Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Jadi Pacar?


Semilir angin siang yang sangat segar, membuat mereka nyaman duduk di teras sambil mainan ponsel.


"Permisi."


"Ya." Jawab serentak Gita dan yang lain.


"Sandra, ada apa?" tanya Raka sambil nyamperin Sandra.


"Nenek ada?"


"Em.. nenek lagi pergi. Ada apa?"


"Oh. Tadi ketemu nenek. Terus katanya suruh nganterin kalian ke tempat yang bagus di desa kami ini."


"Oh. Gimana guys mau jalan nggak?" Raka menanyakan kepada yang lain.


"Emang kakinya usah sembuh?" Tanya Gilang datar.


"Udah kok, gue udah baik-baik saja." Katanya sambil tersenyum. Dia kesenengan, dia pikir Gilang perhatian sama dirinya.


"Oiya San, kenalin ini teman-teman gue. Bayu, Vian, Fara, Anita dan ini adik gue Gita." Raka memperkenalkan semua teman-temannya.


"Hai, gue sandra. Wah.. lo sekarang berubah jadi langsing ya." Sandra mendekati Gita.


"Lo kenal gue?"


"Tentu, kita dulu waktu kecil sering main kan. Ya mungkin lo lupa karena udah lama."


"Em mungkin."


"Ta udah yuk, sekarang gue ajak kalian ke air terjun di desa ini. Tempatnya bagus dan asyik buat mainan air." Kata Sandra.


"Selain air terjun ada apa lagi?" tanya Fara.


"Ada taman bunga, mau ke taman bunga dulu apa mau ke air terjun?" tanya Sandra.


"Taman bunga dulu kali ya." Kata Gita.


"Ok."


Mereka berjalan melewati sawah-sawah untuk menuju ke taman bunga matahari. Bunga matahari yang tumbuh berhektar-hekta terlihat sangat indah. Paduan kuning dan hijau di tambah langit yang cerah menjadikan pemandangan yang luar biasa.


"Ayo kita foto." Fara menarikn tangan Gita dan Anita. Mereka bertiga asyik berfoto-foto. Yang cowok hanya menikmati taman sambil menunggu cewek-cewek puas foto.


Sandra memberikan penjelasan tentang asal mulai taman matahari hingga menjadi tempat wisata. Dan juga dia ingin berdekatan terus sama Gilang. Dia jatuh hati sama Gilang semenjak pertama kali bertemu.


Sandra menjelaskan sambil jalan, kakinya tidak sengaja menginjak batu hingga berdirinya tidak sembang dan hendak jatuh. Gilang yang ada di sampingnya dengan gesit menangkap Sandra.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Gilang. Sandra mengangguk pelan, dia terpesona dengan tatapan Gilang yang sangat manis meskipun tatapan dingin yang di berikan.


"Makasih, lo udah sering menyelamatkan gue." katanya sambil tersenyum malu.


Gita kesal melihat kedekatan Sandra, dia jalan di tengah-tengah antara Sandra dan Gilang. Fara dan Anita ikut menerobos.


Gita berjalan sembarangan, dia terus menikuti jalan setapak.


"Git, tunggu. Lo mau kemana?" Fara dan Anita mengejar Gita.


"Datang darimana sih itu cewek, caper banget sama Kak Gilang." Gita uring-uringan.


"Entah, mana sok cantik lagi."


"Makanya Git, lo buruan jadian sama Kak Gilang biar lo berhak cemburu, ngambek atau marah. Kalau gini lo doang yang sakit hati tanpa dia tahu." Anita menasehati Gita.


"Benar Git, gini aja nanti lo tembak dulu Kak Gilang di air terjun." Fara memberikan saran.


"Masa gue dulu yang nyatain, malu lah gue kan cewek."


"Emansipasi wanita."


"Iya Git, daripada Gilang keburu di samber cewek lain ya nggak Far."


"Hooh."


Gita mulai tak tenang, dia deg-degan tidak karuan. Dia merasa gugup sampai mules rasanya.


"Udah buruan sana bilang sama Kak Gilang."


"Iya, tapi Kak Gilangnya belum sampai."


"Iya, do'ain gue ya."


Gita berbalalik arah, dia ingin mengatakan lebih cepat.


