
Fara memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di tepi pantai sendirian. Menikmati ombak dan angin yang segar tanpa ganguan dari Gita dan Anita yang terus menjodohkannya dengan Raka.
Fara duduk di pantai sambil memainkan
pasir dengan tangannya. Dia tersenyum memandang indahnya pemandangan laut. Memejamkan matanya menikmati deburan ombak dan semilir angin yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba terlintas wajah Raka yang tersenyum kepadanya. Fara membuka matanya cepat.
“Apa ini, kenapa dia bisa melintas di
pemandangan indah pantai ini.” Gumam Fara.
“Nggak mungkin kan gue jatuh cinta
sama Raka dadakan gini. Pasti ini efek karena terus di godain sama Gita dan Anita
jadi gue kepikiran.” Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jatuh cinta sama siapa lo?” Raka duduk di sebelah Fara.
“Astaga, kenapa lo tiba-tiba muncul sih.” Fara kaget sambil memegangi dadanya ketika ada Raka di sampingnya. Fara menoleh sebentar lalu menatap ke laut lepas, dia menata hatinya yang berdetak luar biasa karena mengingat kejadian di depan gerbang sekolah saat Raka di sampingnya. Meskipun bibirnya tidak menyentuh bibir miliknya namun itu membuat hatinya berantakan.
“Gue lihat lo kayak orang ilang, kan
kasihan di lihatin orang kayak orang linglung gitu. Makanya gue samperin lo
kesini.”
Fara berdesisi, “Mana ada orang, lihat
semua nggak ada. Lo jangan ngadi-ngadi deh."
“Boleh duduk sebelah lo?” tanya Raka. Meskipun terlambat izin, dan jika tidak di perbolehkan dia juga bakalan nekat duduk di sebelah Fara.
“Bebas saja.” Jawab Fara ketus.
“Sepertinya dengan kejadian kemarin
membuat lo jadi canggung ya.” Raka menatap Fara.
“Kejadian apa gue sudah lupa, ah..
mungkin tidak ada kejadian.” Fara berusaha untuk tidak membahasnya dengan Raka.
“Baguslah kalau lo melupakannya, gue
kesini cuma mau minta maaf dan terima kasih karena sudah berkenan membantu gue.” Jelas Raka.
“Membantu apa, lo tidak minta tolong.
Langsung saja mencium bibir gue.” Katanya dengan jengkel.
“Kataya sudah melupakan, ternyata tuh
benar kalau omongan cewek itu selali terbalik-balik. Iya berarti tidak, tidak
berarti iya.” Raka mengangguk-anggukkan kepala.
“Lo jauh-jauh dari gue, pasti gara-gara
perlakuan lo itu gue akan di buru mantan pacar lo.” Fara nggak senang karena
dia akan dapat masalah.
“Tenang saja, dia nggak akan berani
mengganggu lo.” Kata Raka.
“Pede banget lo ngomong begitu, lo nggak
tahu kan kalau cewek udah nekat. Dia bakalan lakuin apapun demi mencapai
tujuannya.”
“Lo curhat, sepertinya patah hati lo itu
sangat dalam. Tapi tenang saja selama ada gue dia nggak akan melakukan
macam-macam.”
“Siapa juga yang curhat, lagian gue juga
nggak peduli dia mau melakukan apa-apa. Raka jangan bilang lo suka sama
gue?” Fara menunjuk wajah Raka.
“Kalau iya memangnya kenapa?” Raka
menurunkan jari telunjuk Fara.
“Dasar gila, ish.. memang manusia gila.”
Fara kabur menjauh dari Raka. Namun saat dia berdiri tiba-tiba ada orang lari dan menyenggol tubuhnya sampai Fara jatuh menindihi Raka.
Kedua mata mereka saling beradu, jantung
mereka seakan beradu.
“Sepertinya takdir memang tidak mau memisahkan kita.” Raka memeluk erat Fara dengan tersenyum.
“Raka lepasin gue.” Fara berontak. “Lo
gila ya, jangan hanya karena lo mau balas dendam sama mantan lo. Terus jadiin
"Sudah tahu, kan contohnya lo."
