Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Membujuk Gilang


Istirahan kedua berbunyi semua langsung


berhamburan, Raka dan Vian mencari tempat duduk sambil menunggu Gilang dan Bayu datang. Sedangkan Gita, Fara dan Anita sedang memesan makanan.


Mereka berbagi tugas agar tidak lama


memesan makan dan ke habisan tempat duduk di kantin.


“Hai.” Sapa Bayu sambil mengangkat


tangannya. Raka dan Vian membalas dengan mengangkat tangannya.


“Pesanan datang.” Kata Fara sambil


membawa nampan berisikan batagor, mie ayam, bakso dan beberapa pesanan di bawa


Gita dan Anita.


“Tumben gercep aja, kita baru datang


pesanan udah sampai."kata Bayu.


“Iya dong, kita kan punya orang dalam.”


Kata Gita sambil duduk di sebelah Gita.


Mereka menikmati makan siang sambil


bercanda, beberapa bulan ini Gita benat-benar mengguakan waktu dengan sebaik mungkin sebelum Gilang lulus dan akan masuk ke kuliah. Pasti waktunya akan


tersita banyak.


“Lang, beneran lo nggak ambil itu


beasiswa?” tanya Bayu.


“Nggak.” Jawabnya sambil melahab bakso.


“Beasiswa?” Gita menghentikan makannya.


Dia kepo kenapa Gilang tidak mau mengambil beasiswanya.


“Jadi Gilang mendapat beasiswa ke


universitas terbaik di Australia. Tapi dia masih belum mengisi formulirnya.” Jelas Bayu.


“Kenapa nggak di ambil Kak, sayang banget


tahu nggak.” Kata Gita sambil melihat ke arah Gilang.


“Iya Kak, kapan lagi dapat kesempatan


emas kayak begitu.” Tambah Fara.


“Di Jakarta juga masih banyak kan


universitas yang bagus.  Jadi nggak usah


pergi jauh-jauh.” Kata Gilang. Dia enggan membahas beasiswa ke Australia. Sebelum kenal Gita dia sangat ingin pergi ke sana, namun semenjak dia menjadi pacar Gita dia lebih memilih untuk kuliah di Jakarta saja.


“Tapi sayang lo Kak, ambil saja deh


kalau kata gue mah. Ya nggak guys.” Gita bertanya sama yang lain.


“Yes, gue setuju seratus persen. Kapan


lagi kan bisa kuliah ke Australia gratis.” Bayu membenarkan ucapan Gita.


Gilang mengunyah pelan bakso yang ada di


mulutnya, dia melihat Gita lalu mendengus pelan. Raka tersenyum melihat perubahan ekspresi Gilang yang berubah kesal.


“Kalian kenapa nggak pada ngerti sih,


Gilang nggak mengambil beasiswanya karena nggak mau jauh sama Gita.” Jelas


Raka. Gita langsung menoleh ke arah Gilang.


“Ih Kak, kan kita bisa telponan,


whatsapp. Sayang deh kalau nggak di ambil. Ambil aja deh.” Gita membujuk Gilang


untuk mengambil beasiswanya.


Gilang mengambil minum lalu meneguk


sampai setengah. Dia menaruh gelas sedikit keras lalu berdiri meninggalkan yang


lain.


“Eh Kak, mau kemana?” tanya Gita.


“Ke kelas.” Jawabnya tanpa menoleh  ke belakang.


“Kenapa sih buru-buru, emangnya sedang


ada tugas Kak?” Gita bertanya sama Bayu. Bayu menggeleng pelan.


“Git, lo itu nggak peka deh. Kak Gilang


tuh ngambek sama lo.” Kata Anita.


“Kenapa ngambek, memangnya gue salah


apaan?” Gita benar-benar tidak menyadari kesalahanya.


"Adik gue sayang, Gilang itu nggak mau jauh-jauhan sama lo." Kata Raka.


Gita beranjak tanpa menyelesaikan


makannya untuk menyusul Gilang yang sedang ngambek. Gita mendekati Gilang yang sedang di lorong depan kelasnya menatap jauh ke bawah.