"Raka, Kak Gilang dimana?" tanya Gita saat bertemu dengan Raka, Vian dan Bayu.


"Masih di belakang sama Sandra. Sepertinya sedang ngomong serius." jawab Bayu.


Mendengar jawaban Bayu, Gita langsung lari dia nggak mau keduluan Sandra.


"Gilang, boleh gue ngomong sesuatu?"


"Ngomong saja." katanya datar.


"Semenjak gue ketemu lo gue langsung jatuh cinta. Gue selalu memikirkan lo, gue rasa kehadiran lo di desa ini adalah jawaban gue salam ini. Menjadi malaikat pelindung gue." Sandra memegang tangan Gilang erat.


Namun usaha Gita sia-sia, dia telat. Sandra lebih dulu menyatakan perasaanya kepada Gilang. Gita langsung memutar badannya, dia tidak ingin mendengar jawaban Gilang.


Bayu yang sudah berdiri di belajang Gita langsung menahan tangannya. Dia ingin Gita mendengar kebenarannya.


"Lepasin gue Kak."


"Gita, kalau Gilang menerima cintanya. Mau kah lo jadi pacar gue?"


"Lo ngomong apaan sih?" Gita bingung. Mendengar kebisingan Gilang langsung menoleh, dia melepaskan pegangan tangan Sandra.


Dia berjalan menuju Gita dan Bayu, Gilang menarik tangan Gita dan menarik dalam pelukannya.


"Tidak ada yang boleh memiliki Gita kecuali gue, dan lo Sandra gue nggak peduli perasaan lo. Karena hati gue hanya milik Gita."


Sandra meremas kaosnya, dia kemudian pergi meninggalkan tempat sebelum masuk ke air terjun. Sedangakan Bayu balik lagi bersama Vian dan Raka.


Gilang memeluk semakin erat Gita, dia akan semakin memperhatikan Gita jangan sampai ada yang memilikinya.


"Kak, Gita nggak bisa napas." Kata Gita sambil bergetar.


Gilang melonggarkan pelukannya, dia menatap Gita lekat. Kemudian dia melepaskan pelukannya dengan wajah kesal.


"Lo sengaja ya bikin Bayu jatuh cinta sama lo, atau memang lo suka sama dia." Gilang cemburu. Sudah beberapa hari dia memperhatikan gerak-gerik Bayu.


"Nggak, gue nggak melakukan apa-apa. Dan gue juga nggak suka sama dia."


"Terus lo sukanya sama siapa?" tanya Gilang semakin kesal.


"Sukanya sama lo." Katanya pelan banget. Gilang menatap Gira dengan terkejut.


"Ulangi gue nggak dengar." Sebenarnya dia mendengar samar-samar namun dua ingin memastikan apa yang di terima telingannya tidak salah.


"Gue sukanya lo." Seru Gita. Gilang langsung memeluk eeat Gita lagi.


"Lo nggak bohongkan?"


"Sepertinya sih nggak."


"Kok sepertinya."


"Ya karena jantung gue selalu berdenyut tidak aturan, di tambah gue selaku kesal sama lo ketika dekat dengan cewek-cewek lain."


"Akhirnya, gue mendapatak lo juga."


"Apa kita sekarang jadian?" tanya Gita ragu.


"Tentu saja, sekarang lo pacar gue, hanya gue yang boleh memiliki lo." Gilang mencium kening Gita.


Gita mebalas pelukan Gilang, "Apa gue mimpi?" tanya Gita sambil mengangkat kepalanya.


Gilang tersenyum, dia menundukan kepalanya. Wajah mereka saling mendekat, Gita langsung menutup matanya.


"Apa ini tidak terlalu cepat jika mencium bibir gue? haruskan aku menolak atau menerimanya." Batin Gita. Jantungnya berdenyut semakin tidak karuan ketika dia bisa merasakan hembusa napas Gilang.


Gilang tersenyum, dia tahu apa yang di pikirkan Gita. Dia mencium pipi kanan Gita lalu mengacak-acak rambut Gita.


Gita membuka mata lalu tersenyum, dia bisa bernapas lega karena Gilang tidak melakukannya.


"Ayo gabung sama yang lain." Gilang menggandeng tangan Gita.