
Setelah menjalani ospek beberapa hari akhirnya Gita, Fara, Gilang dan Vian resmi
menjadi mahasiswa. Gita berdiri di gerbang dengan bangga dengan pecapain terbaiknya.
Usahanya selama setahun lalu mendapat hasil yang sangat memuaskan, hingga dia bisa masuk ke universitas ternama yang dia inginkan.
Gita mengangkat kepalanya saat melihat ada orang yang menaruh cup minuman di
depannya. Gita kemudian fokus lagi dengan laptopnya, dia tidak tertarik ingin tahu kenapa seniornya itu nyamperin dirinya.
“Boleh duduk disini?” tanya Farhan.
Gita mengangguk pelan, “Duduk saja, ini tempat umum jadi gue nggak ada hak melarang semua orang untuk duduk disini.” Jawab Gita dengan nada datar.
“Ternyata aslinya tambah judes, gue kira cuma songong.” Batin Farhan.
“Kenalin gue Farhan.” Farhan mengulurkan tangannya.
“Gita.” Gita menyambut uluran tangan Farhan, sebenarnya dia malas banget hanya
saja dia mengingat pelajaran dulu yaitu tentang sopan santun. Jadi dia menyambut dengan sedikit senyuman di bibirnya.
“Lo masih ingat gue nggak?” tanya Farhan. Dia berharap Gita mengingatnya jadi ada
topik pembicaraan.
“Nggak ingat, dan nggak ingin mengingatnya juga.” Jawab Gita semakin datar.
“Kalau ini?” Farhan mencopot gelangnya lalu menaruh di atas laptop Gita. Gita melihat dengan lekat gelang di depannya, Gita bukan mengingat siapa Farhan justru
mengingatkan tentang Gilang. Gelang yang ada di hadapanya sekarang adalah pilihan pertama untuk di berikan kepada Gilang.
“Dulu kita pernah berebut gelang ini, dan saat gue mau kasih lo. Lo menolak dan
bilang sudah nggak minat lagi.” Farhan mencoba mengingatkan kejadian itu.
“Ah.. terus?”
“Gue merasa bersalah karena tidak mau mengalah sama perempuan, jadi gue kembalikan sama lo.”
“Dan gue katakan sekali lagi, gue sudah nggak minat lagi sama gelang ini.” Gita memberesi barang-barangnya lalu meninggalkan Farhan.
Dia sama sekali tidak ingin berteman atau berurusan sama orang-orang populer di kampusnya. Pasti hanya akan menimbulkan masalah dalam hidupnya.
“Tunggu.” Farhan buru-buru menyusul Gita.
“Ada apa Kak?” Tanya Gita dengan malas.
“Em, bisa kita berteman?” Farhan masih berusaha agar bisa dekat dengan Gita.
“Nggak bisa.” Jawab Gita sambil jalan cepat untuk menemukan sahabat-sahabatnya.
“Waah... baru kali ini gue lihat seorang Farhan Bagaskara di tolak mentah-mentah sama seorang cewek.” Kata Jordan sambil merangkul Farhan. Dia sejak tadi mengamati sahabatnya yang mencoba pedekate.
“Iya, padahal itu cewek biasa aja. Kalau di bandingkan Imel ya enam sepulu, cantika Imel kemana-mana." Kata Wahyu yang ikut merangkul Farhan.
“Brisik kalian berdua.” Farhan melepaskan rangkulan kedua sahabatnya.
“Benar dia memang cewek yang biasa dan terlihat sederhana dandannya, tapi sejak bertemu waktu itu gue merasa tertarik dengan dia. Dan tidak di sangka sekarang bertemu lagi. Mungkinkah ini bertanda jodoh." Batin Farhan.
Sifat yang cuek, songong dan sadis membuat Farhan merasa tertantang. Dia selalu berpikir di balik gadis yang
sikapnya seperti itu pasti memiliki sisi hangat dan sangat penyayang saat kita
sudah menjadi orang terdekatnya.
"Terus kalau emang cantikan Imel, apa lo siap melihat dia sama.."
"Stop! jangan di teruskan perkataan lo. Yah dia memang lebih cantik." Jordan akhrinya mengatakan itu.
"Makanya jangan selalu membandingkan cewek yang di deketin Farhan, nanti lo kena batunya sendiri." Wahyu tertawa puas.
“Hey, pada ngomongin apaan sih serius amat?” tanya Imel.
“Itu, ada..” Wahyu menghentikan ucapanya saat kakinya di injak dan juga di pelototin
sama Jordan.
