Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menunggu Panggilan


Gita duduk bersila sembalri melihat


ponselnya, dia menunggu panggilan atau pesan dari perusahaa Gilang.  Dia sangat berharap bisa masuk ke perusahaan


Gilang seperti cita-citanya dulu, dan biar bisa selalu dekat dengan Gilang.


“Ta, ngapain lo ngelihatin hp mulu?”


tanya Qila yang baru saja pulang.


“Nungguin telepon.” Jawab Gita tanpa


merubah fokusnya.


“Telpon siapa, kayak penting banget.”


Qila duduk di samping Gita.


“Dari perusahaan, Gita kan tadi udah


ikut wawancara.” Jawabnya sembari menoleh sebentar lalu kembali lagi melihat


ponselnya.


“Tunggu saja beberapa hari, kalau tadi


wawancaranya panggilannya nunggu beberapa hari nggak langsung.” Kata Qila.


“Begitu ya?”


“Em, Kakak ke atas dulu ya.”


“Iya kak.”


Gita masih ngeyel, dia masih


mondar-mandir mrnunggu panggilan kerjanya. Setelah capek mondar-mandir dia


tiduran dan mengangkat ponselnya.


“Sayang, ngapain?” Tanya Wanda saat


keluar kamar dan melihat putrinya sangat cemas.


“Gita nungguin panggilan kerja Ma.”


“Kamu mau kerja sama mama saja nggak,


langsung masuk nggak perlu kamu ikut wawancara.” Kata Wanda. Dia ingin salah


satu anaknya itu memegang perusahaanya nanti saat dia dan Seno pensiun namun


mereka semua tidak mau. Justru memilih jalannya masing-masing.


“Nggak mau, Gita kan maunya masuk ke


perusahannya Kak Gilang.” Jawab Gita sambil duduk. “Do’ain Gita ya Ma, nanti


kalau Gita keterima dan gajian kita bakalan ajak mama jalan-jalan pakai uang


Gita.” Gita nyengir.


“Tanpa diminta mama selalu do’ain kamu,


Kak Genta dan juga Kak Qila. Anak mama sudah besar-besar ya.” Wanda memeluk


Gita. Rasanya waktu berputar sangat cepat, seperti baru kemarin mereka masih


berlari-lari di ruang tamu, bertengkar karena berebutan mainan, Gita yang terus


merengek di belikan es krim. Kini sudah tumbuh dewasa dan bisa membelinya sendiri.


“Mama kenapa menangis sih?” tanya Gita.


“Nggak apa-apa sayang, mandi sana gih


udah malam juga belum mandi.” Wanda mengelus kepala Gita.


“Nanti kalau Gita mandi ada telpon


gimana?”


“Nggak usah banyak alasan, orang disuruh


mandi kok susah amat. Buruan nanti  turun


untuk makan malam.” Kata Wanda.


“Ya Ma.”


Gita langsung mengambil handuk dan


segera mandi, dia juga ikut membawa ponselnya ke dalam kamar-mandi takutnya ada


yang menelpon dan dia tidak dengar. Hari ini Gita mandi dengan sangat cepat,


dia tidak mau membuang waktu di kamar madi. Dia ingin duduk dan melihat


ponselnya.


Deeerrrtz....deeerrrtzzzz.....deerrtzzzz....


Ponselnya berdering Gita baru saja


selesai mandi langsung membalut tubuhnya dengan handuk.


“Ah.. kak Gilang aku kira panggilan


kerja.” Katanya sambil menggeser tombol hijau.


“Haloo sayang.” Sapa Gita.


“Sayang, kamu lagi ngapain kayak berisik


gitu.”


“Lagi di kamar mandi, Gita lupa matiin


kran.” Jawabnya sambil mematkan krannya.


“Kamu lagi mandi?”


“Udah selesai, baru saja selesai.” Jawab


Gita sambil keluar kamar buat ganti baju.


“Kamu kenapa ngeyel banget sih, kan aku


sudah bilang jangan bawa hp kalau mandi.”  Omel Gilang. Dia takut kejadian lalu terulang lagi, dia takut aset Gita


di lihat orang lain selain dirinya.


“Iya Gita sedang menunggu panggilan,


mana lama lagi.”


“Panggilan siapa sih? Kayak penting


banget. Kamu selingkuh?” tanya Gilang.


“Ih ngomong apaan sih, aku menunggu


panggilan kerja. Tadi aku sudah memasukan lamaran kerja di perusaaan kamu


bareng Fara dan Vian.” Jelas Gita.


“Em.. aku kira kamu punya pacar baru.”


“Ngaco, memangnya mau cari yang seperti


apa lagi. Jelas-jelas aku sudah punya segalanya.” Kata Gita.


“Baguslah, kalau gitu aku mau mandi ya.”


Gilang pamit.


“Kita video call.”


“Kamu mau lihat aku mandi?” Gilang


kaget.


