenapa?” tanya Gilang.


“Mengusir pelakor.” Jawabnya sambil


tersenyum dan terus menggandeng tangan Gilang.


Setelah membayar makanannya, Gita dan


Gilang pergi makan. Gita menyuruh Gilang duduk, dan dia yang akan memesan


makanaya, dia melihat Gilang yang sangat capek.


“Kak Gilang mau makan apa? Biar Gita


pesankan.” Kata Gita.


“Kamu duduk saja, biar aku yang pesan.”  Gilang justru menyuruh Gita duduk dan dia


yang akan memesan.


“Nggak usah, Kak Gilang terlihat capek


gitu. Sekali-kali aku pesan untuk kamu.”


“Baiklah, aku mau nasi goreng saja, sama


lemon tea.”


“Ok.” Gita mengangkat dua jempol.


Sedang asyik makan sambil ngobrol, Gita


melihat ada Win lewat.  Dia langsung


panik mau kabur tapi Win sudah dekat Gita langsung menundukan kepalanya.


“Ada apa?” tanya Gilang.


“Gita lihat Mas Win.” Ucapnya. Gilang


menoleh, dia melihat Win yang sedang memesan makanan. 


Gilang melepaskan topi di kepalanya danmemakaikan di kepala Gita, dia mengambil kacamata hitamnya.


“Pakai kacamatanya.” Kata Gilang. Gita


buru-buru memakai kacamatanya.


“Bos, makan juga?” Win membawa nampan


berisikan pesanannya. Sejak datang dia ingin me yapa takutnya bukan bosnya, jadi dia memesan makanan dulu jadi saat dia cek dan yang duduk itu bukan bosnya nggak malu-maluin.


Win kepo dengan orang yang duduk di depan Gilang. Gita menundukan kepalanya sembari menurunkan topinya agar Win tidak melihat


wajahnya.


”Iya, sendiri kamu?” Gilang mengalihkan


perhatian Win.


“Sama Ina dan Nino, sebentar lagi mereka


datang. Bos siapa dia pacar ya?” bisik Win.


“Ehm.. iya kenapa?”


“Nggak bos, kayak kenal.”


“Sok kenal kamu, saya balik dulu.”


Gilang berdiri dia menggandeng tangan Gita. Gita terus menunduk dan berjalan


seddikit di belakang Gilang agar wajahnya tertutup Gilang.


“Sepertinya tidak asying


tapi siapa ya.” Win menggaruk-garuk kepalanya.