Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Hari Pertama Bekerja II


Setelah Gilang memperkenalkan diri, dia


langsung kembali lagi ke ruangannya.


“Kalian bertiga bergabung dengan tim


ini, masa trening kalian satu bulan. Jika dalam satu bulan tidak ada kemajuan


maka kami akan mengeluarkannya.” Jelas Lila.


“Baik Mbak.”


Gita, Vian dan Fara langsung memilih


meja kerjanya setelah Lila pergi.


“Hai, perkenalkan nama saya..ah terlalu


formal kayaknya kalau saya nama gue Erwin, kalian bisa panggil gue Win. Tim ini


gue namai Win team yang beranggotakan aku, Ina sama Nino.” Jelas Win sambil


menunjuk kedua temannya bergantian.


“Ooo, saya kira berisikan satu anggota


saja.” Kata Gita merenges.


“Perkenalkan nama kalian bertiga.”


“Saya Gita, sebelah saya ini Fara dan Vian,


kami lulusan tahun ini jadi mohon bimbingannya.”


“Wah masih fresh graduate. Kalau sam tim


kita nggak usah pakai saya-saya panggil aja lo gue biar lebih akrab.” Kata


Nino.


“Iya, anggap saja kita teman sebaya.


Umur kita hanya beda tiga sampai empat tahun saja.” Tambah Ina.


“Baik Mas.”


Perkenalan sudah selesai, mereka bertiga


mengajari Gita, Vian dan Fara perlahan untuk mengenal sistem kerja di GG


Entertaiment itu.


“Vian, lo katanya mau jadi artis kenapa


jadi editor?” tanya Gita.


“Masih aja di tanyain sih Git,


jelas-jelas wajahnya nggak mendukung begitu mau jadi artis.” Ejek Fara sambil


tertawa.


“Sembarangan, gue awalnya juga memilih


jadi Artis tapi kata HRDnya mereka kekurangan editor jadinya gue di masukan


team ini karena gue punya keahlian disini.” Jelas Vian.


“Ooooo.. padahal lo pantas banget jadi


artis.” Puji Gita.


“Tukang sayur naik sok tampan incaran


para janda kembang.” Fara asal celetuk.


“Ck. Lo sendiri ngapai duduk disini


bukanya lo mau di team sana.”


“Entahlah, gue harap bisa masuk  team yang terlihat elegan itu ternyata Tuhan


berkata lain. Tuhan tidak mau gue jauh dari lo, takutnya lo kesepian gantung


diri repot kita.”


“Ya Tuhan, punya sahabat lemes banget


mulutnya.”


“Baiklah teman-teman, ada yang perlu


kalian pelajari disini sekalian peraturan di team ini.” Kata Win.


“Pertama tidak boleh telat, telat lima


menit kita masukan uang di kotak itu sepuluh ribu perak. Yang kedua apa Na?”


“Yang kedua, kita harus loyal dan solid.


Tidak boleh membocorkan ide-ide kepada team sebelah karena kita bersaing untuk


mendapatkan ide yang akan di setujuhi bos kita. Dan akan mendapatkan bonus


lebih besar.” Jelas Ina.


“Yang ketiga, sebelum kerjaan kelar kita


tidak bisa pulang. Jadi tidak boleh menunda pekerjaan.” Jelas Nino.


“Mas Win, boleh tanya nggak?” Gita mengangkat


tangannya.


“Silahkan.”


“Kenapa team kita lebih sedikit dari


team sebelah.”


“Benar, bahkan peralatan dan fasilitas


lebih banyak mereka.” Vian melihat team sebelah meliliki komputer dan


barang-barang lain yang lebih bagus daripada ruangannya.


“Apa karna bos disini pilih kasih?”


Tanya Fara. Gita menepuk Fara dan mendelik kearahnya.


“Buka.. itu karena..” Win belum bisa


menjelaskan.


“Karena kita selalu kalah ide, jadi kita


hanya mendapatkan proyek kecil-kecil saja.” Jelas Ina. “Mereka berdua selalu


terbawa ***** dan akhirnya tidak mendapatkan proyek yang bagus.” Kata Ina.


“Na, kita bukan terbawa *****, tapi


semangat.”


“Semangat bagaimana, setiap kita


presentasi pasti ide kita bisa dipatahkan sama mereka.”


“Lalu sekarang proyek apa yang sedang


kita kerjakan?” tanya Gita.


