Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Tanggung Jawab


Gita duduk selonjoran sambil minum es teh di kantong plastik, dia melihat ke arah


lapangan basket yang sedang di gunakan untuk latihan kakak kelasnya.


“Hah..” Gita menghela napas panjang dia tiba-tiba merasa bersalah sama Gilang.


“Hah.. gue harus apa ya sekarang. Apa iya gue datang dan merawat dia?” Gita tanya pada


dirinya sendiri.


Gita bangun dan membersihkan rok belakangnya, dia mendekati lapangan basket untuk


mendekati Gilang yang baru datang menonton basket.


“Astaga!” Gilang memegangi dadanya saat Gita tiba-tiba duduk di sampingnya.


“Apaan sih lo kek lihat setan aja.”


“Salah lo datang nggak ngomong.”


“Lah ini mau ngomong.”


“Mau ngapain?”


“Em..  gini gue mau minta maaf sekali lagi, sama mau tanggung jawab karena udah bikin kaki lo sakit dan takutnya nggak bisa ikut lomba minggu besok.”


“Ini semua karena Bayu kan?”


“Nggak.”


“Bohong banget lo, gue tahu pasti Bayu datang ngomel sama lo.”


“Iya sih, tapi gue rasa bukan sepenuhnya karena dia. Yah gue harus tanggung jawab


seperti yang di katakan Raka kalau tidak suka bukan berarti membencikan.” Kata


Gita.


“Raka lagi..Raka lagi.” batin Gilang kesal. “Gue pikir lo orangnya baik kenyataannya


tanggung jawab lo sama gue juga sebatas kata orang bukan dari hati lo sendiri.


Sudahlah gue nggak butuh perawatan dari lo. Gue udah ada dokter, lagian lo


bilang lo kan udah punya pacar jadi nggak usah dekat-dekat angap saja kita


nggak kenal.” Gilang putus asa. Dia meninggalkan Gita, dalam hatinya mengatakan


kalau dia akan move on dan menghapus semua cinta kepada Gita.


“Kenapa sih dia, aneh banget. Giliran mau tanggung jawab malah di kata-katain.”


Beberapa hari terakhir sebelum hari H pertandingan basket Gita mencoba mendekati Gilang


untuk merawatnya, namun Gilang mulai menghindar dia terus berkata ketus saat Gita mencoba merawatnya.


“Kak sini gue bantuin.” Gita mengulurkan tangan saat melihat Gilang mau berdiri


setelah menonton latihan basket teman-temannya. Gilang hanya  melirik kearah Gita sebentar lalu


mengabaikannya.


“Bay, bantuin gue berdiri.” Kata Gilang kepada Bayu yang berlari ke arahnya.


“Ok.”


“Heran deh, udah di tawarin juga mau bantuin malah di tolak.” Gita kesal.


“Emang siapa yang minta bantuan lo!”


Bayu bengong melihat reaksi Gilang, dia tak menyangka kalau Gilang bisa kembali seperti


dulu. Cowok yang cool dan cuek sekali, kalau dia nggak suka akan menjawab


dengan ketus. Gita manyun dia di buat sangat kesal, dia sudah berusaha baik


namun di abaikan oleh Gilang.


“Wah... ada apa ini?” Bayu dengan senyum-senyum ragu antara heran sama senang melihat


perubahan drastis sahabatnya itu.


“Maksud lo?”


“Ya lo kan kemarin suka banget tuh sama si Gita kenapa sekarang cuek banget?”


“Itukan yang dia mau, mau gimana lagi. Gue nggak bisa maksa kehendak dia.” Katanya


sambil jalan pincang.


“Syukurlah lo akhirnya sadar, lo bakalan dapat yang lebih baik lagi dari dia. Noh si


Monika yang sudah ngebet sejak kita jadi murid baru.”


“Ambil  aja kalau lo mau dia, gue sama sekali tidak tertarik dengan Monika bagi gue dia


itu hanya seorang teman biasa.”


