Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kisah Win


Gita berjalan mendekati


Win yang sejak tadi bengong menatap dengan tatapan kosong, sambil membawa


secangkir kopi dan juga roti, Gita duduk di samping Win.


“Makan Mas, belum makan


siang kan.” Gita menaruh kopi dan roti di meja sebelah Win.


“Makasih, lo sendiri


sudah makan belum waktu istirahat sudah mau habis.” Tanya Win.


“Udah, lo kenapa  uring-uringan sih Mas. Apa benar kata Mas Nino


kalau ini ada hubungannya sama postingan Mbak Ratna di media sosial?” Tanya


Gita dia penasaran. Selama dia kenal Win dia jarang sekali marah sampai


seserius itu.


Win mengangkat


cangkirnya lalu menyeruput kopinya, dia menatap lurus ke arah tanah lapang di


sebelah pabrik. Berat sekali rasanya yang ingin dia sampaikan, kisah dengan


Ratna yag sudah di bangun bertahun-tahun di tambah dan tunangan yang sudah


mengundang seluruh keluarga besar dibatalkan begitu saja saat hari pernikahan


tinggal beberapa bulan saja hanya karena ada yang lebih dari segalanya.


“Kalau memang Mas Win


tidak mau cerita tidak apa-apa, Gita tidak memaksa kok. Hanya saja Gita kasihan


sama Mbak Ina yang seperti di berikan harapan sama Mas Win hingga dia melayang


tinggi tapi setelah itu di hempaskan begitu saja. Pasti sangat menderita


menahan perasaan itu, Mbak Ina juga pasti tipikal cewek setia karena tidak


kunjung cari pengganti meskipu Mas Win tidak merespon perasaannya.” Jelas Gita.


“Yah.. gue memang


sangat jahat. Dan terlalu gegabah mengatakan kalau dia menjadi tunangan gue.


Sedangkan perasaan ini masih saja tidak bisa move on dari Ratna. Kalian semua


pasti akan mengatakan gue orang yang susah move on tapi memang kenyataa


melupakan itu sangat berat. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan itu hacur, gue


masih belum bisa melupakan itu.” Win akhirnya mengatakan sebenarnya perasaan


hatinya. Dia lumayan menyesal menggunakan Ina sebagai alat untuk memanasi


Ratna.


“Jangan pernah


melupakan, karenaMas Win tidak akan pernah bisa. Tapi coba iklaskan itu akan


membantu hati Mas Win lebih tenang dan bisa melihat kasih sayang tulus dari


orang lain, Mbak Ina misalnya dia sangat tulus banget.” Gita mencoba membuka


pikiran Win.


“Ina terlalu baik buat


gue, dia harusnya mendapatkan yang lebih baik dari gue.” Kata Win. Dia selalu


merasa kalau dirinya itu tak pantas untuk Ina yang begitu tulus.


“Lalu apa yang akan Mas


Win katakan sama Mbak Ina sekarang?” Tanya Gita.


“Gue tidak tahu,


kemarin reflek gue menyebutnya sebagai tunangan padahal itu hanya akan menambah


masalah baru buat gue. Gue hanya nyaman seperti ini sama Ina.” Win bingung.


Ina diam-diam


mendengarka percakapan Win dan Gita di belakang tanpa sepengetahuan mereka


semua. Air matanya terus menetes, dia sadar selama ini terlalu memaksakan diri


untuk bertahan mencintai Win meskipun dia tahu perasaannya tak pernah terbalas.


Ina membawa makanannya


masuk lagi, dia tidak sanggup kalau harus bertemu dengan Win. Dadanya nyesek


mendengar ucapan Win.


“Mas Win, coba deh


perlahan buka hati Mas Win sebelum Mbak Ina berubah perasaanya dan akan mejauh


dari Mas Win. Nanti Mas Win menyesal loh kalau Mbak Ina pergi.” Jelas Gita. Win


tersenyum kecil, kemudian menyeruput kopi di cangkir yang sejak tadi di


pegangi. Akan sangat mudah orang lain yang mengatakan, tapi bagi yang menjalani


itu sangat lah susah tidak segempang membalikan tangan.


“Apa cinta akan cepat


tumbuh lagi stelah di patahkan seperti ini?” tanya Win.