“Heheh, nggak nanti habis mandi. Kalau


melihat kamu mandi nanti aku jadi halu.” Jawab Gita sambil tertawa renyah.


“Nakal ya, pikiran kamu mulai


“Ya sudah mandih gih, aku mau gehaluin


oppa-oppa korea dulu aja nugguin kamu mandi. Lov you.” Gita langsung memutus


sambungan teleponnya.


Gita duduk bersila di kasur, dia melipat


ke dua tangannya di dada. Dia membayangkan badan Gilang yang sangat bagus,


pasti sangat keren kalau dia membuka bajunya.


“Ah.. kenapa aku belum pernah melihat


perut kotak-kotak kak Gilang ya.  Pasti


akan sangat keren. Eh.. Gita apa yang lo pikirkan, dasar mesum.” Gita


memukul  pelan kepalanya sambil


cengar-cengir nggak jelas. Gita bergegas ganti baju setelah di panggil mamanya


untuk makan malam.


“Gita, kamu lama sekali sih.” Panggil


Qila.


“Iya, ini juga lagi turun.” Kata Gita.


Gita selesai makan dan siap kembali lagi


ke kamarnya untuk menunggu telpon dari Gilang bukan lagi telpon dari perusahaan


karena sudah malam.


“Mbak, ada Mas Gilang di teras karena


nggak mau di suruh masuk.” Kata Bik Nana.


“bercanda bibik mah, orang Kak Gilang


sebelum Gita turun pamit mandi.” Kata Gita.


“Beneran Mba, masa bibik bohong.”


Gita tersenyum lebar lalu berlari


keluar, dia langsung memeluk Gilang. Gita mengeratkan pelukannya mulai menghalu


seperti tadi. Dia menghirup wangi dari tubuh Gilang yang sangat khas dari


parfumnya.


“Kenapa senyum-senym begitu?” tanya


Gilang.


“Nggak.” Gita kembali mengeratkan


pelukannya. Dia kangen banget seharian belum ketemu Gilang.


“Bagaimana wawancaranya tadi?” tanya


Gilang.


“Rasanya seperti ujian, Gita nggak tahu


jawaban yang aku sampaikan benar atau salah.” Kata Gita.


“Seenggaknya kamu sudah berusaha.”


Gilang memberikan ciuman kecil di keningnya. Dia kemudian melaskan pelukannya.


Mereka berdua duduk di depan teras sembari menikmati malam.


“Kenapa Gita belum mendapatkan panggilan


kerja ya, apa Gita nggak keterima?”


“Kamu kan baru saja wawancara, tunggu


dua sampai tiga hari nanti akan di hubungi.”


“Kalau Gita tidak lolos bagaimana? Apa


Gita bisa menyogok hrd kak Gilang biar aku bisa masuk?” kata Gita sembarangan.


“Heh! Mana boleh curang.” Gilang


menyentil kening Gita pelan.


Gita nyengir sambil meneglus keningnya,


“Gita takut nggak bisa masuk ke sana.” Gita mulai khawatir dia nggak bisa masuk


ke dalam perusahaan Gilang.


“Kamu harus percaya diri dan berpikiran


positif, jangan muda pesimis begini. Nanti kalau kamu nggak boleh berpikir


seperti ini.” Gilang mengelus rambut Gita.


Gilang tidak mau langsung menerima Gita


supaya dia berusaha dulu, dan juga tidak memberikan hak istimewa kepadanya di


perusahaan. Agar dia tetap profesional nanti saat benar-benar di terima. Tapi


lain lagi kalau mamanya tahu Gita memasukan lamaran di perusahaannya pasti akan


langsung menerima tanpa syarat. Dan pasti akan heboh memamerkan dia sebagai


menantunya.


“Tapi Gita beneran takut, saingan Gita


nilai kuliahnya bagus-bagus, bicaranya keren, berbahasa ingris sangat lancar.”


Gita kembali pesimis.


“Kalau kamu memang nggak bisa masuk di


perusahaanku, kamu bisa kok langsung masuk ke daftar kartu keluarga aku.” Canda


Gilang.


“Ih.. gombal. Gita beneran cemas nih.”


“Siapa yang gombal, kalau kamu sudah mau


nikah bilang saja aku akan siap melamar kapanpun.” Kata Gilang membuat wajah


Gita merona.


“Ngomong-ngomong Kak Gilang kok


tiba-tiba kesini ada apa?”


“kangen kamu saja.”


“Oiya Kak, tadi di perusahan kan Gita


sama Fara dan Vian makan di kantin nggak bayar? Apa Kak Gilang yang bayarin?”


tanya Gita. Gilang hanya menjawab dengan senyuman, kemudian mengusap kepalanya.


“Ya sudah sana masuk sudah malam.”


“Sebentar banget mainya?”


“Sudah malam, kamu harus siap-siap buat


besok.” Kata Gilang.


“Memangnya besok mau ngapain, orang


masih nganggur.”


“Ya takut telat nganggurnya.” Goda


Gilang.


“Ish.. Nakal.”