
Gita mencuri pandang terhadap Devan yangsedang asik bercanda dengan teman-teman. Dia tidak menyangka orang yang dianggapnya selama ini orang yang sangat baik ternyata menyakitinya. Bahkan mengeluarkan kata-kata yang sangat merendahkan dirinya. Raka menarik dagu Gita agar melihat ke depan.
“Nggak usah dilihatin aja, lo kan sekarang sedang dekat sama Gilang jadi focus sama dia.” Kata Raka.
“Gue masih nggak nyangka saja.” Katanya sambil tertunduk.
“Kan gue juga udah pernah bilang kalau Gilang itu yang terbaik buat lo.” Raka menasehati Gita.
“Jadi Gilang sama Gita udah jadian?” Fara membalikan badan.
“Beneran Git?” Anita juga ikut kepo. “Ah.. pantesan dia tadi mau ngajarin kita bikin tugas ternyata kalian udah jadian.” Anita heboh.
“Kenapa pada heboh sih, orang belum jadian.” Kata Gita.
“Tapi kan sedang menuju ke jalan yang benar.” Kata Fara lalutertawa.
“Lo kira gue berada di jaalan sesat.” Gita menyentil Kening Fara.
...◇◇◇◇◇...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi Gilang sudah berada di samping pintu kelas Gita.
“Kak Gilang, cari Gita ya?” tanya Fara yang keluar lebih dulu di bandingkan yang lain. Gilang mengangguk.
“Gita, dicari Kak Gilang!” teriak Fara keras-keras dari ambang pintu. kemudian dia kembali ke dalam.
Gita yang masih menyalin tugas yang di berikan guru mengangkat kepalanya, dia melotot kearah Fara yang sedang berjalan ke arahnya lalu menoleh ke sekeliling karena semua murid yang belum keluar kelas menatapnya termasuk Devan.
“Fara, awas ya lo.” Ancam Gita pelan. Fara nyengir.
“Tuh.. di tunggu pacar mau dianterin pulang.” Goda Anita.
“Apaan sih.” Wajah Gita merona karena malu.
“Udah buruan sana, kasihan nungguin lama.” Raka ikut menggoda Gita.
“Apaan sih lo Ka.” Gita belum mau beranjak dan eneruskan menyelesaikan tugasnya.
Karena menunggu lama Gilang langsung masuk dia duduk di samping Anita berhadapan dengan Gita. Gita nggak berani mengangkat kepalanya. Dia terus menunduk dan tangannya menulis.
“Masih lama ya?” tanya Gilang.
“Nggak udah selesai kok.” Jawab Fara. Fara mengambil bolpoin yang di bawa Gita dan menutup bukunya.
“Ajak dia kemana aja deh, tapi ingat harus di bahgiain atau lo akan berurusan sama gue kalau sampai menyakiti Gita.” Ucap Raka keras-keras agar terdengar oleh Devan.
“Pasti gue akan bahagiain Gita. Dan kali ini gue mau bawa lo juga.” Kata Gilang.
“Gue?” Raka menunjuk dirinya sendiri, dahinya mengerut karena heran kenapa harus mengajaknya.
“Kalau gue boleh ikut nggak Kak?” tanya Fara ragu-ragu sambil melihat Gilang dan Gita.
"Lo kenapa celamitan amat sih, mereka mau kumpul keluarga." Anita menyentil kening Fara.
“Boleh, kalian berdua ikut aja. Justru bakalan rame kalau ikut.” Jawab Gilang sambil senyum.
"Beneran nih kita berdua boleh ikut? nggak mengganggu?"
"Nggak, ayo buruan jalan." Ajak Gilang.
Devan menatap lekat kepergian Gita, Raka, Gilang dan Anita. Dia kemudian tersenyum sinis.
"Mau balas dendam sama gue, nggak ngaruh gue juga nggak bakal suka sama cewek macam lo." Gumam Devan.
Fara menggandeng lengan Gita, "Eh.. kita mau di ajak kemana nih?"
"Nggak tahu." jawab Gita datar.
"Masa lo nggak tahu." Fara nggak percaya.
