Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Juli 2021


Gilang meregangkan kedua tangannya, dia mengambil banyak makanan lalu dia siapkan di meja belajarnya agar dia tidak bolak-balik pergi mengambil makanan hingga menyita waktu kerjanya.


Ting...! satu pesan masuk, Gilang langsung menyambar ponselnya. Dia memberikan notif yang berbeda utuk pesan dan nada dering panggilan Raka agar dia tahu kalau itu pesan dan panggilan spesial buat dirinya.


Pesan yang pertama masuk adalah foto Gita yang sedang berbaring dengan selimut tebal. Yang kedua Raka mengirimkan video Gita.


“Kak.. Kak Gilang.”


Mendengar rintihan Gita, Gilang tak sampai hati dia hanya bisa menangis disana. Rasanya ingin lari dan mendekapnya, tapi dia harus kuat menahan segalanya saat ini demi dia juga. Tak lama lagi dia akan menyelesaikan kuliahnya dan akan segera pulang menemuinya.


...Gilang...


...Bagaimana keadaanya Gita?...


...Raka...


...Hanya demam, dia kemarin hujan-hujanan...


...Gilang...


...Apa sudah di bawa ke dokter?...


...Raka...


...Sudah, lo tenang saja dia sudah baik-baik saja...


...Gilang...


...Ok, gue akan  pulang...


...Raka...


...Ya, lo urusin saja kuliah lo dulu. Biar gue...


...yang jaga Gita, lo nggak usah cemas, lebih baik lo segera kelarkan kerjaan lo...


...disana. Sementara gue tidak akan mengirimi lo kabar Gita agar lo lebih fokus....


...Gilang...


...Baiklah, gue juga akan berhenti main istagram. Raka gue percayakan Gita sama lo....


Gilang menaruh ponselnya dia segera membuka laptopnya. Dia harus menyelesaikan tugas akhirnya sebisa mungkin akhir bulan kelar agar di bisa cepat kembali.


...♡♤♤♤♡...


Pukul sebelas malam waktu Australia, Gilang masih fokus dengan laptopnya. Tangan


kanannya sesekali mengambil cemilan di toples yang dia sediakan di sampingnya.


Mata Gilang sudah semakin redup, dia sudah tidak kuat lagi meneruskan pekerjaannya itu. Dia menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. Musik slow yang dia putar seperti nina bobo baginya.


Baru saja dia masuk kedunia mimpi, matanya terbuka lebar gara-gara mendengar pesan di ponselnya.


“Siapa sih malam-malam kirim pesan.” Katanya dengan kesal.


...Monika...


...Gilang, apa besok kita bisa ketemu. Ada soal yang ingin gue tanyakan sama lo....


Gilang hanya melihat pesan dari Monika sekilas , beberapa kali dia juga tidak membalas pesan dari Monika. Gilang juga sering menghindari Monika saat bertemu.


Baru saja meletakkan ponselnya, sembari beranjak pergi ke tempat tidur ada pesan


bertubi-tubi masuk.


“Pesan daribRaka, kenapa dia mengirim begitu banyak pesan?” tanyanya pada diri sendiri. Gilang kembali duduk dan membuka pesannya.


Mata Gilang langsung melotot melihat foto-foto yang di kirimkan oleh Raka. Dadanya terasa panas, tangannya meremas botol air mineral di sampingnya.


“Berani sekali dia memegang tangan pacar gue.” Kata Gilang dengan penuh emosi.


“Kenapa Raka tidak mencegahnya.” Kata Gilang sambil mencoba menelpon Raka. Beberapa kali menelpon namun Raka merejectnya.


“Raka, lo kenapa terus mematikan ponsel gue.” Gilang cemas.


Gilang menjadi tidak bisa tidur, dia mondar-mandir menunggu telpon dari Raka. Dia panik takut kalau Gita telah berpaling darinya.


Setalah setengah jam menunggu dalam kecemasan akhirnya Raka menghubunginya.


“Halo.”


“Raka, lo kenapa dari tadi mereject panggilang gue. Apa  terjadi sesuatu dengan Gita, Dan siapa orang itu lo nggak pernah cerita soal cowok itu.”


