Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
salahpaham


Gilang turun dari mobil membawa satu buket besar bunga serta makanan, dia melangkah


pelan saat Gita sedang ngobrol sama seorang lelaki yang tidak di kenalnya.


Dadanya bergemuruh, dia terbakar cemburu melihat Gita terlihat akrab.


“Sayang..” panggil Gilang dengan jelas dan keras supaya cowok yang ada di depan Gita itu mendengarnya.


“Kak Gilang.” Bibir Gita mengembang melihat Gilang datang setelah dia mengabaikan


dirinya.


“Siapa dia?” wajahnya semakin serius, senyum Gita pun mulai memudar.


“Hai Gilang, udah lama nggak ketemu. Lo nggak kenalin wajah gue.” Devan menunjuk


wajahnya. Gilang memperhatikan wajah Devan, namun dia tetap tidak mengenalinya.


“Gue Devan.”


“Devan.” Gilang langsung menatap Gita tajam.


“Gita, karena udah malam gue cabut dulu ya. Nanti kalau gue ada waktu akan main kesini lagi. Oiya.. salam ya sama tante, om dan yang lain.” Kata Devan dengan sengaja.


“Iya.” Gita mengangguk.


“Gilang, gue duluan.” Devan melambaikan tangan.


Gilang tidak menjawab, justru dia menatap Gita dengan tajam, dadanya semakin meradang dengan kata-kata akan


datang lagi berati mereka berdua akan ketemuan lagi.


Gita membalikan badan, dia sedang tidak ingin ketemu Gilang setelah perdebatan semalam. Dia masih marah, kecewa jadi lebih baik jika dia menghindarinya dulu.


Gilang menarik tangan Gita hingga menghadap padanya.


“Sejak kapan kamu ketemuan sama Devan?” tanya Gilang dengan nada tinggi, sorot matanya yang tajam terlihat dia sangat marah.


“Aku nggak ketemuan sama Devan, dia saja yang datang kemari.” jawab Gita datar saja.


“Terus setelah datang kamu ngobrol berduaan.” Gilang terus menyerang Gita dengan pertanyaan yang menyudutkan Gita.


“Ya terus aku harus bagaimana, dia datang bertamu masa aku diam saja sedangkan dirumah nggak ada orang. Sayang, jangan salah paham aku tidak pernah ketemuan sama Devan secara sengaja.” Gita menjelaskan sama Gilang.


“Bertamu ya, atau mengenang masa lalu.” Gilang semakin emosi saja mendengar jawaban Gita.


“Kak..!" Gita pun ikut meradang.


“Aku sudah banyak pikiran, pusing mikirin kamu yang tidak bisa di hubungi tapi


kenyataanya kamu malah asyik berduaan sama Devan. Bahkan kalian berencana untuk bertemu lagi.” Gilang menjatuhkan buket bunga beserta makanannya. Gilang kemudian pergi begitu saja.


Gita menghela napas panjang, jika dia terus emosi maka hanya pertengkaran yang ada.


“Kak Gilang..tunggu sayang, ini tidak seperti yang kak Gilang bayangkan. Dia hanya datang dan baru saja datang.” Gita memeluk Gilang dari belakang agar Gilang berhenti dan mau mendengarkan penjelasanya.


“Sayang, aku tidak pernah berhubungan ataupun mengundang Devan. Tapi dia yang datang sendiri kesini.” Gita mulai meneteskan air matanya.


Gilang melepaskan pelukan Gita, “Sudah malam, aku mau pulang dulu besok harus kerja lagi.” Katanya sambil masuk ke mobilnya.


“Sayang tunggu..” Gilang tidak mau mendengarkan Gita. Emosinya sidah tidak bisa terkontrol. Gita jongkok sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sesenggukan di depan rumah hampir setengah jam. Setelah dia merasa capek langsung berdiri untuk kembali ke dalam rumah. Karena tangisanya juga tidak membuat Gilang berubah pikiran untuk kembali ke rumahnya.


"Harusnya kan aku yang marah, kenapa malah Kak Gilang yang marahin aku." Gita sesenggukan.


Gita mengambil bunga dan juga makanan dari Gilang. Dia naik perlahan ke kamarnya.


Gita membuka kotak berisikan makanan yag sudah hancur karena di buang begitu


saja sama Gilang.


Gita memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan dia yang masih terisak. Dia memakan makanan itu untuk melepaskan rasa kagen. Dia menganggap kalau itu kiriman dari Gilang meskipun sudah rusak dia akan tetap memakannya.


...Gita...


...Makasih makanannya ini sangat enak, bunganya juga sangat cantik. Kamu jangan lupa makan ya....


...Good night...


...I love you...


Gita mengirim pesan beserta gambar makanan dan bunga. Dia harap Gilang merespon pesannya, namun harapan Gita sia-sia Gilang bahkan tidak membukannya.


Ting...


Ponsel Gita berbunyi, dengan sigap dia mengambil dan membuka ponselnya. Semangatnya menurun karena yang mengirim pesan ternyata bukan Gilang melainkan Devan.


...Devan...


...Git, besok ada waktu nggak. Temanin gue cari kado yuk buat calon istri gue. Sebentar...


...lagi dia ulang tahun tapi gue bingung mau kasih apa....


Gita membaca sekilas lalu megabaikan pesan dari Devan, dia lebih memilih mematikan


datanya lagi.