"Kepo banget sih lo Ra, lagian udah untung kan di bolehin ikut." omel Anita.
"Ya kan gue penasaran." Fara manyun karena diomelin Anita terus.
"Dia nggak bilang apa-apa tadi, cuman jemput aja pas berangkat sekolah." jelas Gita.
"Em.. lo emang beneran dekat atau cuma bikin Devan cemburu doang sih?" tanya Anita serius.
"Nggak tahu."
"Lo jangan kayak gitu, kasian tahu Kak Gilang kalau sampai di buat mainan." Anita menasehati Gita.
"Apaan sih lo, lagian siapa juga yang mainin dia. Gue itu baru berteman. Gue juga belum tahu sama perasaan gue sendiri. Bahkan gue nggak berniat untuk balas dendam sama Devan. Gue masih malah memikirkan tentang cinta." Jelas Gita panjang lebar.
"Gita, Anita, Fara... kalian mau jadi pergi apa mau gibah di situ?" seru Raka.
"Ah.. iya..iya." Anita menarik Gita.
...◇◇◇◇◇...
Gita merasa jalan yang di lewati tidak asing. Dia seperti pernah melewatinya.
"Apa kita mau ke rumah lo Kak?" tanya Gita.
"Iya, Kak Andini mengundang kalian makan setelah pulang sekolah." Jelas Gilang.
"Wah.. lo udah dapat lampu hijau dari kakak ipar dong." Bisik Fara.
"Sstt.. lo jangan brisik." Anita mengomeli Fara lagi.
"Kak Andini, memangnya ada acara apa?" tanya Gita penasaran kenapa kakaknya Gilang mengundang dirinya.
"Katanya kangen sama lo, dia suka sama lo." Gita langsung terdiam mendengar ucapan Gilang. Hatinya tiba-tiba merasa tersanjung karena ada orang yang bukan keluarganya bisa tulus sayang sama dia.
Mobil Gilang terparkir rapi di depan rumahnya, dia sengaja tidak memasukan ke garasi agar lebih mudah saat mengantar pulang Gita, Raka dan juga Anita.
"Ayo masuk." ajak Gilang.
"Wah.. rumah Kak Gilang benar-benar keren." Ujar Anita kagum.
"Jangan malu-maluin lo Nit," bisik Fara.
"Yang ada lo kali yang jangan malu-maluin, jaga sikap nanti biar lampu hijau dari keluarga Gilang nggak berubah jadi merah."
"Lo kenapa dari tadi ngomel mulu, lo kata gue biang masalah apa?"
"Iya emang."
"Kalian jangan pada berantem terus kenapa? Nanti gue suruh kalian pulang baru tahu rasa."
"Sadis." jawab Anita sama Fara bersamaan.
Gilang membuka pintu lalu menyuruh teman-temannya masuk. Dia langsung masuk ke kamarnya untuk berganti baju lalu memanggil kakaknya.
"Kak, Gita sudah datang." Panggil Gilang di depan pintu kamar Andini.
"Ok..ok.. Kakak segera turun." Jawab Andini dengan sumringah.
Andini yang tak sabar ketemu Gita turun tangga sedikit berlari.
"Hai Adik ipar, sudah lama nggak kesini. Kaka kangen tahu." Andini langsung memeluk Gita.
"Hehe.. Gita juga kangen."
"Ini siapa?"
"Ini Anita, Fara teman sekelas Gita. Sama Raka sepupu Gita." Gita memperkenalkan teman-temannya.
"Hai.."
"Hai Kak."
"Oh.. jadi ini orang yang suka di cemburuin sama Gilang." Andini menatap Gilang.
"Apaan sih Kak, jangan buka kartu di depan mereka kenapa."
"Hhm mungkin karena kegantengan gue melebihi Gilang jadi dia cemburu." Raka tertawa.
"Pede banget lo, gantengan juga Kak Gilang." Fara bergidik.
"Udah-udah jangan pada berantem, sekarang kita makan dulu yuk gue tahu kalau kalian itu pada lapar." ajak Andini.