Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Vian-Bella


Vian membenarkan posisi jam tangannya, lalu pergi berlalu meninggalkan


teman-temannya setelah pamit.


“Vian...” Panggil Ina.


“Iya Mbak, ada apa?” Vian menoleh kebelakang.


“Bisa minta tolong anterin Bella pulang nggak?”  Kata Ina sambil menarik Bella ke sebelahnya. Vian melihat Bella, dengan


cepat Bella menundukkan pandangannya.


“Vian, gimana. Soalnya kita semua tidak bisa nganterin pulang. Please lah tolong.”


Kata Ina.


“Ya kalau memang dia mau minta tolong anterin pulang, biar dia saja yang meminta


bukan Mbak Ina. Memangnya nggak punya mulut sampai harus orang lain yang


meminta.” Kata Vian.


“Bell, buruan deh ngomong.” Ujar Ina. Bella menggigit bibir bawahnya, dia mengumpulkan keberanian dalam dirinya. Entah kenapa dia sekarang menjadi takut sama Vian. Padahal dulu dia fans sama Vian karena menolongnya dari Catrin.


“Ok, kalau memang nggak mau ngomong gue cabut dulu.” Kata Vian langsung masuk ke


mobilnya.


‘Bella, buruan susul Vian atau lo mau pulang sendiri naik taksi. Taksi susah loh kalau


malam.” Kata Ina sembari mendorong tubuh Bella.


Tuk..tuk..tuk..


Bella mengetuk kaca jendela mobil Vian. Vian membuka kacanya lalu menatap Bella


dia menunggu Bella ngomong.


“Vian, bisa nggak minta tolong anterin pulang.” Kata Bella dengan sedikit bergetar.


“Naiklah.” Kata Vian sembari menutup kaca mobilnya.


“Hah..songong banget sih ini bocah.” Batin Bella.


Setelah Bella masuk, Vian langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Tidak ada


percakapan di dalam mobil itu. Mereka berdua saling bungkam, hanya musik di


dalam mobil yang membuat mobil lumayan bersuara.


Bella melirik-lirik Vian, dia jadi bingung sendiri mau tidur tidak enak karena dia


numpang, mau ngobrol bingung ngobrol apaan.


Vian berhenti tepat di pantai asuhan tempat Vian mengantar Bella pulang dulu.


“Vian, kok kesini?” tanya Bella.


“Bukankah lo tinggal disini.”


Bella menggeleng dengan cepat, “Gue tinggal di rumah.”


“Kenapa nggak bilang dari tadi.” Kata Vian sembari mengehela napas kasar.


“Kan lo nggak tanya.”


“Ya sudah sekarang alamat rumah lo mana?” Vian langsung memutar balikkan mobilnya.


“Vian...”


“Apa?”


“Kenapa lo jutek banget sih sama gue?” tanya Bella. Dia sudah tidak tahan kalau hanya diam-diam saja.


“Bukannya gue memang seperti ini.” Jawab Vian datar.


“Tidak, lo bisa sangat heboh dan banyak bicara saat sama yang lain terutama Gita dan Fara. Apa lo tidak suka sama gue makanya lo bersikap cuek sama gue.”


“Gue tidak benci sama lo, hanya saja gue tidak suka sama sikap lo. Bahkan lo


terlihat tidak tahu berterima kasih.” Jawab Vian dengan santai tidak memikirkan


perasaan Bella.


“Sikap gue? Apa ada yang salahkah sama sikap gue?”


“Coba saja lo pikir, atau harus kah aku mebeberkan hal yang buat gue membenci sikap lo?” Lirik Vian.


Bella terdiam, dia tidak tahu sikap yang mana yang membuat Vian terlihat sangat


membencinya. Bahkan kalau dia tidak mengajaknya bicara Vian akan diam saja.


“Jadi lo masih tidak merasa bersalah.” Kata Vian. Bella menggeleng pelan, dia masih


bingung dengan ucapan Vian.


“Lo perempuan dan punya perasaan kan?”


“Ya.”


“Kalau lo mengaku mencintai seorang laki-laki yang sudah mau menjadi milik orang lain, apa itu pantas? Dan yang perlu diingat lagi orang itu yang menyelamatkan lo dan menjadikan lo lebih bahagia dengan team yang sekarang. Apa itu terlihat bukan


sebuah kesalahan?” kata Vian panjang lebar.


