Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menghindar III


Gita membuka pesan dari Gilang, dia


tiba-tiba meneteskan air matanya.


“Gita juga kangen, tapi Gita sedang


kesal sama kak Gilang.” Kata Gita tiba-tiba saat turun dari mobil membuat Raka


kaget.


“Kalau kangen ketemu saja, nggak perlu


ngambek-ngambek kayak gitu.” Kata Raka.


“Nggak mau.” Jawab Gita sambil masuk ke


dalam rumah.


“Seneng banget nyiksa diri sendiri.”


Kata Raka sembari mengikuti Gita.


“Ya habisnya..”


“Habisnya apa? Kalian para cewek yang


sering cari penyakit sendiri tapi ujungnya cowok yang di salahin.” Raka membela


Gilang karena dia juga sering merasakan hal yang sama.


“Belain turus Kak Gilang, orang dia yang


salah kok.”


“Ok..ok.. bisa-bisa besok pagi baru


kelar gue debat sama lo.” Raka menyentil kening Gita lalu berlari ke kamarnya


duluan.


“Dasar semua cowok sama saja, nggak mau


ngalah.” Omel Gita.


Gita sebenarnya sudah luluh, dia juga


kangen pingin ketemu Gilang tapi karena dia ingat saat Gilang memuji Catrin


membuatnya kembali kesal.


“Gita, lo harus teguh pendiriannya.


Lihat dulu seberapa besar usaha Kak Gilang membujukmu.” Katanya sambil menaruh


ponselnya. Gita pergi bersih-bersih dan akan segera tidur. Meskipun dia marah


sama Gilang, tapi dia mengikuti apa yang di bilang Gilang kalau dia harus tidur


lebih awal.


“Pagi Gita, saatnya lo mandi dan pagi


ini lo harus bangun untuk mencari uang buat jajan. Jangan malas-malasan karena


malas membuat lo miskin.” ucap Gita sambil meregangkan kedua tangannya.


“Gita..” panggil Wanda.


“Iya Ma, Gita udah bangun.” Gita


mengucek kedua matanya.


“Coba deh turun sebentar.” Kata Wanda.


“Ya.” Gita beranjak dari kasurnya.


Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, dan langkah yang masih terlihat


sangat malas dia menuruni tangga.


“Apa Ma?” tanya Gita.


“Lihat deh di depan.” Wanda menarik


tangan Gita.


Mulut Gita menganga saat melihat buket


bunga mawar merah yag sangat besar, dia berjalan mendekati lalu menciumnya.


“Milik siapa ini?” tanya Gita.


“Bacalah itukan ada tulisanya.”


“Untuk pacarku yang cantik dari Gilang.


Ah.. Kak Gilang ngapain ngirimin bunga segede  gaban?” Gita membopong bungannya.


“Suprize kali.”


“Ya udah Gita mau mandi dulu.” Gita


membawa buket bunga ke kamarnya.


“Ma,” Gita berhenti lalu memutar


tubuhnya.


“Ada apa?”


“Kalau bunga ini Gita potolin semua


terus buat mandi, kira-kira Kak Gilang marah nggak ya?”


“Kamu tuh ya ada-ada saja, pasti lah


marah bunga bagus-bagus begitu mau di potolin.” Omel Wanda.


“Ya kan Gita cuman tanya kenapa mama


jadi ngomel.” Gita manyun lalu bergegas ke kamarnya.


Gita menaruh bunga di meja riasya, dia


melihat kertas kecil berwarna biru. Gita menarik kursi lalu duduk.


...Dear pacarku yang cantik...


...terus begini...


...Aku kangen banget sama kamu...


...Kamu boleh maki aku sepuasnya, tapi...


...please jangan diamin aku ya...


...Love you...


“I love you too, tapi Gita kan masih mau marah. Maaf ya.. nanti dulu nggak ngambeknya.” Gita mencium bungannya lalu pergi mandi.


Gita turun dari angkot dia sedikit


berlari, karena jam masuk kerja sudah sangat mepet. Meskipun sudah tahu kalau


dia bakalan lari-lari tapi dia tidak pernah berubah untuk datang lebih pagi.


Ada saja yang membuat dia datang mepet.


“Tunggu..” Seru Gita saat lift hampir


tertutup. Saat di depan lift dia melihat ada Gilang.


