
“Wuih.. cantik banget lo Git.” Fara mengambil foto Gita setelah selesai di dandanin.
“Cantik dong, masa gue nggak cantik.” Jawab Gita dengan wajah songong.
“Baru di puji sedikit aja udah songong, gak jadi deh gue pujinya.” Kata Fara. Gita
terkekeh.
“Tapi benar loh Gita cantik banget, auranya tuh keluar banget.” Kata Mbak Ina.
“Iya, kelihata banget bahagia.” Kata Bella.
“Makasih, kalau kalian yang ngomong gue cantik sangat percaya. Tapi kalau Fara yang
ngomong tuh cuma mau menghibur gue aja.” Kata Gita.
“Oo gitu, ok fine.” Fara memutarkan bola matanya. Dan Gita hanya tertawa lagi
melihat ekspresi Fara.
Acara pertunangan sudah mau di mulai, Gita menuruni tangga menuju ke tempat acara. Semua mata memandang Gita yang sangat cantik berbalut dengan kebaya warna salem dan rambut yang bermahkota dengan hiasan bunga. Gita terlihat sangat manis dan anggun.
“Gita cantik banget ya, mana baik lagi kalau aja dia belum jadi calon istrinya Bos
Gilang gue udah mau daftar.” Bisik Nino.
“Bisa sih daftar, tapi formulir pendaftaran lo belum sampai depan rumah Gita udah
ilang.” Kata Ina.
“Kenapa?”
“Alam tidak merestui jadi ilang kabur ke bawa angin.” Kata Ina.
“Win, hati aman nggak lo?” Nino menyenggol Win dengan sikunya.
“Memangnya hati Win kenapa?”
“Wah.. lo ya nggak peka banget. Sejak kedatangan Gita di kantor Win sudah memasang bendera kalau Gita itu gebetannya.” Kata Nino tidak di saring, membuat wajah Ina langsung kecut. Win langsung menginjak kaki Nino dengan sangat keras.
“Win.. sakit!”
“Punya mulut di jaga, ini bisa membuat perang dunia. Kepala gue bisa di penggal sama bos Gilang kalau dengar. Lagian siapa juga yang suka sama Gita.” Kata win.
“Suka nggak mau mengaku.”
“Udah diam kalian semua, acaranya mau di mulai.” Kata Ina.
Gilang masih terpesona dengan kecantikan Gita, dia masih bengong saja saat Vian selaku mc menyuruh Gilang berbicara.
“Eh.. sayang.” Panggil Gita pelan.
“Ah.. maaf.”
“Wah.. sepertinya Gilang terlalu terpesona sama kecantikan Gita sampai bengong.” Kata Vian yang membuat semua tamu undangan tertawa.
“Iya benar, saya selalu terpesona dengan kecantikan Gita. Tidak hanya hari ini, tapi
semenjak pertama aku bertemu dan mengenalnya.” Kata Gilang membuat Gita tersipu malu.
“Gita adalah perempuan yang sangat baik dan pastinya aku sayangi sampai kapan pun.
Mama Wanda dan papa Seno terima kasih telah melahirkan dan juga membesarkan putri yang sangat cantik, baik di dunia ini. Hingga aku bisa berjumpa dan membuat Gilang bahagia. Hari ini Gilang datang untuk meminta restu mengikat Gita ke tahap yang
lebih serius. Gilang akan memperlakukan Gita sama halnya seperti mama dan papa
memperlakukan Gita, menyayangi setulus hati.” Kata Gilang sembari memandang
Wanda dan Seno. Wanda dan Seno
mengangguk dengan senyuman manis di bibir mereka.
Hati Gita mulai bergetar, matanya sudah berkaca-kaca mendengar Gilang mengatakan semua itu.
“Baiklah, sekarang Giliran Gita yang mau menyampaikan sesuatu untuk Gilang dan juga keluarga mungkin.”
