
Perjalanan yang lumayan membuat badan
mereka pegal-pegal, Gita menarik kopernya buru-buru. Dia ingin cepat-cepat masuk hotel dan rebahan di kamarnya.
“Sini gue bawain.” Kata Win.
“Nggak usah Mas, makasih.” Gita menolak
tawaran Win, dia masih bisa membawa sendiri.
“Bawain punya gue aja Win.” Nino
memberikan kopernya.
“Lo tuh laki, masa barang segitu minta
di bawaain.” Kata Win sambil menggeret kopernya.
“Tuh punya Ina kenapa nggak di bawain,
lo pilih kasih deh. Jangan-jangan lo ada hati nih sama Gita.” Kata Nino sambil melipat kedua tangannya. Win menoleh melihat Ina yang kesulitan membawa kopernya.
“Kalau ngomong jangan sembarangan,lagian lo jadi teman kenapa nggak peka sih, bawain kek malah ngatain orang lain.” Win berjalan menuju Ina lalu menawarkan untuk membawakan koper
milik Ina.
“Kalau ada lo kenapa harus gue.” seru Nino sambil tertawa kecil, dia jalan lebih dulu.
Gita berdiri di depan lift menunggu pintu
terbuka, saat dia masuk barengan dengan seorang cowok. Gita dan cowok itu
sama-sama mudur.
“Silahkan duluan.” Katanya.
Gita mengangguk lalu masuk lebih dulu dan menekan tombol lantai tiga.
Gita dan cowok itu hanya berdua di lift,
cowok itu memandangi Gita sedangkan Gita mulai asik dengan ponselnya.
“Maaf, lo staf GG entertaimen bukan?” tanya cowok itu.
“Iya.” Jawab Gita. Dia berhenti memainkan
ponselnya lalu memasukka ke dalam tasnya.
“Baru ya?" tanyanya karena dia belum pernah melihatnya dan juga tidak kenal dengan dirinya.
"Iya, baru beberapa minggu disini."
"Kalau gitu perkenalkan nama gue Radit, artis yang akan memainkan film kali ini.” Radit memperkenalkan diri.
“Hai, gue Gita.”
“Salam kenal Gita.” Radit mengulurkan
tangan, Gita pun menyambutnya.
Pintu lift sudah terbuka Gita langsung
menarik kopernya, “Gue duluan ya.” Kata Gita sambil tersenyum.
“Iya, sampai bertemu nanti.” Kata Radit
sambil melambaikan tangan.
Gita membuka kunci kamarnya, dia
kemudian menjatuhkan tubuhnya tanpa beberes dulu. Fara yang masuk di belakangnya pun langsung datang menyusul rebahan di samping Gita.
“Hah.. perjalanan ini sungguh sangat
capek.” Ujar Fara.
“Benar, aku mau mandi berendam lalu
tidur. Pasti enak banget.” Kata Gita.
“Tapi kenyataannya kita kesini untuk
bekerja bukan liburan, sayang.” Kata Fara.
“Yah.. tertampar sama kenyataan.” Ujar
Gita sambil memeluk bantal gulingnya.
Derrttzzz....deerrttzzz... ponsel Gita
dan Fara berbunyi bersamaan. Gita dan Fara langsung mengambil ponselnya.
“My boy.” Kata mereka berdua bersamaan.
Gita mengibaskan tangannya agar Fara pergi dari kasur dan pindah ke sofa
agar mereka kalau bucin nggak terganggu. Fara berdecak karena dia yang harus
mengalah pindah.
“Halo sayang, sudah sampai?” tanya
Gilang.
“Sudah.” Jawabnya.
“Gimana hotelnya nyaman nggak?” tanya
Gilang.
“Nyaman banget, ruangannya luas
pemandangannya indah. Tapi sayangnya satu..” Gita menggantung ucapannya.
“Apa?”
“Aku kesini untuk kerja bukan liburan.” Ucapnya.
“Ya udah kerja dulu, weekend nanti kita
liburan.” Kata Gilang.
“Janji ya.”
“Iya.” Kata Gilang.
Tok...tok... pintu kamar terketuk sangat
keras.
“Gita... Fara buruan turun, kalian
jangan langsung tidur kita kesini buat kerja bukan liburan!” teriak Vian dari
luar.
“Udah dulu ya sayang, nanti malam Gita
telpon lagi.”
“Ok.” Gilang memutuskan sambungan
telponnya.
Gita sama Fara bergegas membuka pintu,
dan siap untuk bekerja.
“Lo ya nggak bisa lihat teman-teman lo ini sedikit bahagia.” Omel Fara.
“Lah.. kalian kesini untuk bekerja bukan
leha..leha begitu.” Vian tidak mau disalahkan sama kedua sahabatnya. “Udah ah.. buruan kita sudah di tungguin di bawah.”
...♡♤♤♤♡...
Semua orang langsung sibuk mempersiapkan
semua hal untuk syuting,setelah persiapan selesai tapi artis wanitanya belum datang.
“Ratna, mana ini artis perempuannya kok
belum tiba?” tanya Ali selaku stradara di film yang di buat kali ini.
“Gue disini.” Cewek dengan penampilan
sangat anggun datang sembari mengangkat tangannya. Kulit yang putih, kaki jenjang dan paras wajah yang sangat cantik membuat semua orang memandangnya.
“Maaf terlambat sedikit macet di jalan.”
Kata Aura Kalista artis papan atas yang sedang populer.
“Waah.. cantik banget.” Bisik Gita.
“Iya, udah cantik pinter, ramah lagi
orangnya.” Jelas Vian.
“Darimana lo tahu? Emang lo pernah
ketemu sama dia?” tanya Gita.
samperin dulu deh siapa tahu nanti dia mau jadi pacarku.” Vian berjalan mendekati Aura.