 +++++++


Gita mondar-mandir di kelasnya, dia merasa ada yang aneh dengan Gilang. Tiba-tiba


aja hatinya merasa was-was.


“Gue heran aja sama sikap Gilang sama gue, dia kok tiba-tiba galak gitu ya.” Ujar Gita.


“Galak gimana?”


“Ya beberapa hari terakhir ini kan gue berusaha untuk merawat dia, tapi dia malah


cuek dan juga ketus kalau ngomong sama gue.”


“Sakit hati kali sama lo, jadi dia sekarang benci sama lo.” Kata Fara.


“Bukannya itu yang lo mau Git, dengan dia benci maka lo nggakusah repot-repot buat


menghindari dia.” Kata Anita.


“Iya sih. Tapi..ah.. tahu lah.” Gita mengacak-acak rambutnya lalu duduk dan


menerungkapkan kepalanya di atas meja. Dia menjadi galau sendiri, padahal dia


menekankan hatinya kalau dia tidak suka sama dia namun tiba-tiba di jutekin


Gilang dia merasa nggak enak.


+++


“Permisi.”


“Ya.”


“Maaf, ini siapa ya?” tanya Bik Siti saat membukakan pintu.


“Saya Mbok Yamah yang mau urut Mas Gilang.” Katanya.


“Tukang urut?” Bik Siti mengerutkan keningnya, selama ini keluarga majikannya tidak


pernah yang namanya urut. Mereka akan selalu pergi ke dokter.


“Iya, tadi ada yang datang ke tempat saya di suruh datang ke sini.”


“Ada apa Bik?” tanya Gilang mendekati Bik Siti.


“Ini katanya ada yang mau ngurut kaki Mas Gilang.”


“Saya nggak pesan tukang urut.”


“Iya, tadi katanya kakaknya Mas Gilang yang pesan.”


“Kak  Andini?”


“Iya.”


“Masa sih?”


“Ya udahlah Mas, daripada kaki nggak sembuh-sembuh.” Bik Siti memberikan saran.


“Silahkan Masuk.”


Gilang pun akhirnyamau di urut demi kesembuhan kakinya, dan dia harap dua hari lagi bakalan sembuh dan bisa ikut lomba basket.


“Aaaa! Pelan-pelan Mbok sakit banget!” teriak Gilang lalu mengaduh karena sakit.


“Tahan dong Mas, masa baru di pegang aja udah teriak.”


“Ya si Mbok pegangnya pakai tenaga dalam gimana saya nggak teriak.” Keluh Gilang. Mbok Yamah cuman tersenyum tipis sambil geleng kepala.


“Siap-siap ya Mas.” Kata Mbok Yamah tiba-tiba.


“Eh.. mau di apain Mbok?”


Kleeek!


“Aaaaaaaaaa!” teriak Gilang sekeras


mungkin.


“Coba di gerakan pelan-pelan.” Kata Mbok Yamah dengan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Mbok, pelan-pelan kenapa ini sakit banget.” Katanya sambil meringis menahan kelu kakinya. Dia menggerakan kakinya


perlahan.


“Gimana Mas? Udah lumayan enakan?” tanya Mbok Yaman.


“Eh.. iya Mbok lumayan enakan.”


“Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu.” Mbok Yamah pamit.


“Berapa Mbok?” tanya Gilang sambil mengeluarkan dompetnya.


“Nggak usah Mas, udah dibayar lunas sampai Mas Gilang benar-benar sembuh. Nanti dua hari kedepan Mbok kesini lagi buat ngecek.”


“Baik Mbok. Makasih ya.”


“Iya sama-sama Mas, kalau gitu permisi dulu ya.”


“Ya Mbok.”


Gilang tersenyum sambil perlahan menggerakan kakinya, harusnya sejak kemarin dia ke tukang urut pasti hari ini


dia sudah sembuh.


 “Bisa ikutan main basket kalau gini mah.” Ujarnya sambil terus tersenyum.