Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Selesai


Gita duduk tersenyum melihat sahabat-sahabatnya sudah bahagia, semua cita dan cintavmereka sudah tercapai. Puncak dari kebehagaian mereka adalah bisa bersama orang yang paling mereka sayang.


“Heh.. cengar-cengir aja lo.” Fara duduk di samping Gita dengan perlahan dia sekarang


tidak begitu bar-bar karena sedang mengandung anak dari Raka.


“Hati-hati, ponakan gue tuh.” Katanya sambil mengelus perut Fara yang sudah terlihat membesar.


‘Gue tahu ini juga anak gue. Lo lagi ngapain sih?” tanya Fara.


“Nggak ngapa-ngapain, Cuma lihat mereka itu seneng banget akhirnya dari semua


perjuangan Vian, keteguhan Mbak Ina membuahkan hasil yang sangat maksimal.”


Kata Gita.


“Ya memang nggak ada hasil yang menghianati usaha.” Kata Fara dengan jelas.


“Kebalik buk, usaha tidak akan menghianati hasil.” Kata Gita.


“Kepleset dikit doang, kantin yuk..”


“Ok.”


Gita dan Fcara pergi ke kantin mengajak yang lain juga untuk makan siang seperti


biasa. Gita memesan beberapa makanan, hampir semua menu mau dia makan.


“Gila, lo kesurupan apaan Git pesan makanan sebanyak ini?” Vian geleng kepala.


“Memang harus kesurupan baru gue bisa makan. Nih ya lagian kalau aku memang mau makan banyak kenapa?” Gita manyun.


“Ya terserah lo aja deh.” Kata Vian.


Gita pun mulai makan namun baru satu suap dia sudah ingin muntah, tiba-tiba mual


saja.


“Kenapa muka lo kayak begitu Git?” tanya Win.


“E.. perut Gita tiba-tiba nggak enak banget.” Gita memegangi perutnya.


“Maag lo kambuh?” Tanya Fara.


“Mungkin, gue tadi pagi nggak sempat sarapan.” Katanya sambil berdiri.


“Mau kemana heh?” tanya Vian.


“Ke toilet, gue nggak tahan banget pingin muntah.” Ujarnya sambil berlari dengan


cepat.


Gita memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya, sampai dia lemas. Gita berjalan pelan keluar dari toilet.


“Pasti sakit gegara begadang nih gue.” Ujarnya. Gita semalam ngumpet-ngumpet dari Gilang untuk menonton drama korea sampai pagi. Tak hanya itu dia kesiangan sampai nggak sempat untuk sarapan.


Gita bergabung lagi sama yang lain, dia menyenderkan tubuhnya di kursi.


“Git, lo pucet banget?” Vian mengecek kening Gita.


“Iya nih, pala gue pusing banget, mana mual lagi.” Kata Gita.


“Lo hamil kali?” kata Ina.


“Wah iya, lo hamil Git. Gue kemarin juga gitu pusing mual.”


“Nggak deh kayaknya, gue semalam begadang, terus tadi pagi kesiangan dan nggak sempat sarapan.” Katanya sangat lemah.


“Bisa begitu Kak Gilang kecolongan.” Kata Fara sambil geleng kepala.


“Gue kan pintar.” Katanya sambil tersenyum.


Jam makan siang selesai, mereka kembali ke ruangan. Gita jalan sangat pelan karena


lemas banget. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Gilang yang berjalan ke


arahnya. Gita mengangkat tangannya, tiba-tiba pandangannya kabur. Gita mencoba memulihkan pandangannya dengan mejamkan matanya. Namun makin lama justru semakin menghilang dan Gelap.


“Gita!” teriak Fara.


Gilang berlari mendekati Gita, dia langsung menggedong Gita ke ruangannya. Gilang


panik, dia meminta Lila untuk menghubungi dokter dan menyuruhnya ke kantor.


Perlahan Gita membuka matanya, mulutnya langsung tersenyum melihat wajah Gilang yang dia lihat.


“Hai.. sayang.”


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Gilang.


“Nggak.” Gita berusaha bangun dan di bantu sama Gilang.


“Pelan-pelan sayang, kamu sakit?”


“Gilang, dia tuh semalam begadang.” Fara mengadu sama Gilang.


“Begadang?”


“Fara.” Kata Gita sambil mendelik.


“Iya begadang sampai pagi, dia bohongin lo kalau tidur.” Kata Fara.


Gilang menatap Gita tajam, sedang kan Gita cengar-cengir dan wajahnya sangat melas.


Dia berharap Gilang mau mengampuninya.


Gita memegangi perutnya lagi, dia pingin muntah lagi. Gita buru-buru ke kamar mandi


milik Gilang.