Gita mengusap air mata yang sudah menetes, “ Ma, Pa sekarang Gita sudah besar Gita akan menjalani kehidupan Gita bersama Kak Gilang. Terima kasih selama ini mama sama papa sudah merawat Gita. Dan Gita tidak bisa membalas semua kebaikan yang sudah mama dan papa berikan. Mama sama papa jangan cemasin Gita lagi, karena
Gita yakin Kak Gilang akan menjaga Gita.” Kata Gita dengan suara berat. Dia
sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Air matanya sudah tak kuasa di tahannya
sehingga bercucuran.
“Mama jangan menangis, Gita jadi tambah mau menangis.” Kata Gita sesenggukan. Wanda tak bisa menjawab, dia hanya meberikan ciuman untuk putrinya.
“Kamu makanya jangan menangis.” Kata Qila yang menyusul naik ke panggung.
Wanda melepasakan pelukan ke putrinya, dan bergantian dengan Qila.
“Kak..” Gita ingin mengatakan sesuatu namun tak kuasa, dan langsung di peluk sama Qila.
“Jangan nangis aja, nanti make upnya luntur. Ini hari bahagia harusnya kamu tersenyum.” Bisik Qila.
“Gita udah mau senyum tapi susah, Gita mau nangis terus.” Bukanya semakin diam Gita
justru semakin menangis sesenggukan.
“Udah ah..” Qila melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Gita lalu mengecup
kedua pipi Gita.
“Aduh.. kenapa jadi mewek begini ya.” Vian juga ikut mengusap air matanya. Dia juga sangat terharu, dia juga menjadi saksi perjalanan kisah Gita dan Gilang dari awal
sampai tahap pertunangan ini.
“Ok.. baiklah sekarang kita mulai lagi acaranya.”
Raka membawakan cincin ke atas panggung, awalnya Qila yang akan membawakanya. Namun Gita mau Raka lah yang membawakannya.
Gilang membuka kotak cincin lalu memakaika ke jari manis Gita, begitu pula Gita
bergantian memakaikan cincin ke jari Gilang.
“Dengan pemakaian cincin, kalian resmi bertunangan.” Seru Vian yang di sambut tepuk tangan dari para tamu undangan. Gilang sedikit menarik Gita lalu memberikan
ciuman lembut di kening Gita.
Acara resmi selesai, tinggal acara foto-foto dan juga makan bersama. Gita menemui
teman-teman kantornya.
“Selamat ya Gita.”
“Makasih ya Mbak Mas udah mau datang.” Kata Gita.
“Tentu saja kita datang, masa di pertunangan bos sendiri nggak datang.” Kata Nino.
“Bisa aja Mas Nino, sudah pada makan belum?” tanya Gita.
“Jangan di tanya Git kalau Mas Nino pasti sudah beberapa kali. Datang juga langsung
minta makan.” Kata Bella.
“Sembarangan lo Bel kalau ngomong.”
“Oiya.. Mas Win sama Fajar nggak datang ya?” tanya Gita.
“Datang kok, tadi gue lihat.” Kata Fara.
“Datang.. tadi sama kita disini sekarang dimana ya?” Ina menoleh mencari keberadaan Win sama Fajar.
“Palingan juga nangis di pojokan.” Kata Nino.
“Nangis di pojokan?” Fara dan Gita bingung.
“Iya.. lagi meratapi nasib kalau gebetanya sudah terikat sama orang lain. Mana bos
sendiri lagi.” Nino lancar banget ngecengi kedua temannya itu.
“Beneran Mas Win naksir sama Gita? Wah..” Fara melihat ke arah Ina.
“Kalian jangan ngaco deh, mbak Ina jangan dengarkan mereka berdua.” Gita menyenggol Fara lalu melebarkan kedua matanya kearah Fara, dia merasa tidak enak sama Ina.
“Nggak apa-apa, lagian gue sama Win nggak ada apa-apa. Dan hak dia juga kan suka sama siapa saja.” Kata Ina dengan senyuman masam.
“Ya udah yuk.. sekarang lanjut makan.” Gita mengajak semua makan untuk mengalihkan
pembicaraan.
Gilang mendekati Gita yang sibuk mencicipi makanan bersama yang lain.
“Sayang..” panggil Gilang.
“Kalian lanjut makannya ya, gue kesana dulu.” Kata Gita.