“Sok..sokan.. nggak sadar wajahnya kek
apa.” Kata Fara.
“Biarin saja, siapa tahu ada keajaiban
datang kepadanya.” Kata Gita sambit terkekeh, Fara pun ikut tertawa.
Shoting hari ini selesai, mereka semua
bergegas bebersih diri dan siap untuk makan malam. Gita malas mandi dia masih setia guling-guling di kasur.
“Git, buruan kek mandi lo mau makan
nggak.” Kata Fara saat keluar kamar mandi.
“Bawain makanannya bisa nggak, gue males
banget nih keluar capek.” Kata Gita sembari memejamkan matanya.
“Katanya Mas Win sih ada brifing sedikit
jadi tetap harus ikut semua.” Kata Fara.
“Bisa di videoin nggak.”
“Lu ah.. banyak alasan deh. Buruan
mandi.” Fara mearik tangan Gita dan membawanya ke kamar mandi.
“Awas ya lo kalau tidur di kamar mandi
gue kunciin lo sampai seminggu di siitu.” Ancam Fara.
“Sadis banget sih lo.”
Dengan niat yang sangat kuat akhirnya
Gita beranjak dari kasurnya dan pergi mandi. Tidak perlu waktu lama untuk mandi
sampai Fara terheran-heran dengan Gita.
“Kenapa lo melihat gue seperti itu?”
tanya Gita.
“Lo beneran mandi apa cuma masuk ke
kamar mandi?”
“Mandi lah, lihat badan dan rambut gue
basah.” Gita menunjukan rambutnya yang basah.
Gita dan Fara turun keluar dan pergi
untuk makan malam, mereka berdua langsung bergabung sama yang lain. Gita
mengambil piring dan siap memasukan semua menu ke piringnya.
“Guys, gue punya cerita tentang bos
Gilang.” Win menyuruh teamnya untuk berkumpul.
“Apa?” Ina sangat tertarik dengan kisah
bosnya yang cool itu. Gita dan Fara hanya saling pandang-pandangan.
“kemarin gue pas ke mall lihat bos
Gilang sama pacarnya.” Win mulai
bergosip.
“Mall kemarin?” tanya Nino.
“Iya, sebelum kalian datang. Awalnya gue
mau langsung samperin tapi takutnya bukan bos Gilang. Karena terlihat sangat
mirip dan kepo, gue deketin ternyata benar bos Gilang sama cewekknya.”
“Cantik nggak ceweknya?” tanya Gita.
“Nggak tahu ya, dia pakai topi sama
kacamata mana dia jalannya ngumpet di belakang bos lagi. Tapi nih orangnya terlihat nggak asing banget tali gue nggak tahu siapa dia.”
“Wah... bos nggak mau publik pacarnya
pasti takut kalau nanti pacarnya di jahatin fansnya.” Kata Nino.
“Pasti sangat beruntung deh itu cewek
yang jadi pacarnya, udah ganteng nih tajir melintir mana baik lagi. Gue juga
mau satu kayak bos Gilang.” Ujar Ina.
“Menghayal aja lo, nih sama Win saja.”
Kata Nino.
“Jangan sembarangan deh.” Ina menepuk
punggung Nino.
“Mbak Ina sama Mas Win cocok kok,
wajahnya saja agak mirip.” Gita mencoba mencomblangkan Ina dengan Win.
“Iya benar, mana kalian udah kenal lama
kan kemistrinya pasti sangat dapat.” Tambah Fara.
“Kalian jangan sembarang, nanti gue bisa
di labrak mantanya.” Kata Ina.
“Apa haknya mantan melabrak Mbak Ina,
jelas-jelas udah mantan. Kecuali kalau Mas Win masih sayang dan berhubungan
sama mantannya.” Kata Vian.
“Kenapa jadi pada gosipin gue sih, kan
awalnya kita bahas Bos Gilang.”
“Nggak usah pada berdebat, kemarin yang
pergi sama bos Gilang itu gue.” Kata Gita dengan sangat percaya diri.
“Ihh...halunya. Ya Tuhan nggak sadar
diri.” Sahut Catrin yang lewat di depan mereka.
“Kenapa sih sirik banget kalau gue jalan
sama bos Gilang.” Kata Gita, dia sebenarnya mengatakan itu hanya buat guyonan
sama teman-temannya.
“Heh.. Gita, bangun lo takutnya nyungsep
kalau mimpi berjalan.” Ratna tertawa mendengar kehaluan Gita.
“Lagian bos Gilang juga nggak akan suka
dengan cewek modelan kayak lo, dia itu sukanya ya seperti Mbak Lila atau nggak
tuh Aura dan gue tuh baru cocok. kalau lo babu-babu aja jangan seperti pungguk
merindukan bulan.” Kata Catrin dengan percaya diri.
“Mulut lo ya kalau ngomong kayak nggak
ada lak-lakanya los saja, harusnya lo yang sadar diri takutnya jatuh nyungsep
mending kalau langsung mati. Kalau cuman luka-luka sakitnya luar dalam.” Ejek Gita.
Catrin menaruh piringnya, dia siap menjambak rambut Gita namun di tahan sama Nino dan Win.
“Lo mau ngapain?” tanya Nino sambil berakacak pinggang. Dia menjadi tameng buat Gita.
“Ratna, bawa pergi tuh anak buah lo
jangan sampai membuat kerusuhan disini malu-maluin kalau sampai ribut.” Kata
Win. Ratna pun menarik Catrin agar mengjauh dari team Win.
“Kalian bisa nggak sih nggak ribut sama
team sebelah.” Win mengomel sedangkan yang lain langsung pergi dan tutup
telinga.