
Gita berjalan mendekati
Win yang sejak tadi bengong menatap dengan tatapan kosong, sambil membawa
secangkir kopi dan juga roti, Gita duduk di samping Win.
“Makan Mas, belum makan
siang kan.” Gita menaruh kopi dan roti di meja sebelah Win.
“Makasih, lo sendiri
sudah makan belum waktu istirahat sudah mau habis.” Tanya Win.
“Udah, lo kenapa uring-uringan sih Mas. Apa benar kata Mas Nino
kalau ini ada hubungannya sama postingan Mbak Ratna di media sosial?” Tanya
Gita dia penasaran. Selama dia kenal Win dia jarang sekali marah sampai
seserius itu.
Win mengangkat
cangkirnya lalu menyeruput kopinya, dia menatap lurus ke arah tanah lapang di
sebelah pabrik. Berat sekali rasanya yang ingin dia sampaikan, kisah dengan
Ratna yag sudah di bangun bertahun-tahun di tambah dan tunangan yang sudah
mengundang seluruh keluarga besar dibatalkan begitu saja saat hari pernikahan
tinggal beberapa bulan saja hanya karena ada yang lebih dari segalanya.
“Kalau memang Mas Win
tidak mau cerita tidak apa-apa, Gita tidak memaksa kok. Hanya saja Gita kasihan
sama Mbak Ina yang seperti di berikan harapan sama Mas Win hingga dia melayang
tinggi tapi setelah itu di hempaskan begitu saja. Pasti sangat menderita
menahan perasaan itu, Mbak Ina juga pasti tipikal cewek setia karena tidak
kunjung cari pengganti meskipu Mas Win tidak merespon perasaannya.” Jelas Gita.
“Yah.. gue memang
sangat jahat. Dan terlalu gegabah mengatakan kalau dia menjadi tunangan gue.
Sedangkan perasaan ini masih saja tidak bisa move on dari Ratna. Kalian semua
pasti akan mengatakan gue orang yang susah move on tapi memang kenyataa
melupakan itu sangat berat. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan itu hacur, gue
masih belum bisa melupakan itu.” Win akhirnya mengatakan sebenarnya perasaan
hatinya. Dia lumayan menyesal menggunakan Ina sebagai alat untuk memanasi
Ratna.
“Jangan pernah
melupakan, karenaMas Win tidak akan pernah bisa. Tapi coba iklaskan itu akan
membantu hati Mas Win lebih tenang dan bisa melihat kasih sayang tulus dari
orang lain, Mbak Ina misalnya dia sangat tulus banget.” Gita mencoba membuka
pikiran Win.
“Ina terlalu baik buat
gue, dia harusnya mendapatkan yang lebih baik dari gue.” Kata Win. Dia selalu
merasa kalau dirinya itu tak pantas untuk Ina yang begitu tulus.
“Lalu apa yang akan Mas
Win katakan sama Mbak Ina sekarang?” Tanya Gita.
“Gue tidak tahu,
kemarin reflek gue menyebutnya sebagai tunangan padahal itu hanya akan menambah
masalah baru buat gue. Gue hanya nyaman seperti ini sama Ina.” Win bingung.
Ina diam-diam
mendengarka percakapan Win dan Gita di belakang tanpa sepengetahuan mereka
semua. Air matanya terus menetes, dia sadar selama ini terlalu memaksakan diri
untuk bertahan mencintai Win meskipun dia tahu perasaannya tak pernah terbalas.
Ina membawa makanannya
masuk lagi, dia tidak sanggup kalau harus bertemu dengan Win. Dadanya nyesek
mendengar ucapan Win.
“Mas Win, coba deh
perlahan buka hati Mas Win sebelum Mbak Ina berubah perasaanya dan akan mejauh
dari Mas Win. Nanti Mas Win menyesal loh kalau Mbak Ina pergi.” Jelas Gita. Win
tersenyum kecil, kemudian menyeruput kopi di cangkir yang sejak tadi di
pegangi. Akan sangat mudah orang lain yang mengatakan, tapi bagi yang menjalani
itu sangat lah susah tidak segempang membalikan tangan.
“Apa cinta akan cepat
tumbuh lagi stelah di patahkan seperti ini?” tanya Win.
