Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
saingan III


Gita membolak-balikan buku dengan kasar,


mulutnya manyun wajahnya suram. Moodnya pagi ini sangat hancur.


“Kenapa lo Git?” Fara duduk di sebelah


Gita.


“Iya, pagi-pagi udah manyun aja?” Anita


duduk berhadapan dengan Gita.


“Masih marahan sama Kak Gilang?” tanya


Fara lagi karena Gita belum mau buka mulut.


“Belum.” Jawabnya sambil menutup buku.


“Memang masalahnya apaan sih? Tumben lo


marah sampai lama begini.” Anita penasaran dengan permasalahan Gita dan Gilang.


“Dari kemarin dia cuekin gue terus, malah


dia asyik-asyikan lagi sama cewek-cewek di perpustakaan.” Omel Gita.


“Maksud lo belajar bareng?”


“Mana ada belajar bareng, modus aja tuh


si cewek-cewek mau deketin Kak Gilang. Memangnya Kak Gilang belum telpon atau


whatsapp lo?”


“Udah.” jawabnya males.


“Terus?”


“Nggak gue angkat dan nggak gue bales.”


Jawab Gita dengan nada yang masih kesal.


“Kenapa nggak di angkat, pasti Kak


Gilang mau kasih penjelasan sama lo. Udah jangan bikin Kak Gilang kepikiran sama lo. Kasian bentar lagi mau ujian nanti kalau nggak fokus gimana?” Anita menasehati Gita.


“Ada sama sama gue juga biasa aja. Dia


tetap fokus sama buku-bukunya dan juga cewek-cewek yang pinter itu. Gue bisa


apa kalau sainagn gue begituan.” Gita menjadi minder dan merasa nggak cocok lagi sama Gilang.


“Git, sebenarnya lo uring-uringan gini


cemburu sama bukunya Kak Gilang atau cewek –cewek yang mendekat.” Anita masih


bingung dengan inti permasalahan yang membuat Gita kesal.


“Makanya Nit, lo itu jangan bucin terus.


Sampai sahabat sendiri lagi galau lo nggak tahu. Dari kemarin itu Gita nggak di


peduliin sama Kak Gilang. Eh malah ngumpul sama cewek-cewek.” Fara membantu


menjelaskan permasalahannya.


“Ya kalau gitu sekarang lo temui aja Kak


Gilang, biar nggak berkepanjangan permasalahannya.”


“Ogah, kenapa jadi gue yang nyamperin


dia. Orang dia yang salah kok.” Gita nggak mau menemui Gilang lebih dulu.


Gita membundurkan kursi yang di dudukki lalu dia ngumpet di bawah meja ketika melihat Gilang yang sedang jalan lewat kelasnya. Gita menaruh jari telunjuknya di bibir saat kedua sahabatnya menatap dirinya heran.


“Fara.. Anita.” panggil Gilang.


“Ya.” Jawab mereka berdua sambil menoleh


pintu.


“Gita mana?” tanya Gilang.


Fara menggaruk alisnya sambil sedikit


memalingkan wajahnya untuk bertanya sama Gita. Telunjuk Gita masih di bibirnya


sambil dia menggelengkan kepala. Dia mengkode agar bilang kalau mereka berdua


tidak tahu Gita dimana.


“Nggak tahu Kak, kita berdua belum


melihat. Mungkin Gita belum berangkat tahu sendiri lah dia kan emang suka telat.” Kata Fara sambil senyum yang di buat-buat. Untuk meyakinkan Gilang.


Gilang mengangguk-anggukan kepalanya, “Ok, makasih ya. Nanti kalau Gita datang bilangin gue cariin dia.”


“Iya Kak.” Jawab Fara dan Anita


bersamaan.


Gita berdiri perlahan sambil cek Gilang


sudah pergi beneran dan nggak balik lagi.


“Dosa gue tambah nih gara-gara lo.” Omel


Fara.


“Kenapa bisa gitu?”


“Iya lah gue harus berbohong.”


“Bohong demi kebaikan itu nggak akan


dosa. Percaya deh sama gue." Kata Gita sambil ngangguk-ngangguk.


Selama di sekolah Gita terus menghindari


ketika melihat Gilang dari kejauhan.


Gilang menghela napas panjang lalu menutup buku yang sejak tadi dia baca. Dia tidak bisa fokus karena terus memikirkan


Gita yang terus menghindari dirinya.


“Kenapa Lang?” tanya Bayu.


