
Gita membolak-balikan buku dengan kasar,
mulutnya manyun wajahnya suram. Moodnya pagi ini sangat hancur.
“Kenapa lo Git?” Fara duduk di sebelah
Gita.
“Iya, pagi-pagi udah manyun aja?” Anita
duduk berhadapan dengan Gita.
“Masih marahan sama Kak Gilang?” tanya
Fara lagi karena Gita belum mau buka mulut.
“Belum.” Jawabnya sambil menutup buku.
“Memang masalahnya apaan sih? Tumben lo
marah sampai lama begini.” Anita penasaran dengan permasalahan Gita dan Gilang.
“Dari kemarin dia cuekin gue terus, malah
dia asyik-asyikan lagi sama cewek-cewek di perpustakaan.” Omel Gita.
“Maksud lo belajar bareng?”
“Mana ada belajar bareng, modus aja tuh
si cewek-cewek mau deketin Kak Gilang. Memangnya Kak Gilang belum telpon atau
whatsapp lo?”
“Udah.” jawabnya males.
“Terus?”
“Nggak gue angkat dan nggak gue bales.”
Jawab Gita dengan nada yang masih kesal.
“Kenapa nggak di angkat, pasti Kak
Gilang mau kasih penjelasan sama lo. Udah jangan bikin Kak Gilang kepikiran sama lo. Kasian bentar lagi mau ujian nanti kalau nggak fokus gimana?” Anita menasehati Gita.
“Ada sama sama gue juga biasa aja. Dia
tetap fokus sama buku-bukunya dan juga cewek-cewek yang pinter itu. Gue bisa
apa kalau sainagn gue begituan.” Gita menjadi minder dan merasa nggak cocok lagi sama Gilang.
“Git, sebenarnya lo uring-uringan gini
cemburu sama bukunya Kak Gilang atau cewek –cewek yang mendekat.” Anita masih
bingung dengan inti permasalahan yang membuat Gita kesal.
“Makanya Nit, lo itu jangan bucin terus.
Sampai sahabat sendiri lagi galau lo nggak tahu. Dari kemarin itu Gita nggak di
peduliin sama Kak Gilang. Eh malah ngumpul sama cewek-cewek.” Fara membantu
menjelaskan permasalahannya.
“Ya kalau gitu sekarang lo temui aja Kak
Gilang, biar nggak berkepanjangan permasalahannya.”
“Ogah, kenapa jadi gue yang nyamperin
dia. Orang dia yang salah kok.” Gita nggak mau menemui Gilang lebih dulu.
Gita membundurkan kursi yang di dudukki lalu dia ngumpet di bawah meja ketika melihat Gilang yang sedang jalan lewat kelasnya. Gita menaruh jari telunjuknya di bibir saat kedua sahabatnya menatap dirinya heran.
“Fara.. Anita.” panggil Gilang.
“Ya.” Jawab mereka berdua sambil menoleh
pintu.
“Gita mana?” tanya Gilang.
Fara menggaruk alisnya sambil sedikit
memalingkan wajahnya untuk bertanya sama Gita. Telunjuk Gita masih di bibirnya
sambil dia menggelengkan kepala. Dia mengkode agar bilang kalau mereka berdua
tidak tahu Gita dimana.
“Nggak tahu Kak, kita berdua belum
melihat. Mungkin Gita belum berangkat tahu sendiri lah dia kan emang suka telat.” Kata Fara sambil senyum yang di buat-buat. Untuk meyakinkan Gilang.
Gilang mengangguk-anggukan kepalanya, “Ok, makasih ya. Nanti kalau Gita datang bilangin gue cariin dia.”
“Iya Kak.” Jawab Fara dan Anita
bersamaan.
Gita berdiri perlahan sambil cek Gilang
sudah pergi beneran dan nggak balik lagi.
“Dosa gue tambah nih gara-gara lo.” Omel
Fara.
“Kenapa bisa gitu?”
“Iya lah gue harus berbohong.”
“Bohong demi kebaikan itu nggak akan
dosa. Percaya deh sama gue." Kata Gita sambil ngangguk-ngangguk.
Selama di sekolah Gita terus menghindari
ketika melihat Gilang dari kejauhan.
Gilang menghela napas panjang lalu menutup buku yang sejak tadi dia baca. Dia tidak bisa fokus karena terus memikirkan
Gita yang terus menghindari dirinya.
“Kenapa Lang?” tanya Bayu.
