
Gita merenggangkan kedua tangannya, dia bangun sambil menguap. Dia melihat ke arah jam baker di meja kecil sebelah tempat tidur. Gita menari handuk lalu masuk ke kamar mandi.
"Ta..Ta..." Panggil Raka.
"Apa?" jawab Gita dari kamar mandi dengan nada malas.
"Dimana lo?"
"Lagi mandi." jawabnya tambah pelan.
"Buruan."
"Apaan sih buru-buru, masih pagi juga." Gita ngomel.
"Emang lo udah buat tugas?"
"Belum." Gita keluar sudah berbalut seragam.
"Ya makannya buruan." Raka menarik tangan Gita.
"Sabar dong Raka, ini gue belum sisiran belum juga pakai make up."
"Udah bawa tas lo aja, belagak pakai make up. Biasanya juga dekil." celoteh Raka.
"Sialan lo!" Gita memukul punggung Raka.
Mereka berdua menuruni tangga sambil berlari. Dan Raka terus menarik tangan Gita.
"Raka, pelan-pelan nanti Gita jatuh." Tegur Genta.
"Nggak Kak, tenang saja."
"Kenapa sih kalian buru-buru?" tanya Qila.
"Kita itu belum ngerjain tugas, jadi kita harus datang lebih awal." Jawab Raka dengan pedenya.
"Sejak kapan juga lo terlalu peduli sama tugas, gue tanya?" Gita manyun.
"Kalian berdua itu kebiasaan banget ya, kalau ada tugas itu di kerjain di rumah bukan di sekolah." Qila menasehati Gita dan Raka.
"Ya kan kita nggak tahu, kalau tahu udah di kerjain dari kemarin." Gita ngeles.
"Iya Kak, kalau kita pinter mah nggak repot bikin tugas." tukas Raka.
"Makanya kalau di sekolah itu dengerin, jangan tidur mulu. Di sekolah kok kerjaan tidur." Omel Qila.
"Kan katanya keberhasilan berawal dari mimpi, makanya kita berdua membuat mimpi." jawab Raka.
"Gue getok pakai sendok juga lo Ka." Qila gemes banget karena Raka terus saja menjawabi nasehatnya.
Tok...Tok... suara ketukan dari luar membuat mereka berempat terdiam sesaat.
"Siapa tuh Git?" tanya Raka.
"Mana gue tahu." Gita asyik dengan sarapannya.
"Bukain gih." suruh Genta.
"Kok jadi Gita sih yang bukain pintu?" Gita masih belum beranjak.
"Kan lo paling kecil, buruan." Raka mendorong Gita pelan.
"Ih.. ngeselin banget sih." Gita bangkit sambil ngedumel. Derita anak paling muda pasti akan disuruh-suruh sama kakak-kakaknya.
"Siapa sih pagi-pagi udah datang bertamu, nggak sopan banget." Gita ngedumel sambil menarik gagang pintu.
Deg! jantung Gita berhenti seketika saat membuka pintu mata langsung bertatapan dengan Gilang.
"Pagi." sapa Gilang sambil tersenyum manis. Gita tidak membalas sapaan Gilang justru dia kembali menutup pintu.
"Dia beneran datang, berarti kemarin gue nggak bermimpi donk." gumamnya sambil membuka ponselnya mengecek chat semalam.
"Ah.. iya bukan mimpi."
"Ta, siapa yang datang? kenapa nggak masuk-masuk." Raka menghampiri Gita. Raka mengerutkan keningnya saat melihat Gita tampak syok di depan pintu.
"Siapa sih yang datang?" Raka menarik Gita di sebelahnya lalu dia menarik gagang pintu.
"Lo Lang, ngapain di depan pintu aja" Kata Raka sambil melihat Gita.
"Belum di suruh masuk, malah di tutup lagi pintunya." Gilang menunjuk Gita dengan dagunya.
"Ya sorry, kaget gue." kata Gita sambil tersenyum malu.
"Di kata hantu Gilang, pakai kaget ngelihat dia."
"Ya kan tiba-tiba Kak Gilang di depan pintu, kaget lah gue." ujarnya.
"Udah deh jangan berantem terus, ntar telat loh kita." Gilang melerai mereka berdua yang berdebat terus.
"Lo sih Ta, bentar gue ambil tas dulu." Raka lari mengambil tas.
