
Setelah Gilang memperkenalkan diri, dia
langsung kembali lagi ke ruangannya.
“Kalian bertiga bergabung dengan tim
ini, masa trening kalian satu bulan. Jika dalam satu bulan tidak ada kemajuan
maka kami akan mengeluarkannya.” Jelas Lila.
“Baik Mbak.”
Gita, Vian dan Fara langsung memilih
meja kerjanya setelah Lila pergi.
“Hai, perkenalkan nama saya..ah terlalu
formal kayaknya kalau saya nama gue Erwin, kalian bisa panggil gue Win. Tim ini
gue namai Win team yang beranggotakan aku, Ina sama Nino.” Jelas Win sambil
menunjuk kedua temannya bergantian.
“Ooo, saya kira berisikan satu anggota
saja.” Kata Gita merenges.
“Perkenalkan nama kalian bertiga.”
“Saya Gita, sebelah saya ini Fara dan Vian,
kami lulusan tahun ini jadi mohon bimbingannya.”
“Wah masih fresh graduate. Kalau sam tim
kita nggak usah pakai saya-saya panggil aja lo gue biar lebih akrab.” Kata
Nino.
“Iya, anggap saja kita teman sebaya.
Umur kita hanya beda tiga sampai empat tahun saja.” Tambah Ina.
“Baik Mas.”
Perkenalan sudah selesai, mereka bertiga
mengajari Gita, Vian dan Fara perlahan untuk mengenal sistem kerja di GG
Entertaiment itu.
“Vian, lo katanya mau jadi artis kenapa
jadi editor?” tanya Gita.
“Masih aja di tanyain sih Git,
jelas-jelas wajahnya nggak mendukung begitu mau jadi artis.” Ejek Fara sambil
tertawa.
“Sembarangan, gue awalnya juga memilih
jadi Artis tapi kata HRDnya mereka kekurangan editor jadinya gue di masukan
team ini karena gue punya keahlian disini.” Jelas Vian.
“Ooooo.. padahal lo pantas banget jadi
artis.” Puji Gita.
“Tukang sayur naik sok tampan incaran
para janda kembang.” Fara asal celetuk.
“Ck. Lo sendiri ngapai duduk disini
bukanya lo mau di team sana.”
“Entahlah, gue harap bisa masuk team yang terlihat elegan itu ternyata Tuhan
berkata lain. Tuhan tidak mau gue jauh dari lo, takutnya lo kesepian gantung
diri repot kita.”
“Ya Tuhan, punya sahabat lemes banget
mulutnya.”
“Baiklah teman-teman, ada yang perlu
kalian pelajari disini sekalian peraturan di team ini.” Kata Win.
“Pertama tidak boleh telat, telat lima
menit kita masukan uang di kotak itu sepuluh ribu perak. Yang kedua apa Na?”
“Yang kedua, kita harus loyal dan solid.
Tidak boleh membocorkan ide-ide kepada team sebelah karena kita bersaing untuk
mendapatkan ide yang akan di setujuhi bos kita. Dan akan mendapatkan bonus
lebih besar.” Jelas Ina.
“Yang ketiga, sebelum kerjaan kelar kita
tidak bisa pulang. Jadi tidak boleh menunda pekerjaan.” Jelas Nino.
“Mas Win, boleh tanya nggak?” Gita mengangkat
tangannya.
“Silahkan.”
“Kenapa team kita lebih sedikit dari
team sebelah.”
“Benar, bahkan peralatan dan fasilitas
lebih banyak mereka.” Vian melihat team sebelah meliliki komputer dan
barang-barang lain yang lebih bagus daripada ruangannya.
“Apa karna bos disini pilih kasih?”
Tanya Fara. Gita menepuk Fara dan mendelik kearahnya.
“Buka.. itu karena..” Win belum bisa
menjelaskan.
“Karena kita selalu kalah ide, jadi kita
hanya mendapatkan proyek kecil-kecil saja.” Jelas Ina. “Mereka berdua selalu
terbawa ***** dan akhirnya tidak mendapatkan proyek yang bagus.” Kata Ina.
“Na, kita bukan terbawa *****, tapi
semangat.”
“Semangat bagaimana, setiap kita
presentasi pasti ide kita bisa dipatahkan sama mereka.”
“Lalu sekarang proyek apa yang sedang
kita kerjakan?” tanya Gita.