“Gue rasa Gita menghindar terus
dari kemarin sama gue.” Kata Gilang.
“Kalian ada masalah?” tanya Bayu.
Gilang menggelengkan kepala, “Nggak tuh,
kita baik-baik saja. Kemarin kita masih duduk di perpustakaan bareng. Eh tahu-tahu dia pulang nggak pamit, di telpon juga nggak di angkat.” Curhat Gilang.
“Nggak biasanya Gita kayak gitu.” Bayu
ikut heran dengan perubahan Gita.
“Apa Gita sedang dekat sama cowok ya?”
Gilang jadi berprasangka buruk sama Gita.
“Bisa jadi, tapi gue nggak yakin sih kalau
Gita akan selingkuhin lo. Cuma gue rasa ada rahasia yang dia sembunyiin dari lo.”
“Rahasia?” Gilang menatap tajam ke depan
sambil memikirkan rahasia apa yang sedang dia sembunyikan darinya.
“Gue harus samperi Gita sekarang, nggak
bisa seperti ini teru.” Gilang berdiri.
“Ok, gue bantuin menangkap Gita kalau
dia mau kabur dari lo lagi.” Bayu ikut Gilang nyamperin Gita.
Bughhh...
Mita yang buru- buru nggak melihata jalan, dia menabrak Gilang dan juga menumpahkan minuman di seragam Gilang.
“Kak Gilang maaf.” Kata Mita saat
mengangkat wajahnya sambil membersihakan minuman yang tumpah di baju Gilang dengan tangannya.
“Iya Nggak apa-apa, lain kali hati-hati.”
Gilang menepis pelan tangan Mita agar tidak menyentuhnya.
“Sebentar ya Kak, jangan kemana-mana?”
Mita pergi.
"Mau kemana tuh anak?" tanya Bayu. Gilang mengangkat keduat tangannya. Gilang mengajak Bayu kembali melanjutkan jalannya.
Gilang melongok dari jendela, "Kayaknya kosong deh Bay."
"Iya, bentar gue tanya Anita dulu." Bayu mengambil ponselnya lalu telpon Anita.
"Halo, sayang lagi dimana?" tanya Bayu.
"Di taman, ada apa?"
"Sama Gita dan Fara juga."
"Iya, gimana?"
"Enggak, gue lagi di depan kalas lo. Eh ternyata lo makah nggak ada. Gue samperin ke situ ya."
"Iya."
"Gimana?"
"Mereka ada di taman."
Gilang langsung bergegas menuju taman sebelum Gita kabur lagi.
"Kak Gilang tunggu." panggil Mita namun Gilang tak mendengar dia terus jalan. Mita pun mengikuti Gilang dan Bayu.
"Gita." Fara menyenggol lengan Gita.
"Apaan sih Far, jangan rese deh. Gue lagi males." Kata Gita.
"Tuh.. lihat siapa yang datang." Fara menunjuk Gilang.
Gita menurunkan kakinya, dia siap berlari tapi Gilang lebih cepat larinya dan menarik tangan Gita.
"Mau kemana?" kata Gilang dengan napas sedikit terengah-engah.
"Mau ke kelas kan sebentar lagi udah mau bel." kata Gita.
"Gue anterin." Kata Gilang sambil makin erat memegang tangan Gita.
"Nggak usah, lebih baik Kak Gilang kembali ke kelas saja. Belajar aja yang benar nggak usah ngurusin gue." kata Gita berusaha melepas tangannya.
"Kak Gilang, tadi gue minta tunggu malah pergi. Ini baju buat ganti, itu kan kotor." Mita menyodorkan seragam baru yang baru di belinya dari koperasi.
Gita melirik ke baju Gilang lalu melirik ke arah Mita yang senyum-senyum sok cantik.
"Dasar cewek nggak tahu diri, beraninya godain cowok di depan pacaranya." Batin Gita.
"Nggak usah, nanti biar gue cuci bersih lagi." Gilang menolak.
"Air kopi susah hilang Kak, terima ya gue kan jadi nggak enak. Kalau nggak di terima gue nanti merasa bersalah terus." kata Mita.
"Harusnya merasa bersalahnya itu bukan karena air kopi tumpah di baju. Tapi merayu cowok di depan pacarnya." Kata Fara sini.
"Siapa juga yang merayu, ini namanya tanggung jawab." Mita tidak terima di katakan merayu.
"Alasan, bilang aja modus." kata Fara lagi.