“Gue tidak bermaksud, gue hanya menjawab tantangan.”


“Menjawab tantang, bagaimana perasaan lo kalau ada seorang cewek menyatakan perasaan cita sama calon suami lo. Bahkan terlihat dengan wajah yang sangat sumringah.”


Bella hanya menunduk dia tidak bisa berkata-kata lagi, ucapan Vian sangat menusuk hatinya.


lo ungkapkan itu akan melukai hati orang lain apa tidak. Dan lo juga harus


melihat efek apa yang akan terjadi. Karena apa, kalau lo sampai salah langkah


lo akan di cap perempuan yang tidak benar dan pastinya akan kehilangan


semuanya. Lagipula kalau memang kamu berhasil merebutnya hanya cacian yang akan lo dapat dan tidak akan tenang hidup lo sampai kapanpun.” Kata Vian panjang


lebar yang membuat Bella kena mental. Dia benar-benar tidak berkutik.


“Apa lo melakukan ini karena mencitai Gita? Tapi cinta lo tidak sampai?”


Vianbtertawa sembari menggelengkan kepala,“Bella-Bella pikiran lo itu terlalu


dangkal. Bukan cinta gue tidak kesampaian, gue Gita, Fara berteman sejak SMA.


Dan kita saling menyayangi satu sama lain. Dan ini rasa sayang gue terhadap


sahabat gue. Bella, menyayangi itu tidak melulu tentang cinta untuk menjadikan


seseorang pasangan hidup.” Vian kembali membungkam Bella sampai dia tidak bisa


membalas perkataan Vian.


“Turun gih, udah sampai rumah lo.” Kata Vian.


“Ah..iya. Makasih.” Bella bergegas turun dari mobil Vian dan berlari masuk ke rumahnya tanpa memintanya untuk mampir.


...♡◇◇♡...


Vian meregangkan lehernya, capek jadi kerja dua kali saat nganterin Bella. Dia


mengambil tasnya dan siap turun namun dia melihat ponsel di bawah.


“Punya siapa ini?” Vian mengambil ponselnya.


“Ah.. si Bella. Ceroboh banget mana nggak ada kunci layarnya lagi.” Kata Vian lalu turun membawa ponselnya.


Vian melemparkan tubuhnya ke kasur bersamaan dengan ponselnya, Vian malas


bersih-bersih dia langsung ingin tidur.


Derrrtzzz..derrrtzz...


ponsel bergetar Vian berdecak lalu mengambilnya.


“Ah.. ini punya Bella.” Ujarnya sambil mau melempar lagi ke sebelahnya namun tertahan saat ada pesan masuk dengan nama Catrin. Vian menjadi penasaran dengan chatan mereka.


“Sorry ya Bell, gue tidak sopan membuka ponsel lo. Tapi felling gue ini sangat kuat


jadi gue buka.” Vian ngomong sendiri sambil membuka chat dari Catrin.


...Catrin...


...Bagaimana hasilnya, apakah kerja lo bagus?...


...Bella...


...Semua lancar...


...Catrin...


...Ok, apa mereka berantem hebat?...


...Bella...


...Lumayan...


...Catrin...


...Bagus, apa lo tadi memastikan Gita pergi sama Devan?...


“Devan? Mereka kenal Devan?” Vian mulanjutkan membalas pesan dari Catrin


...Bella...


...Tadi Devan datang...


...Catrin,kenapa sih lo melakukan ini?...


...Catrin ...


...Diam saja kalau lo mau selamat. Jangan banyak tanya dan lakukan saja....


...Besok gue akan ajak Devan lagi ke cafe, lo ajak Gita datang ke sana. Oiya, kata Fajar...


...Gita sudah memiliki desain baru. Tapi belum di kasih tahu sama dia pasti lo sudah tahu kan?...


“Fajar? Konspirasi macam apa ini? Dua orang yang di selamatkan Gita justru ingin


membunuhnya.” Kata Vian.


...Bella...


...Rencana apa yang ingin kamu lakukan besok?...


...Catrin...


...Ajak saja dia, lo nggak perlu tahu detail rencana ini. Tugas lo hanya membawa Gita...


...ke kafe dekat kantor. Gue tidak mau lo gagal....


...Bella...


...Ok....


“Tidak benar ini.” Vian menggelengkan kepala dia sangat kecewa dengan Bella dan Fajar yang begitu tega menyakiti Gita.