“Ok..ok.. gue jelasin sama lo. Tadi gue sedang bersama Gita dan juga Fara mana mungkin gue mengangkat panggilan lo. Dan cowok itu bernama Farhan kakak senior kita, dia suka sama Gita. Dia sedang berjuang mendapatkan hati Gita.” Jelas Raka.


“Tidak.... tidak boleh, Gita tidak boleh menerima cowok itu.” Kata Gilang penuh emosi. Andai dia disana pasti sudah di habisi orang itu sama Gilang.


“Sepertinya gue tidak bisa menahan lebih lama lagi Lang, gue nggak bisa mengontrol perasaan Gita. Segera lah selesaikan urusan lo disana dan cepat lah kembali. Cowok itu sedang membuat hati Gita bimbang, sifat yang dia tampilkan saat ini hampir menyerupai lo, Dan Gita akan terbawa suasana dan menganggap dia adalah lo.” Jelas Raka. Raka selalu menganalisis gerak-gerik Gita dan juga megira-ira perasaan Gita.


“Raka please, jangan biarkan Gita menerima dia. Gue sedang berjuang menyelesaikannya. Sebenar lagi tunggu sebentar lagi.” Gilang benar-benar memohon kepada Raka.


“Iya...Iya, gue akan mencoba membantu lo.”


“Thanks Raka.”


Gilang menjatuhkan tubuhnya ke kasur, dia melihat foto-foto pemberian Raka. Hancur banget rasanya, namun dia tidak bisa apa-apa.


“Gilang, jangan lemah. Ini bukan lagi waktunya untuk galau tapi lo harus segera


memisahkan mereka. Lo harus segera menyelesaikan ini.”


Gilang tidak jadi tidur, dia menyedu kopi untuk menemani mengerjakan tugasnya. Baginya tidur sudah tidak begitu penting, bahkan dia mengabaikan kesehatanya. Dia hanya ingin segera menyelesaikan tugas akhirnya dan kembali pulang menemui kekasihnya yang kini sedang digoda orang lain.


Pagi, siang dan malam Gilang hanya melihat laptop dia sudah tidak memperdulikan sekitar yang tidak membantu penyelesaian tugasnya.


“Gilang lo tampak kelelahan?” Monika nyamperin Gilang sambil membawakan minuman dingin.


“Nggak gue baik-baik saja.” Katanya masih fokus dengan laptopnya.


“Wajah lo kelihatan kusam, lingkaran hitam di mata lo juga terlihat tajam. Sebenarnya lo sedang mengerjakan apa?” Monika sedikit menggeser duduknya.


“Gue hanya sedang mengerjakan tugas akhir agar lebih cepat selesai.” jawabnya singkat.


“Bukannya masih tiga bulan lagi, kenapa lo terlalu memaksa diri?” Kata Monika sambil mendorong menumannya di hadapan


Gilang.


“Seminggu lagi gue harus kelar.”


“Seminggu?”


“Iya.”


“Bearti seminggu lagi lo bakalan selesai kuliah?” Monika kaget.


“Yah begitulah, lo semangat ya kuliahnya.” Kata Gilang sambil memberesi barang-barangnya. Dan beranjak meninggalkan Monika.


“Gilang.” Panggil Monika.


“Ya?” Gilang menoleh ke belakang.


“Apa lo akan segera meninggalkan kota dan juga meninggalakan gue sendiri?”


Gilang mengangguk, "Ya, gue sudah selesai di kota ini."


“Gilang, apa lo nggak bisa melihat gue?”Monika berjalan mendekati Gilang.


“Maksud lo?”


“Gilang, dari SMA kita kenal dan lo pasti tahu kan bagaimana perasaan gue sama lo. Dan lo juga pasti sadar betul apa yang gue lakukan selama ini sama lo. Apa tidak


tergerak sedikit pun hati lo untuk gue?” Tanya Monika dengan mata nanar.


“Monika, gue sudah bilang berkali-kali sama lo. Gue tidak ada rasa sedikit pun sama lo. Gue hanya menganggap lo itu teman tidak lebih.  Monika lo sudah pergi jauh ke sini apa lo nggak ingin mencari yang lebih baik


dari gue. Buka mata lo dan coba lihat dunia itu luas banyak hal menarik yang lo


bisa lihat dan lo gapai.” Gilang menepuk pundak Monika.