Gita mendekati Gilang lalu menggandeng


tangannya, Gilang melepaskan tangan Gita lalu melipat tangannya di dada.


“Kak, jangan marah dong.” Gita meyolek


lengan Gilang. Gilang masih tidak ngambek dia mengabaikan Gita.


“Memangnya salah ya kalau Gita kasih


dukungan buat pacar sendiri buat mendapatkan pendidikan yang terbaik.” Kata Gita pelan-pelan.


mau mendengar Gita yang terus mendorong dirinya untuk pergi.


“Lo kenapa sih menyuruh gue pergi terus,


lo nggak cinta lagi sama gue. Atau lo udah punya cowok lain?” Gilang menatap


Gita tajam, dia curiga kalau Gita memiliki cowok lain.


“Nggak Kak, kenapa mikirnya kayak begitu


sih. Gita itu cuma mau yang terbaik bukan Kak Gilang.”


“Lo mikir yang terbaik buat gue, tapi


nggak memikirkan perasaan gue.”


“Kak, kita kan masih bisa berhubungan


telpon, whatsapp. Jaman sekarang udah canggih bisa komunikasi kapan saja kan.”


Gilang mengehela napas panjang, kenapa


Gita nggak mengerti apa keinginanya. Baginya beasiswa ke Australia sudah tidak


dia butuhkan lagi. Dia hanya ingin bersama Gita, dia bisa mendapatkan semuanya


di indonesia bersamanya.


“Kak.. ngomong dong, jangan diem saja.”


Gita melepaskan lepatan tangan Gilang. Dia menggenggam tangan Gilang.


“Baiklah, Gita nggak akan memaksa Kak


Gilang lagi. Semua keputusan Kak Gilang akan Gita dukung.” Kata Gita sambil


tersenyum manis. Dia sudah berusaha meyakinkan Gilang, tapi dia juga tidak bisa


memaksa Gilang. Karena sesuatu yang di paksakan tidak akan menghasilkan sesuatu


yang baik.


“Benarkah?”


“Ya tentu saja, Kak Gilang pasti tahu


apa yang terbaik buat hidup Kak Gilang dan tentunya buat hubungan kita.” Kata


Gita dengan bijak.


Gilang tersenyum lalu mengelus rambut


Gita, dia senang akhirnya Gita bisa memahami perasaannya.


“Gue anteri ke kelas yuk.” Ajak Gilang.


“Iya.”


Gita masuk ke kelas setelah Gilang


pergi, dia sudah di tunggu Fara  dan


Anita.


“Git, gimana masih marah Kak Gilang?”


tanya Anita. Gita menggelengekan kepalanya pelan.


“Terus gimana tetap nggak mau mengambil


beasiswanya?” Giliran Fara yang bertanya.


“Iya, Kak Gilang kekeh nggak mau pergi.


Dia malah menuduh gue punya cowok lain.” Kata Gita.


“Hah, kadang suka heran sama jalan


pikiran anak pinter. Ada jalan mulus suka nggak di ambil.” Kata Fara.


“Atau mungkin karena kurang tantangan ya


jadi nggak di ambil?”  Gita menatap Fara


dan Anita bergantian.


“Bisa juga tuh, biasanya kalau anak


pinter dan genius tuh sukanya yang ekstrim nggak mau lewat yang aman-aman saja.”


Jawab saja.


“Ah.. biarin saja lah. Pusing gue


jadinya toh Kak Gilang tahu yang terbaik buat dia.”


“Benar juga, perhitungan anak genius itu


suka nggak bisa di prediksi.” Ucap Anita.


“Iya karena anak genius itu mikir kalau


disini ada yang lebih berharga, kenapa harus meninggalkannya.” Sahut Raka.


“Betul. Sesuatu yang membahagiakan akan


lebih enak di jalani daripada yang di paksa. Yang ada stres lagi.” Tambah Vian.


“Kayak lo gila.” Kata Raka sambil


tertawa.


“Enak aja, orang ganteng kayak gue di


katain gila.”


“Apa iya gue sangat


berharga sampai Kak Gilang rela melepas beasiswanya hanya demi dekat sama gue.”


Batin Gita.