“Kita sedang berusaha mendapatkan proyek
iklan pewangi pakaian, jadi kita arus menmbuat desaint yang bagus buat ini.”
Win menekan remot membuka monitor besar di depan.
“Gita, ini tugas lo buat memikirkan ide
animasi ini.”
“Baiklah, saya akan kerjakan dulu.”
sebelah.” Kata Nino.
“Let’s go semangatt.”
Mereka mulai bekerja untuk membuat
proyek yang akan di presentasikan besok pagi. Mereka bertiga mengeluarkan skill
yang selama ini hanya di buat mainan tanpa di seriusin.
“Vian, lihat ini apa bagus pakai seperti
ini?” Gita meminta pendapat.
“Masih terlihat kurang hidup nggak sih.”
“Coba gue lihat.” Fara menggeser laptop
milik Gita.
“Coba bagian ini di ubah, agar lebih
menarik.” Kata Fara.
“Ok.”
Mereka bertiga baru saja masuk ke
perusahaan GG Entertaiment tapi sudah seperti pekerja profesional, membuat tiga
seniornya itu sangat takjub.
“Maaf Mas Win, Gita mau tanya? Konsep
kita ini temanya apa dan kita akan menggunakan ini animasi atau orang asli.”
“Benar, kita harus memikirkan konsep ini
dulu sebelum membuatnya.” Kata Nino.
“Mari kita berkumpul, mengadakan rapat
kecil untuk proyek ini.”
“Ada ide?” tanya Ina.
“Ini produk menggunakan bahan wewangian
buah kan?” Tanya Fara.
“Yah, disini baru ada seris yang wangian
buah.”
“Kita buat latar di pasar bagaimana?”
Ide Vian.
“Pasar?” Win mengangguk-angguk. “Coba
kamu jelaskan konsepnya.” Win minta lebih detail lagi ide Vian.
“Konsepnya kita buat ada kerumunan
ibu-ibu atau pelanggan yang sedang belanja buah dan menawar. Lalu mereka
tertarik dengan wangi baju yang di pakai oleh artis kita.” Jelas Vian.
“Terlalu biasa di gunakan nggak sih
ini?” Tanya Gita.
“Sementara kita tampung dulu, ada ide
lain?” tanya Win.
“Apa kita buat proyek ini menggunakan
artis terkenal, hanya sedikit kita kasih emebel-embel nama produk sudah mendapatkan banyak peminat dari
pelangan.”
“Kalau kita memakai artis badget kita
besar, kita mengeluarkan uang yang sangat besar. Bagaimana kalau kita buat
badget yang standar tapi hasil yang memuaskan. Kita buat mini drama apa ya
serial kartun mungkin ya.” Gita memberikan ide.
“Contohnya?” tanya Ina.
“Dibuat animasi kah?”
“Animasi target anak-anak dong?” sahut
Vian.
“Nggak semua animasi target anak-anak.
Kan bisa animasi romansa gitu.”
“Gimana kalau temanya cinderella.” Jelas
Fara.
“Lalu?”
“Saat hendak pergi ibu tirinya
memberikan pakaian yang lusuh, lalu Cinderella inisiatif membuat mewangian dari
buah, dan benar dia bisa mengandeng pangeran.” Jelas Fara.
Mereka saling berpandangan, meskipun
sudah menghabiskan waktu setengah hari mereka belum bisa memutuskan ide mana
yang akan di ambil.
“Baiklah kita makan siang dulu yuk.”
Ajak Win.
“Ok.”
Mereka berenam keluar ruangan dan
bertemu langsung dengan team sebelah. Team bebuyutan di kantor, perebutan
proyek sangat sengit di antara mereka.
“Eh.. ada team Win nih. Bekerja keras
banget nih pasti mendapatkan proyek baru. Gimana sudah ada tema atau perlu kita
beri bantuan.” Kata Ratna ketua team.
“Maaf nih, kita nggak perlu bantuan dari
team kalain. Lagian proyek ini team gue yang akan ambil.” Kata Win.
“Coba saja kalau bisa, oiya..
dengar-dengar kalau proyek kalian ini gagal makan team kalian ini akan di
buarkan bukan.” Kata Roy.
“Semagat ya.” Ratna menepuk pundak Win
lalu mengajak teamnya pergi ke kantin.
Gita, Fara dan Vian saling berpandangan
ternyata mereka berada team yang hampir punah.
“Jangan dengarkan mereka, sekarang kita
ke kantin makan dulu, setelah itu bekerja lagi.”