“Tidak ada apa-apa, kelas yuk.” Ajak Jordan.
Farhan tersenyum karena Jordan sigap menangani masalahnya. Dia hanya tak mau urusanya di ketahui Imel, cewek yang terus mengejarnya selalu ikut campur urusanya.
Bahkan Farhan pernah melihat dia menindas cewek yang pernah mengirimkan surat padanya.Dan kali ini dia tidak mau itu terjadi sama Gita, cewek yang sedang dia incer. Dan Jordan cukup membantu menyembunyikannya.
ponselnya. Selalu pencarian teratas adalah Gilang.
“Hah.. sudah hampir dua minggu Kak Gilang tidak post atau insta story apa-apa.” Keluh
Gita. Meskipun Gilang hanya post foto langit pun sudah membuat dirinya bahagia.
“Ngehalu lagi buk.” Kata Fara sambil duduk di sebelah Gita.
“Diem.” Ujarnya sambil melirik tajam.
“Makanya kalau nggak sanggup kehilangan jangan sok-sokan berkorban terlalu dalam,
jadinya gila sendirikan.”
“Brisik, nggak ada kah kata-kata mutiara lain selain itu.”
“Dan nggak bisakah lo berhenti menghalukan orang yang sudah bukan milik lo lagi, dan yang pasti nggak peduli sama lo lagi.”
Setiap hari ada saja yang membuat mereka berdua berdebat, dan masalahnya sama yaitu Gilang.
“Oiya Far, tadi tuh ada Kak Farhan datang dekatin gue terus ngajak kenalan.” Cerita Gita.
“Wah..keren dong. Kenapa sih lo kalau kenalan selalu saja sama orang-orang keren.” Fara heran.
“Ya kan gue tokoh utamanya.” Kata Gita sambil terkekeh.
“Idih, lo kata sinetron pakai tokoh utama segala. Tapi Git, menurut gue pepet aja.
Jangan kasih kendor.” Fara mengkompori Gita.
“Lo nggak usah ngomporin gue, perasaan gue nggak akan goyah sedikitpun untuk Kak
Gilang.”
“Mau nunggu sampai kapan? Lo mau jomblo seumur hidup? Nih ya belum tentu kita tahu
itu si Kak Gilang udah punya pacar atau menikah belum disana. Mana sekarang
kita juga nggak pernah lihat mukanya Kak Gilang kayak apa.” Fara selalu emosi saat bahas Gilang.
“Yang pasti Kak Gilang akan tambah ganteng, putih, tinggi, kekar dan senyumnya tuh bikin semua cewek melayang tinggi.” Gita membayangkan Gilang yang sudah tumbuh dewasa dan sangat gagah.
“Gimana kalau dia berubah menjadi gendut, pakai kacamata, rambutnya putih semua.”
“Far, lo bayangin Kak Gilang atau kakek lo?”
“Ah benar juga kenapa jadi berubah kakek-kakek.” Fara geli sendiri. “Git, tapi nih ya kalau di pikir-pikir ya Kak Farhan tuh seperti Kak Gilang versi kuliah.” Kata Fara.
“Kok bisa?”
“Dia tuh, ganteng, pinter, jago basket dan sangat bijaksana. Gue rasa Tuhan sedang
mempertemukan lo dengan penggantinya Kak Gilang deh.” Fara menatap Gita lekat, dia menyakin kan Gita kalau Farhan itu penggantinya Gilang.
Gita terdiam sesaat, mendengar deskrepsi tentang Farhan sama persis dengan Gilang
semasa dia sekolah menengah. Mereka berdua menguasai hal yang sama.
“Tapi ada yang beda.” Kata Gita.
“Apa?”
“Yang bisa meluluhkan hati gue cuma Kak Gilang seorang.” Gita mencium bandul kalung GG pemberian Gilang.
“Sungguh sangat sia-sia, mulut gue sampai berbisa pun tidak akan ada gunanya.”
“Berbisa, lo mau jadi ular.” Gita tertawa.
“Maksud gue berbusa.”
“Baiklah anak mudah, mari kita hentikan omong kosong ini dan mulai belajar dosen sudah memasuki kelas, anak muda jangan
berisik lagi. Ini demi masa depan kita sendiri.” Kata Gita sambil menatap ke lurus
ke depan.
“Sejak kapan ni bocah mikirin masa depan.” Fara menggelngkan kepala lalu ikut fokus
mendengarkan dosen.