“Tentu saja bisa, dulu


gue juga pernah mengalami ini sewaktu SMA.” Gita tersenyum mengingat kisahnya


hampir sama dengan Win hanya saja skala permasalahannya masih kevil belum ke


tahap serius.


“Oiya, memangnya


bagaimana kisah lo?” Win menggeser tubuhnya hingga menghadap ke arah Gita.


“Dulu Gita punya


seseorang sangat Gita cintai, karena dia mencintai Gita dalam keadaan apapun.


Meskipun orang lain mangatakan jelek, dia bilang Gita cantik. Tapi setelah


sekian lama kita tidak bertemu dia menghina Gita bahkan dia mencintai kakak


Gita. Lalu ada satu cowok datang, mencintai Gita dengan setulus hati. Sama


halnya dengan yang di lakukan sama Mas Win, Gita menolak mentah-mentah.” Gita


meneritakan kisahnya.


“Lalu?”


“Lalu Gita sadar kalau


dia memang sangat tulus setelah dia dekat sama orang lain, perhatiannya hilang


semua tentangnya hilang. Seakan menjadi patah hati lebih parah daripada dengan


saat di tinggalkan sama orang yang pertama. Dan disitu Gita sadar kalau jodoh


itu bukan siapa yang datang lebih awal melainkan siapa dia yang bertahan dalam


keadaan apapun dan juga tetap mencintai segela kekurangan yang kita punya.”


Gita memegang pundak


Win, “Mas Win jangan terlalu banyak mikir, dan jangan lupa makan siang takutnya


kenapa-kenapa. Anak buah lo belum mau ganti ketua tim.” Kata Gita sambil


merenges.


Win berdesis sambil


menyentil kening Gita karena ngomong sembarangan, “Kalau ngomong bisa nggak


gitu pakai filter asal nyeplos saja.” Kata Win.


“Filternya lagi rusah,


udah ah Mas Win jangan galau-galauan nggak asik. Mas Win itu di ciptakan untuk


bahagia, membuat semua orang bahagia bukan untuk sedih-sediha.” Kata Gita.


“Thanks ya Gita, gue


berasa diajarin anak kecil.” Cwin terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


Sore tiba, semua


bergegas naik bus bergegas pulang. Namun mereka harus ke kantor dulu untuk


mengambil kendaraan mereka.


“Akhirnya pulang


juga..!” Seru Gita sambil meregangkan kedua tangannya saat sampai di depan


kantor.


“Ina, tunggu..” Panggil


Win yang baru saja menginjakkan kakinya ke tanah.


“Ada apa?” tanya Ina


sedikit datar beda dari biasanya.


“Kita pulang bareng


yuk, gue anterin pulang.” Win mencoba mengajak Ina pulang bareng. Dia ingin


mempraktekkan apa yang di katakan Gita yaitu membuka hati untuk yang lain.


“Gue udah bareng Nino,


iyakan No.” Ina menggandeng tangan Nino.


“Engg..” Nino


menghentikan ucapannya saat kakinya diinjak sama Ina.


“Mbak Ina kakinya Mas


Nino kok diijak sih, kasihan lo.” Ujar Gita dia sengaja ngomong begitu agar Win


paham kalau sebenarnya Ina tidak pulang bareng Nino.


“Mbak Ina udah bareng


saja sama Mas Win, mumpung Mas Winnya khilaf mau nganterin Mbak Ina.” Celoteh


Fara.


“Iya Mbak Ina, kapan


lagi dapat kesempatan naik mobilnya Mas Win, di tambah lagi nanti makan malam.


Uiihh romatis loh.” Tambah Vian.


Mereka bertiga sangat


suka sekali kalau harus mencomblangkan orang lain, dan sebaliknya dia paling


tidak suka di comblankan.


“Tuh anak-anaka saja


merestui. Udah yuk pulang bareng gue.” Win menarik tangan Ina menuju mobilnya.


“Terima kasih telah menonton


kisah cinta Win dan Ratna kelanjutanya dapat kalian lihat beskok lagi, mari


kita kawal sampai menikah.” Kata Gita dengan suara seperti membacakan berita.


“Bubar ah.. Gita sudah


mulai menggila.” Ujar  Vian.


“Loh tu Gila.”


“Gita, kamu belum di


jemput?” Tanya Faja.