“Tentu saja bisa, dulu
gue juga pernah mengalami ini sewaktu SMA.” Gita tersenyum mengingat kisahnya
hampir sama dengan Win hanya saja skala permasalahannya masih kevil belum ke
tahap serius.
“Oiya, memangnya
bagaimana kisah lo?” Win menggeser tubuhnya hingga menghadap ke arah Gita.
“Dulu Gita punya
seseorang sangat Gita cintai, karena dia mencintai Gita dalam keadaan apapun.
Meskipun orang lain mangatakan jelek, dia bilang Gita cantik. Tapi setelah
sekian lama kita tidak bertemu dia menghina Gita bahkan dia mencintai kakak
Gita. Lalu ada satu cowok datang, mencintai Gita dengan setulus hati. Sama
halnya dengan yang di lakukan sama Mas Win, Gita menolak mentah-mentah.” Gita
meneritakan kisahnya.
“Lalu?”
“Lalu Gita sadar kalau
dia memang sangat tulus setelah dia dekat sama orang lain, perhatiannya hilang
semua tentangnya hilang. Seakan menjadi patah hati lebih parah daripada dengan
saat di tinggalkan sama orang yang pertama. Dan disitu Gita sadar kalau jodoh
itu bukan siapa yang datang lebih awal melainkan siapa dia yang bertahan dalam
keadaan apapun dan juga tetap mencintai segela kekurangan yang kita punya.”
Gita memegang pundak
Win, “Mas Win jangan terlalu banyak mikir, dan jangan lupa makan siang takutnya
kenapa-kenapa. Anak buah lo belum mau ganti ketua tim.” Kata Gita sambil
merenges.
Win berdesis sambil
menyentil kening Gita karena ngomong sembarangan, “Kalau ngomong bisa nggak
gitu pakai filter asal nyeplos saja.” Kata Win.
“Filternya lagi rusah,
udah ah Mas Win jangan galau-galauan nggak asik. Mas Win itu di ciptakan untuk
bahagia, membuat semua orang bahagia bukan untuk sedih-sediha.” Kata Gita.
“Thanks ya Gita, gue
berasa diajarin anak kecil.” Cwin terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
Sore tiba, semua
bergegas naik bus bergegas pulang. Namun mereka harus ke kantor dulu untuk
mengambil kendaraan mereka.
“Akhirnya pulang
juga..!” Seru Gita sambil meregangkan kedua tangannya saat sampai di depan
kantor.
“Ina, tunggu..” Panggil
Win yang baru saja menginjakkan kakinya ke tanah.
“Ada apa?” tanya Ina
sedikit datar beda dari biasanya.
“Kita pulang bareng
yuk, gue anterin pulang.” Win mencoba mengajak Ina pulang bareng. Dia ingin
mempraktekkan apa yang di katakan Gita yaitu membuka hati untuk yang lain.
“Gue udah bareng Nino,
iyakan No.” Ina menggandeng tangan Nino.
“Engg..” Nino
menghentikan ucapannya saat kakinya diinjak sama Ina.
“Mbak Ina kakinya Mas
Nino kok diijak sih, kasihan lo.” Ujar Gita dia sengaja ngomong begitu agar Win
paham kalau sebenarnya Ina tidak pulang bareng Nino.
“Mbak Ina udah bareng
saja sama Mas Win, mumpung Mas Winnya khilaf mau nganterin Mbak Ina.” Celoteh
Fara.
“Iya Mbak Ina, kapan
lagi dapat kesempatan naik mobilnya Mas Win, di tambah lagi nanti makan malam.
Uiihh romatis loh.” Tambah Vian.
Mereka bertiga sangat
suka sekali kalau harus mencomblangkan orang lain, dan sebaliknya dia paling
tidak suka di comblankan.
“Tuh anak-anaka saja
merestui. Udah yuk pulang bareng gue.” Win menarik tangan Ina menuju mobilnya.
“Terima kasih telah menonton
kisah cinta Win dan Ratna kelanjutanya dapat kalian lihat beskok lagi, mari
kita kawal sampai menikah.” Kata Gita dengan suara seperti membacakan berita.
“Bubar ah.. Gita sudah
mulai menggila.” Ujar Vian.
“Loh tu Gila.”
“Gita, kamu belum di
jemput?” Tanya Faja.