“Kita sedang berusaha mendapatkan proyek


iklan pewangi pakaian, jadi kita arus menmbuat desaint yang bagus buat ini.”


Win menekan remot membuka monitor besar di depan.


“Gita, ini tugas lo buat memikirkan ide


animasi ini.”


“Baiklah, saya akan kerjakan dulu.”


sebelah.” Kata Nino.


“Let’s go semangatt.”


Mereka mulai bekerja untuk membuat


proyek yang akan di presentasikan besok pagi. Mereka bertiga mengeluarkan skill


yang selama ini hanya di buat mainan tanpa di seriusin.


“Vian, lihat ini apa bagus pakai seperti


ini?” Gita meminta pendapat.


“Masih terlihat kurang hidup nggak sih.”


“Coba gue lihat.” Fara menggeser laptop


milik Gita.


“Coba bagian ini di ubah, agar lebih


menarik.” Kata Fara.


“Ok.”


Mereka bertiga baru saja masuk ke


perusahaan GG Entertaiment tapi sudah seperti pekerja profesional, membuat tiga


seniornya itu sangat takjub.


“Maaf Mas Win, Gita mau tanya? Konsep


kita ini temanya apa dan kita akan menggunakan ini animasi atau orang asli.”


“Benar, kita harus memikirkan konsep ini


dulu sebelum membuatnya.” Kata Nino.


“Mari kita berkumpul, mengadakan rapat


kecil untuk proyek ini.”


“Ada ide?” tanya Ina.


“Ini produk menggunakan bahan wewangian


buah kan?” Tanya Fara.


“Yah, disini baru ada seris yang wangian


buah.”


“Kita buat latar di pasar bagaimana?”


Ide Vian.


“Pasar?” Win mengangguk-angguk. “Coba


kamu jelaskan konsepnya.” Win minta lebih detail lagi ide Vian.


“Konsepnya kita buat ada kerumunan


ibu-ibu atau pelanggan yang sedang belanja buah dan menawar. Lalu mereka


tertarik dengan wangi baju yang di pakai oleh artis kita.” Jelas Vian.


“Terlalu biasa di gunakan nggak sih


ini?” Tanya Gita.


“Sementara kita tampung dulu, ada ide


lain?” tanya Win.


“Apa kita buat proyek ini menggunakan


artis terkenal, hanya sedikit kita kasih emebel-embel nama produk  sudah mendapatkan banyak peminat dari


pelangan.”


“Kalau kita memakai artis badget kita


besar, kita mengeluarkan uang yang sangat besar. Bagaimana kalau kita buat


badget yang standar tapi hasil yang memuaskan. Kita buat mini drama apa ya


serial kartun mungkin ya.” Gita memberikan ide.


“Contohnya?” tanya Ina.


“Dibuat animasi kah?”


“Animasi target anak-anak dong?” sahut


Vian.


“Nggak semua animasi target anak-anak.


Kan bisa animasi romansa gitu.”


“Gimana kalau temanya cinderella.” Jelas


Fara.


“Lalu?”


“Saat hendak pergi ibu tirinya


memberikan pakaian yang lusuh, lalu Cinderella inisiatif membuat mewangian dari


buah, dan benar dia bisa mengandeng pangeran.” Jelas Fara.


Mereka saling berpandangan, meskipun


sudah menghabiskan waktu setengah hari mereka belum bisa memutuskan ide mana


yang akan di ambil.


“Baiklah kita makan siang dulu yuk.”


Ajak Win.


“Ok.”


Mereka berenam keluar ruangan dan


bertemu langsung dengan team sebelah. Team bebuyutan di kantor, perebutan


proyek sangat sengit di antara mereka.


“Eh.. ada team Win nih. Bekerja keras


banget nih pasti mendapatkan proyek baru. Gimana sudah ada tema atau perlu kita


beri bantuan.” Kata Ratna ketua team.


“Maaf nih, kita nggak perlu bantuan dari


team kalain. Lagian proyek ini team gue yang akan ambil.” Kata Win.


“Coba saja kalau bisa, oiya..


dengar-dengar kalau proyek kalian ini gagal makan team kalian ini akan di


buarkan bukan.” Kata Roy.


“Semagat ya.” Ratna menepuk pundak Win


lalu mengajak teamnya pergi ke kantin.


Gita, Fara dan Vian saling berpandangan


ternyata mereka berada team yang hampir punah.


“Jangan dengarkan mereka, sekarang kita


ke kantin makan dulu, setelah itu  bekerja lagi.”