Gita pergi ke kantor sangat pagi, satu jam sebelum orang lain datang agar dia bisa


mertua dan keluarga dia tahu kalau mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.


Gita menunggu di depan ruangan Gilang agar saat Gilang datang dia bisa langsung


ngobrol. Tak lama Gilang datang, mereka saling bertatapan tapi Gilang mengabaikan Gita dengan pura-pura tidak melihat Gita. Dia sibuk dengan berkas yang di bawanya dan ngobrol sama Lila.


“Kak Gilang..” Panggil Gita sembari membuntuti Gilang dan Lila masuk ke ruangan.


“Pak, mau ngobrol dulu sama Gita.” Kata Lila.


“Nggak perlu Lila, kamu segera siapkan berkasnya dan bilang sopir kalau kita akan


berangkat lima menit lagi.” Kata Gilang.


“Baik Pak.” Lila keluar menyiapkan berkas yang akan dibawa meeting di luar.


“Sayang, please dengarkan aku dulu.” Gita memegang tangan Gilang.


“Maaf, aku sibuk banget hari ini. Lagian tidak ada yang perlu aku dengarkan.” Gilang kekeh tidak mau mendengarkan Gitam


“Ya udah kalau kamu memang nggak mau dengar, lanjutin saja marahnya kamu. Memangnya cuma kamu saja yang capek dan pusing. Entah apa yang kamu kerjakan sampai melupakan aku. Masih bisa marah sama aku” Gita pergi meninggalkan Gilang.


Gita makin kesal saja, harusnya kan dari kemarin dia yang marah, Tapi sekarang justru yang berbalik, Gilang yang marah sama dirinya. Gita menarik kursinya dengan sangat keras membuat teman-temannya


langsung menoleh ke arah Gita.


“Kesambet apaan lo Git, pagi-pagi udah ngamok.” Kata Vian.


“Kesambet jin tomang.” Jawab Gita dengan nada tinggi.


“Wuiih.. ngeri banget lo. Pms ya?” tanya Nino yang ngilu mendengar suara Gita.


“Udah deh jangan pada ganggu, kerja lagi.” Kata Win.


Fara mengajak Gita pergi ke kafe setelah pulang kerja, dia mau mendengar cerita dari


sahabatnya itu. Mereka berdua memsan kopi dan beberapa makanan kecil.


“Lo kenapa?” tanya Fara.


“Gue kasal banget sama Kak Gilang, sudah beberapa hari dia nggak beri aku kabar. Dan


kalau gue marah wajar nggak sih?” Gita membagi unek-uneknya sama Fara.


“Wajar banget lah, sesibuk apapun pasti akan ada waktu senggangnya kan. Kalau gue jadi lo nggak hanya marah ngamuk malah.” Ujar Fara.


“Nah, tapi sekarang justru dia yang marah.”


“Kok bisa.” Fara heran.


“Jadi kemarin pas Kak Gilang datang ke rumah ada Devan. Jadi Kak Gilang lihat gue


ngobrol sama Devan.” Gita memelankan suaranya.


“Itu juga wajar, kalau Kak Gilang marah. Lagian lo kenapa sih pakai acara


ketemuan sama Devan.”


“Gue nggak ketemuan, dia datang nyamperin ke rumah dan itu juga nggak ada lima belas menit di rumah.” Gita menjelaskan sama Fara agar dia juga tidak ikut salah paham dengan dirinya.


“Lo udah kasih penjelasan sama Kak Gilang.”


“Udah, tapi dia nggak mau dengar. Dia malah memaki gue. Entah lah mendekati pernikahan justru kita lebih sering bertengkar. Mana udangan belum juga kelar. Fitting baju juga belum. Hah.. gue capek." Keluh Gita.


“Kok belum jadi sih, hari pernikahan kalian sudah dekat banget loh.”


“Ya mau gimana lagi, Kak Gilang aja sibuk terus. Nggak tahu deh jadinya mau nikah


atau nggak.” Kata Gita dengan sembarangan. Dadanya penuh banget, dia pingin bangey teriak sekuat-kuatnya biar lega.


“Eh nggak boleh ngomong begitu, ini pasti ujian mau menikah. Jadi lo harus kuat, dan


untuk tidak memperkeruh suasana lo deh yang datang untuk minta maaf dulu.” nasehat Faram


“Gue?” Gita menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.


“Iya lo, masa gue.”


“Nggak mau, Kak Gilang yang ngambek duluan kenapa gue yang minta maaf.” Gita masih berdiri kekeh dengan egonya.


“Ya kalau masalah lo mau cepat selesia salah satu kalian harus mengalah. Tapi kalau


mau terus begini ya lanjut saja.” Fara gedek sendiri dengan kelakuan kedua sahabatnya.


"Tapi kan gue nggak salah, masa ya harus mengalah. Biarin saja gue nggak akan telpon atau kirim pesan." Gita kekeh dengan pendiriannya. Fara hanya bisa menghela napas panjang.


"Terus mau lo sekarang apa?"


"Nggak tahu. Far, pergi kemana gitu yuk. Gue pening banget kepala." Kata Gita.


"Em.. mau karaoke?" ajak Fara.


"Boleh...boleh.." Kebeneran kalau Fara mengajaknya karaoke. Dia akan berteriak sepuasnya di sana.