“Belum, sebentar lagi


sampai.” Kata Gita sambil melihat parkiran mencari mobil Gilang.


“Kalau belum berangkat


biar gue anterin saja yuk.” Fajar menawarkan diri.


“Tidak usah, makasih


Fajar. Kalau Gita ikut lo kasian yang jemput orang sudah di perjalanan. Lo bisa


pulang duluan.”


“Gue temani lo saja


sampai yang jemput lo datang.” Kata Fajar, dia ingin menemani Gita sekalian dia


ingin tahu siapa yang jemput Gita. Itu Pacarnya, teman atau keluarganya.


“Nggak usah lo pulang


saja. Lagian sudah sore lo pasti capek kan.”  Gita meminta Fajar pulang dulu supaya dia tidak ketahuan kalau pulang


bareng Gilang.


“Nggak apa-apa kok


Nggak capek ini.”


“Aduh.. perut gue


dia tidak kenapa-kenapa hanya menghindari Fajar yang ngeyel mau menungunya.


Gita tanpa melihat


kanan kiri langsung memmbuka pintu ruangan milik Gilang dengan sangat keras.


“Kak....” Gita


melebarkan kedua matanya serta menghentikan ucapanya saat melihat banyak orang


di dalamnya. Gilang sedang ada tamu rekan-rekan bisnisnya.


Gita bergegegas keluar


lagi, saat berbalik sudah ada Lila yang melipak ke dua tangannya dengan menatap


dirinya tajam.


“Kamu kebiasaan ya.”


Lila menjewer Gita.


“Maaf..maaf Mbak nggak


sengaja.” Kata Gita sambil memegangi telinganya.


“Mau apa sih kamu


ketemu pak Gilang.”


“Ada urusan penting


Mbak, boleh ya gue menunggu disini.” Gita menunjuk sofa yang di gunakan untuk


menunggu.


“Lo pulang saja, besok


baru ngobrol sama Pak Gilang. Biasanya Pak Gilang lama kalau ketemu rekan-rekan


bisnisnya.” Lila menyuruh Gita pulang.


Gita mengangguk-angguk


tapi tetap duduk di sofa, dia ngeyel saja di bilangi Lila. Gita mengambil


ponselnya dan mengirim pesan untuk Gilang.


Gita


Sayang, masih lama kamu


ngobrolnya?


Aku capek mau pulang,


kalau kamu masih lama aku pulang dulu ya.


Gilang


Tunggu sebentar aku


sudah selesai


Kamu dimana?


Gita


Di sofa tunggu dekat


ruangan kamu, Mbak Lila suruh aku pulang


Gilang


Tunggu saja di situ


“Gita, lo beneran nggak


mau pulang?” Lila memberesi barangnya dan siap pulang setelah mendapat telpon


dari Gilang dan di suruh pulang terlebih dahulu.


“Iya duluan saja Mbak,


ini soalnya laporan penting jadi harus sekarang.”


“Terserah lo deh, gue


duluan.”  Lila pergu duluan.


Gita merebahkan


tubuhnya di sofa sembari menunggu Gilang selelsai bersama rekan bisnisnya.


“Sayang.” Panggil


Gilang. Baru sajaGita meletakkan tubuhnya Gilang sudah memanggilnya, dia


bergegas berdiri namun tak jadi jalan saat tahu ternyata Gilang memanggil


dengan  panggilan sayang di depan rekan


bisnisnya.


“Oh ini kah pacar kamu


yang selalu kamu bilang lebih cantik dari cewek-cewek di luaran sana?” Tanya


salah satu rekan bisnisnya.


“Ya, dia calon istri


saya. Nggak salahkan kalau aku bilang dia paling canti.” Gilang mendekati Gita


dan merangkulnya. Dia memperkenalkan Gita di depan rekan kerjanya.


“Yah, memang cantik


gimana boleh kita bersaing?”


“Eh.. bisnis kita boleh


bersaing tapi soal dia tidak ada yang boleh menyainginya. Dia milik saya


selamanya akan menjadi milik saya.” Gilang tidak memberikan celah sedikitpun


orang untuk memiliki Gita meskipun dalam sebuah candaan.


“Ok lah..ok lah...


pertemua nanti mari kita bawa pasangan kita masing-masing.”


“Setuju, terima kasih


ya sudah mau mengunjungi.” Kata Gilang.


