
Gita memainkan rambutnya yang sudah mulai memanjang lebih dari bahunya.
“Kayaknya gue harus potong rambut deh Far. Udah kepanjangan soalnya.” Kata Gita dengan masih sibuk memainka rambutnya.
“Nggak mau panjang dulu, biar terlihat bagus nanti pas wedding. Kita samaan.” Kata Fara yang sedang sibuk memandangi ponselnya.
“Nggak deh, gue mau pendek saja, nanti gue kasih poni.” Katanya sembari menuju tempat tidur mendekati Fara. “Lagi lihatin apaan sih?” Gita ikut nimbrung melihat ke
layar ponsel milik Fara.
“Gue lihat modelriasan pengantin saja.” Katanya dengan tangan yang terus secroll
ponsel.
“Ini keren deh Far.” Gita menghentikan tangan Fara.
“Iya nih, wah.. kayak pengantin di drama korea ini mah.”
“Yes. Far, ngomong-ngomong beneran nih kita udah mau nikah saja.” Kata Gita sambil
melihat kearah Fara. Fara menaruh ponselnya lalu berhadapan dengan Gita.
“Iya, kita udah mau menikah saja. Nggak terasa sudah sampai tahap ini saja.” Kata
Fara dengan wajah yang melow. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Iya, tahap yang paling puncak di dalam hubungan dan juga tahap awal di kehidupan
kita. Dimana kita akan benar-benar kita tidak boleh lagi bergantung dengan
orang tua kita.” Gita pun ikut mewek.
“Benar, kalau kita lihat ke belakang lagi lucu dan terlihat sangat mudah kalau kita
ceritakan dari kita tidak saling kenal, lalu berteman dan jadian.”
“Tapi sangat rumit kan dalam perjalannya, beruntung saja kita tetap pada hati yang
sama dan tidak menjaga jodoh orang.” Kata Gita.
“Lo sih yang hampir jagain orang, untung saja Kak Gilang pulang masih singgel.”
Goda Fara.
“Lo juga bakalan jagain jodoh orang kalau Raka nggak gue bujuk agar nggak ikut
mamanya.” Gita melet.
“Baiklah..baiklah.. kita sama. Kisah kita sama. Oiya, kita telpon Anita yuk.” Ajak Fara.
“Ok.”
Mereka berdua menelpon Anita yang sudah sudah banget bertemu karena jarak mereka yang jauh.
“Hai Anita.” Sapa Gita dan Fara bareng.
“Hai, em.. lagi main dimana nih?”
“Di rumah gue aja.” Jawab Gita.
“Iya, calon rumah gue juga.” Kata Fara.
“Iya deh yang mau jadi kakak dan adik ipar.”
“Iya dong, lo mau nggak jadi kakak ipar gue?” tanya Gita sambil terkekeh.
“Heh.. ngaco. Kak Bayu mau gue kemanain.”
“Buat simpean dong.”
“Mulut lo Far ngaco banget. Amit-amit nih ya sampai punya simpanan. Dia satu-satunya tidak akan pernah ada yang lain.” Kata Anita.
“Iya deh percaya. Kapan nih datang ke sini sebelum gue nikah nih. Kita pesta-pesta
gitu.” Kata Fara.
“Pesta apa?”
“Kita pesta ke club gitu, sekali-kali sebelum kita menikah.” Kata Fara.
“Club, jangan aneh-aneh deh Far kita mau menikah nanti di marahin. Nggak-nggak gue
nggak mau lo aja.” Kata Gita. Dia takut kalau nanti di marahin Gilang, tak
hanya Gilang dia juga akan di marahin Raka. Jadi kena dua kali dia.
“Iya nih, suka sesaat ajakanya.”
“Ya kan sekali-kali, kita juga nggak akan ngapa-ngapain di sana. Cuman nikmatin aja
lampu jedak-jeduk. Sekali seumur hidup nggak masalah kali, biar kita juga
merasakan. Nggak akan itu minum amar atau soju.” Fara masih saja membujuk dua
sahabatnya agar mau ke club.
“Kalau nggak ngapa-ngapain ya mending kita rebahan di kasur lebih sehat dan tidak beresiko.” Jawab Gita.
“Please lah, sekali-kali kenapa.”
“Heh... memangnya kita ijinnya bagaimana sama pacar-pacar kita?” Tanya Anita.