“Belum, sebentar lagi
sampai.” Kata Gita sambil melihat parkiran mencari mobil Gilang.
“Kalau belum berangkat
biar gue anterin saja yuk.” Fajar menawarkan diri.
“Tidak usah, makasih
Fajar. Kalau Gita ikut lo kasian yang jemput orang sudah di perjalanan. Lo bisa
pulang duluan.”
“Gue temani lo saja
sampai yang jemput lo datang.” Kata Fajar, dia ingin menemani Gita sekalian dia
ingin tahu siapa yang jemput Gita. Itu Pacarnya, teman atau keluarganya.
“Nggak usah lo pulang
saja. Lagian sudah sore lo pasti capek kan.” Gita meminta Fajar pulang dulu supaya dia tidak ketahuan kalau pulang
bareng Gilang.
“Nggak apa-apa kok
Nggak capek ini.”
“Aduh.. perut gue
dia tidak kenapa-kenapa hanya menghindari Fajar yang ngeyel mau menungunya.
Gita tanpa melihat
kanan kiri langsung memmbuka pintu ruangan milik Gilang dengan sangat keras.
“Kak....” Gita
melebarkan kedua matanya serta menghentikan ucapanya saat melihat banyak orang
di dalamnya. Gilang sedang ada tamu rekan-rekan bisnisnya.
Gita bergegegas keluar
lagi, saat berbalik sudah ada Lila yang melipak ke dua tangannya dengan menatap
dirinya tajam.
“Kamu kebiasaan ya.”
Lila menjewer Gita.
“Maaf..maaf Mbak nggak
sengaja.” Kata Gita sambil memegangi telinganya.
“Mau apa sih kamu
ketemu pak Gilang.”
“Ada urusan penting
Mbak, boleh ya gue menunggu disini.” Gita menunjuk sofa yang di gunakan untuk
menunggu.
“Lo pulang saja, besok
baru ngobrol sama Pak Gilang. Biasanya Pak Gilang lama kalau ketemu rekan-rekan
bisnisnya.” Lila menyuruh Gita pulang.
Gita mengangguk-angguk
tapi tetap duduk di sofa, dia ngeyel saja di bilangi Lila. Gita mengambil
ponselnya dan mengirim pesan untuk Gilang.
Gita
Sayang, masih lama kamu
ngobrolnya?
Aku capek mau pulang,
kalau kamu masih lama aku pulang dulu ya.
Gilang
Tunggu sebentar aku
sudah selesai
Kamu dimana?
Gita
Di sofa tunggu dekat
ruangan kamu, Mbak Lila suruh aku pulang
Gilang
Tunggu saja di situ
“Gita, lo beneran nggak
mau pulang?” Lila memberesi barangnya dan siap pulang setelah mendapat telpon
dari Gilang dan di suruh pulang terlebih dahulu.
“Iya duluan saja Mbak,
ini soalnya laporan penting jadi harus sekarang.”
“Terserah lo deh, gue
duluan.” Lila pergu duluan.
Gita merebahkan
tubuhnya di sofa sembari menunggu Gilang selelsai bersama rekan bisnisnya.
“Sayang.” Panggil
Gilang. Baru sajaGita meletakkan tubuhnya Gilang sudah memanggilnya, dia
bergegas berdiri namun tak jadi jalan saat tahu ternyata Gilang memanggil
dengan panggilan sayang di depan rekan
bisnisnya.
“Oh ini kah pacar kamu
yang selalu kamu bilang lebih cantik dari cewek-cewek di luaran sana?” Tanya
salah satu rekan bisnisnya.
“Ya, dia calon istri
saya. Nggak salahkan kalau aku bilang dia paling canti.” Gilang mendekati Gita
dan merangkulnya. Dia memperkenalkan Gita di depan rekan kerjanya.
“Yah, memang cantik
gimana boleh kita bersaing?”
“Eh.. bisnis kita boleh
bersaing tapi soal dia tidak ada yang boleh menyainginya. Dia milik saya
selamanya akan menjadi milik saya.” Gilang tidak memberikan celah sedikitpun
orang untuk memiliki Gita meskipun dalam sebuah candaan.
“Ok lah..ok lah...
pertemua nanti mari kita bawa pasangan kita masing-masing.”
“Setuju, terima kasih
ya sudah mau mengunjungi.” Kata Gilang.
