
Gita menaruh tas lalu mengecek ponselnya, belum ada juga panggilan masuk ataupun pesan dari Gilang. Gita melihat jam dinding yang menunjukan pukul sembilan malam. Yang harusnya Gilang sudah pulang.
Gita mencoba menelpon Gilang, namun tak ada jawaban.
"Mungkin sedang mandi kali jadi tidak angkat telpon." Kata Gita.
Gita menjatuhkan tubuhnya, dia menunggu Gilang menghubunginya sembari rebahan. Malam semakin larut dan Gilang juga belum memberi kabar dirinya.
"Pasti Kak Gilang kecapean jadi nggak sempat kabarin aku." Katanya sambil melihat layar ponselnya.
...Selamat malam sayang, mimpi indah ya. Love you...
Gita mengirim pesan sama Gilang lalu dia tidur.
...♡◇◇◇♡...
Derrtzz...deertz... panggilan masuk ke ponsel Gita. Gita meraba-raba kasur mencari sumber suara. Matanya masih terasa berat untuk terbuka.
"Halo.." Jawab Gita dengan suara masih serak dan mata masih terpejam rapat.
"Pagi sayang." sapa Gilang.
Mendengar suara Gilang kedua mata Gita langsung terbuka lebar. Dia mengecek ponselnya.
"Sayang.. kamu baik-baik saja kan? kamu tidak sakit kan?" cerocos Gita.
"Nggak sayang, aku baik-baik saja. Maaf ya kemarin tidak sempat kasih kabar. Gimana undangannya udah dapat?"
"Udah sih, tapi aku masih bingung. Ada dua pilihan nanti aku tunjukin di kantor ya. kamu bantuin pilihin." Kata Gita.
"Ok, sekarang buruan mandi gih. Nanti kita ketemu di kantor." Gilang meminta Gita bergegas.
"Siap." kata Gita sembari mematikan sambungan telponnya.
Setelah ngobrol sebentar Gita bergegas mandi. Dia ingin ke kantor lagi lebih awal agar bisa menunjukan undangannya lebih cepat sama Gilang.
Gita memakan nasi goreng dengan cepat, hari ini dia tidak santai seperti biasanya.
"Sayang pelan-pelan makannya nanti tersedak." Wanda mengingatkan Gita agar makan pelan-pelan.
"Gita buru-buru ma." jawab Gita dengan mulut penuh.
"Kalau memang mau berangkat pagi harusnya bangun lebih pagi." Raka ikut menasehati Gita.
"Iya..iya.."
"Fara bilang kemarin lo cari undangannya sama dia?"
"Heem." kata Gita dengan tangannya yang masih sibuk memasukan sarapannya ke dalam mulut.
"Gilang kemana?" tanya Raka.
Gita menghela napas pendek, dia kemudian menaruh sendok dan menelan nasi goreng yang ada di mulutnya perlahan.
"Kak Gilang sibuk." Gita meneguk susu hangat di sampingnya.
"Em." Raka mengangguk-angguk.
"Raka, kak Gilang sedang dalam kesulitan." Wajah Gita berubah murung.
"Kesulitan apa?"
"Brand kita ada yang meniru, dan perusahaan Kak Gilang di tuduh plagiat. Kak Gilang akan di tuntut." ujar Gita semakin sedih.
"Kok bisa?" Raka kaget, kok bisa Gilang kecolongan. Biasanya dia sangat teliti.
"Gue juga nggak tahu, tapi kemarin Vian bilang kalau di perusahaan ada penghianat. Tapi aku tidak tahu siapa dia, karena Vian tidak mau mengatakan. Dia bilang hanya menebak saja." jelas Gita.
"Perkiraan Vian itu banyak yang benar, lo coba saja cari tahu dulu hal-hal yang mengganjal di perusahaan. Dan lo juga harus perhatikan setiap gerak-gerik karyawan. Dia yang terlihat gelisah dan tidak fokus pasti ada keterlibatan. Meskipun dia mencoba bersikap biasa saja pasti akan kecemasan dan kerakutan. Dengan begitu kamu akan bisa melihat ekspresi yang seaungguhnya." Jelas Raka panjang lebar. Dan hanya di jawab anggukan dari mulai bicara sampai akhir.
"Ok kalau begitu, gue akan jadi mata-mata sekarang." katanya dengan lantang.
"Eh jangan ngaco. Tingkah lo aja masih sembrono mau jadi mata-mata. Yang ada lo introgasi bukan lagi mata-mata." Kata Raka.
"Wah.. ngremehin gue nih." Kata Gita.
"Gue udah punya cara." Kata Gita lagi sambil beranjak pergi.
"Tunggu, gue anterin." Raka ikut beranjak.
"Makan habisin dulu." teriak Wanda dari dapur.
"Kita buru-buru Ma." Sahut Raka.
"Dasar anak-anak." Wanda membereskan bekas makan Raka dan Gita.
...♤♡♡♡♤...
Gita datang langsung menuju ke ruangan Gilang. Hanya saja ruangan Gilang masih kosong.
