
Seperti rencana kemarin, Gita Fara dan Anita akan pergi bersama. Waktu menjelang sore Fara sudah sampai di rumah Gita.
“Git..Gita.. yuhuuu..” Seru Fara sembari menaiki tangga.
“Ya, gue udah selesai.” Katanya sambil membuka pintu kamarnya.
“Okay, let’s go kita ke rumah Anita.” Fara menggandeng Gita.
Fara mengendarai mobil dengan sedikit cepat, hingga sampai rumah Anita dalam waktu setengah jam. Anita yang sudah menunggu di depan pintu langsung naik ke mobil.
“Hai… kangen banget gue sama kalian.” Anita memeluk Gita yang berada di depan lalu Fara.
“Iya, sama gue juga kangen udah lama nih kita nggak pergi bertiga seperti ini.” Kata Fara.
“Ok, karena ini waktu yang jarang terjadi makanya kita harus nikmati hari ini.”
“Benar sekali Git, oiya kita mau kemana dulu nih ?” tanya Fara.
“Tentu saja ke mall, kita cari baju buat perang.” Jawab Anita.
“Baju perang?” Fara dan Gita menatap Anita bersamaan.
“Iya perang, Kalian pas malam petama kan mau gulat." Jawab Anita hanya mendapat jawaban pandangan bingung dari Gita dan Fara.
"Ih.. nggak usah sok pada berlagak polos deh." Kata Anita menepuk pundak Gita dan Fara gantian.
"Ah... Perang yang penuh kedamaian, kebahagiaan dan juga penuh dengan kenikmatan membuat kita melayang bagaikan di angkasa raya bersama bintang-bintang." Kata Fara.
"Betul." Jawab Anita sembari menjentikan jarinya.
"Wah.. sepertinya lo sangat berpengalaman deh." Gita menoleh ke belakang sambil tersenyum jahil.
"Hey... sembarangan. Cuman katanya saja mana ada gue coba duluan. Lagian nih ya di noveltoon juga banyak noh perang-perangan." jelas Anita.
"Emang benar sih, banyak perang"annya. Bikin membayangkan yang......" katanya sambil senyum-senyum.
"Heh..." Gita menyadarkan Anita.
Gita, Fara, dan Anita turun dari mobil mereka langsung menyerbu pakain.
"Heh.. sini-sini." Anita menarik tangan Gita dan Fara.
"Nih, baju-baju yang sangat rekomeded buat kalian perang nanti." Anita menunjukan lingerie.
"Ih... baju apaan ini." Fara meringis.
"Iya, ih baju haram ini. Nggak boleh di pakai." Gita mengambil bajunya lalu mengembalikan lagi ke gantungannya.
"Haduh.. kalian gimana sih. Ini namanya baju dinas. Dan dipakai di depan suami kalian aja jangan dipakai keluar-keluar." Jelas Anita.
"Ooh..." Jawab Gita dan Fara bersamaan.
"Ini tuh di pakai biar suami-suami kalian lebih bergairah." jelas Anita dengan senyum-senyum.
"Ih... kenapa gue jadi takut sih." kata Gita.
"Kenapa takut?" Anita mengerutkan keningnya.
"Ya takut saja, nggak tahu jelasinnya."
"Nikmati saja meskipun awalnya sakit namun lama-lama akan terasa nikmat. Percaya deh sama gue." Kata Anita meyakinkan.
"Mau percaya gimana orang lonya saja belum nikah. Tapi kok udah mahir banget." Gita menatap curiga.
"Iya, gue nggak percaya lo masih perawan." kata Fara sambil melipat kedua tangannya.
"Gue belajar kali, kan sebentar lagi gue nyusulin kalian menikah. Jadi gue harus tahu kiat-kiat agar suami suka sama kita. Contohnya nih dandan sexy." Anita mengambil lingeri.
Gita sama Fara garuk-garuk kepala bersamaan, "Terus ada langkah selanjutnya nggak?" tanya Gita.
"Masa iya gue juga haru ajarin lo." Kata Anita.
"Ya, ajarin lah kita. Kita ini belum tahu apa-apa soal begituan." Tambah Fara.