“Kita pergi dulu, Mrs


Gilang kita pamit. Selamat bersenang-senang.”


Gita melihat rekan


kerja Gilang sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangannya. Bahkan


Gita masih diam saja di ajak Gilang ke ruanganya.


“Sayang..”


“Em..”


“Kamu lihatin apaan


sih?”


“Itu teman-teman kamu


ganteng-ganteng ya.” Tunjuk Gita sambil tersenyum.


“Terus-terusin saja,


memangnya pacar kamu ini kalah ganteng dari mereka?” Gilang melipat kedua


tangannya dengan wajah menatap tajam ke arah Gita.


“Nggak sayang gantengan


kamu, aku bercanda kok.” Gita terkekeh.


“Bercanda kamu nggak


lucu.” Gilang masuk meninggalkan Gita.


“Sayang, jangan ngambek


donk. Kan aku bercanda kamu itu satu-satunya loh di hati aku.” Kata Gita


membujuk Gilang.


“Bohong, kamu saja msih


sering tergoda tuh sama teman-teman aku sama oppa-oppa korea kamu.” Gilang


duduk di sofa dengan tangan yang masih terlipat di dadanya.


“Ya ampun sayang, kamu


mah masih saja cemburu sama oppa-oppa korea aku. Jelas-jelas mereka nggak bisa


di gapai masih aja di cemburuin.” Gita masih tertawa. Sedangkan Gilang masih


memasang muka kesal.


Gita menggeser tubuhnya


agar dekat dengan Gilang, karena duduk mereka ada jarak. Sedang kan Gilang


masih ngambek lalu menggeser duduknya. Tahu begitu Gita menggeser lagi sampai


akhirnya Gilang sudah sampai pucuk sofa, tanpa sadar dia menggeser dan terjatuhlah


di lantai.


Gita menahan tawa agar


Gilang tidak semakin sewot, Gita mengulurkan tangan untuk membantu Gilang


berdiri. Gilang menarik tangan Gita sedikit kuat sehingga keseimbangan Gita


oleng dan dia jatuh di tubuh Gilang.


Mereka berdua saling


pandangan, Gita tertawa kecil kemudian mencium bibir Gilang sebentar.


“Udah ah jangan


ngambek-ngambekan, Gita lapar dan juga ngantuk.” Katanya masih dengan posisi di


atas Gilang.


“Berdiri, kita makan


setelah itu aku anterin pulang. Mau makan apa?” Tanya Gilang sambil merapikan


jasnya.


“Di restauran kita


saja. Aku mau makan banyak tanpa bayar.” Katanya sambil tertawa.


“Baiklah, tapi aku


sekarang lagi lemas banget mau mengemudi gimana dong?” tanya Gilang.


“Kamu sakit?” Gita


berubah cemas. Dia memegang kening Gilang lalu lehernya. Namun tubuhnya sama


sekali tidak terasa panas.


“Tapi suhu badan kamu


normal.” Gita sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Gilang.


“Memang nggak demam,


cuman butuh vitamin saja biar lebih fress.” Kata Gilang sambil menatap Gita


lekat dengan sedikit senyuman.


“Ah kamu mau vitamin,


aku nggak bawa di rumah nanti ya kalau sampai ke rumah.”


Gilang menarik Gita


dalam pelukannya, “Aku nggak butuh vitamin yang lain, kenapa kamu nggak peka?”


Gilang mendekatkan wajahnya dengan Gita hingga hidung mereka saling menyentuh.


“Memangnya kamu mau


vitamin apa?” Gita masih belum peka dengan yang di maksud Gilang.


Gilang mengehala napas


panjang, setelah itu mengecup bibir Gita karena ciuman yang di berikan Gita


tadi kurang jadi dia nambah.


“Apa kah ini yang di


katakan vitamin?”


“Tentu saja.” Gilang


kembali mengecup bibir Gita.


“Kamu tu ya, nakal mana


ada vitamin seperti ini.” Gita mengelengkan kepalanya.


“Kamu memang vitamin


buat aku, dan juga sumber segala obat dari segala rasa sakit aku.” Gilang


mengecup bibir Gita lagi Gilang mempererat pelukannya , lalu  memberikan kecupan yang lebih dalam untuk


mengisi energinya yang sudah terkuras sejak pagi.