“Ya bilang saja kita mau pergi hanya bertiga, untuk pesta melepaskan masa lajang kita. Setelah menikah ini kita tidak akan bisa pergi bebas.” Fara masih
berusaha membujuk.
“Gue pikir-pikir lagi deh ajakan lo.” Kata Gita.
“Cafe saja gimana lebih aman dan terkendali loh.” Kata Anita.
“Udah deh kalian nggak usah ragu atau takut, kita buat serapi mungkin agar para calon suami kita tidak tahu. Kita pergi satu atau dua jam saja nggak lebih.” Bujuk Fara.
“Dia kan laki-laki Git, masa diajak juga.”
“Iya justru karena dia laki-laki makanya gue mau ajak dia, biar bisa jagain kita.”
Ujar Gita.
“Yang ada Vian ngadu, gimana sih lo.”
“Ya udah nanti kita bahas lagi, gue tutup
dulu ya mau cabut nih Kak Bayu udah jemput. Dua hari lagi gue balik dan kita
akan bersennag-senang melepas masa lajang kalian. Daa...” Anita melambaikan
tangannya.
“Daa..., hati-hati.”
“Sip.”
“Far, siapa sih yang gasih ide lo buat ke club malam?”
“Ide gue sendiri lah, cuman kepo mau lihat saja dalamnya.”
“Dasar, suka nggak jelas.” Gita menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Git, nanti setelah kita menikah nih. Malam pertama kita gimana ya?” Fara menjatuhkan tubuhnya di sebelah Gita.
“Lo kok tanya gue, mana gue tahu lah. Gue kan juga belum pernah menikah dan malam
pertama.”
“Siapa tahu lo udah coba-coba dulu.”
“Suka asalah kalau ngomong, wajah-wahah gue itu memangnya tukang coba-coba.” Gita menyentil kening Fara sampai dia
meringis.
“Biasanya nih orang yang kalem, suka diam-diam menghanyutkan.” Ujar Fara sambil terkekeh.
“Dan biasanya yang suka menuduh orang, itu yang sudah melakukan dan mencari teman agar tidak salah sendirian.” Gita membalas ucapan Fara.
“Apa kita perlu menonton drama korea yang seperti itu, supaya kita nggak malu-maluin
nanti pas malam pertama.” Kata Fara.
“Hhmm.. ide bagus kayaknya. Atau kalau nggak nih kita lihat tutorial malam pertama
langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan saat malam pertama.” Kata
Gita.
“Memang ada?”
“Nggak tahu juga, gue juga baru kepikiran baru aja.” Kata Gita sambil meringis.
“Kok gue jadi takut ya.”
“Takut kenapa?”
“Nggak tahu, takut aja. Katanya nih ya kalau gue dengar-dengar kalau masih perawan nih melakukan untuk yang pertama kali tuh sakit banget.”
“Beneran?”
“Iya, nih ya gue punya teman.”
“Teman yang mana, teman lo teman gue juga kan.”
“Ih.. yang kan gue juga punya teman TK,SD,SMP.”
“Ok..ok.. apa ceritanya?”
“Jadi nih, kan mereka udah pacaran lama setelah itu menikah. Terus dia cerita kalau
setiap mau malam nih dia udah panik ketakutan. Sampai dia nggak mau ngelakuin
malam pertama sampai sampai satu minggu baru dia mau.” Ujarnya.
“Berarti itu malam ketujuh ya bukan malam pertama.” Kata Gita sambil tertawa.
“Ya nggak gitu juga kali.”
“Terus, sekarang gimana?”
“Kalau sekarang dia bilang sih ketagihan, dan bilang kenapa nggak melakukan sejak
awal.”
“Beneran nggak sih?” Gita agak tidak percaya dengan cerita Fara.
“Memangnya wajah gue ini terlihat seperti pembohong?”
“Iya, lo kan sering banget tuh ngadi-ngadi.”
“Lo mau gue telponin temen gue.” Fara ngegas.
“Iish...emosian lo. Terus gimana nih?”
“Triknya katanya, kita malam pertama pakai baju yang sexy, biar calon suami kita mulai terpana dengan kecantikan kita. Pasti mereka akan tergoda dengan kita.”
“Setelah itu apa?”
“Gue nggak tahu lanjutannya, temen gue cuman bilang nikmatin aja malam yang indah.”
“Yah.. nggak ada solusi dong.”
“Em.. besok gue tanya lagi langkah selanjutnya sama teman gue saja.”
“OK.”