"Ayo duduk dulu di sana." Anita menunjuk kursi yang tak jauh dari mereka.
"Ok, apa langkah selanjutnya?" Fara dan Gita sudah kepo.
"Seperti biasa kalian mandi, pakai baju itu terus keluar jalan yang sexy. Kaya di drama korea itu Git, Far."
"Masa harus begitu, malu ih kelihatan agresif banget."
"Benar kata Gita, cewek kan nggak boleh agresif."
"Kata siapa, kalau memang kalian nggak mau ngelakuin itu. Setelah mandi kalian naik aja ke kasur lalu berpose yang menggoda. Biar suami kalian tertarik."
"Ternyata diam-diam ilmunya tinggi. Ku kira cupu ternyata suhu." Fara geleng kepala.
Setelah berbelanja mereka langsung ke Club seperti yang di rencanakan. Mereka turun dari mobil melihat jelas orang yang keluar masuk dari tempat itu.
"Yakin Far, kita mau masuk ke tempat itu?" tanya Gita.
"Yakin aja lah, kita juga udah sampai disini."
"Lihat, itu bodyguardnya gede-gede tubuhnya. Lihat juga tuh mbak-mbaknya yang masuk sexy banget." Tunjuk Gita.
"Ya namanya juga club Gita, pastilah nggak ada yang pakaiannya syar'i." !
"Balik aja yuk."
"Bentaran doang, masuk langsung keluar yuk. Gue cuman penasaran lihat dalamnya." bujuk Fara.
"Beneran ya jangan lama-lama, nanti takutnya di tawar om om." kata Gita.
"Iya, intip dikit aja janji setelah itu keluar. Sampai depan pintu aja."
"Idiih.. benar-benar nih orang kek ngidam."
Mereka bertiga berjalan mendekati pintu masuk. Musik terdengar sangat kencang, dan mereka bertiga berhenti di tengah jalan.
"Mau masuk nggak nih, tanggung kayaknya udah sampai depan pintu." Kata Anita tiba-tiba.
"Masuk ajalah, lihat-lihat sebentar abis itu keluar." Gita menyetujuhi.
"Beneran nih?" Fara menjadi heran.
"Yups..." jawab Gita.
"Eeeh..." Ucap Gita, Fara dan juga Anita sat telinga mereka ada yang menjewer.
"Kak Gilang." Gita melebarkan kedua matanya.
"Raka."
"Kak Bayu."
Mereka nyengir ketika melihat calon suami mereka sudah ada di belakangnya.
"Masuk mobil." Kata Gilang dengan Nada datar. Wajah Gilang benar-benar datar terlihat marah.
Gita, Fara dan Anit langsung naik tanpa protes.
"Fara, gara-gara lo nih."
"Ya kan gue juga nggak tahu. Lagian mereka kok sampai tahu. Lo pada bilang ya?" tuduh Fara.
"Mana berani kita mengadu. Yang benar aja, lo kali posting di media sosial."
"Nggak ada."
"Buruan masuk, ngobrol aja." Kata Raka.
"Iya sabar." jawab Fara.
Di dalam mobil semua terdiam, mereka bertiga berada di mobil mafia. Seperti sedang di culik. Gilang, Raka sama Bayu nggak ada senyum-senyumnya.
"Apa ini ulah Vian?" bisik Gita mengingat kemarin Fara mengajaknya namun menolak.
"Ah.. sepertinya benar. Pasti biang keroknya dia nih." Balas Fara.
"Bentar ya, gue whatsapp dia."
Gita
Vian, lo ngadu ya sama Kak Gilang
Vian
Hehehe
Selamat bersenang-senang kawan-kawanaaku yang manis
"****! benar kelakuan Vian." Kata Fara setelah ikut membaca balas wa Vian.
"Awas aja ya, gue bejek-bejek kalau ketemu nanti. Maen-maen dianya." Kata Anita.
"Ok, nanti kita serang bareng-bareng."
Kasak-kusuk mulai terdengar di dalam mobil.
"Eheem!" Raka berdehem, dan seketika mereka bertiga diam.