"Kok masih kosong, apa Kak Gilang belum berangkat ya?" tanya Gita pada dirinya sendiri.
"Kenapa Git, kelihatanya lo sedang tidak baik-baik saja." kata Vian.
"Karena kasus ini gue jadi susah banget ketemu Kak Gilang. Gue nggak sabar menemukan pelakunya." kata Gita dengan tertunduk lesu.
"Terus mau lo apa?" tanya Vian, dia kasihan melihat Gita yang biasanya gembira kini tampak murung.
"Kita cari tahu. Ah.. bukanya lo sudah tahu orangnya. Kasih tahu aja gue biar gue beresin sekalian orangnya." kata Gita.
"Gue juga asal nebak kali. Kalau gue udah tahu pastinya gue akan cegah dari awal." Kata Vian.
"Jadi lo nggak tahu." Gita manyun.
"Tentu saja, gue hanya sedikit kasih peringatan sama siapapun orangnya itu. Kalau memang ada yang berkhianat pastinya dia ketar-ketir. Dan kita akan mudah membongkarnya." Kata Vian.
"Benar juga, oiya Vian gue punya ide." Tiba-tiba ide muncul di kepala Gita
"Apa?"
"Sini gue bisikin." Gita membisiki cara untuk mengetahui siapa pelakunya.
"Ok."
"Kalian ngapain pagi-pagi udah bisik-bisik, pada gibahin gue ya?" Fara yang baru saja masuk ruangan kepo.
"Fitnah aja lo pagi-pagi, orang gue sama Gita sedang bahas nih kerjaan."
"Ooh, tumben ini ruangan sepi amat." Kata Fara dengan mata yang mengitari semua penjuru ruangan.
"Benar juga, dari tadi tidak ada orang." Gita baru ngeh kalau ruangannya kosong.
"Iya, soalnya Mas Win, Mbak Ina sama Mas Nino ada kerjaan bareng teamnya Mbak Ratna." Sahut Bella.
"Ah.. Fajar kemana ya?" tanya Vian.
"Nggak tahu, belum lihat dari tadi." jawab Bella lagi.
Jam makan siang sudah tiba, Gita langsung pergi ke ruangan Gilang. Tapi tetap saja ruangannya masih kosong.
"Kok masih belun balik sih." kata Gita dengan nada sedikit kecewa.
"Gita, cari bos Gilang ya?" kata Lila.
"Iya Mbak Lila, Bos Gilang kemana ya?"
"Masih ada rapat penting, dan hari ini tidak akan ke kantor. Kalau kamu hubungi Bos Gilang sekarang tidak bisa karena ponsel bos mati. Nih gue baru mau ambil charger yang ketinggalan di kantor." Lila memberikan penjelasan kepada Gita.
"Makasih Mbak Lila, tolong sampaiin saja ya. Bilang kalau jangan lupa makan siang." Kata Gita.
"Iya nanti gue sampaiin. Gue cabut dulu ya udah di tungguin soalnya." Lila buru-buru.
"Iya." jawabnya dengan lemes.
"Hey... kenapa lemes kayak gitu?" tanya Fara.
"Kak Gilang lagi sibuk banget, bahkan ponselnya saja sampai habis baterai. Dia nggak ada kasih kabar sama aku. Tadi janjian ketemu di sini sekarang udah nggak ada." Gita manyun.
"Pastilah sibuk banget, kasus ini tidak hanya tentang Gilang sendiri tapi juga karyawan. Kalau sampai perusahaan ini ada apa-apa pasti akan berdampak sama karyawan juga. Makanya Gilang mati-matian bekerja untuk mendapatkan haknya lagi." Jelas Fara.
Gita terdiam, apa yang di katakan Fara benar. Apa yang terjadi di perusahaaan itu menyangkut orang banyak. Tapi dia juga rindu, dia juga mau Gilang bercerita sama dia.
"Tahan sekejab rindunya." Fara menepuk pundak Gita.
"Iya."
"Dah yuk, makan jangan sampai lo sakit."
Gita duduk di kanti dengan menopang dagu dengan tangan kiriny, sedangkan tangan kanannya sibuk mengaduk es teh.
"Hey.. ngelamun aja sih lo. Ayam tetangga gue mati noh." kata Fara.
"Gara-gara ngelamun?"
"Gara-gara di sembelih." kata Gita sambil tertawa.
"Hah.. lo mah. Far, gue bete banget hari ini." Curhat Gita.
"Kenapa lagi?"
"Lihat aja aktif nih, tapi nggak balas chat gue." Gita menunjukan pesan yang di kirim sama Gita.
"Ya kan gue udah bilang, kak Gilang lagi sibuk. Pasti dia nggak memperhatikan ponselnya. Lo maklu.i saja lah jangan negatif begitu ah." ujar Fara.
"Dah, makan yang benar."
"Gue nggak nafsu makan. Gue maunya Kak Gilang." Gita menaruh kepalanya di meja.
"Si bucin ke bayi, mana ngambek lagi. kalau lo ngambek jangan ama gue. Sama Kak Gilang sonoh." kata Fara.
"Tau ah."