“Kita pergi dulu, Mrs
Gilang kita pamit. Selamat bersenang-senang.”
Gita melihat rekan
kerja Gilang sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangannya. Bahkan
Gita masih diam saja di ajak Gilang ke ruanganya.
“Sayang..”
“Em..”
“Kamu lihatin apaan
sih?”
“Itu teman-teman kamu
ganteng-ganteng ya.” Tunjuk Gita sambil tersenyum.
“Terus-terusin saja,
memangnya pacar kamu ini kalah ganteng dari mereka?” Gilang melipat kedua
tangannya dengan wajah menatap tajam ke arah Gita.
“Nggak sayang gantengan
kamu, aku bercanda kok.” Gita terkekeh.
“Bercanda kamu nggak
lucu.” Gilang masuk meninggalkan Gita.
“Sayang, jangan ngambek
donk. Kan aku bercanda kamu itu satu-satunya loh di hati aku.” Kata Gita
membujuk Gilang.
“Bohong, kamu saja msih
sering tergoda tuh sama teman-teman aku sama oppa-oppa korea kamu.” Gilang
duduk di sofa dengan tangan yang masih terlipat di dadanya.
“Ya ampun sayang, kamu
mah masih saja cemburu sama oppa-oppa korea aku. Jelas-jelas mereka nggak bisa
di gapai masih aja di cemburuin.” Gita masih tertawa. Sedangkan Gilang masih
memasang muka kesal.
Gita menggeser tubuhnya
agar dekat dengan Gilang, karena duduk mereka ada jarak. Sedang kan Gilang
masih ngambek lalu menggeser duduknya. Tahu begitu Gita menggeser lagi sampai
akhirnya Gilang sudah sampai pucuk sofa, tanpa sadar dia menggeser dan terjatuhlah
di lantai.
Gita menahan tawa agar
Gilang tidak semakin sewot, Gita mengulurkan tangan untuk membantu Gilang
berdiri. Gilang menarik tangan Gita sedikit kuat sehingga keseimbangan Gita
oleng dan dia jatuh di tubuh Gilang.
Mereka berdua saling
pandangan, Gita tertawa kecil kemudian mencium bibir Gilang sebentar.
“Udah ah jangan
ngambek-ngambekan, Gita lapar dan juga ngantuk.” Katanya masih dengan posisi di
atas Gilang.
“Berdiri, kita makan
setelah itu aku anterin pulang. Mau makan apa?” Tanya Gilang sambil merapikan
jasnya.
“Di restauran kita
saja. Aku mau makan banyak tanpa bayar.” Katanya sambil tertawa.
“Baiklah, tapi aku
sekarang lagi lemas banget mau mengemudi gimana dong?” tanya Gilang.
“Kamu sakit?” Gita
berubah cemas. Dia memegang kening Gilang lalu lehernya. Namun tubuhnya sama
sekali tidak terasa panas.
“Tapi suhu badan kamu
normal.” Gita sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Gilang.
“Memang nggak demam,
cuman butuh vitamin saja biar lebih fress.” Kata Gilang sambil menatap Gita
lekat dengan sedikit senyuman.
“Ah kamu mau vitamin,
aku nggak bawa di rumah nanti ya kalau sampai ke rumah.”
Gilang menarik Gita
dalam pelukannya, “Aku nggak butuh vitamin yang lain, kenapa kamu nggak peka?”
Gilang mendekatkan wajahnya dengan Gita hingga hidung mereka saling menyentuh.
“Memangnya kamu mau
vitamin apa?” Gita masih belum peka dengan yang di maksud Gilang.
Gilang mengehala napas
panjang, setelah itu mengecup bibir Gita karena ciuman yang di berikan Gita
tadi kurang jadi dia nambah.
“Apa kah ini yang di
katakan vitamin?”
“Tentu saja.” Gilang
kembali mengecup bibir Gita.
“Kamu tu ya, nakal mana
ada vitamin seperti ini.” Gita mengelengkan kepalanya.
“Kamu memang vitamin
buat aku, dan juga sumber segala obat dari segala rasa sakit aku.” Gilang
mengecup bibir Gita lagi Gilang mempererat pelukannya , lalu memberikan kecupan yang lebih dalam untuk
mengisi energinya yang sudah terkuras sejak pagi.