“Gue rasa Gita menghindar terus


dari kemarin sama gue.” Kata Gilang.


“Kalian ada masalah?” tanya Bayu.


Gilang menggelengkan kepala, “Nggak tuh,


kita baik-baik saja. Kemarin kita masih duduk di perpustakaan bareng. Eh tahu-tahu dia pulang nggak pamit, di telpon juga nggak di angkat.” Curhat Gilang.


“Nggak biasanya Gita kayak gitu.” Bayu


ikut heran dengan perubahan Gita.


“Apa Gita sedang dekat sama cowok ya?”


Gilang jadi berprasangka buruk sama Gita.


“Bisa jadi, tapi gue nggak yakin sih kalau


Gita akan selingkuhin lo. Cuma gue rasa ada rahasia yang dia sembunyiin dari lo.”


“Rahasia?” Gilang menatap tajam ke depan


sambil memikirkan rahasia apa yang sedang dia sembunyikan darinya.


“Gue harus samperi Gita sekarang, nggak


bisa seperti ini teru.” Gilang berdiri.


“Ok, gue bantuin menangkap Gita kalau


dia mau kabur dari lo lagi.” Bayu ikut Gilang nyamperin Gita.


Bughhh...


Mita yang buru- buru nggak melihata jalan, dia menabrak Gilang dan juga menumpahkan minuman di seragam Gilang.


“Kak Gilang maaf.” Kata Mita saat


mengangkat wajahnya sambil membersihakan minuman yang tumpah di baju Gilang dengan tangannya.


“Iya Nggak apa-apa, lain kali hati-hati.”


Gilang menepis pelan tangan Mita agar tidak menyentuhnya.


“Sebentar ya Kak, jangan kemana-mana?”


Mita pergi.


"Mau kemana tuh anak?" tanya Bayu. Gilang mengangkat keduat tangannya. Gilang mengajak Bayu kembali melanjutkan jalannya.


Gilang melongok dari jendela, "Kayaknya kosong deh Bay."


"Iya, bentar gue tanya Anita dulu." Bayu mengambil ponselnya lalu telpon Anita.


"Halo, sayang lagi dimana?" tanya Bayu.


"Di taman, ada apa?"


"Sama Gita dan Fara juga."


"Iya, gimana?"


"Enggak, gue lagi di depan kalas lo. Eh ternyata lo makah nggak ada. Gue samperin ke situ ya."


"Iya."


"Gimana?"


"Mereka ada di taman."


Gilang langsung bergegas menuju taman sebelum Gita kabur lagi.


"Kak Gilang tunggu." panggil Mita namun Gilang tak mendengar dia terus jalan. Mita pun mengikuti Gilang dan Bayu.


"Gita." Fara menyenggol lengan Gita.


"Apaan sih Far, jangan rese deh. Gue lagi males." Kata Gita.


"Tuh.. lihat siapa yang datang." Fara menunjuk Gilang.


Gita menurunkan kakinya, dia siap berlari tapi Gilang lebih cepat larinya dan menarik tangan Gita.


"Mau kemana?" kata Gilang dengan napas sedikit terengah-engah.


"Mau ke kelas kan sebentar lagi udah mau bel." kata Gita.


"Gue anterin." Kata Gilang sambil makin erat memegang tangan Gita.


"Nggak usah, lebih baik Kak Gilang kembali ke kelas saja. Belajar aja yang benar nggak usah ngurusin gue." kata Gita berusaha melepas tangannya.


"Kak Gilang, tadi gue minta tunggu malah pergi. Ini baju buat ganti, itu kan kotor." Mita menyodorkan seragam baru yang baru di belinya dari koperasi.


Gita melirik ke baju Gilang lalu melirik ke arah Mita yang senyum-senyum sok cantik.


"Dasar cewek nggak tahu diri, beraninya godain cowok di depan pacaranya." Batin Gita.


"Nggak usah, nanti biar gue cuci bersih lagi." Gilang menolak.


"Air kopi susah hilang Kak, terima ya gue kan jadi nggak enak. Kalau nggak di terima gue nanti merasa bersalah terus." kata Mita.


"Harusnya merasa bersalahnya itu bukan karena air kopi tumpah di baju. Tapi merayu cowok di depan pacarnya." Kata Fara sini.


"Siapa juga yang merayu, ini namanya tanggung jawab." Mita tidak terima di katakan merayu.


"Alasan, bilang aja modus." kata Fara lagi.