"Kok gue sih."
...◇◇◇◇◇...
Gita terpaku saat turun dari mobil, rasa ragu untuk datang ke sekolah menghampiri dirinya.
"Kenapa berhenti?" tanya Gilang. Gita menoleh tapi belum menjawab.
"Kenapa Ta?" Raka mengulang pertanyaan Gilang.
"Raka gue mau pindah sekolah aja." Gita memutar tubuhnya dan kembali masuk ke mobil Gilang.
"Kenapa?" Gilang dan Raka bingung.
"Gue nggak mau sekolah disini lagi." Kata Gita dengan mata berkaca-kaca.
"Lo nggak pede ya?" tanya Gilang.
"Gue takut kalau mereka akan membuly gue." kata Gita sambil menundukan kepala.
"Sejak kapan lo mulai nggak percaya diri lagi, lagian ada gue sama Gilang." Kata Raka.
"Tapi..."
"Tenang, ada kita. Lo tinggal lapor aja sama kita. Ya nggak Ka?"
"Benar, jangan takut. Buruan turun." Gilang membukaan pintu untuk Gita. Dia kemudian menggenggam tangan Gita.
"Kak.. kenapa lo gandeng tangan gue." Gita berusaha melepaskan.
"Ini pelatihan pertama pacaran kita, ya nggak Ka?" Gilang tetap menggengam erat tangan Gita.
"Benar Ta.. belajar romantis gitu." Kata Raka sambil menahan tawa.
"Udah yuk buruan masuk, kalian belum buat tugas kan." Gilang mengajak Gita dan Raka masuk ke kelas.
"Kok lo tahu kita belum mengerjakan tugas?" Raka mengernyitkan kening.
"Lo kan minta gue datang lebih awal, kebiasaan kalian berdua kalau datang lebih awal pasti ada tugas yang belum terselesaikan." Gilang menatap Raka lalu Gita. Gita sama Raka saling berpandangan lalu nyengir.
Sepanjang perjalanan menuju kelas semua orang melihat Gita. Mereka saling berbisik menggunjingkan Gita. Gita langsung melepas genggaman tangan saat sampai di kelas.
"Wah.. ada angin apa nih Gita jalan sama Gilang." Seru Arvian.
"Eh.. benar nih. Kalian jadian ya?" Tanya Anita sambil menyenggol lengan Gita di tambah senyum-senyum.
"Enggak.. kita berteman." jawabnya agak terbata-bata.
"Masa sih, masa berteman gandeng tangan. Teman tapi mesra ya." Goda Anita.
"Beneran kita itu berteman, gue pegangin dia karena masih agak kurang enak badan." Gilang membantu Gita memberi alasan. Dia tak mau memaksa Gita untuk mengaku kalau mereka dekat.
Anita melirik kearah Arvian sambil tersenyum menggoda.
"Raka, buruan buka buku lo. Gue akan ajarin kalian sebelum bel bunyi." kata Gilang.
"Ok." Raka menaruh bukunya lalu membukannya.
"Wah.. luar biasa. Kak Gilang yang super duber pintar mau ngajarin. Ikutan ah.." Anita buru-buru ambil bukunya.
"Duduk Ta." Gilang menarik tangan Gita hingga duduk di sebelahnya.
Gilang mengajari menyelesaikan soal satu persatu. Saat Gilang menerangkan mereka hanya mengangguk-angguk padahal sebenarnya mereka sama sekali belum mengerti.
"Paham?" tanya Gilang.
"Nggak jawab mereka berempat bersamaan.
"Hah." Gilang menghela napas kasar. "Ya sudah sementara kerjakan dulu yang ini. Kapan-kapan kita belajar bareng lagi." Kata Gilang.
"Sering-sering ya Kak." kata Anita sambil cengar-cengir.
"Kalau perlu kita les tiap hari aja sama Kak Gilang." Usul Arvian.
"Ide bagus." Anita menyetujuhinya.
"Jangan ngrepotin deh, Kak Gilang kan orang sibuk. Jangan nambahin beban karena ngajarin orang-orang bodoh kayak kita." kata Gita.
"Kalau gue udah pintar nggak bakal minta di ajarin. Gimana sih lo."
"Ah.. soal itu nanti gue pikirin." Kata Gilang sambil tersenyum.