“Lila mana dokternya?” tanya Gilang.


“Belum bisa di hubungi Bos.”


rumah sakit.” Kata Gilang sembari memakai jasnya.


“Siap Bos.”


“Gue siapin mobil Lang, biar gue yang nganterin.” Kata Vian langsung lari keluar


ruangan.


“Gue ikut ah..”


“Ini kenapa pada ikut semua, kerja-kerja.” Kata Win.


“Pokoknya gue iku.” Fara berjalan keluar menyusul Vian.


“Biari saja Win.” Gilang menyusul Gita ke kamar mandi.


Gilang menggendong Gita, “Eh.. kita mau kemana?” tanya Gita.


“Ke rumah sakit.” Jawab Gilang dengan galak.


“Ishh.. jangan marah-marah dong sayang.” Kata Gita sambil menautkan kedua tagannya di


leher Gilang.


“Makanya kalau di suruh tidur tuh tidur bukan malah begadang, kalau sait begini siapa yang rasain?” omel Gilang sepanjang perjalanan ke parkiran.


“Iya maaf. Aku kan lagi sakit bisa nggak aku di sayang begitu jangan diomelin mulu.”


Kata Gita.


“Salah sendiri kamu nakal, mulai malam ini setelah jam sembilan ponsel kamu aku sita.”


Kata Gilang sambil memasukan Gita ke dalam mobil.


“Jangan lah Kak, masa iya disita. Kan aku bukan akan sekolah.” Regek Gita.


“Salah sendiri bandel kalua di kasih tahu. Jalan Vian.”


“Siap.”


“Makanya dengerin tuh kalau suami lo ngomong.” Kata Fara.


“Iya-iya.”


Gilang, Vian dan Fara langsung masuk ke ruangan setelah Gita selesai di periksa.


“Dokter, bagaimana istri saya?”


“Nggak apa-apa Pak, ini gejala biasa.”


“Gejala biasa gimana maksud dokter? Gita sakit apa memang?” tanya Gita.


“Kamu tidak sakit, tapi sedang hamil. Dan kehamilan kamu berjalan empat minggu. Jadi tolong ya di jaga, jangan sampai kecapeean.”


“Jadi istri saya hamil dok?” Gilang belum yakin dengan apa yang dia dengar.


“Iya, Gita sedang mengandung. Selamat ya Pak.”


“Baik dok, terima kasih.”


“Saya permisi dulu.”


“Iya, dok makasih.” Jawab Gilang sambil duduk di samping Gita.


Gilang memeluk erat Gita, sambil mencium kening Gita.


“Sayang, aku hamil?”


“Iya sayang,akhirnya kita akan punya baby.” Gilang mengelus perut Gita lalu


menciumnya.


“Ini beneran aku udah mau punya baby.” Gita masih tidka percaya.


“Selamat ya Gita, akhirnya gue udah mau punya dua ponakan.” Kata Vian.


“Selamat Gita.” Fara memeluk Gita.


Rumah Gita langsung rame keluarga besar Gita dan Gita berkumpul untuk syukuran


kehamilan Gita. Mereka menyambut bahagia dengan kehamilan Gita, yang akan


menjadi cucu perama bagi keluarga Gilang.


Gita duduk tersenyum, mengingat suka duka yang telah iya lewati bersama Gilang dari masih SMA hingga dia mengandung anak dari Gilang. Jalannya memag tak mudah,


namun kesabarn, kesetiaan dan ketangguhannya membuat dia bisa bertahan sampai sekarang bersama Gilang.


“Hey, kenapa disini sendiri?” tanya Gilang sambil memeluk Gita dari belakang.


“Nggak, Gita hanya sedang mengenang saja. Nggak terasa sekarang Gita sudah mau menjadi seorang ibu.Aku harap dia akan sekeren kamu, sepintar kamu, lucu, imut.”


“Dan pastinya sebaik kamu. Semuanya itu tidak akan pernah ada artinya kalau tidak


punya kebaikan hati.” Kata Gilang semakin mempererat pelukannya.


“Benar.”


“Sayang, cepat lah besar. Papa sudah tidak sabar ingin melihat kamu.” Ujar Gilang sambil membalikan tubuh Gita.


“Makasih ya sayang. Sudah mau menjadi istri aku, dan mengandung anakku.” Gilang memegangbwajah Gita lalu mencium kening Gita.


...Tamat...


Terima kasih untuk semua penggemar cewek gendut yang selalu suport, dan setia


menantikan cerita ini. Dan sudah meluangkan waktu membaca cerita sampai


selesai. 💖💖💖


Terima kasih semua.. nantikan cerita-cerita selanjutnya...🤗🤗