Fara mendelik, dia berontak lalu berlari meninggalkan Raka setelah lepas dari pelukan Raka.
“Fara tunggu mau kemana?”Raka memanggil Fara sambil mengejarnya.
“Ya Tuhan, cobaan apa lagi.” Fara lari
lebih cepat.
Raka menangkap Fara, mereka berdua pun akhirnya bercanda di tepi pantai. Hati Raka semakin lega. Dia memang tidak akan bisa semudah itu melupakan semua kenangan yang sudah dia jalani dengan Prisil. Tapi dia bisa membuatnya perlahan melupakan sang mantan dengan mengganggu Fara. Karena mengganggu Fara membuatnya senang, apalagi sampai Fara teriak-teriak.
“Stop. Gue capek.” Fara mengangkat tangannya. Dia mengatur napasnya
yang ngos-ngosan.
“Sebentar gue cari minum buat lo.” Kata
Raka sambil berlari membeli air mineral.
“Nih.” Raka membukakan tutup botol lalu
di berikan kepada Fara.
“Makasih.” Kata Fara. “Lo nggak minum?”
Fara melihat Raka.
“Lo minum aja dulu, setelah baru gue.”
Kata Raka menunggu minuman sisa dari Fara.
“Hah.. lo nggak punya duit untuk beli dua.” Fara memandang Raka dengan heran.
“Biar romantis gitu, lo sama Gita sama
aja nggak bisa di ajak romantis.” Raka mengambil botol air mineral dari tangan
Fara.
“Oooo romantis, ya gue nggak paham orang
lo bukan pacar gue.”
“Memangnya kalau romantis itu cuma sama
pacar?” Raka menutup botol air mineral yang tinggal sedikit.
“Iya dong, harus sama pacar.”
“Kalau pacar orang gimana?” Raka
menggerak-gerakan kedua alisnya. Bibirnya senyum jahil.
Fara mendelik, “Lo pikir aja gimana,
baru juga ngalamin masih bisa bertanya kayak gitu. Gue mau tanya sebenarnya
perasaan lo sekarang gimana sih? Sedih, senang atau gimana gue nggak paham.”
Fara menggelengkan kepala.
“Oiyaa.. gue lupa. Lo emang obat mujarab
gue Far. Baru main sehari aja udah lupa segalanya.” Raka terkekeh.
“Dasar manusia gila. Raka yang lo
omongin sama gue itu bercanda kan?” Fara menginginkan penjelasan tentang Raka
yang terus bilang mau jadi pacar Fara.
“Duduk.” Raka meminta Fara untuk duduk,
Fara mengangguk menuruti Raka. Dia ingin meminta penjelasan sejelas mungkin agar hatinya bisa tenang.
Fara sudah menunggu beberapa menit tapi
Raka tidak mengatakan apa-apa justru dia menatap ombak yang bergulung-gulung.
“Jadi?” Tanya Fara.
“Hmm..”
“Lo itu mau ngomong apa? Udah di tungguin juga.” Fara agak ngegas karena merasa di kerjai Raka terus. Raka kembali terkekeh, senang banget melihat Fara ngambek sama dirinya.
“Jalani aja apa adanya, gue juga nggak
tahu. Tapi sebisa mungkin lo jangan ambil hati omongan gue. Kalau memang takdir
menjadikan kita sepasang kekasih biar gue yang berusaha mengambil hati lo. Biarkan gue yang mengejar lo agar lo tidak sakit hati” Raka memandang Fara dalam. Dia juga bingung kenapa sering banget mengatakan mau menjadi pacar Fara.
“Yah, gue memang tak pernah menganggap
semuanya ini serius. Kita itu sahabat bukan, dan gue juga nggak kaget kalau lo
terus ngisengin gue sama halnya lo ngisengin Gita bukan. Dan kata-kata cinta lo itu cuma candan semata.” Kata Fara dengan nada antara lega, bingung ditambah sedikit rasa kecewa. Entah mengapa ada rasa kecewa dengan penjelasan Raka.
"Yash.. lo emang cewek pintar." Raka mengacak-acak rambut Fara.