“Maaf, nggak jadi.” Gita mengangkat dua


tangannya sampai dada. Dia kemudian lari melewati tangga darurat untuk pergi ke


ruangannya.  Gilang berdecak karena Gita


masih menghindari dirinya.


Gita ngos-ngosan di depan pintu, dia mengatur napasnya agar kembali teratur.


"Selamat pagi." Sapa Gita sengan napas yang masih berat.


"Pagi, lo kenapa ngos-ngosan gitu habis di kejar-kejar anjing atau gimana?" tanya Nino.


"Habia melari diri mafia." jawab Gita sambil duduk. Dia mengambil tisu lalu menyeka keringat yang bercucuran.


"Mafia?" Ina memutar kursinya menghadap ke arah Gita. Gita hanya menjawab dengan anggukan, dia masih capek.


"Memangnya mafia apa? ah jangan-jangan lo di kejar depkolektor kali." kata Ina.


"Mafia kacang hijau, mafia keju mafia.." Vian menghitung dengan jarinya.


"Heh! itu bakpia mana jauh lagi."


"Oh udah ganti, ya kalau jauh di dekatin lah biar nggak rindu." sahut Vian.


"Pagi-pagi pada nggak jelas. Udah buruan kerja." kata Win.


"Siap Mas Win." jawab serentak.


...♡♤♤♤♡...


"Gita, tolong dong bawakan berkas ini ke ruangan bos Gilang." suruh Win.


"Gue Mas Win?"


"Iya, lo. Gue lagi sibuk." Win menaruh berkas di meja Gita.


"Far..."


"Gue lagi nggak bisa tanggung nih." Fara menolak menggantikan Gita karena kerjaannya sedang tanggung.


"Kerjaan gue juga tanggung, jadi nggak bisa." Vian sudah menolak sebelum Gita meminta.


"Dasar kalian nggak setia kawan." gerutu Gita sambil berdiri.


Mendekati ruangan Gilang, Gita mengendap-endap. Dia mengetuk pelan banget pintu ruangannya.


"Ah.. Kak Gilang sedang tidak ada berati balik saja." Gita tersenyum sembari membalikan badan.


"Hey.. Gita, lo ngapain ngendap-endap di depan pintu Pak Gilang?" tanya Lila yang curiga karena gerak-gerik Gita yang terlihat mencurigakan.


"Mbak Lila, sejak kapan disini kok nggak lihat." Gita nyengir.


"Udah deh nggak usah basa-basi mau ngapain lo?"


"Ini mbak..."


"Paling juga mau bikin ulah lagi mba." sahut Catrin yang memotong ucapan Gita.


"Ya elah, lo dimana-mana ada sih. Kayak yang suka datang tak di undang pulang tidak diantar sih lo." Kata Gita.


"Sialan, itu lo bukan gue." Catrin ngamuk.


"Sudah..sudah.. malah berantem lagi. Catrin ada urusan apa lo disini?" tanya Lila.


"Mau serahin berkas Mbak." kata Catrin.


"Gita, lo mau apa?"


"Mau kasih berkas juga mbak, tapi tadi pintunya di ketok nggak ada jawaban. Jadi mau balik lagi." kata Gita.


Lila mengetuk pintu ruangan Gilang sedikit keras.


"Masuk." kata Gilang.


"Sana masuk." kata Lila.


"Iya Mbak." Catrin menyenggol tubuh Gita sampai mau jatuh karena di ingin masuk lebih dulu.


"Dasar mak lampir." Ucap Gita sambil masuk ke ruangan Gilang.


"Ada apa?" tanya Gilang kepada Catrin namun padangannya mengarah ke Gita.


"Ini berkas dari Mbak Ratna, Pak." kata Catrin.


"Taruh saja."


Catrin mengangguk lalu menaruh berkasnya, Gita tanpa bicara langsung mengikuti Catrin menaruh berkasnya setelah itu dia nyelonong pergi berjalan di depan Catrin.


"Hey, kamu berhenti!" Gilang menyuruh Gita berhenti.


"Saya Pak?" tanya Catrin.


"Bukan, Gita. Kamu kembali kerja lagi." kata Gilang.


"Baik Pak." jawab Catrin.


"Aduh.." Gita mengaduh pelan, dia sudah susah payah menghindar tapi malah dia sendiri yang mendekat.